
"Selamat pagi, Pak Aji," sapa seorang resepsionis begitu Aji memasuki perusahaan.
Pria itu hanya mengangguk begitu saja dan terus melanjutkan langkahnya, sementara Asha hanya melirik ke arah sekitar, ingin tahu reaksi karyawan yang ada di sana. Dia juga mengangguk jika ada yang menyapa karena haji menjawabnya dengan begitu datar. Padahal biasanya Aji selalu tersenyum ketika disapa orang lain, tetapi kenapa sekarang berbeda. Namun, tidak mungkin juga Asha bertanya sekarang.
Mungkin saja sang suami memang ada masalah dengan resepsionis tadi. Mungkin dengan karyawan lain tidak seperti itu, tetapi ternyata pikirannya salah. Bahkan saat berpapasan dengan pegawai lainnya, Aji masih tetap sama hanya menganggukkan kepala tanpa suara apalagi senyum di bibirnya. Asha hanya menggelengkan kepala, bisa-bisanya sang suami seperti itu.
"Mas, senyum sedikit tidak akan membuat kamu rugi. Kenapa tadi saat di sapa pegawai kamu hanya mengangguk saja," tegur Asha saat keduanya sudah berada di dalam lift.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu jangan terlalu memikirkan hal itu. Aku sudah terbiasa seperti ini pada mereka. Terkadang kita juga harus menunjukkan wibawa kita di depan mereka agar mereka bisa menghormati kita. Kita juga tidak merendahkan mereka, aku juga membalas sapaan mereka jadi, aku rasa itu sudah cukup, tidak usah dipikirkan lagi."
Asha pun mengangguk dan tidak lagi banyak bertanya. Jika memang ada yang mengganjal, pasti wanita itu akan sampaikan. Keduanya sampai di ruangan Aji, ruangannya cukup nyaman. Banyak buku berjajar di belakang meja sang suami, entah buku apa saja di sana. Aji pun mulai mengerjakan pekerjaannya, sementara wanita itu duduk di sofa.
Asha dibuat kesal karena seharian hanya bisa duduk di sofa, sementara Aji sibuk dengan kertas yang ada di mejanya. Kalau tahu begini lebih baik dia pulang dan pergi bersama dengan mamanya jalan-jalan. Ini sama saja di rumah nggak ngapa-ngapain, enakan di rumah bisa bergerak bebas. Kalau di sini gerakannya terbatas. Sudah jengah dengan situasi ini, Asha pun segera berdiri dari duduknya.
"Mas, aku pulang saja ya! Dari tadi juga aku nggak ngapa-ngapain," ucap Asha pada sang suami, seketika haji mendongakkan kepala.
Aji jadi merasa bersalah karena sudah membuat istrinya menunggu. "Tunggu sebentar lagi, Sayang. Ini tinggal sedikit lagi. Setelah itu kita makan siang, sebentar lagi juga waktu makan siang."
Mau tidak mau akhirnya Asha mengangguk saja. Kalau dia memaksa pulang nanti Aji pasti akan memaksanya pulang juga dan pekerjaan akan semakin terbengkalai jadi, lebih baik dirinya yang mengalah. Lagipula memang sudah menjadi tanggung jawab pria itu untuk menyelesaikan semuanya.
Setelah pekerjaan Aji selesai, pria itu mengajak sang istri untuk makan siang terlebih dahulu. Begitu sampai di lobby ada seseorang yang menyapa Aji. Beberapa karyawan memang sedang berjalan keluar mencari makanan, sudah saatnya makan siang.
"Aji! Kamu sudah kembali?" tanya seorang wanita untuk membuat Aji dan Asha menoleh ke belakang.
__ADS_1
Pria itu membalasnya dengan tersenyum sambil berkata, "Iya, aku pulang dua hari yang lalu."
Sementara itu, Asha hanya diam mematung. Sudah lima tahun dia tidak bertemu dengan wanita yang ada di depannya. Asha pikir hubungan mereka sudah terakhir, tetapi ternyata masih sering berhubungan. Bisa dipastikan jika Naura juga bekerja di sana. Asha ingin berpikir positif, tetapi dia malah berpikir yang tidak-tidak mengenai Aji. Namun, seperti biasa wanita itu tidak ingin menunjukkannya di depan orang lain. Asha berusaha untuk terlihat biasa saja, bahkan berusaha tersenyum saat penyampaian.
"Apa kabar? Senang bisa bertemu denganmu lagi."
"Aku baik."
Hanya jawaban singkat yang bisa Asha berikan. Wanita itu sendiri tidak senang bertemu dengan Naura, seolah mengingatkan luka lama yang sudah mulai terobati. Aji dan Naura memaklumi sikap Asha karena memang dari dulu wanita itu tidak suka terlalu banyak berinteraksi dengan orang baru. Meskipun Asha dan Naura sudah kenal lama, tapi sudah lima tahun mereka seperti orang asing.
Setelah berbasa-basi sejenak, Aji pun mengajak Asha menuju sebuah restoran makanan seafood, makanan kesukaan sang istri. Wanita itu seperti tidak berselera saat menikmati makan siangnya, ada sesuatu yang mengganjal dalam hati dan pikirannya. Aji juga tampak biasa saja saat bertemu dengan Naura, begitu pun sebaliknya.
"Ada apa apa yang sedang mengganggu pikiran Katakan saja apa Kamu sedang ada masalah?" tanya Aji saat melihat sang istri hanya mengaduk-aduk makanan, padahal ini adalah makanan favoritnya.
"Kamu jangan berbohong, kamu itu tidak pandai dalam hal itu. Kita juga sudah sepakat sebagai pasangan suami istri yang selalu terbuka dalam hal apa pun. Aku mohon jangan menodai kepercayaan yang sudah aku berikan."
Asha melihat kesungguhan di mata pria itu, dia jadi merasa bersalah karena sudah menuduh yang tidak tidak terhadap Aji. Padahal sang suami sudah benar-benar tulus mencintai dan menerima kekurangan yang ada dalam dirinya. Sungguh dia merasa menjadi orang yang kurang bersyukur.
"Mas, mengenai Naura, apa dia ...."
Asha terdiam, tidak tahu harus bertanya bagaimana. Dia merutuki kebodohannya, tidak seharusnya bertanya mengenai hal itu. Sudah jelas jika mereka masih berhubungan, entah hubungan yang bagaimana biarlah itu berlalu. Tidak seharusnya mengungkit masa lalu.
"Jadi kamu dari tadi memikirkan mengenai Naura? Kamu ingin tahu apa kami memiliki hubungan begitu?"" tanya Aji yang diangguki oleh Asha.
__ADS_1
Aji tersenyum karena itu pertanda jika sang istri tengah cemburu. Pria itu pun tidak marah dengan sikap yang dimiliki oleh Asha, justru dia senang jika sang istri bisa mengeluarkan apa yang sedang dipikirkan. Dia berharap selamanya akan seperti itu.
"Naura memang kerja di perusahaan dan kamu tidak usah cemburu karena dia juga sudah menikah," lanjut Aji.
"Menikah? Naura sudah menikah?"
"Sudah. Bahkan sudah memiliki anak."
Aji pun menceritakan apa yang terjadi pada pada Naura saat itu tanpa menyembunyikan apa pun dari sang istri. Saat Asha pergi, Naura memang mulai mendekati dirinya dengan berbagai cara. Namun, Aji yang saat itu tengah terluka dengan kepergian sang istri, sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Naura yang selalu ada di dekatnya.
Hingga kedua orang tua pria itu pun meminta agar Aji menikah dengan Naura saja, bahkan Papa Roni dan Mama Nisa juga sependapat. Mertuanya itu tidak ingin Aji terlalu larut dalam bayangan Asha yang tidak tahu di mana keberadaannya. Mereka juga mengerti jika pria itu membutuhkan seseorang yang selalu ada di sampingnya dan bisa merawatnya, yang saat itu tidak bisa dilakukan oleh Asha. Juga butuh seseorang untuk memberinya kehangatan di malam yang dingin.
Namun, Aji tetap kekeh tidak akan menikah dengan wanita mana pun, karena dia sudah memiliki istri dan tidak ingin mengkhianatinya. Sampai akhirnya kedua orang tua Naura menjodohkan gadis itu dengan salah satu anak rekan bisnisnya. Awalnya Naura menolak, tapi kedua orang tuanya terus saja memaksa. Aji juga memberi pengertian padanya bahwa selama ini dirinya menganggap gadis itu sebagai saudara, bahkan selamanya akan seperti itu.
Hal itu membuat hati Naura semakin terluka. Akhirnya dia menerima keputusan kedua orang tuanya untuk menerima perjodohan itu. Meskipun pernikahan mereka karena perjodohan, tetapi kebaikan sang suami membuat hati Naura menjadi luluh. Awalnya tidak ada cinta dalam rumah tangga mereka.
Namun, kini keduanya sama-sama mengungkapkan perasaan masing-masing yang begitu dalam, hingga akhirnya Naura hamil juga. Mereka memiliki seorang anak laki-laki yang saat ini berusia dua tahun. Naura dan sang suami begitu bahagia dengan kehadiran anak mereka. Keluarga besar juga merasa bahagia.
"Jadi Naura sudah menikah dan memiliki anak?" tanya Asha yang tiba-tiba merasa tidak enak pada sahabat dari sang suami itu, seharusnya dirinya tadi tidak terlalu gegabah dan mencari tahu informasi lebih dulu.
"Tidak apa-apa, Naura juga tidak akan berpikir jauh ke sana. Dia pasti mengira jika kamu tadi merasa cemburu."
"Tapi aku merasa nggak enak sama Naura, Mas."
__ADS_1
"Sudah, lupakan saja. Naura juga sudah lupa dengan kejadian tadi atau malah tidak menyadari hal tersebut," sahut Aji, mencoba menenangkan sang istri. Pria itu pun meminta Asha untuk setiap menghabiskan makanan tanpa memikirkan hal yang tidak penting seperti itu.