
Satu minggu sudah tepatnya Asha pulang ke rumah orang tuanya, Aji sangat merindukan wanita itu dan dia memutuskan untuk mengunjungi apartemen. Dia ingin sekali bertemu dengan Asha, tapi pastinya kedua orang tuanya tidak akan mengizinkannya untuk pergi menemui wanita itu ke sana. Terutama sang mama yang pasti ajan kambuh sakitnya.
Aji kini hanya bisa terdiam dan menikmati sepi di apartemen dengan membayangkan setiap sudut rumah yang sering dia lihat Asha berada di sana. Sungguh sangat menyiksa, tetapi laki-laki itu tidak punya pilihan lain.
Ruang keluarga ini misalnya, dia sering melihat Asha duduk sambil memakan cemilannya menonton acara memasak atau sekedar menjawab kuis yang ada di TV. Membosankan saat Aji melihatnya, tetapi justru kali ini dia yang menonton acara membosankan itu, membayangkan sang istri ada di sana sambil memangku Khairi.
***
Naura tersenyum senang saat mengetahui jika Aji kini hanya sendirian saja. Dari cerita Tia, Asha telah ditalak oleh Aji dan dibawa pulang ke rumah oleh kedua orang tuanya. Tia mengucapkan banyak terima kasih kepada wanita itu karena telah memberikan info yang penting kepada mereka. Keduanya sering memberi kabar satu sama lain sejak kejadian itu.
“Kalau kamu nggak kasih tau Tante, kayaknya dia bakalan nipu kita habis-habisan!” ujar Tia kesal, mengingat bagaimana dirinya dibohongi selama ini.
Bayangan memiliki cucu sirna, setelah kejadian itu. Hatinya sakit sekali karena ternyata anak dan menantunya bersekongkol membohonginya. Jauh di lubuk hatinya dia tidak tega saat melihat Asha begitu hancur saat itu. Namun, semua wanita itu tepis demi kebahagiaan dan masa depan putranya. Nama baik keluarga juga dipertaruhkan di sini. Tia tidak mau orang-orang menggunjingnya nanti.
“Iya, Tan. Aku juga kasihan sama Aji. Andai aku tau mereka ternyata merencanakan ini dari lama, pasti aku akan kasih tau Tante. Kasihan Om dan Tante, termakan rayuan palsu wanita itu,” ujar Naura dengan berpura-pura sedih. Padahal dari ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan kesedihan.
“Iya, kalau bukan karena kamu, Tante nggak akan tau sampai kapan Tante akan mengira itu anak Aji? Lagian Aji, bisa-bisanya berbohong seperti itu hanya untuk menutupi kebusukan wanita itu. Sampai kapan pun aku tidak akan memaafkannya.”
Tia melihat Aji yang baru saja pulang dan masuk ke dalam rumah. Terlihat wajah pria itu seperti tidak terawat, dagunya ditumbuhi bulu-bulu halus serta kumis yang lumayan tebal. Padahal biasanya Aji sangat tidak suka menumbuhkannya karena menurut dia itu risih. Tia menyenggol lengan Naura dan memberitahukan kepadanya bahwa Aji sudah pulang.
__ADS_1
“Sana,” ujar Tia memberi kode kepada wanita tersebut.
Naura yang mendapat lampu hijau dari calon mertua pun merasa senang. Apalagi saat melihat Aji sudah pulang, semakin lebar pula senyum di wajahnya. Segera wanita itu bangkit dari sofa dan mendekat pada Aji.
“Aji, aku nungguin kamu dari tadi loh,” ujar Naura dengan sikapnya yang berubah manja.
Aji memutar bola matanya malas, saat ini dia tidak ingin diganggu, tetapi sepertinya orang-orang di sekitar enggan melihatnya tenang. “Ngapain nungguin aku?” tanya Aji ketus.
“Ya nggak apa-apa. Nungguin kamu aja di sini. Aku lihat kamu dari kemarin kayak sedih. Kali aja kalau ada aku kamu bisa terhibur gitu?” ujar Naura dengan tak tahu malu. Jelas Aji sedari kemarin mengabaikan dirinya, tapi wanita itu tidak peduli dan terus saja mendekati Aji.
“Pergilah, aku capek!” usir Aji dengan terus terang.
“Aji, jangan cuekin aku dong. Aku tuh datang ke sini pengen minta kamu temenin aku,” ujar Naura sekali lagi dengan gigih.
Aji hanya diam, tidak menanggapi apa-apa, membuat Naura menjadi semakin sebal saja rasanya. Sudah sejauh ini langkah wanita itu, tidak mudah baginya berada di titik ini, dia tidak akan menyerah begitu saja.
“Aji, antar aku dong. Besok aku ada acara, kamu temenin aku ke butik ya?” pinta Naura. Aji berhenti melangkah dan membuat Naura juga ikut berhenti melangkahkan kakinya. Dengan cepat, Aji membalikkan tubuhnya dan menatap Naura yang ada satu tangga dengannya dengan taja,.
Naura mendongak menatap wajah Aji yang sangat tampan, tidak berubah sedari dulu, malah semakin tampan dan berwibawa saja. Dada Naura semakin berdetak dengan sangat cepat akibat tatapan dari pria tersebut. Tanpa sadar wanita itu mengulas senyum dan hal tersebut semakin membuat Aji jij*k. Tidak sadarkah jika tingkahnya sudah membuat mual.
__ADS_1
“Bisa kamu pergi dari sini dan jangan ganggu aku?” tanya Aji kepada wanita itu.
Aji hendak melangkah lagi, tapi Naura menarik lengannya sehingga langkah Aji tertahan karena wanita itu.
“Aji, please. Kamu nggak bisa dong usir aku kayak gitu? Aku kan sahabat kamu!” kekeh wanita itu.
Aji menepis kasar tangan Naura sehingga dia menatap pria di depannya dengan terkejut. Aji kasar kepadanya dan itu baru pertama kalinya dia melakukan seperti itu.
Aji sudah muak dengan tingkah Naura yang semakin menjadi. Selama ini dia sudah sangat berusaha untuk menahan diri agar tidak menyakiti wanita itu, tetapi sepertinya Naura tidak sadar diri. Mungkin dengan sedikit syok terapi bisa membuatnya sadar, itu pun jika masih memiliki hati.
“Sahabat? Sahabat macam apa yang tega melakukan ini kepada yang lainnya? Kamu pikir aku nggak tau kalau kamulah penyebab mama dan papa menyuruh aku buat menceraikan Asha?” ujar Aji dengan sebal dan menatap Naura marah.
“Apa maksud kamu?" tanya Naura berpura-pura tidak mengerti. Padahal jantungnya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
“Aku tau, kamu mendengar perdebatan aku sama Asha dan kamu melaporkan itu sama Mama, kan?” ujar Aji dengan nada yang dingin. Naura membeku mendengar ucapan Aji barusan. “Jawab!” bentak Aji dengan suara lantang penuh emosi.
Naura yang mendengarnya sampai terlonjak akibat terkejut. Juga dengan Tia yang bisa mendengar suara bentakan Aji hingga ke ruang tamu. Wanita paruh baya itu pun segera menuju ke arah sumber suara, dia takut jika putranya akan menyakiti Naura. Akhir-akhir ini sang putra memang terlihat berbeda dan itu semua terjadi sejak kepergian Asha.
Dalam hati dia juga menyalahkan diri sendiri, andai saja saat itu mereka bicara dari hati ke hati ini semua tidak akan terjadi. Namun, sisi egoisnya mengatakan bahwa ini memang yang terbaik untuk sang putra. Suatu hari nanti Aji pasti akan bisa membuka hati dan berterima kasih padanya.
__ADS_1