Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
46. Di mana ayah kerja?


__ADS_3

Aji turun dari mobilnya, mengikuti langkah gadis tadi yang lebih dulu pergi mencari keponakannya. Saat mendengar teriakan dari gadis itu memanggil seorang anak, segera dia mengikuti arah pandangannya. Saat melihat wajah seorang anak yang berlari, Aji sempat mematung, bagaimana tidak jika anak itu terlihat begitu mirip dengan Asha. Namun, dalam versi anak laki-laki.


Gadis tadi juga tidak memanggil nama Khairi. Lagi pula bukankah di dunia ini banyak sekali wajah yang mirip. Segera Aji menggelengkan kepala, sudah terlalu sering dia berhalusinasi seperti itu. Mungkin kali ini juga sama seperti sebelumnya. Segera pria itu berpamitan pada gadis tadi.


"Mbak, karena sudah bertemu dengan keponakannya, saya permisi dulu ya! Saya masih ada kegiatan."


"Oh iya, terima kasih sekali lagi, Mas, sudah mau mengantarkan saya ke sini," sahut gadis itu dengan sedikit menundukkan kepala.


"Sama-sama, Mbak. Saya permisi dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sebelum benar-benar pergi, Aji sempat menoleh ke arah anak laki-laki itu dan mengusap rambutnya pelan. Ada sebuah rasa yang tidak bisa digambarkan dalam hati. Ingin sekali memeluknya anak itu, dia merasa merindukan sosok anak yang sudah lima tahun tidak bertemu dengannya, yang tidak diketahui keberadaannya. Namun, pria itu takut jika dibilang lancang karena memeluk anak seenaknya saja.


Akhirnya Aji mengurungkan niat dan segera pergi dari sana. Jika terlalu lama di sana mungkin dia akan melakukan kesalahan pada anak itu karena sudah menganggap anak itu adalah Khairi. Aji pun menaiki mobilnya dan meninggalkan halaman sekolah. Sepanjang perjalanan pikirannya tidak tenang, selalu terbayang wajah anak itu.


Walaupun anak itu menjadi anak Asha juga rasanya sangat cocok sekali, mengingat wajah mereka yang sangat mirip. Aji pun teringat jika seharusnya khairi memang seusia anak itu dan juga sudah sekolah di taman kanak-kanak. Entah bagaimana keadaan anak itu kini, semoga saja baik bersama dengan ibunya. Setiap malam tidak lupa juga dia selalu berdoa agar ada orang yang melindungi mereka meskipun bukan dirinya.

__ADS_1


***


"Siapa orang tadi, Kak?" tanya Khairi saat dalam perjalanan pulang.


"Kakak nggak tahu namanya, tadi Kakak tidak sengaja ketemu di seberang jalan dan hampir saja Kakak tertabrak sama om itu karena terburu-buru. Untung saja Kakak tidak apa-apa dan orang tadi bertanggung jawab mau nganterin Kakak ke sini," jawab Tiara.


Orang yang tadi mengantar Tiara memang Aji. Tiara yang memang sebelumnya tidak pernah bertemu dengan Aji pun tidak tahu, jika orang itu adalah mantan suami Asha, sekaligus ayah Khairi. Dia yang sering mendengar keluh kesah anak itu tentang sosok ayah pun tidak tega. Ingin sekali gadis itu memaki laki-laki yang begitu tega meninggalkan Asha dan anaknya.


Meskipun berkali-kali Asha mengatakan jika mantan suaminya tidak bersalah, tetap saja dia benci. Padahal jika sudah mengetahui kebenarannya, tidak mungkin juga Tiara berani semarah itu. Urusan orang dewasa memang sangat rumit, begitulah pikirnya.


"Nggak boleh gitu, setiap orang pasti punya karakter masing-masing. Om tadi itu bukannya nggak sopan, tapi itu memang orangnya begitu. Dia 'kan juga sudah baik sama Kakak mau mengantar Kakak ke sini," sahut Tiara.


Tiara pun mengajak Khairi berjalan menuju halte di mana biasanya mereka menunggu angkutan umum datang. Memang sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk menaiki angkutan umum. Di daerah sana juga lebih mudah menaiki kendaraan itu. Meskipun mereka sangat mampu naik taksi, tetapi keduanya lebih suka naik angkutan umum.


Sepanjang perjalanan Khairi terus saja bercerita tentang apa saja yang dilakukannya di sekolah. Dia juga meluapkan kesalahannya terhadap apa yang dilakukan oleh teman-temannya akhir-akhir ini. Padahal dulu Khairi begitu suka jika akan pergi ke sekolah, tetapi sejak teman-temannya mulai mengejek dirinya, dia memulai enggan untuk pergi.


"Oh iya, kata nenek kamu kemarin nggak mau pergi ke sekolah, kenapa? Apa ada yang jahat sama kamu?" tanya Tiara di sela langkah mereka.

__ADS_1


"Aku 'kan sudah sering cerita sama Kakak kalau di sekolah banyak yang jahatin Khairi. Mereka selalu bilang kalau aku nggak punya ayah dan mama itu seorang janda. Padahal 'kan Mama masih punya suami, bukan janda. Aku pernah cari di ponsel kalau janda itu wanita yang tidak punya suami, kalau mama 'kan punya. Aku tidak suka sama mereka. Mereka juga suka isengin aku," sahut Khairi dengan cemberut.


Setiap Tiara menjemput Khairi, anak itu memang selalu bercerita apa saja yang sudah dilakukan di sekolah. Sebanyak apa pun yang Khairi ceritakan pada akhirnya anak itu melarang dia bicara pada siapa pun. Itu dilakukan karena tidak ingin masalah semakin besar, siapa tahu jika akan berakhir seperti ini.


"Khairi 'kan anak baik jadi tidak boleh membalas mereka, biarkan Tuhan yang membalas mereka. Khairi cukup diam dan berserah pada Tuhan, banyak berdoa untuk kebaikan semua."


"Tapi semakin didiamkan mereka akan semakin mengejek. Jika mereka mengejek Mama aku tidak suka, kalau mereka hanya mengejek aku, aku tidak apa-apa, tapi jangan mama. Aku sedih kalau ingat mama dijelekin sama mereka."


Tiara tidak bisa berkata apa-apa lagi. Di usianya yang masih anak-anak seperti ini, Khairi begitu sangat peduli pada mamanya. Dibesarkan oleh seorang wanita yang hebat, hingga membuat cara anak itu berpikir sudah dewasa dan enggan untuk merepotkan mamanya. Padahal dia sangat tahu jika Asha tidak pernah keberatan dengan semua tingkah laku Khairi, bahkan wanita itu sangat sabar dalam menghadapi tingkah laku sang putra.


"Sudah, tidak usah dibahas lagi. Sekarang cerita yang seru-seru saja."


Khairi akhirnya mengangguk dan kembali melanjutkan ceritanya yang sempat terputus tadi. Keduanya pun duduk di kursi halte, ada beberapa orang juga di sana. Mungkin menunggu bis atau angkot seperti dirinya.


"Kak, sebenarnya papa kerja di mana sih? Kakak pasti tahu, kan? Setiap aku tanya sama mama, pasti mama nggak mau jawab, nenek juga begitu. Sekarang aku tanya sama Kakak, Kakak pasti tahu. di mana tempat kerja papa, Kak? Biar aku yang datang ke sana, aku ingin mengajak papa pulang dan tidak lagi meninggalkan kami. Biar di rumah saja jagain rumah," tanya Khairi membuat Tiara mematung.


Gadis itu sendiri tidak tahu wajah ayahnya Khairi seperti apa. Meskipun sang nenek dulu bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah keluarga Asha, tetapi dia juga tidak tahu alamat sebenarnya di mana.

__ADS_1


__ADS_2