
"Tidak ada, Sayang. Kalaupun ada juga itu bukan urusan kita, aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan saja. Kalau memang ada yang aneh dengan Devi, itu urusan dia sendiri dan suaminya, bukan urusan kita," jawab Hasbi tanpa melihat istrinya dan hal itu semakin membuat Dira yakin jika ada yang diketahui sang suami tentang Devi. Namun, dua tidak ingin membahasnya jika Hasbi tidak menceritakannya. Pasti ada alasan dibalik itu semua.
"Kamu sukanya main teka-teki saja, Mas," sahut Dira yang masih menatap sang suami.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kamu mandi sana! Setelah itu kita makan malam sama-sama, kamu tadi sudah makan belum di luar?"
"Tadi belum, Mas, hanya makan ringan saja."
"Ya sudah, ayo cepat aku tunggu!" Dira mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Sebenarnya Hasbi tahu apa yang terjadi pada Devi, hanya saja dia tidak ingin sang istri tahu karena itu juga bukan ranah mereka untuk mencampuri urusan orang lain. Jika Devi saja tidak mau menceritakan tentang dirinya pada Dira, untuk apa juga dia menceritakan hal yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Tidak ada hal yang mengharuskan mereka berkaitan juga.
***
"Kamu dari mana saja dan cuma ini hasil belanjaan kamu yang begitu lamanya? Hanya dapat satu kantong kresek?" tanya Vika—mertua Devi—dengan berteriak.
"I–iya, Ma," jawab Devi tergagap dengan menundukkan kepala.
__ADS_1
"Kamu pergi dari tadi dan baru pulang sekarang hanya dengan membawa belanjaan cuma segini? Kamu membiarkan rumah berantakan! Kamu lihat semua ini, semuanya kotor. Banyak pekerjaan yang tertunda gara-gara kamu," tunjuk Vika pada barang yang berserakan serta debu di sana-sini. Devi pun melihatnya, dia cukup heran karena tadi sudah dibersihkan, tetapi kenapa sekarang seperti ini.
"Sebelum pergi, aku tadi sudah menyiapkan makanan siang dan juga sudah membersihkan rumah, bagaimana mungkin bisa sekarang seperti ini lagi?" tanya Devi dengan melihat sekeliling.
Ingin sekali dia menangis dan berteriak. Dari pagi Devi sudah bekerja keras agar segera bisa menyelesaikan pekerjaannya dan bisa bertemu dengan Dira. Hari ini dirinya juga bangun lebih pagi dari biasanya. Namun, pekerjaannya kenapa tidak ada habisnya? Di mata sama mertua tetap saja salah, tidak ada yang benar dalam dirinya sejak menikah dengan Mario.
Kehidupan Devi memang sangat berubah dari yang terdahulu. Dia dipaksa untuk berhenti kerja oleh sang suami dan mertua padahal saat itu dia akan dipromosikan naik jabatan. Ibu mertuanya mengatakan agar dirinya di rumah saja dan menjadi istri yang baik, menyambut kepulangan sang suami dan melayani semua kebutuhannya. Saat itu Devi menolak karena sangat menyayangi karirnya, tetapi Mama Vika mengancam akan memaksa Mario untuk menceraikannya.
Devi yang tidak ingin dicerai pun akhirnya menurutinya saja. Apa kata orang nanti jika dirinya menjadi seorang janda. Pernikahan ini dia sendiri yang memilih padahal kedua orang tuanya sudah memilih pria yang baik. Namun, karena cintanya yang begitu besar pada Mario Devi menolak perjodohan itu dan berusaha mendapat restu untuk sang kekasih.
Melihat Devi yang diperlakukan semena-mena oleh mamanya membuat Mario tidak tega, tetapi mau bagaimana lagi daripada sang mama semakin marah lebih baik diam. Lagipula apa yang dilakukan Mama Vika juga masih dalam batas wajar untuk mendidik Devi menjadi istri yang baik.
Pagi-pagi sekali dia harus bangun dan menyiapkan sarapan, juga mencuci baju semua penghuni rumah serta membersihkan rumah. Jika ada yang bertanya apa di rumah ini pembantu, jawabannya adalah tidak. Sebelum Mario menikah dengan Devi, memang ada pembantu di rumah ini. Mama Vika sengaja memecatnya dan membiarkan sang menantu yang mengambil alih semua pekerjaan rumah. Dirinya sama sekali tidak membantu karena ingin memberi pelajaran pada Devi sekaligus menunjukkan kepada sang menantu jika dirinya tidak pernah menyukai kehadirannya di rumah ini.
"Mana aku tahu kenapa rumah ini bisa kotor? Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa kamu membersihkannya dengan benar? Kalau kamu memang sudah membersihkannya, tidak mungkin sekotor ini!" hardik Mama Vika.
"Tapi aku tadi sudah benar-benar membersihkannya, Ma."
__ADS_1
"Sudah, tidak usah banyak bicara. Sebaiknya sekarang kamu bersihkan semuanya, jangan sampai saat Mario dan papanya pulang ke rumahnya masih kotor."
Tanpa banyak kata Devi masuk ke dalam rumah. Meskipun saat ini dia sangat kesal, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa, yang ada Mama Vika akan semakin marah jika dirinya membantah. Percuma juga wanita itu berdebat dengan sang mertua, pasti dirinya akan disalahkan. Di rumah ini tidak ada satu pun yang membelanya, termasuk juga sang suami.
Devi memang mendapat kasih sayang sepenuhnya dari sang suami, tetapi jika sang mertua ikut campur maka Mario tidak bisa lagi berkutik. Sekarang dia harus bertahan di tengah rasa sakitnya.
Vika memandangi kepergian sang menantu dengan tatapan sinis. Dia tidak akan pernah membiarkan Devi bahagia arena gara-gara wanita itu semua rencananya gagal. Sebelumnya Mario pernah dijodohkan dengan anak dari temannya. Namun, sang putra menolak dan memilih menikah dengan Devi. Meski Vika berusaha keras untuk menolak jika Mario tetap kekeh dengan keinginannya dia bisa apa.
Itulah yang membuat Vika tidak menyukainya dan berjanji membuat hidup wanita itu tidak tenang. Dia harus membuat Mario dan Devi berpisah. Apa pun akan wanita itu lakukan mau dengan cara halus maupun kasar. Sakit hatinya karena ditentang sang putra akan Vika balaskan pada menantunya.
Tidak berapa Mario pun pulang. Mendapati sang istri yang sedang membersihkan rumah membuat dia jadi tidak tega, tapi apa boleh buat semua itu perintah mamanya. Jika dia menantang maka akan semakin menimbulkan masalah dan akan semakin mempersulit Devi. Terlihat wajah sang istri yang begitu lelah, pria itu pun mendapat berniat ingin membantunya.
"Biar aku saja, Sayang. Kamu pasti lelah, kamu istirahat saja dulu," ucap Mario sambil menarik alat pel yang dipakai sang istri.
Devi pun menariknya kembali dan berkata, "Tidak usah, Mas. Nanti kalau Mama lihat pasti nanti akan marah."
Devi pun melanjutkan pekerjaannya tanpa memedulikan jika sang suami saat ini terus saja memandangnya. Dalam hati ada secuil penyesalan karena tidak mendengar apa yang orang tuanya katakan. Andai saja dia menuruti perintah orang tuanya, pasti tidak akan semenderita ini.
__ADS_1
"Tapi kamu kelihatan lelah sekali, biar aku saja yang me—"
"Memangnya kamu bisa apa, Mas? Aku lelah juga bukan hari ini saja, sudah dari kemarin-kemarin aku lelah, tapi selelah apa pun aku bekerja, aku harus tetap melakukan pekerjaanku karena sekarang aku sudah tidak memiliki pekerjaan. Aku harus menjadi istri yang baik dan menurut di rumah, melayani semua kebutuhan suami. Bukan hanya suami, lebih tepatnya seluruh penghuni rumah ini. Sekarang aku bahkan lebih pantas disebut pembantu gratisan."