
"Asha tidak akan pernah mau menerima tawaran darimu karena sampai kapan pun dia adalah istriku," sahut Aji yang sudah dari tadi mendengar pembicaraan mereka berdua.
Asha seketika menatap ke arah asal suara, dia terkejut saat mendapati sang suami yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, sementara Arvin tersenyum sinis saat mendapati rivalnya telah menjadi pahlawan kesiangan. Aji berjalan mendekati sang istri dan merangkul pinggang wanita itu. Tadi dia merasa perasaannya tidak enak karena Asha tak kunjung kembali setelah tadi pamit untuk pergi ke toilet. Aji yang khawatir segera menitipkan putranya pada penjaga di area permainan dan dirinya menyusul sang istri ke sini.
Ternyata benar, istrinya ada yang mengganggu. Awalnya dia tidak tahu siapa pria itu, tetapi setelah mendengar pembicaraan mereka Aji bisa menangkap jika pria yang ada di depannya adalah mantan kekasih Asha sebelum mereka menikah dulu. Dilihat dari penampilannya seperti orang baik-baik, siapa sangka jika memiliki hati yang busuk.
"Kamu tidak perlu repot-repot untuk memberitahukan kepada seluruh keluargaku mengenai asal-usul anak kami. Anak itu adalah anak kami berdua. Perlu kamu ketahui, akulah orang yang sudah menodai Asha saat itu, hingga membuatnya hamil jadi, percuma juga kalau kamu mengatakan tentang apa yang terjadi pada Asha pada keluargaku," jawab Aji berbohong.
Sementara itu, Asha menatap sang suami, tidak menyangka jika pria itu mau berbohong hanya demi membelanya. Dia masih sangat ingat wajah pria yang sudah mengambil kesuciannya dan itu bukan Aji, tetapi Asha tahu jika apa yang dilakukan sang suami hanya demi kebaikan dirinya dan Khairi. Wanita itu pun percaya pada apa pun yang dilakukan pria itu pasti demi kebaikan keluarga.
Arvin begitu terkejut mendengar apa yang dikatakan pria yang ada di samping Asha. Dia tidak menyangka jika Aji ternyata adalah pria yang sudah menodai kekasihnya dulu. Meskipun dalam hati dia ragu apakah yang dikatakan Aji benar atau tidak. Rasanya sangat sulit dipercaya, tetapi tidak mungkin juga jika pria itu mau menikahi Asha yang sedang hamil.
"Kamu tidak perlu banyak berpikir tentang kehidupanku dan Asha. Aku harap kamu tidak mengganggu istriku lagi karena hubunganmu dengannya sudah berakhir sebelum kami menikah. Jika kamu masih saja mengganggu keluargaku, kamu akan tahu sendiri akibatnya." Aji segera mengajak sang istri untuk pergi dari sana. Dia tidak ingin melihat Asha tertekan.
Arvin memandangi kepergian Asha dan suaminya dengan tatapan sendu. Sejujurnya dia juga tidak ingin melakukan hal ini, tetapi semua ini pria itu lakukan hanya demi bisa memiliki Asha kembali. Arvin sangat menyesal karena meninggalkan kekasihnya yang saat itu dalam kesusahan.
"Sepertinya kamu sangat bahagia dengan suamimu, padahal aku sangat ingin memilikimu kembali. Tidak adakah jalan untukku agar bisa memilikimu? Aku ingin kita hidup bersama sebagai keluarga. Aku sangat menyesal dengan apa yang sudah terjadi," gumamnya yang hanya bisa dia dengar seorang diri.
Penyesalan memang datangnya terlambat. Arvin juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ini semua kesalahannya karena terbawa emosi. Andai saja dulu dia berpikir dengan jernih, pasti dia tidak akan pernah meninggalkan kekasihnya begitu saja dan menerima apa pun kondisi wanita itu. Sekarang semua sudah terlambat, Asha juga sudah bahagia bersama pria itu.
__ADS_1
Aji juga terlihat begitu menyayangi istrinya. Tidak mungkin baginya merusak kebahagiaan mereka. Namun, mengikhlaskan juga sangat sulit. Sungguh pilihan yang sulit. Mungkin ini memang sudah nasibnya yang tidak berjodoh dengan Asha.
***
"Kamu tidak apa-apa 'kan, Sayang?" tanya Aji begitu mereka sudah menjauh dari Arvin.
"Aku tidak apa-apa, Mas. Terima kasih sudah menolongku, kamu selalu menjadi pahlawanku," sahut Asha dengan tersenyum. Matanya pun berkaca-kaca, tidak menyangka bisa mendapatkan cinta yang begitu besar dari sang suami.
Aji memeluk sang istri. Sedari tadi dia begitu khawatir pada Asha dan sekarang bisa tenang karena istrinya telah baik-baik saja. Pria itu berharap kedepannya sang istri bisa kuat menghadapi apa pun. Sebenarnya sudah tidak diragukan lagi kekuatan wanita itu, selama lima tahun Asha juga mampu melewati semua masalah yang terjadi tanpa bantuannya. Namun, sebagai seorang suami, dia tetap saja khawatir karena sekarang Asha dan Khairi adalah tanggung jawabnya.
"Aku senang kamu tidak apa-apa. Untuk kedepannya kamu harus memanggil aku jika terjadi masalah. Jangan menanggung semuanya sendiri. Bukankah sudah pernah aku katakan kalau saat ini kamu adalah tanggung jawabku, jangan memikul semua beban sendiri. Berikan semuanya padaku, kamu hanya cukup bersandar di dadaku. Semuanya akan aku selesaikan," ucap Aji dengan perasaan yang sudah mulai lega.
"Terima kasih, Mas, tapi sebagai seorang istri aku juga ingin membantumu. Jika aku masih bisa mengatasinya, apa salahnya? Aku tidak ingin terlalu merepotkanmu. Percayalah padaku, aku masih bisa mengatasinya. Kalau memang aku tidak bisa, aku akan mengadu padamu. Kamu tenang saja, aku akan selalu ingat kalau ada kamu yang selalu melindungiku," sahut Asha sambil mempererat pelukannya pada sang suami.
"Papa dan Mama kenapa peluk-pelukan di sini? Sampai dilihatin banyak orang!" seru Khairi membuat Asha mengurai pelukan dan melihat sekitar.
Benar saja banyak orang yang menatap keduanya, hingga membuat wanita itu malu dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Aji terkekeh dan kembali memeluk sang istri, membuat Asha menyembunyikan wajahnya di dada sang suami.
"Aku malu, Mas. Semua orang ngelihatin kita," bisik Asha tepat di dada sang suami.
__ADS_1
Aji mengusap punggung Asha dan berkata, "Tidak apa-apa, lagi pula kita 'kan pasangan halal, buat apa malu. Mereka yang belum ada ikatan saja tidak malu memperlihatkan kemesraan mereka, masa kita yang sudah halal justru malu? Sudah tidak usah dihiraukan. Ayo sekarang kita jalan-jalan lagi!" Aji beralih menatap sang putra yang ada di depannya. "Khairi mau main lagi?"
"Aku sudah lapar, Pa. Aku ingin makan."
"Ya sudah, ayo kita cari restoran! Kamu mau makan apa?"
"Apa saja, Pa."
Mereka bertiga berjalan sambil bergandengan tangan dengan Khairi yang berada di tengah-tengah kedua orang tuanya. Mereka berjalan menuju sebuah restoran yang cukup terkenal di mall tersebut. Khairi makan dengan begitu lahap sambil sesekali bercerita mengenai permainan yang tadi dia mainkan. Anak itu juga meminta sang papa agar nanti kedepannya bisa bermain di situ lagi.
Aji pun menyanggupi permintaan sang putra. Bagi pria itu asal Khairi bahagia apa pun akan dia lakukan. Itu semua juga Aji lakukan untuk menebus kesalahannya selama ini.
"Ma, Kak Tiara kenapa nggak ikut kita tinggal di sini? Nanti 'kan jadi enak, aku kalau jalan-jalan bisa main sama Kak Tiara. Aku kangen sama Kak Tiara," ucap Khairi dengan perasaan sedih.
Aji dan Asha saling pandang, keduanya sangat mengerti apa yang dirasakan oleh anak itu. Baru beberapa hari mereka di sini, pasti anak itu masih belum bisa menyesuaikan diri. Padahal di sini juga ada opa dan omanya, tetapi tetap saja berbeda dengan orang yang biasa selalu bersamanya.
"Kalau Khairi kangen sama Kak Tiara, nanti kapan-kapan kita ke rumah nenek, ya! Khairi juga pasti kangen 'kan sama nenek?" tawar Aji membuat wajah anak itu berseri.
"Beneran, Pa? Boleh?"
__ADS_1
"Tentu, dong, Sayang, tapi tunggu hari libur, Khairi 'kan sekolah. Papa juga lagi kerja."
"Iya, Pa. Nanti kalau liburan kita ke rumah nenek," sahut anak itu dengan tersenyum. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan nenek dan juga Tiara yang selama ini dia panggil kakak.