
"Aku tidak bisa, Mas. Sudah terlalu banyak waktu yang sudah kita lewati dan aku juga baik-baik saja," jawab Asha. "Meskipun hatiku masih memilihmu," lanjutnya dalam hati.
"Tidakkah kamu berpikir mengenai anak kita?" sela Aji yang tidak suka dengan jawaban Asha, padahal sudah jelas dia bisa melihat cinta di mata wanita itu.
"Dia anakku, Mas."
"Dia anakku juga, terserah kamu mau berkata apa, Khairi tetaplah anakku. Pikirkan juga tentang dia, kamu tidak harus menjawabnya sekarang. Aku akan memberimu waktu selama apa pun kamu memintanya. Yang aku harapkan hanyalah kamu memikirkan semuanya baik-baik. Jangan hanya karena egomu yang terlalu besar kamu mempertaruhkan kebahagiaan anak kita. Meskipun selama ini dia terlihat baik-baik saja, tapi kamu tidak tahu isi hatinya. Cobalah bicara dari hati ke hati, dengarkan apa yang dia inginkan."
Asha terdiam, bukan dia tidak tahu keinginan sang putra. Wanita itu juga tahu jika selama ini Khairi selalu menginginkan kehadiran seorang ayah, hanya saja memang Asha tidak bisa memenuhinya. Sekarang saat masa lalunya datang dan ingin kembali merajut rumah tangga, apakah mungkin dia bisa melupakan segala kesakitan dan kesulitannya selama lima tahun ini. Rasanya tidak mudah, tetapi bagaimana jika sang putra menginginkan dirinya bersama dengan Aji.
"Untuk malam ini izinkan aku menginap di sini. Aku akan tidur di ruang tamu atau di mana pun terserah. Lagi pula warga juga tahu siapa aku, tidak mungkin mereka menggerebek kita, kan?" ujar Aji lagi.
"Tapi, Mas ...."
Belum selesai Asha berkata, Aji sudah masuk ke dalam rumah. Pria itu tahu jika sang istri pasti akan menolak, itulah kenapa dia lebih memilih langsung masuk saja, tidak memedulikan penolakan sang istri.
__ADS_1
Asha menghela napas panjang, dari dulu begitulah sifat Aji, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain apalagi dirinya, tetapi apakah mungkin dia bisa menerima pria itu kembali. Antara otak dan hatinya sangat bertolak belakang. Hatinya menginginkan kehadiran Aji yang selalu menemani hidupnya, berbeda dengan pikirannya yang menolaknya. Mengingat betapa sakitnya dia terusir dari rumah, serta kesulitannya berada di tengah-tengah warga dengan penuh cibiran tentang dirinya yang hamil tanpa suami.
Apalagi putranya yang selalu dianggap sebagai anak haram karena tidak memiliki ayah. Namun, Asha bukanlah wanita pendendam. Melihat Aji yang begitu bersungguh-sungguh menginginkan dirinya, tentu saja membuat dia terharu. Apalagi jika mengingat dirinya bukanlah wanita yang pantas untuk di perjuangkan.
Sementara itu, di dalam rumah Aji lebih memilih bermain dengan Khairi. Pria itu akan berusaha untuk membujuk sang putra agar mau mempengaruhi mamanya untuk menerimanya kembali. Dia juga sampai lupa niatnya ingin berbicara dengan Bik Ika. Padahal kemarin Aji sudah berencana untuk berbicara dengan wanita paruh baya itu, tetapi tiba-tiba saja semuanya lupa.
"Aden, mau dibuatin teh atau kopi?' tawar Bik Ika.
"Tidak perlu, Bik. Nanti saja kalau ada Asha, biar dia yang buatin buat saya," jawab Aji.
"Bik, kapan-kapan bolehkah saya berbicara sebentar, tapi hanya berdua saja. Di luar rumah tidak di sini."
Bik Ika hanya bisa mengangguk, dia tahu jika hari itu akan tiba. Bagaimanapun juga Aji berhak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi. Pria itu pun meminta nomor pada Bik Ika agar nanti bisa mengirim pesan kapan mereka akan bertemu dan di mana tempatnya.
***
__ADS_1
Di atas ranjang Asha beberapa kali membuang napas kasa, teringat percakapannya tadi dengan sang suami. Wanita itu menatap wajah sang putra dengan saksama. Tidak ada kemiripan dengan Aji sama sekali karena memang Khairi bukanlah putra suaminya. Namun, anak itu sepertinya sangat menyayangi Aji, begitu pula sebaliknya.
"Apa aku harus menerima Mas Aji kembali? Lalu bagaimana dengan Mama Tia dan Papa Harto? Pasti mereka akan sangat marah kalau tahu Mas Aji ngin kembali padaku. Masih teringat jelas bagaimana mereka sangat membenciku. Apa sebaiknya aku bicarakan lagi mengenai hal ini dengan Mas Aji? Aku tidak ingin ke depannya akan ada salah paham lagi, apalagi sampai ada masalah. Jika semuanya memang harus dimulai kembali, semuanya harus jelas tanpa ada yang ditutup-tutupi. Pengalaman yang dulu memberiku pelajaran. Cukup Khairi saja yang menjadi korban, tidak akan ada lagi yang lainnya," gumam Asha yang berusaha menahan tangis.
Wanita itu pun merebahkan tubuhnya di samping Khairi dan memeluk anaknya itu. Ada rasa takut jika nantinya akan semakin menyakiti hati sang putra jika bersama. Namun, kasihan juga jika Khairi terpisah dengan orang yang dipanggilnya papa.
Sementara itu, di ruang tamu Aji juga tidak bisa tidur. Dia terbiasa tidur dengan kasur empuk kini malah tidur di atas tikar di depan televisi. Apalagi ada nyamuk yang mengelilinginya. Tadinya Bik Ika sudah menawarkan diri agar Aji tidur di kamarnya saja, nanti dia bisa tidur bersama dengan Tiara.
Namun, pria itu menolaknya. Aji tidak mungkin tega merepotkan pemilik rumah. Lebih baik dirinya saja yang tidur di luar. Meskipun terasa menyakitkan, bagi dia lebih baik daripada tidur di rumahnya yang bagus, tetapi terasa sepi. Pria itu membolak-balikkan tubuhnya mencari tempat ternyaman agar bisa tidur, tetap saja semuanya terasa sama.
Terdengar pintu kamar terbuka, Aji pun berpura-pura memejamkan matanya. Dia tahu jika Asha yang keluar dan tidak ingin membuat sang istri tahu jika dirinya merasa tidak nyaman. Asha tadinya merasa haus jadi, dia keluar untuk mengambil air minum. Saat melihat ke arah Aji, pria itu ternyata sudah tidur dengan selimut yang sudah sangat berantakan.
Asha yang merasa kasihan pun segera mendekat dan memperbaiki selimut tersebut. Dalam hati Aji merasa bahagia karena ternyata sang istri masih begitu peduli padanya. Meskipun bibirnya berkata tidak, hatinya berkata lain, memang masih sama seperti dulu. Mungkin ini juga pertanda baginya agar lebih memperjuangkan hati istrinya lagi.
Asha akan berdiri, tetapi tiba-tiba Aji menarik tangan tentang istrinya, hingga membuat wanita itu terjatuh di atas tubuhnya. Asha sempat memekik karena terkejut. Namun, dengan segera pria itu menutup mulut istrinya agar tidak berteriak. Tatapan mata keduanya terkunci meskipun dalam keadaan cahaya yang remang-remang, tetapi masih bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah keduanya.
__ADS_1
Tidak ada yang berubah sama sekali selama lima tahun ini, masih sama seperti dulu. Bahkan kini terlihat lebih beraura. Keduanya terhanyut dalam ingatan masa lalu, meski bukan kenangan manis, tapi tidak buruk juga.