Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
85. Menolak bertemu


__ADS_3

Aji sedang menemani sang putra bermain, tetapi sedari tadi pikirannya tidak berada di tempat. Dia sedang memikirkan bagaimana caranya menyampaikan pada sang istri, mengenai pembicaraannya dengan Arvin. Pria itu tidak ingin mengatakan apa pun, tapi merasa tidak tenang jika belum mengatakannya secara langsung. Aji juga yakin jika Asha tidak mungkin mau menemui Arvin. Apalagi jika harus membahas tentang masa lalu yang sudah dikubur oleh wanita itu.


"Papa! Papa lagi ngelamunin apa sih? Dari tadi aku panggilin juga!" seru Khairi membuat Aji tersadar dari lamunannya, hingga menatap sang putra yang saat ini sedang cemberut.


"Eh, Sayang. Tidak ada apa-apa kok! Papa hanya sedang ada pekerjaan sedikit tadi. Maaf Papa tadi nggak ngelihatin kamu," sahut Aji yang merasa tidak enak pada sang putra. Padahal dari tadi anaknya itu mencoba untuk mengajaknya berbicara, tetapi dia malah sibuk dengan pikiran masing-masing. "Ya sudah, ayo kita main lagi!"


Aji mencoba untuk mengambil hati putranya dan kembali mengajak bermain. Asha yang duduk di sofa pun memperhatikan sang suami, dia juga merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya. Namun, tidak mungkin menanyakan sekarang. Nanti saja saat di kamar dia akan bertanya. Jika itu urusan pekerjaan Aji juga tidak mungkin menceritakan masalahnya. Setidaknya Asha ingin Aji mempunyai tempat untuk berbicara tidak menanggungnya seorang diri.


Dari ekor matanya, Aji tahu jika dari tadi Asha juga memandangnya, hanya saja pria itu berpura-pura tidak tahu. Dia masih bingung harus mengatakan pada sang istri atau tidak, tetapi setelah dipikir dirinya sudah berjanji bahwa dalam pernikahan ini tidak ada rahasia sedikit pun. Apa pun nanti jawaban Asha, Aji juga harus bisa menerima. Pria itu yakin istrinya itu bisa menjaga keutuhan rumah tangganya.


Aji tidak peduli jika pun Asha masih mencintai Arvin. Yang dia harapkan hanyalah keberadaan wanita itu yang selalu ada di sisinya. Aji akan berusaha untuk membuat wanita itu hanya menjadi miliknya dan tidak akan pernah bisa berpaling.

__ADS_1


Waktu pun berlalu, Khairy juga sudah tidur di kamarnya. Asha sudah melatih anak itu untuk tidur di kamarnya sendiri. Untungnya sedikit demi sedikit Khairi sudah mulai terbiasa.


Saat ini di dalam kamar Asha dan Aji duduk di atas ranjang dan bersandar di kepala ranjang. Aji masih sibuk dengan ponselnya. Mungkin lebih tepatnya menyibukkan diri. Asha hanya diam, sesekali melihat apa yang dilakukan sang suami.


"Mas, tidak ada sesuatu kah yang ingin kamu ceritakan padaku? Aku lihat dari tadi kamu selalu gelisah. Apa kamu menganggapku orang lain, sehingga tidak mau bercerita denganku?" tanya Asha memecah keheningan.


Aji menatap sang istri sambil menghela napas panjang. Diletakkannya ponsel di atas meja dan merentangkan tangannya agar sang istri masuk ke dalam pelukannya. Asha tentu saja mengerti dan segera melakukan sesuai keinginan sang suami. Diusapinya lengan wanita itu, bukan untuk menenangkan, tapi lebih tepatnya untuk membuat dirinya tenang.


"Sebenarnya tadi siang Arvin datang ke kantorku," ucap Aji membuat tubuh Asha menegang.


"Dia memintaku agar mengizinkannya untuk bertemu denganmu. Awalnya aku menolak karena aku tidak suka jika kamu bertemu dengannya. Dia tetap ngotot bahwa kamu masih mencintainya, tapi karena aku yang telah melarang kamu untuk bertemu dengannya, membuat kamu terpaksa mengubur perasaanmu. Akhirnya aku bilang kalau semua terserah padamu. Kalau kamu masih ingin bertemu dengannya aku tidak akan menghalangi. Aku percaya padamu, kalau kamu pasti akan mempertahankan rumah tangga kita," lanjutnya.

__ADS_1


Dalam pendekatan Aji, Asha bisa merasakan detak jantung pria itu yang lebih cepat. Apa yang dirasakan oleh sang suami kini mungkin juga sama seperti apa yang dia rasakan.


"Aku sudah mengubur semua masa laluku. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dengan Arvin. Bukan karena aku takut jika rasa cinta itu masih ada, bahkan rasa cinta itu sudah hilang bertahun-tahun lamanya. Aku hanya ingin menjaga marwahku sebagai seorang istri. Tidak mungkin aku menemui laki-laki lain saat aku sudah memiliki seorang suami. Apa lagi jika laki-laki itu bagian dari masa laluku dan tujuannya juga untuk membahas masa lalu. Aku rasa tidak ada yang perlu aku bahas dengannya."


Aji tersenyum lega. Ternyata sang istri juga memiliki pemikiran yang sama seperti dirinya. Sekarang pria itu merasa lega, tidak ada yang perlu diragukan dari sang istri. Dia semakin yakin jika dalam hati wanita itu juga ada rasa cinta untuknya. Aji berharap sudah tidak ada lagi orang yang mengganggu rumah mereka sekarang dan nanti. Kalaupun ada mudah-mudahan mereka bisa melewatinya.


"Nanti aku akan kirim pesan padanya, mudah-mudahan saja dia mau mengerti dan tidak lagi mengganggu kita."


"Kamu punya nomor teleponnya, Mas?"


"Iya, aku memang sengaja memintanya untuk memberi kabar kalau kamu mau atau tidak bertemu dengannya."

__ADS_1


Asha mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi. Keduanya pun memutuskan untuk segera tidur. Besok masih banyak banget kegiatan yang harus mereka lakukan. Apalagi Asha yang seorang ibu rumah tangga, dia harus bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan untuk sang suami dan putranya.


Memang begitulah kegiatan dari wanita itu, yang tidak mengizinkan asisten rumah tangga untuk mengerjakannya. Apalagi Aji juga suka dengan masakan Asha, semakin membuat wanita itu bersemangat untuk berkutat dengan alat-alat dapur.


__ADS_2