Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
92. Vania


__ADS_3

"Kak, mau minum apa?" tanya Dira begitu keduanya sudah duduk di ruang tamu.


"Tidak usah, aku datang ke sini hanya ingin mengantarkan kamu. Sebentar lagi aku ada pekerjaan jadi, harus kembali ke kantor," sahut Hasbi.


"Kalau Kakak sibuk kenapa tadi jemput aku? Maaf aku sudah ngerepotin," ucap Dira yang merasa tidak enak.


"Tidak masalah. Lagi pula aku masih bisa mengatur jadwalku. Kedepannya juga pasti aku akan lebih perhatian padamu. Anggap saja ini sebagai latihan saat nanti kita sudah sah menikah."


Wajah Dira memerah karena malu, tidak menyangka jika pria itu bisa menggodanya juga. Hasbi pun akhirnya pamit undur diri. Dia masih ada pekerjaan yang harus segera diselesaikan.


"Neng Dira kenapa?" tanya Bik Ella yang selama ini menemani Dira di apartemennya.


"Eh, Bibi, ngagetin aja!" seru Dira sambil memegangi dadanya.


"Padahal Bibi bicaranya pelan loh, Neng. Pasti Neng Dira lagi ngelamun ya! Ngelamunin apa? Laki-laki tadi itu siapa? Bibi baru lihat dia datang ke sini, pasti pacarnya Neng Dira ya!"


"Bukan. Dia tunanganku."


"Hah!" Bik Ella melongo tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dira.


Selama ini Ella mengenal Dira sebagai gadis pendiam, yang jarang sekali dekat dengan laki-laki, tapi tiba-tiba sekarang sudah punya tunangan begitu saja. Padahal sebelumnya banyak sekali pria yang ingin mendekatinya. Namun, Dira seolah menjaga jarak agar tidak menimbulkan fitnah, tetapi kenapa sekarang cepat sekali.


"Sudah, nggak usah terlalu banyak berpikir. Lebih baik Bibi siapin makanan. Sekarang aku mau mandi dulu nanti kalau ada Devi suruh tunggu saja, katanya tadi mau ke sini."


"Iya, Neng."


Dira pun segera pergi ke kamarnya. Sebenarnya dia masih belum ingin bertemu dengan Devi. Bagaimanapun juga semua yang terjadi padanya karena sang sahabat, tetapi dia juga tidak mungkin selamanya menghindar.


***


"Mas, apa Hasbi dan Dira akan baik-baik saja nanti setelah menikah? Aku lihat Dira sepertinya belum rela jika harus menikah. Bukankah dia pernah bilang masih banyak hal yang ingin dilakukan?" tanya Asha saat dirinya hanya berdua dengan sang suami di dalam rumahnya.


"Papa sudah memilihnya, pasti Hasbi pria yang baik. Kalaupun sekarang Dira tidak suka, pasti seiring dengan berjalannya waktu juga mereka akan saling cinta, sama seperti kita," sahut Aji.


"Mudah-mudahan saja. Aku lihat Hasbi juga pria yang baik, pasti bisa menjaga Dira dengan baik.

__ADS_1


"Kenapa kamu jadi memuji Hasbi? Memang aku bukan pria yang baik?" tanya Aji dengan nada tidak suka, membuat Asha terkekeh memandangi wajah sang suami yang ditekuk.


"Kamu kenapa sih, Mas? Tiba-tiba marah dan kesal begitu."


"Bagaimana aku tidak kesel kalau mendengar istriku yang cantik ini malah memuji pria lain. Aku tidak suka kamu bicara seperti itu. Apalagi memuji-muji Hasbi yang sebentar lagi akan menjadi adik ipar kamu."


"Kamu apaan sih, Mas! Apa yang sebenarnya kamu pikirkan! Aku tuh nggak ada niat apa-apa, aku cuma bilang apa adanya tentang Hasbi. Lagi pula di hati aku itu cuma ada kamu, tidak ada orang lain jadi, kamu jangan cemburu begitu."


Asha merebahkan kepalanya di pundak Aji, berharap pria itu tidak menaruh curiga apa pun padanya. Lagi pula di dalam hatinya memang hanya ada nama sang suami seorang.


Mendengar apa yang dikatakan Asha, membuat Aji merasa bersalah. Bukan maksudnya meragukan sang istri, hanya saja dia tidak rela mendengar pujian yang keluar dari bibir wanita itu untuk pria lain.


"Aku juga nggak ada perasaan apapun sama Hasbi sekedar ujian biasa saja."


"Aku juga percaya kalau kamu memang cintanya sama aku, tapi tetap saja aku tidak rela kalau kamu memuji pria lain. Apalagi di depanku seperti sekarang ini."


"Iya, maafkan aku. Lain kali aku tidak akan memuji pria lain."


"Assalamualaikum!" teriak Khairi yang baru saja pulang bermain dan diikuti oleh seorang gadis di belakangnya. Asha segera menegakkan tubuhnya menyambut sang putra.


"Iya, Ma. Tadi aku mau telepon Mama pakai ponsel pak satpam, tapi nggak jadi karena ada tante yang panggilin aku, jadinya aku ikut pulang bareng tante."


Asha menoleh ke arah belakang Khairi yang ternyata ada adiknya di sana. "Eh, ada kamu, Van. Sama siapa?"


"Sendiri saja, Kak. Kebetulan aku kangen sama Khairi jadi, aku sengaja mampir." Vania pun memberi salam pada sang kakak dan kakak iparnya.


Asha menatap sang adik, tidak biasanya gadis itu datang ke sini tanpa pemberitahuan. Apakah mungkin terjadi sesuatu juga dengannya.


"Kenapa Kakak lihatin aku kayak gitu?"


"Aku hanya heran saja kenapa kamu tiba-tiba datang ke sini. Jangan bilang kamu sedang ada masalah," tanya Asha yang sedikit parno.


Kemarin adik iparnya datang dan tiba-tiba saja minta menginap, yang ternyata memang sedangkan ada masalah jadi, saat melihat adiknya yang datang dia berpikir ke arah sana juga.


"Aku tidak ada apa-apa, Kak. Memangnya ada masalah apa? Aku 'kan sudah bilang kalau kangen sama Khairi. Lagi pula aku di rumah juga bosan nggak ngapa-ngapain, nggak ada pekerjaan. Aku sudah cari pekerjaan di mana-mana, tapi belum ada yang diterima," ucap Vania sambil cemberut.

__ADS_1


"Bukannya papa sudah memberikan pekerjaan buat kamu?"


"Memang papa sudah memberi pekerjaan untukku, tapi aku ingin mencari pengalaman di luaran sana dulu. Aku ingin tahu bagaimana rasanya berjuang dari nol. Kalau bekerja sama papa sama saja bohong, aku juga bisa mendapatkan uang tanpa bekerja."


Asha menghela napas lelah, setiap orang pasti memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Orang-orang di luaran sana pasti senang sekali mendapatkan pekerjaan tanpa harus susah-susah, tetapi Vania justru menolak.


"Terus sekarang kamu maunya apa?"


"Sama seperti yang aku katakan tadi, aku maunya kerja dari bawah. Aku ingin mencari pekerjaan sendiri dan belajar semuanya dari nol."


"Apa kamu nggak mau lanjutin kuliah master saja?"


"Enggak, aku sudah capek belajar di bangku sekolah terus. Aku maunya belajar secara langsung di tempat kerja."


"Kamu maunya kerja yang bagaimana? Mungkin nanti Kakak bisa bantu carikan," sahut Aji yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan kakak dan adik itu.


"Aku maunya ya bekerja sebagai karyawan biasa dulu, Kak. Nanti barulah aku mempelajari semuanya satu persatu hingga Jabaran yang paling atas."


"Memang kamu kira belajar semua dari awal itu mudah? Nggak semudah kita berbicara," cibir Asha.


"Biarin, yang penting aku berusaha dulu."


"Kalau karyawan biasa aku bisa bantu. Kamu maunya kerja di mana? Di perusahaanku bisa atau di perusahaan temanku juga bisa. Kebetulan dia juga bisa menjaga rahasia karyawannya," jawab Aji lagi.


Asha menatap sang suami, ada perasaan tidak rela jika adiknya bekerja di perusahaan Aji. Dia takut jika Vania akan bermain api dengan iparnya. Bukankah zaman sekarang sudah banyak cerita seperti itu jadi, untuk mengantisipasi lebih baik tidak membuka jalan. Akan tetapi, sekarang Aji malah menawarkan diri, ingin melarang pun rasanya juga tidak enak dan serba salah.


"Kalau kerja sama Kak Aji sama saja bohong. Aku maunya dapat pekerjaan dari usahaku sendiri," sahut Vania.


"Oh, kalau gitu kamu melamar saja di perusahaan PT. Lestari Jaya, di sana lagi ada lowongan karyawan baru karena perusahaan itu saat ini sedang yang diperbesar jadi, membutuhkan beberapa karyawan. Melihat kamu yang lulusan terbaru mungkin bisa dipertimbangkan karena memang mereka mencari yang bibit baru."


"Beneran, Kak?" tanya Vania dengan antusias yang diangguki Aji dengan tersenyum. "Nanti aku coba melamar di perusahaan itu. Semoga saja aku bisa diterima di sana."


"Semoga saja, tapi ingat jangan membuat ulah. Bos di sana juga orang yang galak, tapi ganteng. Awas kalau kamu jatuh cinta sama dia nanti," ujar Aji yang sengaja ingin menggoda adik iparnya.


"Ya nggaklah. Aku bukan orang yang gampang jatuh cinta."

__ADS_1


__ADS_2