
Dira dan sang suami baru sampai di rumah mertuanya. Keduanya disambut dengan begitu hangat oleh Papa Edo dan juga Mama Liana. Hal itu sedikit membuat Dira merasa malu karena dia tidak membawa apa pun dan tidak melakukan apa-apa. Sekarang sudah diperlakukan dengan begitu baik.
"Sebaiknya kalian istirahat saja. Bibi lagi siapin makanan, nanti kalau sudah siap Mama akan panggil kalian," ucap Mama Liana setelah membawa menantunya memasuki rumah.
"Biar aku bantu ya, Ma," sahut Dira yang segera dicegah oleh sang mertua.
"Jangan! Kamu baru sampai pasti lelah. Sebaiknya kamu istirahat saja."
"Tidak, Ma. Aku masih bisa bantu-bantu."
"Tidak usah. Sudah ada bibi yang mengerjakan," sahut Mama Liana yang kemudian beralih menatap sang putra. "Hasbi, ajak istrimu masuk!"
Hasbi mengangguk dan segera mengajak Dira masuk ke kamar. Awalnya wanita itu menolak karena merasa tidak enak pada sang mertua. Namun, sang suami tetap memaksa, hingga akhirnya wanita itu pun menurut dan ikut masuk ke dalam kamar sang suami.
Begitu masuk ke dalam, Dira bisa mencium bau pengharum ruangan beraroma buah jeruk. Seluruh dinding pun berwarna putih. Tidak ada hiasan sama sekali di sana, hanya ada satu foto besar di dinding saat Hasbi sedang wisuda dengan ditemani oleh kedua orang tuanya. Di sana terlihat sang suami begitu gagah.
"Kamu bisa meletakkan baju-bajumu di lemari ini. Kalau nanti tidak muat, kita beli lagi lemari yang lebih besar," ucap Hasbi sambil membuka satu pintu lemari dan Dira hanya mengangguk.
Wanita itu ke sini juga tidak membawa baju banyak, hanya beberapa. Entah nanti jika dia sudah mengambil barang-barangnya yang ada di apartemen. Dira sampai lupa tidak menanyakan pada sang papa bagaimana dengan bibi, apa harus berhenti bekerja, kasihan kalau tidak bekerja. Nanti saja dia tanyakan pada sang papa atau nanti saat Dira kembali ke apartemen dan menemui bibi.
"Kamar mandinya di sebelah sana," tunjuk pria itu ke sebuah pintu.
__ADS_1
Dira hanya mengikuti arah yang ditunjuk sang suami tanpa berkata apa pun.
"Apa ada sesuatu yang tidak nyaman untukmu di rumah ini? Jika ada katakan saja," ucap Hasbi sambil duduk di sofa. Sedari tadi hanya melihat sang Dira diam karena itu dia takut jika istrinya tidak nyaman.
Dira pun mengikuti sang suami dan duduk di sebelahnya. "Tidak ada, hanya saja rasanya aneh tinggal di rumah baru dengan orang-orang yang baru, tapi kamu jangan khawatir, aku akan belajar menyesuaikan diri."
Hasbi mengangguk dan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, membuat Dira terkejut dan berusaha menjauh. Namun, pria itu menahannya. Selagi ada kesempatan dia ingin memanfaatkannya.
"Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri dengan sentuhan seperti ini. Kita sudah sah suami istri jadi, halal bagiku untuk menyentuhmu. Jika kita tidak mulai dari sekarang kapan lagi."
Dira pun akhirnya diam dan mengangguk, memang benar apa yang dikatakan sang suami, tapi dengan cara tiba-tiba seperti ini membuat wanita itu kesulitan bernapas. Namun, sebisa mungkin wanita itu bersikap tenang agar tidak membuat suaminya kecewa. Sebenarnya Hasbi juga gugup, tetapi jika dia tidak memulai maka entah kapan keduanya dekat. Meski harus menahan rasa malu dan gengsinya akan pria itu lakukan.
"Besok saja aku bantu kamu buat beres-beres di rumahmu. Besok kamu masih libur, kan?"
"Iya, terus Bik Ella bagaimana? Aku lupa menanyakannya sama papa kemarin."
"Papa sudah cerita, katanya bibi sudah pulang dan sekarang kerja sama papa lagi jadi, kamu tidak usah khawatir. Rumahmu nanti juga akan ditempati orang kepercayaan papa. Aku kurang tahu siapa karena memang itu bukan urusanku. Aku hanya mengiyakan ucapan papa saja."
Dira hanya mengangguk sambil menikmati jantungnya yang sudah berdetak tidak beraturan. Hasbi pun meminta sang istri untuk istirahat. Namun, Dira yang belum mengantuk pun menolak. Wanita itu memilih membersihkan diri terlebih dahulu karena tubuhnya terasa lengket dan tidak nyaman. Setelah ini dia harus membereskan baju yang ada di koper.
Dira bukanlah wanita pemalas, setiap kali ada pekerjaan yang bisa dilakukan pasti akan diselesaikan lebih dulu daripada harus tidur. Sementara itu, Hasbi memilih untuk keluar, dia ingin menanyakan pada sang papa mengenai pekerjaan yang sudah beberapa hari ditinggalkan.
__ADS_1
***
Saat makan malam, semua orang berkumpul di ruang makan. Dira mengambilkan makanan untuk sang suami, itu sudah menjadi tugasnya sejak statusnya berubah menjadi seorang istri. Hasbi pun senang karena ada yang melayani. Padahal dulu jika sang mama tang melakukannya dia merasa risih, tetapi sekarang malah sebaliknya.
"Kalian memang tidak ada rencana bulan madu? Sebagai pengantin baru seharusnya kalian itu senang-senang dulu, nanti kalau ada anak kalian pasti sulit mau ke mana-mana. Apalagi nanti kalau sudah memiliki anak. Belum lagi kalau si kecil sakit atau rewel saat di perjalanan, pasti tidak akan bisa ke mana-mana," ucap Mama Liana pada anak dan menantunya. Dira masih diam sambil mengambil makanan.
Hasbi pun akhirnya yang menjawab, "Nantilah, kita akan merencanakannya. Untuk saat ini masih belum."
"Kalian tidak menunda kehamilan, kan?" tanya sang mama lagi.
"Tidak, Ma, untuk apa menunda kehamilan. Kami memang belum merencanakan untuk bulan madu. Lagian kalaupun nanti ada anak apa salahnya. Justru lebih bagus, kita bisa pergi bersama dengan anak kami. Kalau nanti anaknya rewel 'kan juga bisa dititipin sama Mama, biar aku jalan-jalan berdua saja sama Dira," sahut Hasbi dengan nada bercanda. Namun, ditanggapi serius oleh Mama Liana.
"Kamu itu maunya enakan sendiri. Jalan-jalan berdua anaknya dititipin sama Mama, tapi nggak pa-pa sih. Mama juga senang kalau disuruh jagain cucu. Kalian mau ke mana nanti terserah nggak pa-pa biar Mama saja yang jagain anak kalian."
"Astaga, Mama, aku tuh cuma bercanda, tapi kenapa Mama nanggapinnya serius!"
"Kamu bercanda, tapi Mama nggak bercanda. Mama serius, nggak ada pembicaraan bercanda dari tadi."
Hasbi menggelengkan kepala, mamanya selalu ada saja cara untuk membuatnya kalah dalam berdebat. Namun, pria itu tidak mau ambil pusing. Nanti kalau benar-benar mereka memiliki anak dan berencana liburan, dia tetap akan membawa istri dan anaknya ke mana pun, tidak akan meninggalkan salah satu dari mereka.
Jika anaknya rewel, maka lebih baik mereka tidak pergi ke mana-mana karena baginya kebersamaan dengan keluarga adalah hal yang terpenting. Hasbi tidak ingin kehilangan tumbuh kembang putranya. Semua harus selalu terawasi dengan baik. Pria itu menggelengkan kepala pelan, entah kenapa tiba-tiba memikirkan soal anak. Dia dan Dira saja belum melakukan malam pertama, entah kapan itu akan terjadi. Hanya tinggal menunggu sang istri untuk siap.
__ADS_1