Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
114. Kedatangan Naura


__ADS_3

"Bagaimana, Mas? Naura mau datang, kan?" tanya Asha pada sang suami setelah Aji menutup panggilan.


"Naura-nya sih mau, Sayang, tapi nggak tahu diizinin suaminya atau tidak. Dia bilang mau hubungin suaminya dulu. Dia sekarang seorang istri jadi, ke mana-mana harus atas izin suaminya dulu. Kita tidak boleh memaksanya," jawab Aji sambil menyerahkan ponsel sang istri.


Asha yang semula ceria kini berubah murung. Namun, dia tetap mengangguk meskipun sangat menginginkan makanan buatan Naura sekarang. Sebagai seorang wanita Asha mengerti alasan yang diberikan oleh Naura karena dirinya juga seorang istri, yang pasti akan menuruti perintah suami.


"Sambil menunggu Naura, bagaimana kalau kita makan dulu. Kamu pasti lapar," bujuk Aji, berharap mau ikut makan dan melupakan keinginannya.


"Aku nggak lapar, Mas. Kalau nanti dipaksain takutnya muntah lagi. Nanti saja kalau aku sudah benar-benar lapar."


"Kalau kita nggak makan, Khairi juga pastinya menolak kalau disuruh makan. Sebaiknya kita turun saja mungkin sambil makan sedikit, biar Khairi makan dulu. Kasihan anak itu baru pulang dari sekolah."


Asha akhirnya mengangguk meskipun saat ini tubuhnya benar-benar sangat malas bergerak. Keduanya turun dan menemani sang putra menikmati makan siang. Saat Khairi meminta Asha makan, wanita itu menolak dengan alasan sudah kenyang tadi sudah makan.


Saat sedang menemani sang putra, Naura datang bersama putrinya. Asha pun menyambutnya dengan bahagia. Apa yang diinginkan sejak tadi akhirnya bisa terpenuhi. Aji hanya menggelengkan kepala melihat itu. Dia merasa tidak enak pada Naura karena sudah merepotkan wanita itu, tetapi demi calon anaknya biarlah nanti dirinya yang berterima kasih pada sahabatnya itu. Mungkin nanti memberi sedikit hadiah untuknya.


"Anak cantik namanya siapa?" tanya Asha sambil menundukkan tubuhnya agar bisa menyamai tinggi gadis kecil itu.


"Ara, Tante," jawab gadis kecil itu dengan malu-malu.

__ADS_1


"Ara! Namanya bagus sekali, ayo masuk! Di rumah ada Kakak Khairi, nanti main sama-sama ya!"


Asha pun mengajak Naura dan putrinya masuk ke dalam rumah, langsung menuju ruang makan.


"Kamu mau minum apa, biar aku ambilin minum," ucap Asha sambil meminta Naura duduk di meja makan.


"Tidak usah, Sha. Aku langsung masuk saja, ini 'kan sudah waktunya makan siang. Pasti kamu belum makan, kan?"


"He he he, iya. Kamu tahu saja," jawab Asha sambil menunjukkan deretan giginya.


Naura pun tersenyum dan menuju dapur. Dia meminta putrinya untuk duduk di meja makan saja dan tidak pergi ke mana-mana. Wanita itu mulai mencari apa saja yang dia butuhkan untuk membuatkan nasi goreng buat sahabatnya. Meskipun hubungan keduanya tidak terlalu dekat, tetapi ibu hamil itu wanita yang baik dan Naura tidak ingin kehilangan sahabat seperti dia.


"Apa kamu setiap hari memasakkan makanan untuk suamimu?" tanya Asha yang berada di dapur bersama dengan Naura. Wanita itu sengaja menemani sahabatnya agar tidak merasa canggung. Meskipun keduanya tidak dekat, tapi setidaknya mereka pernah saling mengenal satu sama.


"Selama aku di sini, aku belum pernah melihat suamimu. Kapan-kapan kita makan bersama bagaimana? Setidaknya untuk menjalin tali yang sempat terputus."


Naura menghentikan aktivitasnya dan menatap Asha dalam. Dia juga sebenarnya sangat ingin, tetapi apa kata orang nanti jika mereka berteman lagi.


"Maaf, bukan aku tidak mau, hanya saja aku tidak ingin nantinya ada fitnah diantara kita. Kamu tahu tentang masa laluku dan perasaanku. Meskipun sekarang aku sudah tidak memiliki rasa terhadap Aji, tetap saja bagi orang sekitar, mereka tidak akan percaya. Bagi mereka aku adalah wanita jahat yang tega merebut suami orang."

__ADS_1


"Kenapa sekarang kamu lebih peduli pada omongan orang lain? Lagipula itu sudah lewat bertahun-tahun. Tidak ada salahnya membangun pertemanan lagi, tapi kalau kamu merasa tidak nyaman juga tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksakan kehendakku. Aku hanya berangan-angan bagaimana jika kita berteman, pasti menyenangkan," ujar Asha sambil membayangkannya.


"Akan aku pikirkan usulmu. Nanti aku bicarakan juga sama suamiku, dia mau apa tidak makan malam bersama, tapi kalau dia menolak aku mohon maaf tidak bisa memaksanya."


"Iya, tidak apa-apa. Kita silaturahmi lewat komunikasi cukup."


Naura pun melanjutkan kegiatannya memasak sambil ditemani oleh Asha, sementara Khairi mengajak Ara bermain di ruang keluarga. Di rumah ini tidak ada mainan anak perempuan membuat anak laki-laki itu bingung mengajak Ara main apa. Untungnya gadis kecil itu tidak masalah bermain mobil-mobilan. Ara juga anaknya pendiam, sedari tadi hanya berbicara seadanya.


Aji yang baru keluar dari kamarnya menatap putranya heran, sedari tadi Khairi senyum-senyum sambil memperhatikan Ara yang sedang bermain. Pria itu pun duduk di samping anaknya sambil bertanya dengan berbisik, "Kenapa ngeliatin Ara seperti itu? Apa ada yang aneh dengannya?"


Khairi pun sontak menatap papanya dan kembali menatap Ara. "Dia cantik ya, Pa?"


Aji tersedak ludahnya sendiri. Bagaimana bisa anak sekecil Khairi bisa berkata demikian. Sedari tadi Ara juga terlihat diam saja sambil bermain. Gadis kecil berusia tiga tahun itu hanya sibuk bermain, hanya sesekali berbicara.


"Kamu masih kecil, tidak boleh pacar-pacaran atau yang lainnya, ingat itu!" seru Aji dengan penuh penekanan, tidak ingin anaknya memiliki pikiran yang macam-macam.


"Ih, Papa! Siapa juga yang pacaran! Aku 'kan cuma bilang kalau Ara itu cantik, kenapa malah jadi pacaran. Aku juga tahu kalau aku masih kecil memang apa yang aku katakan itu salah ya? Memang Ara tidak cantik?"


Seketika Aji gagapan, apalagi Ara juga menatap ke arah mereka karena suara Khairi yang keras. Pasti gadis kecil itu juga mendengar perbincangan mereka. Aji jadi merasa tidak enak. Meskipun Ara gadis kecil, takutnya nanti anak itu mengatakannya pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Tidak. Tentu saja Ara cantik siapa bilang Ara jelek. Iya, kan, Sayang," ujar Aji pada gadis kecil itu sambil rambutnya.


Ara hanya tersenyum sambil menunjukkan giginya yang ompong, sementara Khairi menahan tawanya karena dia tahu sang papa sedang salah tingkah, merasa bersalah atas ucapannya. Tidak berapa lama Naura datang memanggil mereka untuk bergabung makan siang. Tadi wanita itu sengaja masak lebih agar semuanya bisa ikut makan bersama. Khairi yang tadi sudah makan pun kembali ikut bergabung. Anak itu begitu senang meja makan bertambah orang dan jadi ramai.


__ADS_2