
Aji mengajak para orang tua naik ke dalam mobil. Mereka harus segera pergi dari sana, dia tidak ingin keluarganya menjadi tontonan orang-orang yang ada di bandara. Asha bersama dengan kedua orang tuanya menaiki mobil milik Aji, sudah ada sopir juga yang mengemudikannya. Aji sendiri bersama dengan kedua orang tuanya menaiki taksi, yang tadi membawa pria itu ke bandara.
Sepanjang perjalanan, baik Aji maupun Asha terus saja dicecar pertanyaan oleh kedua orang tuanya. Namun, keduanya memutuskan untuk menjelaskan nanti saja saat di rumah agar semuanya jelas dan tidak ada lagi pertanyaan yang diulang. Dalam hati orang tua mereka begitu bahagia karena apa yang mereka inginkan dari dulu akhirnya tercapai juga. Mama Nisa sempat bertanya pada Asha mengenai cucunya, apakah baik-baik saja dan sehat.
Asha pun mengatakan bahwa Khairi baik dan dalam keadaan sehat. Hal itu tentu saja membuat wanita paruh baya itu merasa lega, sekaligus dia kagum pada putrinya karena telah berhasil membesarkan anaknya seorang diri. Meski tanpa bantuan siapa pun. Dia juga tidak menyangka bahwa sang putri yang dulunya dia lindungi, kini justru menjadi ibu yang hebat.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai juga di rumah yang selama ini Asha tempati. Aji mengajak para orang tua masuk ke dalam rumah setelah membayar taksi.
"Ini rumah kamu, Nak?" tanya Mama Tia begitu sampai di teras.
Rumahnya tampak kecil bagi wanita itu, entah bagaimana selama ini sang menantu menjalani hari-harinya. Sungguh dia merasa menjadi orang yang tidak tahu diri. Selama ini dirinya hidup dalam kecukupan sementara sang menantu kekurangan.
"Bukan, Ma. Ini rumah Bik Ika," jawab Asha dengan tersenyum.
Tadinya dia memanggil Tia dengan sebutan tante, tapi mantan mertuanya itu melarangnya dan menginginkan Asha memanggilnya seperti dulu jadi, terpaksa dia memanggilnya mama.
"Jadi kamu selama ini tinggal sama Bik Ika?" tanya Mama Nisa dengan kesal.
Dulu saat sedang mencari putrinya, Bik Ika mengatakan jika tidak tahu apa-apa mengenai keberadaan putrinya. Sekarang kebenarannya malah berbeda dengan apa yang dikatakan mantan pembantunya itu.
Asha yang tahu jika mamanya marah pun berkata, "Mama jangan marah pada Bik Ika, aku yang melarang dia untuk mengatakan kepada semua orang."
Mama Nisa pun membuang napas kasar, dia akui ini semua memang kesalahannya. Tidak ada alasan untuknya marah pada orang lain. Seharusnya wanita itu sadar bahwa apa yang terjadi semua karena kesalahannya dan sang suami.
"Mama tidak marah, hanya kecewa saja, tapi kamu jangan khawatir. Mama baik-baik saja."
Asha mengajak semua orang masuk ke dalam rumah. Tampak Bik Ika begitu terkejut melihat siapa yang datang. Dia takut jika semua orang akan memarahinya, terutama mantan majikannya yang dulu selalu baik padanya. Bagaimanapun juga wanita paruh baya itu telah menyembunyikan anak mereka.
__ADS_1
"Nyonya, Tuan, maaf saya ... saya sudah ...."
"Tidak apa-apa, Bik. Saya mengerti kenapa selama ini Bibi menyembunyikan Asha. Justru saya berterima kasih sama Bibi karena sudah menjaganya dengan baik," ucap Mama Nisa sambil tersenyum, membuat Bik Ika merasa lega karena dirinya tidak harus disalahkan atas apa yang sudah terjadi.
Bagaimanapun juga itu semua sudah menjadi pilihan Asha. Bik Ika hanya membantu saja. Semua orang sudah duduk di ruang tamu yang saat ini sudah digelar permadani. Di sana memang ada sofa, tetapi tidak akan muat untuk mereka semua jadi, para orang tua yang duduk di sofa dan yang lainnya duduk di bawah.
"Di mana cucu Mama, Sayang?" tanya Mama Nisa.
Asha pun segera melirik ke arah Bik Ika seoalah bertanya keberadaan sang putra.
"Khairi tadi ikut sama Amira dan Tiara untuk belanja ke pasar. Dari tadi pagi dia merengek ingin pergi ke menemui kalian di klinik jadi, Amira membujuknya dengan mengajak pergi belanja," jawab Bik Ika.
"Amira itu siapa, Bik?" tanya Mama Tia.
"Dia anak saya, Nyonya, yang selama ini hidup bersama saya dan Neng Asha."
Mama Tia mengangguk dan akhirnya meminta Asha untuk menceritakan bagaimana perjalanan hidupnya selama lima tahun ini. Meskipun sebenarnya Asha tidak ingin mengungkit luka lama, tetapi dia tetap menceritakan tentang kehidupannya pada semua orang. Mereka juga berhak tahu apa yang selama ini terjadi padanya. Bukan maksud untuk menyalahkan mereka, hanya sebagai pelajaran saja agar ke depan mereka saling menyayangi satu sama lain.
Jika tidak mereka akan mengatai Asha sebagai wanita hamil diluar nikah dan perempuan tidak benar. Bahkan sampai detik ini pun ada beberapa orang juga yang mempercayai hal itu. Ada yang mengejek Khairi sebagai anak haram. Untunglah mereka masih bisa bertemu dan bisa menepis gosip itu dan mengembalikan nama baik Asha dan Khairi.
Saat sedang larut dalam kesedihan, terdengar suara salam dari pintu depan. Semua orang pun menatap ke sana, tampak Amira bersama dengan Tiara yang pulang dari berbelanja. Ada juga Khairi yang membawa satu kantong kresek jajanan. Anak itu sengaja membelinya di pasar.
Tadinya anak itu ingin membawa makanan itu langsung ke klinik untuk menjenguk papanya, tetapi Amira mencoba membujuknya dengan berbagai cara. Akhirnya anak itu mau juga. Ternyata Aji sudah ada di rumahnya.
"Papa!" teriak Khairi yang segera memeluk papanya. "Papa sudah sembuh?"
"Sudah dong, Sayang. Papa 'kan rajin minum obat jadinya cepat sembuh," jawab Aji meyakinkan afar sang putra tidak sedih, padahal perutnya masih terasa sedikit kurang nyaman.
__ADS_1
"Nanti bisa main lagi, kan?"
"Tentu! Kamu mau main apa?"
"Main semuanya."
"Tentu, kita nanti main semuanya bersama. Oh ya! Kenalin ini ada opa sama oma. Ini Oma Nisa, ini Oma Tia, kalau ini Opa Harto, yang ini Opa Roni. Salim dulu Sayang!"
Khairi pun mengikuti perintah sang papa dan mencium punggung para tetua satu persatu, kemudian berakhir dalam pelukan mereka semua. Anak itu bingung harus berbuat apa karena mereka semua memeluknya dengan menangis. Khairi menatap mamanya yang hanya dibalas Asha dengan anggukan saja. Itu tandanya jika tidak masalah dengan yang mereka lakukan.
Hasilnya anak itu pun diam dan membalas pelukan oma dan opanya. Dia senang karena sekarang memiliki banyak keluarga. Khairi juga sekarang sudah punya dua opa. Selama ini hidupnya hanya dikelilingi oleh para wanita. Sekarang memiliki tiga pria dalam hidupnya, yang satu papanya dan dua lagi opa.
"Boleh nggak, Opa ikut main sama Khairi?" tanya Papa Harto yang dijawab dengan anggukan oleh anak itu.
"Opa juga mau ikut, boleh, kan?" timpal opa Roni yang tidak ingin kalah dengan besannya.
Hal tersebut semakin membuat Khairi senang dan berkata, "Tentu semuanya bisa ikut main sama-sama."
Khairi menyambut dengan begitu antusias. Amira dan Tiara memperkenalkan diri pada tamunya. Setelah itu, segera mereka undur diri ke belakang untuk memasak. Asha ingin membantu, tetapi Bik Ika melarang karena keluarganya pasti masih merindukannya. Tadinya belanjaan yang akan dibuat selama tiga hari akhirnya dimasak semuanya hari ini.
Bik Ika sedari tadi ya terus saja tersenyum. Dia merasa lega akhirnya Asha bisa bertemu dengan keluarganya. Meskipun setelah ini pasti mereka akan terpisah karena wanita itu akan ikut bersama dengan sang suami, tetapi bagi wanita paruh baya itu tidak masalah. Setidaknya sekarang bisa mengurangi beban yang selama ini Bik Ika rasakan.
"Nek, tadi mamanya tante Asha yang mana?" tanya Tiara memecah keheningan.
"Yang di sebelah kiri Neng Asha," jawab Bik Ika dengan terus melanjutkan pekerjaannya.
"Mamanya Tante Asha cantik, ya, Nek. Pantesan saja Tante Asha cantik. Mamanya Om Aji juga cantik, apa semua orang kota seperti itu?"
__ADS_1
"Ya tidak semuanya juga, tapi kebanyakan memang seperti itu. Mereka selalu merawat diri, mereka 'kan punya uang banyak jadi, untuk apa lagi kalau bukan menyenangkan diri sendiri."
Tiara mengangguk, sebenarnya dalam hati dia ingin bertanya. Kalau mereka kaya, kenapa dulu malah mengusir Asha? Namun, gadis itu tidak memiliki keberanian untuk bertanya, yang ada nanti malah neneknya akan marah besar. Lebih baik diam saja, lagi pula Asha juga sudah memaafkan keluarganya.