Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
72. Terjadi kecelakaan


__ADS_3

Para orang tua sudah pulang lebih dulu karena mereka juga ada pekerjaan, sementara Aji masih harus di sini. Tadinya pria itu juga akan kembali. Namun, tiba-tiba ada masalah di kantor cabang jadi, terpaksa dia harus menambah waktu di desa ini. Asha dan Khairi juga tidak masalah, justru mereka senang bisa lebih menikmati waktu bersama dengan keluarga sebelum benar-benar pergi.


Meskipun nantinya mereka bisa berkunjung, tetap saja rasanya akan berbeda saat tinggal di sini seperti sebelumnya. Asha sudah selesai menyiapkan sarapan dengan dibantu oleh dan Amira tentunya. Mereka memang selalu menyiapkan makanan sama-sama agar pekerjaan lebih ringan.


"Sayang, aku berangkat dulu, barusan orang kantor menghubungiku, ada masalah penting di lokasi proyek dan aku harus ke sana," ucap Aji yang baru saja keluar dengan membawa tas kerjanya.


"Sarapan dulu, Mas. Ini sudah siap semuanya," sahut Asha yang sedang menata semua makanan.


"Aku buru-buru."


"Sebentar saja, Mas. Kalau kamu nggak sarapan nanti kamu bisa jatuh sakit lagi. Aku nggak mau sampai masuk rumah sakit kembali seperti kemarin."


Aji melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu sudah mepet, tapi dia juga tidak mungkin mengecewakan sang istri yang sudah memasak untuk dirinya. Akhirnya pria itu pun menuruti keinginan sang istri, untuk menikmati sarapan terlebih dahulu. Khairi juga ikut sarapan bersama.


Entah kenapa hari ini anak itu jadi lebih manja dan ingin disuapin oleh papanya. Asha sudah membujuk sang putra agar dirinya saja yang menyuapi, tapi anak itu menolak dan menginginkan papanya yang menyuapi. Akhirnya Aji juga menurutinya, biarlah nanti anak buahnya yang menunggu kedatangannya. Yang penting dia tidak mengecewakan sang putra.


Asha jadi merasa bersalah pada suaminya. Akan tetapi, dia juga mengerti perasaan Khairi yang masih ingin dimanja oleh papanya. Setelah selesai sarapan, Aji buru-buru pergi ke tempat proyek karena memang ada masalah di sana. Saat Asha mencium punggung tangan sang suami, entah kenapa dia merasa jantung yang berdebar lebih cepat, sekaligus merasa khawatir. Namun, wanita itu mencoba untuk menenangkan diri. Mungkin ini perasaan dirinya yang sudah lama tidak melepas suami pergi bekerja.


"Hati-hati, ya, Mas. Ingat selalu baca doa."


Aji tersenyum dan mengangguk. Pria itu pun mencium kening sang istri. "Kamu juga hati-hati di rumah, kalau kamu mau ke mana-mana jangan naik motor, berbahaya."


"Biasanya juga aku naik motor, Mas," sahut Asha.


"Sekarang berbeda, pokoknya kalau kamu mau ke mana-mana pakai taksi online saja."


"Iya, Mas," jawab Asha yang akhirnya mengalah. Padahal dia juga tidak pernah ke mana pun, paling pergi juga ke gudang, tempat pembuatan daur ulang miliknya.

__ADS_1


Akhirnya Aji pun pergi. Asha mencoba untuk tetap tersenyum meskipun perasaannya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Dia merasa khawatir entah karena apa. Khairi sendiri memilih bermain mobil-mobilan di dalam rumah. Anak itu sudah berhenti sekolah sejak kemarin karena memang niatnya hari ini mau kembali ke kota.


Aji juga sudah mendaftarkan sang putra di sebuah sekolah elite di kota. Dia meminta asistennya untuk mendaftarkan Khairi. Surat-surat juga sudah dikirim ke sana, tetapi anak itu belum bisa sekolah. Menurut perkiraan Aji di sana masih satu minggu lagi.


***


"Asha! Asha!" teriak seseorang sambil menggedor pintu depan.


Asha yang saat ini sedang berada di ruang keluarga bersama dengan sang putra pun terkejut. Dia segera melihat siapa yang datang. Perasaannya semakin was-was.


"Iya, Bu! Tunggu sebentar, ada apa?" tanyanya sambil membuka pintu.


"Asha, kamu sudah mendengar radio belum? Kamu dengar berita tidak?" tanya wanita itu dengan napas yang sudah ngos-ngosan.


"Berita apa, Bu? Saya sama sekali tidak tahu."


"Itu, mengenai suami kamu. Tempat yang sekarang jadi proyek suami kamu terjadi kecelakaan. Bangunannya roboh."


Mereka bahkan belum sempat menikmati indahnya keluarga bahagia. Banyak sekali rencana yang sudah Aji susun demi keluarganya. Masih teringat jelas keinginan sang suami untuk memiliki anak. Semalam Aji juga terlihat begitu bahagia bisa tidur bertiga dengan putranya. Pria itu bahkan tidak meminta haknya dan mengatakan jika kebersamaan seperti ini baginya lebih penting dari segalanya.


Wanita yang tadi memberi kabar pun menjadi takut jika terjadi sesuatu pada Asha. Wajahnya pucat dengan pandangan kosong, tentu saja membuat semua orang takut.


"Asha, kamu baik-baik saja, kan? Jangan menakutiku," ucap wanita itu sambil menggoyangkan tubuh Asha. Namun, tidak ada reaksi apa pun.


"Asha!" panggilnya sekali lagi, kali ini lebih keras, hingga membuat Asha tersadar.


Air mata seperti sudah tidak bisa dibendung lagi, mengalir begitu deras dan terdengar begitu menyesakkan dada. Hati Asha benar-benar terluka begitu dalam.

__ADS_1


"Ibu ... Ibu tidak bohong, kan? Ibu tidak sedang nge-prank saya, kan?" tanya Asha untuk meyakinkan dirinya.


"Mana ada saya seperti itu. Apa yang saya katakan memang benar, kalau kamu tidak percaya datang saja ke sana. Saya tadi mendengar berita itu dari radio, saya juga sempat menghubungi polisi dan menanyakan mengenai kebenaran berita itu dan ternyata benar. Ada beberapa korban juga di sana dan belum dievakuasi."


Asha semakin gelisah dengan wajah yang begitu pucat. Dia sangat berharap sang suami baik-baik saja. Semoga korban juga bisa terselamatkan.


"Bu, tolong titip anak saya, ya, Bu. Saya mau lihat ke sana," ucap Asha dengan nada gugup. Suaranya pun juga ikut bergetar, membuat wanita tadi merasa takut jika nanti terjadi sesuatu pada Asha. Pasti saat ini sedang mengkhawatirkan suaminya.


"Kamu jangan pergi sendiri, Asha. Sebaiknya ajak orang lain. Lihat tubuh kamu gemetar begitu. Nanti malah terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan di jalan."


"Tapi di rumah sedang tidak ada siapa-siapa, Bu. Mereka semua pergi. Ibu sama Mbak Amira pergi ke pasar, sementara Tiara pergi ke kampus."


"Kalau begitu naik ojek saja. Di pangkalan sana kebetulan tadi ibu lihat ada beberapa orang, itu lebih aman buat kamu."


Asha pun setuju dengan apa yang dikatakan wanita itu. Segera dia masuk ke dalam rumah mencari dompet dan tasnya, dia berpamitan pada sang putra agar di rumah saja bersama dengan wanita tadi. Awalnya Khairi takut saat karena melihat wajah mamanya yang menangis. Namun, Asha mencoba memberi pengertian bahwa apa yang dilakukan ini tidak berbahaya dan lebih baik anak itu di rumah saja.


Untungnya sang putra tidak memaksa ikut jadinya dia bisa pergi. Wanita itu meminta bantuan salah satu objek untuk mengantar ke tempat kerja sang suami. Sepanjang perjalanan air mata tidak hentinya mengalir. Segala doa ucapan agar suaminya baik-baik saja.


Tukang ojek yang tidak mengerti apa pun hanya dia mendengarkan saja. Namun, saat sampai di tempat tujuan alangkah terkejutnya melihat banyak orang yang bergerombol di sana. Bangunan yang sudah setengah jadi pun kini membentuk sebuah bukit. Tangis histeris dari keluarga korban memenuhi tempat itu.


Kaki Asha semakin tidak bisa digerakkan. Dia takut jika sang suami juga termasuk dalam korban yang berada di sana. Sungguh dirinya bukan wanita yang kuat. Jika dulu Asha berpisah dengan suaminya karena keadaan yang terpaksa, berbeda dengan sekarang. Dulu saat mendengar bahwa Aji baik-baik saja itu sudah cukup. Sekarang jika dia harus ditinggal dengan cara seperti ini, sungguh tidak sanggup.


Dalam hati wanita itu masih memohon agar Tuhan begitu berbaik hati padanya supaya sang suami baik-baik saja. Setelah membayar tukang ojek Asha mendekati bangunan yang sudah tidak berbentuk lagi, mencoba mencari keberadaan sang suami. Mudah-mudahan pria itu masih berdiri kokoh di antara orang-orang yang membantu evakuasi. Namun, setelah lelah menelusuri semua tempat dia tidak menemukan sang suami.


Hal tersebut tentu saja semakin membuatnya takut dengan hal-hal buruk, hingga di kepalanya membayangkan kemungkinan paling buruk yang harus Asha terima. Jika tahu akan seperti ini dia akan memaksa sang suami untuk mengajaknya pergi ke kota kemarin bersama orang tua. Kalau sudah seperti ini yang ada hanya penyesalan.


"Bu Asha, Anda Bu Asha, kan? Suami Pak Aji?" tanya seorang pria yang berada di sampingnya.

__ADS_1


Seketika wanita itu pun menoleh dan mengangguk. Dia ingin bertanya di mana keberadaan sang suami. Namun, entah kenapa tenggorokan susah sekali mengeluarkan kalimat tersebut. Asha terlihat gugup sekaligus takut mendengar berita yang tidak ingin wanita itu dengar. Dia mencoba untuk menetralkan hati dan perasaannya.


Asha pun akhirnya mencoba untuk bertanya, "Di mana suami saya?"


__ADS_2