
"Pak Aji ada di rumah sakit, Bu."
Setelah mendengar kabar keberadaan sang suami, Asha segera menuju rumah sakit. Untung saja tukang ojek tadi masih ada di sana, akhirnya dia pun kembali meminta tolong untuk mengantar. Mungkin tadi tukang ojek begitu penasaran dengan apa yang terjadi di lokasi proyek, hingga membuatnya tidak beranjak dari tempat tersebut. Bahkan memarkirkan motornya di sana.
Saat ini pikiran Asha benar-benar sedang kusut, dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Namun, doa tetap Wanita itu panjatkan, hingga akhirnya motor pun sampai juga di halaman rumah sakit. Asha segera membayar tukang ojek dan berlari memasuki rumah sakit, mencoba mencari keberadaan sang suami. Saat bertanya pada resepsionis, mereka mengatakan bahwa tidak ada pasien yang bernama Aji.
Asha tidak mau menyerah begitu saja, jelas-jelas tadi orang yang berada di tempat proyek mengatakan jika sang suami ada di rumah sakit. Wanita itu pun tanpa peduli perkataan resepsionis menelusuri rumah sakit dan menuju ruang UGD. Di sana tampak beberapa keluarga yang sedang menunggu di depan ruangan dengan harapan cemas, bahkan beberapa diantaranya menangis sesenggukan. Entah apa yang terjadi pada keluarga mereka, yang pasti saat ini fokusnya hanya tertuju pada sang suami berharap pria itu baik-baik saja. Dia tidak bisa membayangkan jika dirinya berada di posisi keluarga mereka.
"Asha." Sebuah panggilan membuat wanita itu menoleh.
Di sana sang suami berdiri tegap dengan tampilan yang sudah acak-acakan. Bajunya pun sudah kotor sana-sini. Namun, Asha tidak peduli akan hal itu. Baginya saat ini melihat Aji dengan keadaan baik-baik saja itu sudah membuat hatinya lega. Segera wanita itu berlari dan memeluk sang suami dengan begitu erat agar tidak bisa terlepas, takut jika terlepas akan terjadi sesuatu pada pria itu.
Asha menumpahkan segala tangisan yang sedari tadi dia tahan. Wanita itu bersyukur akhirnya dipertemukan juga dengan pria yang sangat dicintainya itu. Ketakutan yang ada di kepalanya akhirnya tidak terjadi dan dia bersyukur akan hal itu. Aji kebingungan dengan sikap istrinya, tetapi tetap membalas pelukan sang istri. Pasti wanita itu tadi ketakutan dengan apa yang terjadi.
"Kenapa kamu tidak mengatakan kalau kamu ada di sini? Kenapa mengabari aku, Mas. Di rumah aku sangat khawatir sama kamu. Aku mencari kamu ke mana-mana. Aku sudah seperti orang gila yang tak tentu arah," ucap Asha di sela tangisnya. Dia masih memeluk erat sang suami.
"Sudah, tenangkan dulu diri kamu, nanti baru kita bicara. Ayo kita duduk di sana!" ajak Aji yang kemudian mengajak sang istri untuk duduk di kursi tunggu.
Berkali-kali pria itu menghela napas panjang, dia menyesal membuat istrinya khawatir seperti ini, tetapi sungguh dia sama sekali tidak ada maksud seperti itu. "Maafkan aku, aku tidak sempat memberi kabar. Aku tadi begitu panik saat melihat dengan mata kepalaku sendiri, bangunan yang berdiri tegak hancur begitu saja. Saat itu yang ada dalam kepalaku adalah bagaimana menyelamatkan mereka, orang-orang yang bekerja di sana. Keluarga mereka juga pasti sangat khawatir. Maaf tidak memikirkan keadaanmu karena aku pikir kamu tidak tahu dan aku tidak ingin kamu kepikiran."
"Aku mengerti, Mas. Ini memang takdir yang harus kita lewati, tapi aku bersyukur kamu baik-baik saja. Mungkin ini juga bagian dari takdir Tuhan. Aku berterima kasih sama kamu dan Khairi karena tadi sempat menahan kepergianku sejenak. Mungkin kalau tadi aku tidak menuruti permintaanmu untuk sarapan terlebih dahulu, aku akan menjadi bagian dari korban yang ada di sana," ujar Aji.
Tadi saat dia baru sampai di tempat lokasi proyek, bangunan itu hancur begitu saja. Padahal tadi pria itu berniat untuk melihat ke dalam yang katanya hasil bangunan tidak sesuai. Kalau saja tadi Asha dan Khairi tidak menahannya, pasti dirinya sudah ada di tengah-tengah gedung itu.
"Lalu bagaimana dengan keadaan para pegawai di sana? Mereka baik-baik saja, kan?"
__ADS_1
"Ada beberapa pegawai yang menjadi korban. Untung saja keadaan masih pagi jadi, tidak ada pegawai proyek yang masuk. Hanya saja ada tiga orang yang berdiri di samping gedung dan terkena runtuhan bangunan, tapi alhamdulillah masih bisa diselamatkan."
"Alhamdulillah," ucap Asha yang sudah merasa sedikit lega. Meski saat ini tubuhnya belum pulih sepenuhnya dari rasa syok yang dia alami.
"Pak, saya sudah mengurus semua administrasi," ucap seorang pria yang baru datang.
"Baguslah, pastikan semua pegawai yang menjadi korban mendapatkan perawatan yang layak. Aku tidak mau terjadi sesuatu sama mereka, keluarganya pasti akan sedih. Aku juga tidak mau jika nanti ada masalah hanya gara-gara masalah ini. Pastikan juga keluarga merasa tenang," ucap Aji yang sebenarnya merasa tidak tenang.
"Iya, Pak."
Aji mengangguk dan meminta orang itu untuk segera pergi. Dia kembali menatap sang istri. "Sayang, sebaiknya kamu pulang. Aku masih harus mengurus beberapa hal di sini. Habis ini juga aku mau melihat keadaan di lokasi proyek. Aku harus tahu siapa yang sudah membuat proyekku hancur seperti ini."
"Apa kamu tidak apa-apa, Mas? Aku takut terjadi sesuatu sama kamu."
"Tidak apa-apa, kamu tenang saja. Mungkin kali ini aku harus melepas proyek itu, tapi warga pasti akan merasa kecewa karena aku, sudah menjanjikan pekerjaan pada mereka setelah bangunan jadi, tapi sekarang malah hancur begitu saja," ucap Aji dengan tertunduk sedih.
"Mereka juga akan mengerti, Mas. Ini juga keadaannya tidak memungkinkan.
"Ya sudahlah, biar nanti aku pikirkan lagi. Sekarang sebaiknya kamu pulang. Khairi pasti akan mencarimu. Kamu tadi ke sini naik apa?"
"Aku naik ojek, Mas. Kelamaan kalau naik taksi."
Aji menggelengkan kepala, padahal tadi sudah mewanti-wanti sang istri agar naik taksi saja. Namun, dia mengerti kenapa wanita itu melakukan itu, Asti karena terpaksa dan keadaan.
"Ya sudah. Ayo, aku antar ke depan buat cari taksi!"
__ADS_1
"Tidak usah, Mas. Kamu di sini saja, aku bisa cari sendiri."
"Tidak apa-apa, sekalian aku juga mau pergi dari sini, mau ke tempat proyek."
Asha akhirnya mengangguk. Entah sadar atau tidak saat ini hati Aji begitu bahagia karena Asha telah mengkhawatirkannya. Itu berarti sang istri benar-benar telah mencintainya. Pria itu mengira saat itu sang istri menikah dengannya karena terpaksa demi Khairi. Namun, sekarang melihat sang istri yang mengkhawatirkannya, dia merasa senang karena cintanya tidaklah bertepuk sebelah tangan.
***
Sementara itu, di rumah Bik Ika dan Amira begitu terkejut saat mendengar berita mengenai apa yang terjadi pada Aji. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Asha yang baru menikah kemarin, tetapi sekarang sudah mendapatkan cobaan yang begitu berat.
"Amira, apa pesanmu sudah dibalas Asha?" tanya Bu Ika.
Tadinya Amira mau menghubungi Asha saja. Namun, dilarang oleh ibunya takut jika saat ini sedang repot. Biarlah Asha yang menangani Aji, nanti saat semuanya sudah tenang juga pasti mereka akan memberikan kabar. Akan tetapi, hingga jam segini belum juga membalas pesan. Hal tersebut tentu saja membuat Bik Ika dan Amira semakin khawatir, takut jika Aji dalam keadaan yang parah.
"Bu, apa tidak sebaiknya kita telepon Asha saja atau kita datang ke tempat proyek."
"Memang kamu tahu tempatnya di mana?"
Amira menggeleng sebagai jawaban. "Tidak, Bu. Makanya kita telepon Asha saja."
"Ya sudah, coba kamu hubungi dia. Mudah-mudahan saja teleponnya diangkat."
Akhirnya Amira pun mencoba menghubungi Asha. Namun, belum sempat dia menekan tombol memanggil, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Bu Ika dan Amira saling pandang dan kemudian beranjak untuk melihat siapa yang datang. Mereka lega karena ternyata itu adalah Asha.
"Asha!" panggil Bu Ika yang segera mendekat ke arah wanita yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri. "Bagaimana keadaan Nak Aji? Dia baik-baik saja, kan? Ibu sudah mendengar beritanya tadi."
__ADS_1
"Alhamdulillah, Mas Aji tidak apa-apa, Bu. Ada beberapa pekerja yang terkena reruntuhan dan sekarang Mas Aji sedang mengurusnya di rumah sakit."
"Alhamdulillah, tadi Ibu khawatir kalau Nak Aji juga jadi korban," sahut Bu Ika dengan menghela napas lega, kemudian kembali menatap Asha. "Kamu pasti lelah, ayo kita masuk!" ajak Bu Ika yang diangguki oleh Asha, wajahnya juga terlihat begitu lemas. Mungkin karena tadi terlalu syok dengan berita yang dia dengar.