
Azan subuh berkumandang, membangunkan pasangannya suami istri yang begitu terlelap dalam tidurnya. Dira lebih dulu membuka mata, yang dilihatnya adalah dada sang suami. Seketika dia terkejut ingin bangun. Namun, tidak bisa karena ada sebuah tangan yang memeluknya. Wanita itu baru sadar jika tertidur dalam pelukan Hasbi dan masih dalam posisi yang sama seperti semalam
Dira mendongakkan kepala, melihat wajah tampan sama suami yang masih memejamkan mata. Dia begitu terpanah dengan wajah tampan sang suami. Mungkin menurut orang Hasbi biasa saja, tapi bagi Dira suaminya tampan dan menarik. Wajahnya tidak membosankan meskipun jarang sekali dia menatap wajah itu karena merasa malu.
Wanita itu tersadar jika ini sudah waktunya salat subuh. Dia mencoba untuk membangunkan sang suami meskipun dirinya masih merasa gugup.
"Mas, bangun! Ini sudah subuh," ujarnya sambil menepuk dada sang suami.
Hasbi membuka mata perlahan. "Iya, Sayang, ada apa?"
"Ini sudah waktunya subuh, ayo bangun! Aku nggak bisa gerak kalau kamu peluk aku kayak gini."
"Oh iya." Hasbi pun segera mengangkat tangannya perlahan. Dira bangun dan menatap tangan sang suami yang semalaman dia pergunakan sebagai bantal.
"Tangan kamu nggak apa-apa? Semalaman aku buat tidur pasti sakit."
Hasbi mencoba menggerakkannya. Terasa kebas dan sedikit nyeri, tetapi tidak mungkin juga dia mengatakannya pada sang istri. Pasti wanita itu akan merasa bersalah dan ke depannya tidak akan pernah mau seperti semalam lagi. Namun, berbohong juga bukan hal yang baik.
"Sedikit sakit, tapi aku suka. Justru aku lebih nyaman seperti ini. Buktinya semalaman aku nyenyak sekali tidurnya, apalagi mencium tubuh harum istriku yang semakin membuatku terlelap dalam mimpi. Sekarang waktu bangun juga melihat wanita cantik semakin membuat aku bersemangat."
Dira memalingkan wajahnya karena malu. Padahal tadi niatnya untuk bertanya keadaan tangan Hasbi, tetapi pria itu malah menggodanya. Jika dibiarkan seperti ini sudah pasti mereka akan terlambat untuk melakukan kewajibannya. Lebih baik dia segera pergi.
"Aku mandi dulu ya, Mas." Dira pun cepat-cepat turun dan menuju kamar.
__ADS_1
Hasbi menggelengkan kepala ternyata menyenangkan juga menggoda seorang istri. Wajahnya yang malu-malu dan memerah sungguh membuat hiburan tersendiri bagi dirinya. Untuk melihat kebahagiaan di wajah pasangan kita, tanpa sadar juga membuat kita bahagia. Dira dan Hasbi bergantian membersihkan diri dan keduanya melakukan salat berjamaah, hal yang sudah menjadi kebiasaan mereka setelah menikah.
Seperti janjinya semalam, pada siang hari Hasbi mengantar sang istri ke rumahnya, untuk mengambil barang-barang yang ada di sana. Ada beberapa juga yang akan disumbangkan karena memang sudah tidak terpakai, tetapi masih bagus.
Bel berbunyi, Hasbi pun segera membukakan pintu karena Dira terlihat sedang sibuk. Namun, pria itu begitu terkejut saat mendapati Devi yang datang dengan membawa sebuah paper bag. Devi pun tersenyum canggung ke arah pria itu. sampai saat ini dia merasa tidak enak pada Hasbi mengenai apa yang terjadi pada mereka.
Masih dengan tatapan datar Hasbi mempersilahkan sahabat sang istri untuk masuk. "Duduklah, biar aku panggilkan Dira." Hasbi segera asuk ke dalam kamar dan mendekati istrinya.
"Ada siapa, Mas?"
"Devi. Dia ada di ruang tamu, kamu ke sana saja biar ini aku yang bereskan ini."
Dira mengangguk dan segera beranjak menemui sahabatnya. Kemarin saat mereka berkomunikasi Devi memang menanyakan kabar tentangnya dan dia menjawab baik-baik saja. Dira juga menjelaskan bahwa akan tinggal di rumah mertua dan mengatakan hari ini akan mengambil barang di apartemen. Mungkin sahabatnya mengira dia datang seorang diri, makanya datang juga sekalian ingin membantu.
"Maaf, kemarin aku nggak bisa datang ke acara nikahan kamu. Ini ada sedikit hadiah untukmu. Jangan dilihat dari barangnya, tapi dari niatku."
"Iya, tidak apa-apa, aku mengerti terima kasih hadiahnya."
"Kenapa kamu tidak bilang kalau Hasbi juga ikut ke sini? Tahu gitu 'kan aku tidak datang," ucap Devi sambil melirik ke arah kamar Dira, takut Hasbi keluar dan mendengar ucapannya.
"Memangnya kenapa? Mas Hasbi 'kan memang membantuku untuk mengambil barangku di sini?"
"Tadi 'kan niatnya aku mau bantuin kamu, tapi kalau ada suamimu kayak gini aku jadi nggak enak."
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Mas Hasbi juga tidak akan keberatan kalau kamu ikut membantu."
"Tapi ...."
"Sudah, tidak usah banyak tapi. Ayo ke kamarku! Kamu bantuin aku."
Devi pun akhirnya mengangguk dan mengikuti langkah sahabatnya. Keduanya masuk ke kamar dan mulai membereskan barang-barang milik Dira dalam kotak. Hasbi juga tidak mau ambil pusing dengan keberadaan Devi. Meskipun sebenarnya pria itu tidak nyaman dengan kehadiran wanita itu.
Sampai detik ini Devi juga tidak pernah sekali pun mengucapkan maaf pada Hasbi, setelah apa yang terjadi pada mereka. Pria itu juga tidak bisa melarang sang istri untuk tidak berteman lagi dengan Dira karena memang hubungan mereka juga sampai saat ini baik. Entah Devi sudah meminta maaf pada Dira atau tidak. Yang jelas sang istri juga tidak mempermasalahkan kehadiran sahabatnya.
Semua barang-barang Dira sudah masuk ke dalam kotak kardus, hanya tinggal membawanya pergi dari rumah ini. Hasbi juga sudah menghubungi asistennya, untuk membantu membawa barang-barang Dira yang akan disumbangkan.
Bel kembali berbunyi, Dira ingin ke depan. Namun, dilarang oleh Hasbi. "Biar aku saja. Mungkin itu makanan untuk kita. Tadi aku sengaja memesannya, sekarang sudah waktunya makan siang."
Dira melihat jam di pergelangan tangannya dan begitu terkejut saat tidak menyadari waktu sudah cepat berlalu. "Astagfirullah! Aku sampai lupa, terima kasih ya, Mas."
"Iya, sama-sama." Hasbi pun ke depan untuk mengambil makanan pesanannya.
Dira mengikuti sang suami keluar kamar dan menuju ruang makan. Dia akan menyiapkan peralatan makan agar mereka bisa segera menikmati. Tidak lupa juga memanggil Devi untuk makan bersama. Awalnya sang sahabat menolak karena tidak enak pada Hasbi. Namun, Dira memaksa dan mengatakan bahwa Hasbi juga memesankan makanan untuknya.
Mereka makan bertiga, tidak ada perbincangan di meja makan. Semua hanya diam dengan pikiran masing-masing. Hasbi sedari tadi mencuri pandang ke arah sahabatnya. Dalam hati Devi berpikir bahwa pernikahan Dita dan suaminya tidak baik-baik saja, buktinya Hasbi bersikap begitu dingin.
Padahal tanpa wanita itu diketahui Hasbi memang sengaja tidak ingin memperlihatkan kemesraannya karena pasti akan membuat istrinya tidak nyaman. Keduanya juga masih dalam tahap pengenalan, lebih baik hanya diperlihatkan saat berdua saja.
__ADS_1
Orang yang akan membantu membawa barang-barang yang akan disumbangkan pun tiba. Dira pun menyerahkan barang miliknya dan mempercayakan pada orang itu untuk diberikan pada orang yang membutuhkan.