
"Nak, sekarang kamu cerita kenapa kamu memukul temanmu?" tanya Aji dengan pelan. Namun, Khairi masih diam, dia bicara pun pasti tidak akan ada yang percaya padanya kecuali mama dan keluarganya, sedangkan di sini tidak ada siapa pun.
"Kenapa diam? Katakan saja yang sebenarnya, saya akan membela kamu jika kamu berkata jujur," lanjut Aji.
"Mereka menghina mamaku, aku sudah bilang jangan menghinanya, marah saja padaku, tetapi dia tidak mau dengar dan terus mengejek mamaku," jawab Khairi dengan mata berkaca-kaca.
Hal tersebut tentu saja membuat Aji ikut merasakan kesedihan yang teramat sangat. Meskipun mereka baru bertemu, dia sangat mengerti kesedihan yang dirasakan Khairi. Anak mana yang rela mendengar orang lain menghina mamanya. Dirinya pun akan melakukan hal yang sama.
"Ibu bisa dengar apa yang dikatakan anak ini, kan? Dia hanya membela mamanya. Apa itu salah jika bukan anaknya yang membela, lalu siapa lagi? Sedangkan di sini tidak ada siapa pun keluarganya. Anda sebagai seorang guru harusnya memberi contoh yang baik, tegur mereka agar lain kali berkata lebih sopan. Meskipun itu terhadap temannya sendiri, jangan sampai kasus ini berlanjut di meja hukum karena pihak sekolah tidak sanggup memberikan contoh yang baik."
Seketika para guru di sana menatap Aji dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Mana mungkin mereka berani menegur anak yang tadi dipukul oleh Khairi, jelas-jelas kedua orang tuanya adalah penyumbang dana terbesar di sekolah ini. Itulah yang menjadi alasan kenapa anak itu di istimewakan. Para guru tidak mungkin meminta anak itu untuk meminta maaf, apalagi sampai harus memanggil orang tua murid.
Bisa-bisa pihak sekolah akan mendapatkan masalah yang lebih besar lagi. Sebenarnya ada juga guru yang sudah sangat geram dengan tingkah anak itu yang suka seenaknya, tetapi tidak punya kuasa juga untuk bertindak tegas.
__ADS_1
"Em ... sebaiknya masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan saja, Pak. Maklumlah, mereka 'kan masih anak-anak, pasti sering membuat masalah seperti ini, tidak perlu dibesar-besarkan," ucap seorang guru pria yang sudah dipastikan jika dia adalah kepala sekolah di sini. Terlihat senyum paksa di wajahnya dan membuat siapa pun semakin kesal dibuatnya.
Aji mengerutkan kening, merasa aneh dengan jawaban guru itu. Jelas-jelas tadi mereka menegaskan agar Khairi meminta maaf, tetapi saat kebenaran terungkap justru mereka seolah-olah tidak mempermasalahkan hal tersebut. Dia tidak masalah jika memang harus diselesaikan secara kekeluargaan, tetapi setidaknya anak tadi harus meminta maaf lebih dulu, kepada Khairi atas apa yang sudah dikatakan sebelumnya. Namun, ini tidak ada sama sekali.
"Baguslah, Pak. Jika memang masalah ini akan diselesaikan secara kekeluargaan, tetapi setidaknya anak itu harus meminta maaf. Bukankah kalian juga mengajarkan untuk meminta maaf jika memang melakukan kesalahan," sahut Aji dengan nada tegas.
Para guru saling pandang satu sama lain, apa yang ada dalam kepala mereka saat ini sama. Hanya tinggal bagaimana menjelaskan jika anak itu tidak mungkin meminta maaf pada Khairi mengenai kejadian ini. Jika kepala yayasan tahu, pasti akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi.
"Anak-anak, sebaiknya sekarang masuk kelas dulu. Bu guru masih ada keperluan!" seru seorang guru wanita dan guru lainnya pun membawa anak-anak masuk ke dalam kelas.
Guru itu pun mencoba untuk membujuk Khairi, berbagai cara dilakukan. Namun anak itu tetap kekeh tidak mau masuk, hingga akhirnya Aji melarang guru tersebut membawa Khairi karena dirinyalah yang akan membawa anak itu pulang. Khairi dengan senang hati pun mengikuti Aji. Meskipun dia tidak mengenal pria itu, tetapi dalam hati anak itu yakin jika Aji adalah orang yang baik, buktinya hanya Aji yang membelanya saat semua orang sedang memojokkannya.
"Kamu mau ikut Om jalan-jalan?" tanya Aji tanpa menghiraukan keberadaan para guru di sana.
__ADS_1
"Mau, Om," jawab Khairi tanpa banyak berpikir, dia sangat yakin jika orang yang ada di sampingnya ini adalah orang baik, buktinya hanya pria itu yang membelanya dan yang lain justru memojokkannya tanpa bertanya lebih dulu.
"Kalau begitu, sekarang kamu ambil tas kamu dulu, setelah itu baru kita pergi."
Khairi mengangguk kemudian berlari ke arah kelasnya. Dia ingin segera pergi dari sekolah ini, tidak ingin datang lagi ke sini. Nanti dia akan bicara dengan mamanya jika ingin pindah sekolah saja, tidak ingin di sekolah itu lagi.
Sementara itu, Aji masih tetap di sana, memandangi satu per satu guru yang masih tersisa. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihat, orang-orang yang katanya berpendidikan tinggi, bisa memberikan rasa nyaman pada anak-anak yang saat ini mereka bimbing, ternyata tidak sesuai kenyataan.
"Saya tidak menyangka jika Anda semua bisa berbuat seperti ini. Padahal saya sangat yakin jika orang tua mereka menyekolahkan mereka bukan untuk dizalimi seperti tadi. Apakah Anda semua pernah memikirkan bagaimana perasaan orang tua mereka, saat tahu jika anaknya tidak diperlakukan dengan baik? Kenapa Anda pilih kasih begitu pada anak tadi?"
"Maaf, Pak. Sepertinya Anda salah paham, kami hanya mencoba untuk bersikap adil," sahut salah satu guru tang tidak ingin disalahkan.
"Adil? Adil dari mana? Anda bahkan tidak meminta anak tadi untuk meminta maaf kepada Khairi. Sebelumnya kalian semua sudah menuntut Khairi untuk minta maaf. Sudahlah, tidak perlu banyak berbicara lagi. Rasanya percuma berbicara dengan orang-orang yang merasa dirinya paling benar," pungkas Aji yang segera pergi dari sana saat melihat Khairi mendekat ke arahnya.
__ADS_1
Pria itu segera mengajak anak itu untuk pergi dari sekolah ini. Seandainya saja Khairi anaknya, dia tidak akan pernah rela menyekolahkan anaknya di tempat yang sakit seperti ini. Nanti Aji akan berbicara dengan kedua orang tua Khairi agar mencarikan tempat belajar yang layak untuk anaknya. Khairi anak yang pandai dan pantas mendapatkan tempat yang lebih baik, tidak seperti di sini. Semua orang justru malah berat sebelah, dia juga yakin jika anak tadi pasti memiliki pengaruh di sekolah itu. Terlihat dari wajah-wajah para guru di sana.
"Kamu mau pergi ke mana?" tanya Aji yang bingung mau ajak anak itu ke mana.