
"Mungkin ini memang takdir yang harus Dira jalani, Ma. Papa hanya bisa berdoa agar mereka memperlakukan putri kita dengan baik. Papa tidak sanggup jika putri kita disakiti. Papa juga tidak masalah dengan siapa pun putri kita akan menikah, asal mereka bisa memperlakukan putri kita dengan baik," ujar Harto dengan pandangan lurus ke depan.
"Apa Papa yakin jika mereka orang baik?" tanya Tia ragu.
"Tentu saja tidak! Papa akan mengirim orang untuk mencari tahu tentang keluarga mereka. Semoga saja mereka memang orang baik. Sudah, sekarang sebaiknya Mama banyak berdoa agar siapa pun yang akan menjadi jodoh putri kita nantinya, bis membuat Dira bahagia. Semoga mereka bisa menjadi keluarga yang bahagia."
"Tentu Mama akan selalu berdoa untuk kebahagiaan putri Mama." Kedua suami istri itu pun saling berpelukan.
***
Keesokan paginya, Aji mengantar Dira pulang ke rumah kedua orang tuanya. Tadinya sang adik menolak dengan berbagai alasan, tetapi pria itu tidak mau tahu hingga akhirnya tetap mengantar Dira. Sepanjang perjalanan gadis itu terus cemberut karena kesal terhadap sang kakak. Aji tahu jika Dira hanya beralasan agar tidak pulang, maka dari itu dia memaksanya.
Asha juga ikut mengantar adik iparnya setelah mengantar Khairi ke sekolah. Sebenarnya wanita itu enggan untuk ikut campur dalam urusan adik iparnya. Hanya saja tadi Aji yang meminta sang istri untuk ikut agar kedua orang tua tidak terlalu memarahi Dira. Kalaupun nanti sang mama sedih, dia yakin jika Asha bisa menenangkannya.
__ADS_1
Begitu sampai di rumah, Dira mendapat tatapan tajam dari sang Papa. Tentu saja gadis itu merasa takut dan bersembunyi di balik tubuh sang kakak. Dia yakin jika Aji pasti akan melindunginya. Apalagi di sini ada Asha, pasti kedua orang tuanya segan untuk marah-marah.
"Pa, sebaiknya kita bicarakan semuanya baik-baik," ucap Aji pada sang papa sambil mengusap lengan pria paruh baya itu agar lebih tenang dan tidak mudah terbawa emosi.
Hingga akhirnya semua orang pun duduk di ruang tamu. Mama Tia sedari tadi hanya diam saja, dia tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi sebagai seorang ibu wanita itu merindukan putrinya, di sisi lainnya kecewa dengan apa yang sudah dilakukan oleh Dira. Sekarang tidak ada pilihan lain selain menikahkan putrinya dengan pria yang sudah dicemarkan nama baiknya itu.
"Besok keluarga pria itu akan datang melamarmu, kamu harus siap. Mengenai acara dan persiapan segala sesuatunya biar Papa yang mengurus. Nanti Asha dan Aji juga menginap di sini saja. Asha kamu bantu mamamu untuk mempersiapkan semuanya. Papa sudah menghubungi teman Papa yang memiliki jasa WO. Dia siang nanti akan datang, kalian para wanita bicara saja dengannya mau seperti apa acaranya," ucap Harto dengan nada tegas tanpa mau dibantah.
"Kenapa Papa memutuskan begitu saja? Aku belum mengeluarkan pendapatku. Aku sama sekali tidak mencintainya. Papa jangan memaksaku dong! Pernikahan bukanlah sebuah mainan, kenapa Papa ngambil kesimpulan begitu saja tanpa bertanya padaku. Aku yang akan menjalani rumah tangga itu, tapi kenapa pilihanku tidak menjadi pertimbangan?" tanya Dira dengan kesal.
"Setelah apa yang kamu lakukan kamu masih berani berkata demikian! Seharusnya kamu memikirkan semuanya sebelum bicara. Itu terjadi juga karena kesalahanmu, bertanggung jawablah atas apa sudah kamu lakukan. Kalau bukan kamu siapa lagi yang harus bertanggung jawab? Papa juga tidak memiliki anak perempuan lain yang bisa Papa tumbalkan untuk menutupi kesalahanmu."
Dira menunduk, dia tidak menyangka jika apa yang sudah dilakukan bisa berdampak sedemikian rupa. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh kakaknya. Ini adalah takdir yang harus dia jalani. Saat ini yang bisa dia lakukan adalah menerima dengan ikhlas dan juga meminta petunjuk pada Tuhan, semoga pria itu memang jodoh terbaik yang sudah Tuhan berikan. Jika pun memang tidak berjodoh, semoga Tuhan memberikan cara untuk mereka berpisah secepatnya.
__ADS_1
"Sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas. Dira, masuklah ke kamar. Asha, temani mamamu di sini, menunggu WO yang akan datang. Untuk Khairi nanti biar sopir kantor yang jemput. Papa dan Aji akan pergi ke kantor, banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan sebelum mengambil libur besok."
Papa Harto pun segera beranjak dari sana setelah berpamitan pada sang istri. Aji pun mengikuti langkah papanya, tentu saja setelah berpamitan dengan mama dan istrinya. Kedua pria itu pergi dengan menggunakan satu mobil. Saat ini pikiran Papak Harto sedang diliputi banyak sekali masalah, menyetir sendiri pun takutnya menimbulkan hal yang tidak baik. Sopir juga hari ini sedang ambil cuti karena istrinya sedang sakit.
Aji melihat sang papa yang ada di samping, terlihat begitu sangat lelah, tapi bukan karena pekerjaan, lebih tepatnya lelah karena banyak pikiran. Aji jadi berpikir, apakah mungkin dirinya nanti juga akan seperti itu, saat menghadapi anaknya yang membuat masalah. Apa pun nanti kedepannya, dia berharap bisa menyelesaikan masalah dengan bijak. Pria itu tidak ingin nantinya sang anak berpikir bahwa dirinya tidak menyayangi mereka. Demi kebahagiaan anak-anaknya, akan dia lakukan semuanya, selama itu ada di jalan yang benar tentunya.
"Pa, sebaiknya aku antar Papa kembali pulang saja. Papa kelihatan capek sekali, lebih baik Papa istirahat di rumah. Masalah kantor biar aku yang selesaikan sendiri, aku masih bisa kok menghandle semua kerjaan papa," ujar Aji.
"Tidak perlu, Papa tetap kantor saja. Nanti kalau Papa capek, pasti Papa akan istirahat di sana. Kalau pulang ke rumah malah akan semakin menambah beban pikiran. Yang ada Papa malah tambah pusing, lebih baik cari suasana yang lain."
"Terserah Papa sajalah, tapi kalau nanti butuh sesuatu segera beritahu aku, ya! Aku nggak mau Papa sampai sakit."
Harto hanya mengangguk tanpa menjawab, kemudian berkata, "Aji, kamu harus bisa menjadi seorang ayah yang hebat. Jangan seperti Papa yang tidak bisa mendidik anak-anak Papa."
__ADS_1
"Papa jangan bicara seperti itu. Papa adalah Papa yang terhebat bagiku dan juga Dira. Kita hanya sedang diuji jadi, Papa jangan mengambil kesimpulan begitu saja. Justru ini adalah ujian bagi Papa dan Mama sebagai orang tua, bagaimana agar masalah ini bisa terselesaikan dengan baik. Percayalah semuanya akan indah pada waktunya, semuanya hanya butuh waktu."