
"Maaf, Pak. sampai saat ini saya dan tim masih belum bisa menemukan Nyonya Asha, karena memang data yang Anda berikan sangat minim sekali. Apalagi tempat Nyonya Asha pergi saat itu CCTV sedang mati jadi, kami semakin kesulitan untuk mencari tahu. Di tempat sekitar juga tidak ada tanda-tanda seorang wanita membawa bayi hari itu," ucap seorang pria yang dipercaya Aji untuk mencari sang istri.
Pria itu menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Sudah sering dia mendengar jawaban itu dari orang-orang suruhannya, baik itu preman maupun detektif yang dia sewa. Tidak tanggung-tanggung beberapa detektif Aji kerahkan untuk mencarinya. Belum lagi orang yang disuruh oleh Papa Roni maupun Papa Harto. Namun, semuanya nihil dan tidak menghasilkan apa pun.
Tanpa banyak berkata, Aji pun memutuskan sambungan telepon. Ternyata istrinya begitu pintar menyembunyikan diri, sampai-sampai orang suruhannya pun tidak mengetahui keberadaannya. Dia sadar jika Asha juga terlahir dari orang kaya, pasti sangat tahu cara mereka mencari keberadaan dirinya. Aji memperhatikan foto sang istri yang selama ini ada di atas meja kerjanya. Foto saat dulu dirinya menikah.
"Sayang, kamu ada di mana? Kenapa sulit sekali mencari keberadaanmu? Harus ke mana lagi aku mencarinya? Bik Ika juga tidak ditemukan. Apakah kalian sedang bersama? Jika benar semoga kalian baik-baik saja sampai aku menemukan kalian. Kalian tunggulah kedatanganku."
Tiba-tiba Aji teringat dengan mertuanya, dia pun segera menghubunginya.
"Halo, assalamualaikum," ucap seseorang wanita di seberang telepon yang tidak lain adalah Mama Nisa.
Akhir-akhir ini Aji memang sering menghubungi kedua mertuanya. Dia ingin memastikan bahwa mereka baik sehat dan baik-baik saja. Sebagai seorang menantu pria itu ingin menggantikan peran Asha sebagai anak di rumah itu. Aji tetap menganggap Papa Roni dan Mama Nisa sebagai orang tuanya. Meskipun dia sudah menceraikan Asha secara agama.
"Waalaikumsalam, Ma, apa kabar?"
"Baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya?Jangan terlalu memikirkan keadaan Asha, dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Kamu juga harus memikirkan kesehatanmu juga. Mama yakin Tuhan akan melindungi Asha dan anaknya. Jika sudah saatnya dia kembali, pasti dia akan kembali. Mungkin saat ini dia sedang membutuhkan waktu untuk menyendiri."
"Iya, Ma. Aku tahu, aku hanya sedang merindukan istriku karena itu aku menghubungi Mama. Mendengar suara Mama jadi mengingatkanku kepada Asha."
"Jika menghubungi Mama bisa mengurangi rasa rindumu, Mama senang mendengarnya. Setidaknya kamu masih menganggap keberadaan Mama dan tidak terlalu larut dalam kesedihan."
__ADS_1
"Tentu saja, Ma. Sampai kapan pun Mama adalah mertuaku dan juga ibuku. Tidak akan pernah berubah sampai kapan pun karena sampai saat ini Asha juga masih sah istriku."
"Iya, Mama tahu."
Keduanya pun berbincang sejenak, hingga akhirnya Aji mengakhiri panggilan. Pria itu tersenyum menatap layar ponsel yang mati, kini menampilkan foto Khairi.
Pintu ruangan Aji diketuk seseorang dari luar. Pria itu pun mempersilakannya masuk, ternyata adalah Naura. Aji ingin sekali mengusirnya. Namun, rasanya tidak enak karena bagaimanapun juga hubungan mereka pernah baik-baik saja. Meski hanya berteman.
"Mau apa kamu datang ke sini?" tanya Aji tanpa melihat ke arah Naura.
"Aku ingin mengajakmu makan siang, kamu tidak ada janji, kan?"
"Ayolah, Ji! Sebentar saja! Kita sudah lama tidak makan bersama."
"Aku sedang tidak mood untuk keluar."
"Hanya sebentar saja, setelah ini kalau kamu memang tidak mau pergi bersama aku juga tidak apa-apa. Untuk kali ini saja, tolong! Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu." Naura masih mencoba untuk membujuk Aji agar mau pergi bersama.
Aji masih diam, dia sebenarnya malas untuk pergi bersama dengan Naura, tetapi melihat wajahnya yang memelas, pria itu jadi tidak tega. Aji juga dapat melihat ketulusan di wajah wanita itu.
"Ayolah, Aji! Untuk kali ini saja."
__ADS_1
Aji pun akhirnya mengangguk, pria itu membereskan mejanya dan kemudian pergi keluar bersama Naura. Mereka pergi menuju restoran yang berada di dekat kantor karena memang Aji terlalu malas jika harus pergi jauh-jauh. Dia juga masih banyak pekerjaan yang sudah menumpuk karena harus mencari keberadaan Asha.
Aji dan Naura duduk di meja dekat jendela agar mereka bisa melihat suasana di luar restoran. Sudah lama keduanya tidak pergi bersama sejak pria itu menolak lamarannya. Aji dan Naura memesan makanan kesukaan mereka masing-masing. Sedari tadi pria itu masih diam, menunggu wanita di depannya yang katanya ingin mengatakan sesuatu.
"Aku minta maaf, Ji. Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan yang besar, hingga membuatmu kehilangan istrimu. Aku sadar jika apa yang aku lakukan hanya obsesi. Aku tahu semuanya sudah terlambat, tetapi tidak ada salahnya 'kan meminta maaf sekarang? Meskipun sudah sangat terlambat. Aku berdoa semoga istrimu cepat bertemu dan saat itu tiba aku pasti akan meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Asha."
Aji menundukkan kepala, sebenarnya hari ini dia tidak ingin membahas kepergian sang istri. Itu hanya akan menambah luka bagi dirinya. Namun, sekarang sepertinya tidak bisa lagi karena keberadaan Naura di sini justru ingin membuka masalah lama.
"Aku sudah memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf lebih dulu. Aku juga sudah melupakan semua kejadian yang terjadi, aku sudah melupakan semuanya. Aku senang kalau kamu berubah jadi yang lebih baik lagi."
"Terima kasih, ini juga karena kebaikan kamu dan satu lagi, bulan depan adalah acara lamaranku, kamu datang ya!"
Aji terkejut hingga menatap wajah Naura mencari kebenaran dari kata-katanya. Selama ini Naura juga tidak dekat dengan siapa pun. Bagaimana bisa tiba-tiba dia dilamar, siapa juga yang melamar temannya? Apakah dirinya kenal dengan laki-laki itu?
"Kamu dilamar sama siapa? Kenapa selama ini kamu tidak bilang padaku kalau kamu memiliki kekasih?"
Naura masih mencoba untuk tetap tersenyum. "Aku tidak dilamar kekasihku, papa menjodohkan ku dengan anak temannya. Aku lihat dia pria yang baik dan bertanggung jawab, semoga saja kami memang berjodoh. Aku hanya ingin membuka lembaran baru, semoga pernikahan ini memang jalan untukku agar menjadi manusia yang lebih baik lagi."
"Amin, apa pun keputusanmu aku pasti mendukungmu. Semoga memang dia jodoh terbaik yang Tuhan kirim untukmu. Semoga keinginanmu juga bisa segera terlaksana," ucap Aji dengan tersenyum tulus, begitu juga dengan Naura.
Meskipun dalam hati wanita itu masih mencintai Aji, tetapi dia akan mencoba membuka hatinya untuk orang lain. Naura yakin pilihan kedua orang tuanya memanglah yang terbaik dan mudah-mudahan memang seperti itu.
__ADS_1