Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
32. Sampai di desa


__ADS_3

Roni telah selesai mengisi bahan bakar, menunggu beberapa saat lamanya, tetapi dia tidak juga mendapati Asha yang kembali dari toilet. Maka dari itu, Roni menyusul Asha dan tidak menemukan Bik Ika di sana. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres di sini dan mencoba mencari ke segala tempat.


Bik Ika sedari tadi melihat dan mengamati dari pintu kaca minimarket yang ada di area pom bensin tersebut. Padahal dia telah selesai membeli sesuatu untuk alasannya pergi ke tempat itu. Gegas wanita itu keluar dari dalam sana saat Roni mencari Asha ke depan toilet.


“Pak!” panggil Bik Ika.


“Mana Asha?” tanya Roni yang mulai kesal.


“Loh, nggak ada di dalam?” tanya Bik Ika dengan wajah yang dibuat bingung.


“Saya sudah masuk ke dalam, tapi dia nggak ada!” ujar Roni yang semakin kesal.


“Masa sih, Pak?”


“Kamu cari saja sendiri!” ujar laki-laki itu dengan marah sambil menendang udara kosong dengan kakinya. Kesal karena Asha sepertinya melarikan diri.


Bik Ika keluar dari dalam toilet dan memasang muka bingung. Dalam hati dia terus berdoa agar majikannya semakin menjauh dari sana.


“Kamu ke mana saja dari tadi, hah!” seru Roni marah.


“Saya mencarikan ini buat Khairi. Tadi soalnya baru digantikan pampers malah buang air besar. Jadi Neng Asha minta saya buat carikan pampers,” ujat Bik Ika sambil memperlihatkan benda yang baru saja dia beli di minimarket tersebut. Dia menundukkan kepala, berpura-pura takut dengan kemarahan pria di depannya ini.


Roni sudah tidak mau berbicara lagi, dia bergumam kesal dan menyerukan jika Asha kabur darinya karena tidak mau membawa anak itu ke panti asuhan.


“Akh! Sialan!” cecar pria paruh baya itu menendang ban mobilnya cukup kencang. Nisa yang ada di dalam mobil terkejut melihat kelakuan suaminya yang marah-marah di luar.

__ADS_1


“Ada apa, Pa?” tanya Nisa dengan bingung keluar dari mobil dan menatap sang suami yang berdiri di sisi lain mobilnya.


“Anak kamu kabur!” ujar Roni.


“Kabur? Kabur ke mana?” tanya Nisa. Tiba-tiba perasaannya tidak enak, rasa bersalahnya pun semakin bertambah.


“Ya, mana aku tau!” ujar laki-laki itu dengan kesal sambil melihat ke sekitaran sana. Roni menatap Bik Ika yang ada di dekatnya. “Kamu bantu Asha kabur?” tanya laki-laki itu mengintimidasi Bik Ika.


“Nggak, Pak. Saya nggak tau, sumpah. Saya ke minimarket dan beli pampers,” ucap Bik Ika sekali lagi memperlihatkan kantong kresek putih dengan tulisan minimarket tersebut kepada Roni.


Roni kesal, membuka pintu mobil dan masuk ke dalam dengan membanting pintu tersebut dengan keras. Nisa dan Bik Ika pun ikut masuk. Mobil tersebut meninggalkan area pom bensin dengan segera. Dia melihat sekitar jalanan, siapa tahu putrinya ada di sana. Pria itu yakin Asha belum jauh, apalagi dengan membawa seorang anak.


“Pa, kita harus temukan Asha secepatnya. Gimana kalau ada apa-apa sama mereka? Sama anak dan cucu kita?” ujar Nisa.


Bik Ika mengelus dadanya dengan lega saat Roni tidak menanyainya lebih lanjut.


‘Semoga Neng Asha dan Khairi baik-baik saja di sana,’ batin Bik Ika di dalam hatinya.


Sementara itu di seberang jalan, setelah memastikan mobil ayahnya sudah menjauh, Asha turun dari angkot yang berhenti karena ada penumpang ingin naik. Dia naik ojek yang ada di sekitar dan segera pergi berlawanan arah dengan sang ayah.


Tangis menyertai kepergian Asha yang menaiki motor tersebut, dia memeluk erat sang putra yang kini tengah tertidur dengan pulas setelah dia menyusuinya tadi. Sungguh wanita itu merasa bersalah, tetapi tidak punya pilihan lain.


‘Maaf, Papa, Mama,’ batin Asha sedih.


Terpaksa dia meninggalkan kedua orang itu karena tidak mau meninggalkan anaknya di panti asuhan. Tidak adil rasanya untuk buah hatinya untuk hidup seperti ini, padahal bukan kesalahan dia sama sekali. Tak ada yang menginginkan musibah itu terjadi.

__ADS_1


Suatu kejadian buruk yang menimpa dirinya saat dia pulang bekerja. Di tengah jalan dia dihadang seorang preman yang sedang mabuk, Asha mencoba untuk berteriak dan meminta tolong, tetapi tenaganya kalah dengan orang itu. Akhirnya dia kehilangan mahkotanya. Wanita itu merasa hidupnya begitu hancur, dia ingin menceritakan semuanya pada orang tuanya nanti saat mereka sudah pulang.


Orang tuanya sedang ada di luar kota, sehingga Asha hanya tinggal di rumah bersama asisten rumah tangga. Saat Papa Roni dan Mama Nisa pulang, mereka mengeluh karena gagal dengan proyeknya. Perusahaan pun merugi. Melihat kedua orang tuanya yang memiliki masalah, membuat Ara urung menceritakan apa yang terjadi. Nanti saja saat semuanya membaik, tetapi itu semua tidak terjadi hingga kini.


Hal buruk itu membuat mental Asha jatuh, sempat menyalahkan diri sendiri. Dia memilih untuk bertemu dengan Arvin, sang mantan pacar. Akan tetapi, setelah bertemu dan bercerita kepada Arvin, laki-laki itu marah dan memutuskan hubungan mereka. Selama ini mantan kekasihnya itu sudah berusaha menjaga Asha, tetapi kini masih saja ternodai. laki-laki itu meninggalkannya begitu saja dan memutuskan pergi dari kota ini.


***


"Assalamualaikum," ucap Asha sambil melihat sekeliling.


Dia telah sampai di kampung halaman Bik Ika. Tadinya wanita itu ragu untuk pergi ke sana. Namun, tidak ada tempat dan tujuan lagi selain ke sini. Asha juga memiliki seorang anak, tidak bisa bekerja dan meninggalkan anaknya begitu saja. Dia berharap saat tinggal di sini bisa mendapatkan pekerjaan sambil menjaga anaknya. Apa pun itu akan dilakukannya selama itu halal.


"Assalamualaikum," ucap Asha lagi sambil mengetuk pintu lebih keras, berharap pemilik rumah segera keluar.


Tidak berapa lama pintu terbuka, tampak seorang remaja membukakan pintu. Dia memperhatikan Asha dari atas hingga bawah dengan pandangan penuh tanya.


"Maaf, Bu, dengan siapa, ya?" tanya gadis itu.


"Nama saya Asha, Bik Mina yang meminta saya ke sini," jawab Asha yang sebenarnya merasa tidak enak, tetapi sebisa mungkin dia mengenyahkan pikiran itu. Ini semua juga demi sang putra. Apa pun akan dilakukannya termasuk merendahkan harga dirinya.


"Oh iya, nenek sudah cerita. Silakan masuk! Mama ada di belakang, dari tadi sudah nungguin, nanti saya panggilkan."


Asha pun mengangguk dan mengikutinya ke dalam. Dia duduk di ruang tamu, sementara gadis tadi masuk ke dalam rumah, mungkin memanggil ibunya. Rumah ini memang tidak terlalu besar, tetapi cukup nyaman untuk ditinggalin. Selama ini Bik Ika juga selalu mengirimkan uang gaji untuk anak dan cucunya.


Padahal mereka sudah mengatakan tidak perlu karena di desa juga mereka sudah bekerja, tetapi Bik Ika tetap memaksa. Lagi pula dia bekerja untuk apa lagi kalau bukan untuk anak dan cucu. Wanita itu juga sangat tahu jika di desa pekerjaannya sangat keras.

__ADS_1


__ADS_2