
"Assalamualaikum, Pa, Ma," ucap Aji saat memasuki rumah. terlihat kedua orang tuanya yang berada di ruang keluarga bersama adiknya juga.
"Kamu dari mana, Ji? Kenapa baru pulang larut malam begini?" tanya Mama Tia.
"Dari rumah Mama Nisa, Ma. Mama Nisa lagi sakit, makanya aku jengukin. Alhamdulillah, sudah lebih baik," jawab Aji.
Sejak kepergian Asha, Aji memang sesekali datang ke rumah mertuanya. Dia tidak ingin memutus tali silaturahmi begitu saja, dirinya juga menganggap mereka seperti orang tuanya sendiri.
"Sampai kapan kamu akan sendiri? Apa kamu tidak ingin membangun rumah tangga lagi? Ini sudah lebih dari lima tahun, teman-temanmu semua sudah ...."
"Ma, sudah berapa kali aku bilang kalau aku sudah menikah dan memiliki anak. Aku tidak mungkin menikah lagi, aku tidak ingin menghianati istriku. Hanya saja sekarang kami belum dipertemukan saja. Mama tolong hargai keinginanku. Kalau Mama menginginkan cucu, Dira saja buat menikah. Dia juga sudah cukup umur untuk menjalani rumah tangga," sela Aji yang mengerti arah pembicaraan mamanya.
Dira yang menjadi pembicaraan pun segera melotot ke arah sang kakak. Selama ini jika ada pembahasan soal Aji dia tidak pernah ikut campur, tetapi kenapa sekarang dirinya disangkut pautkan. Lagi pula masih banyak sekali keinginan gadis itu yang belum terpenuhi.
"Kakak apaan sih! Kenapa jadi bahas aku? Aku 'kan masih ingin meniti karir aku. Aku baru saja memulai bisnis, masa harus menikah juga! Lagian belum ada calonnya."
"Gampang kalau calon, Kakak nanti bisa cariin kalau kamu mau," sahut Aji tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Nggak! Pokoknya nggak ada, aku masih belum ingin menikah."
Papa Bagas yang melihat perdebatan kedua anaknya pun hanya bisa menggelengkan kepala. Dia pun berkata pada sang istri. "Sudahlah, Ma. Mama sudah membahas ini berkali-kali, tetapi hasilnya sama. Aji juga belum ingin menikah lagi. Mama lebih baik istirahat saja, pasti Mama saat ini sudah lelah."
"Tapi sampai kapan, Pa? Iya kalau Aji bertemu dengan Asha lagi, kalau mereka tidak bertemu bagaimana? Apa seumur hidup Aji akan terus menunggu dan harus hidup sendiri? Kita tidak selamanya hidup, bagaimana kalau suatu hari nanti kita meninggal lebih dulu. Siapa yang akan mengurus Aji dan menemaninya?" tanya Mama Tia dengan mata berkaca-kaca. Dia tahu kepergian Asha juga bagian dari kesalahannya, tetapi melihat sang putra seperti ini wanita itu juga tidak tega.
"Ma, jangan bicara seperti itu. Mama harus menjaga kesehatan, tidak usah terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak. Sebentar lagi Asha pasti akan ditemukan. Mama harus percaya padaku." Aji mencoba untuk bicara pada mamanya agar wanita itu mengerti perasaannya.
"Tapi sampai kapan? Kamu sudah mengatakan itu dari dulu, tapi sampai detik ini tidak ada tanda-tanda kamu menemukannya."
"Mama belum minum vitamin, kan? Aku ambilin dulu, ya, Ma!" ucap Dira yang memang sengaja ingin mengalihkan pembicaraan.
Dia tidak suka dengan pembicaraan yang dibahas oleh keluarganya, selalu itu-itu saja. Sebenarnya gadis itu kesal pada kakak iparnya yang pergi dari rumah dan sulit ditemukan. Namun, setelah dipikirkan kembali itu juga salah keluarganya, yang dulu mengusir Asha dari apartemen. Apalagi saat itu keponakannya baru berusia satu Minggu, entah berapa repotnya.
Dira hanya berharap mereka bertahan sampai detik ini. Dia takut jika ternyata kakak iparnya ternyata sudah meninggal, Aji pasti tidak akan sanggup menerimanya. Apalagi jika mengingat betapa besar cinta pria itu pada Asha, pasti akan sangat melukai hatinya.
Sementara itu, kini di ruang keluarga hanya ada keheningan. Mereka tidak tahu harus membicarakan apa, hingga akhirnya Aji pun memilih pamit untuk ke kamarnya saja. Kamar yang kini hanya dia tinggali sendiri. Pria itu berharap agar sang istri segera bisa ditemukan.
__ADS_1
Aji tidak pernah berhenti mencari, hanya saja sekarang dia mempercayakan semua pada dua orang detektif yang dia percaya lainnya dia berhentikan. Pria itu menatap sebuah foto yang ada di meja samping ranjang, foto saat Asha bersama dengan Khairi yang baru saja dilahirkan. Dia jadi penasaran bagaimanakah wajah sang putra. Kini sudah lima tahun, pasti terlihat sangat menggemaskan.
Andai saja saat ini mereka masih bersama, pasti Aji bisa memanjakan anaknya itu dengan segala yang dia miliki. Padahal dulu saat Khairi lahir, pria itu sudah membayangkan bahwa dirinya akan memenuhi semua kebutuhan Khairi dan akan memberikan apa pun yang anak itu minta. Sekarang justru Aji tidak bisa melakukan apa-apa.
Saat sedang memikirkan kehidupan istri dan anaknya, ponsel yang ada di dalam sakunya berdering, tertera nomor asistennya di sana, Aji pun segera mengangkatnya. Pria itu dibuat terkejut saat mendengar jika proyeknya yang ada di luar kota mengalami masalah dan itu bukan hal yang main-main. Asisten menjelaskan secara rinci masalah apa saja yang terjadi di sana. Aji sangat geram dengan orang-orang yang mempermainkan dirinya dan usaha itu.
Padahal dia membuka usaha juga demi orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan agar bisa memiliki kehidupan yang layak. Aji sengaja memilih usaha di dekat pedesaan, supaya orang-orang desa yang tidak memiliki pekerjaan bisa bekerja di sana. Pria itu sangat yakin orang-orang desa lebih bisa diandalkan dalam bekerja keras. Apalagi usaha yang dibuat Aji juga lebih menggunakan tenaga daripada pikiran.
Bukan maksudnya untuk merendahkan, hanya saja saat ini, itu yang dia pikirkan. Akan tetapi, sekarang saat baru setengah perjalanan berdiri, orang-orang yang dia percayai justru melakukan tindak kriminal. Aji tidak akan memaafkan orang-orang itu.
"Baiklah, besok kita akan ke sana. Kamu siapkan saja segala keperluannya, saya akan pergi sendiri. Kamu di kantor saja, menghandle kerjaan saya. Jika benar-benar tidak bisa, kamu kirim email pada saya."
"Baik, Pak."
Aji segera mematikan sambungan telepon. Malam ini dia harus bersiap-siap, besok pagi dia akan terbang ke luar kota. Pria itu bingung harus bagaimana berpamitan pada kedua orang tuanya, terutama Mama Tia. Sebaiknya nanti saja Aji meminta bantuan sang papa karena hanya Papa Harto yang bisa mengerti pekerjaannya. Pasti nanti akan ada drama dengan Mama Tia.
Aji mulai mempersiapkan segala keperluannya untuk berangkat besok, takutnya dia akan berangkat pagi-pagi sekali dan tidak sempat untuk bersiap. Benar saja pria itu mendapatkan pesan dari asistennya bahwa pesawat akan terbang pukul 06.00 pagi, saat semua orang sedang santai-santainya di atas ranjang.
__ADS_1