Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
45. Menolak pergi sekolah


__ADS_3

Aji mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya, dia ingin mengatakan sesuatu pada mereka mengenai kepergiannya besok. Tiket juga sudah ada dan dirinya harus pergi pagi-pagi sekali. Mama Tia yang memang belum tidur pun segera membuka pintu. Wanita itu mengerutkan keningnya saat mendapati sang putra berdiri di depan pintu.


"Ada apa, Nak? Apa kamu perlu sesuatu?" tanya Mama Tia.


"Aku mau bicara sebentar sama Mama dan Papa."


"Masuk saja." Mama Tia pun membuka pintu selebar mungkin agar sang putra bisa masuk.


Aji duduk di sofa di samping papanya yang kebetulan masih belum tidur. Papa Harto sedang membaca buku pun segera menutupnya dan melihat ke arah sang putra. Dia tahu ada sesuatu yang pentin karena tidak biasanya Aji mendatanginya ke kamar.


"Ada apa? Apa yang ingin kamu bicarakan malam-malam begini?"


"Besok pagi aku harus keluar kota, Pa, Ma. Ada masalah di proyek aku yang ada di sana."


"Masalah apa? Kenapa harus kamu yang ke luar kota? Apa orang kepercayaanmu tidak bisa menanganinya?" tanya Mama Tia.


Sejak kepergian Asha, Aji terlalu sering ada kerjaan di luar kota. Bukannya Mama Tia dan Papa Harto tidak tahu jika itu hanya akal-akalan sang putra agar bisa mencari Asha secara langsung. Mereka hanya pura-pura tidak tahu agar Aji tidak marah dan melakukan hal di luar batas. Sekarang keduanya tampak sudah lelah dengan kebiasaan putranya itu.


"Aji, bukankah kamu sudah membayar orang untuk mencari Asha? Kenapa sekarang kamu harus turun tangan sendiri mencarinya lagi? Mereka lebih ahli daripada kamu. Mereka saja tidak bisa menemukan Asha, bagaimana bisa sekarang kamu mencarinya sendiri?" sela Mama Tia yang sudah tidak tahan dengan sikap putranya.


"Aku benar-benar ada pekerjaan di luar kota, Ma, dan ini sangat penting untuk perusahaan kita. Aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja karena ini adalah proyekku. Aku yang bertanggung jawab atas semuanya," sahut Aji membela diri.

__ADS_1


"Kamu kira Mama tidak tahu? Selama ini kamu juga berkata hal yang sama, ada pekerjaan di luar kota, tetapi nyatanya kamu hanya ingin mencari Asha di sana."


"Aku memang mengaku jika selama ini aku selalu berbohong tentang hal itu, tetapi untuk kali ini aku mengatakan yang sejujurnya. Pengerjaan proyek yang ada di luar kota memang sedang ada masalah. Kalau Mama tidak percaya, Papa bisa tanyakan pada penanggung jawab yang ada di luar kota atau orang yang Papa suruh mengawasiku. Pasti mereka juga tahu. Tidak mungkin juga Papa yang turun tangan sendiri karena pasti Papa belum tahu seluk beluk dari proyek ini."


Mama Tia menatap wajah sang putra, dia bisa melihat kejujuran di sana. Wanita itu pun mencoba untuk bertanya lagi agar hatinya benar-benar yakin jika Aji tidak berbohong. "Benar kamu akan keluar kota untuk pekerjaan, bukan untuk yang lainnya?"


"Iya, Ma. Aku pergi hanya untuk pekerjaan. Aku janji setelah proyek berjalan lancar dan tidak ada masalah lagi, aku akan pulang."


Mama Tia menatap Papa Harto, mencoba untuk bertanya pada sang suami apa yang harus dilakukan kini. Pria itu pun mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang untuk memastikan. Namun, belum terlaksana sudah ada beberapa pesan yang masuk di ponselnya. Tadi dia memang memasang ponsel dalam mode silent jadi, tidak mengetahui jika ada pesan masuk.


Saat membaca satu persatu pesan tersebut, Papa Harto pun akhirnya mengangguk pada sang istri. Memang benar seperti yang Aji katakan jika proyek yang ada di luar kota sedang ada masalah. Masalahnya pun cukup berat, sehingga Aji yang harus turun tangan secara langsung. Papa Harto yang memang telah lama berkecimpung di dunia bisnis pun mengerti keadaan sang putra kini.


Mama Tia yang mendengar jawaban dari sang suami pun akhirnya hanya bisa pasrah. Pasti Papa Harto sudah mengetahui apa yang terjadi. Wanita itu berharap, apa pun masalah yang akan terjadi, Aji bisa menanganinya dengan cepat dan masalah bisa teratasi dengan mudah.


"Memangnya kamu besok berangkat jam berapa?" tanya Mama Tia.


"Penerbangan sekitar jam enam, Ma, tapi aku harus berangkat jam lima karena aku harus bertemu dengan sekretarisku dulu untuk membahas pekerjaan yang di sini. Aku akan menyerahkan semuanya pada dia, semoga saja tidak ada kesulitan nantinya saat aku tidak ada."


"Baiklah, besok Mama akan siapkan sarapan untukmu pagi-pagi sekali."


"Terima kasih, Ma. Kalau begitu aku pamit dulu, mau ke kamar."

__ADS_1


Aji segera kembali ke kamar, sementara Papa Harto yang mengerti perasaan sang istri segera memeluknya. Dia tahu jika Mama Tia masih belum rela dengan kepergian Aji. Namun, ini semua juga demi perusahaan mereka.


***


Pagi ini Asha dibuat kerepotan karena Khairi menolak untuk pergi ke sekolah. Anak itu bahkan masih berada di atas kasur dengan berpura-pura tidur, padahal wanita itu tahu jika Khairi akan bangun pagi-pagi sekali dan tidak akan bisa tidur lagi. Teman-temannya bahkan sudah berangkat ke sekolah semua. Entahlah apa yang membuat anak itu tidak mau pergi bersekolah.


Biasanya Khairi adalah anak yang paling rajin di antara semua anak di desa ini. Bahkan Khairi selalu mendapat pujian dari guru-guru yang mengajarnya. Meskipun dia masih TK, tetapi anak itu sudah pandai dalam membaca menulis dan berhitung, bahkan dalam berbahasa Inggris pun cukup pandai karena memang didikan dari Asha.


Sedari tadi tidak hentinya Asha membujuk sang putra agar mau bangun dan sekolah. Namun, anak itu tetap kekeh menolak dan mengatakan jika dirinya sedang demam. Sudah jelas tidak terjadi apa-apa, bahkan tubuhnya juga tak terasa panas sedikit pun.


"Ayo, dong, Sayang! Semua teman kamu sudah berangkat, tinggal kamu sendiri yang belum. Nanti kalau terlambat dapat hukuman dari bu guru bagaimana?" bujuk Asha.


Namun, Khairi sama sekali tidak peduli, bahkan anak itu semakin mempererat pelukannya pada guling miliknya.


"Sudahlah, Asha, libur satu hari juga nggak apa-apa. Mungkin Khairi sedang lelah," sela Bik Ika yang merasakan jika Khairi sedang menyembunyikan perasaannya agar sang ibu tidak mengetahuinya.


"Tidak bisa begitu dong, Bu. Kalau dibiarin dia akan semakin manja."


"Sudah, biarkan saja. Biar nanti Ibu yang bicara sama Khairi," sahut Bik Ika yang memberi kode pada Asha agar keluar dari kamar.


Sejak tinggal di rumah ini, Asha memang merubah panggilannya pada Bik Ika menjadi ibu seperti Amira karena dia sudah seperti anak jika di rumah ini. Seumur hidup dia tidak akan bisa membalas kebaikan keluarga ini.

__ADS_1


__ADS_2