
"Itu karena ... karena aku kasihan sama kamu, Aji! Aku kasihan sama Tante dan Om. Mereka telah dibohongi sama wanita itu. Kamu pasti terpaksa juga 'kan hidup dengan dia yang mengandung anak orang lain?” tanya Naura dengan menatap Aji memelas, berharap jika dia akan percaya dan berbalik simpati dan kemudian memperhatikannya. Meski melihat kemarahan di wajah pria itu membuatnya takut. Baru kali ini Aji.
“Apa tujuan kamu, ha! Kenapa kamu ikut campur dengan apa yang aku lakukan? Kenapa kamu ikut campur dengan urusanku dan Asha?” tanya laki-laki itu menatap Naura dengan tajam. Naura kini menundukkan kepalanya, tidak lagi berani menatap Aji.
“Pergi dari sini dan jangan ganggu aku!” usir Aji kemudian pergi melanjutkan perjalanannya.
Naura sakit hati mendengar pengusiran dari Aji, dia sampai menitikkan air mata dan pergi mengambil tasnya dengan cepat. Tia bertanya ada apa gerangan yang terjadi sehingga Naura menangis, tapi wanita itu tidak menjawab pertanyaan dari Tia, terus melangkahkan kakinya pergi dari rumah itu segera.
Aji merebahkan dirinya di atas tempar tidurnya, dia merasa lelah sekali hari ini. Pikirannya tidak bisa dia alihkan dari Asha dan juga Khairi. Entah bagaimana keadaan kedua orang tang sangat dirindukannya itu.
“Apa aku harus menemuinya?” gumam Aji. Namun, ragu apakah Asha menerima kedatangannya atau tidak, mengingat apa yang sudah dilakukannya. Pria itu pun menutup matanya sejenak, hingga akhirnya dia benar-benar tertidur karena saking lelahnya.
***
Semakin lama, keadaan Aji semakin menyedihkan. Jika dilihat oleh orang tuanya, dia semakin kurus dan tampak tidak terurus dengan banyak bulu halus yang tumbuh di rahang dan di bawah hidungnya. Matanya tak lagi cerah, sosok Aji yang dingin semakin tidak tersentuh saja meski itu oleh kedua orang tuanya sendiri.
“Aji,” panggil sang ibu yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerjanya. Sudah dua jam berlalu, Aji belum juga keluar dari sana dan dia belum makan malam.
__ADS_1
Pria itu tidak menjawab, hanya melirik sekilas kemudian kembali lagi pada pekerjaannya. Dalam hati Aji tidak ingin menyalahkan mamanya, tetapi tidak dipungkiri jika apa yang terjadi dalam hidupnya akibat wanita itu yang terlalu ikut campur. Padahal sebelum menikah, baik Mama Tia ataupun Mama Nisa sepakat untuk tidak ikut campur dalam rumah tangganya, kecuali Aji dan Asha sendiri yang meminta. Sekarang bukan hanya ikut campur, tetapi memaksakan kehendak.
“Boleh Mama bicara?” tanya Tia, kemudian tanpa menunggu Aji untuk berbicara, dia masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di depan Aji.
“Aji. Mama lihat kamu akhir-akhir ini sangat menyedihkan. Bangkitlah, Nak. Mama nggak mau lihat kamu kayak gini terus. Apa kamu nggak tau kalau Mama dan Papa sedih lihat kamu kayak gini, Nak. Lupakan Asha dan kamu berbahagialah dengan Naura. Naura wanita yang cocok buat kamu, dia baik, dia sayang sama kamu. Mama yakin kalau dia juga bisa menjadi istri yang baik melebihi Asha. Menikah sama dia, Mama jamin kalau kamu pasti akan bahagia dengan Naura,” ucap Tia membuat Aji menurunkan kertas yang sedang dibacanya.
Helaan napas terdengar dari mulut anaknya. Aji menatap malas sosok sang ibu yang terus menerus menyuruhnya untuk bersama dengan Naura. Bahkan saat dia dan Asha belum resmi bercerai secara resmi. Mengingat sang istri justru semakin membuat pria itu sakit hati.
“Jangan terus-terusan membahas Naura, Aku ingin sendiri saja sekarang ini.”
“Aji, tapi Mama—“
Aji terlalu kesal dengan ibunya sehingga dia berkata ketus seperti itu untuk ke sekian kalinya. Kertas yang ada di tangan dia simpan dengan kasar di atas meja dan menatap ibunya dengan berani. Pria itu sudah lelah dengan aturan-aturan yang dibuat mamanya.
“Tapi, Aji—“
“Keputusan aku sudah bulat. Seperti Mama yang menyuruh aku buat memberikan talak kepada Asha dengan begitu yakin, aku juga akan melakukan hal yang sama dengan keputusanku seperti keputusan kalian waktu itu!” ujar Aji dengan berani.
__ADS_1
Aji tidak ingin berdebat lagi dengan orang tuanya sehingga dia memutuskan untuk bangkit dan pergi dari sana. Tia menatap kepergian sang putra, dia sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa dengan putranya itu, selalu saja menolak apa yang mereka inginkan. Padahal itu untuk kebaikan dan kebahagiaan Aji.
Tia sudah menyerah dengan keputusan Aji, dia meminta bantuan kepada suaminya untuk berbicara dengan anaknya itu. Pada akhirnya, Harto berbicara saat mereka baru selesai makan malam. Seperti keinginan sang istri, pria itu mengatakan keinginannya agar Aji mempertimbangkan Naura, yang selama ini menemaninya.
“Nggak, Pa!” tolak Aji dengan tegas. “Aku nggak akan nikah sama Naura. Aku belum bercerai secara resmi dengan Asha!” ucap Aji dengan nada yang kesal.
Lagi-lagi pria itu diminta untuk menikah dengan Naura yang sama sekali tidak dia cintai. Aji hanya menganggap gadis itu sebagai sahabatnya saja, tidak lebih dari itu. Bahkan selamanya akan begitu, apalagi dengan apa yang dilakukan sebelumnya, semakin membuat Aji ilfeel.
“Kalau begitu kamu selesaikan hubungan kalian. Toh, kalian sudah tidak satu rumah!” ujar Harto. Namun, Aji menggelengkan kepalanya dengan yakin.
“Maaf, Pa. Aku menolak untuk menceraikan Asha.” Harto dan Tia menatap sang anak dengan tidak suka. “Aku nggak akan mendaftarkan perceraianku dengan Asha. Aku sayang dengan dia, Ma, Pa. Asha istri yang baik, tidak pernah sekalipun dia melalaikan tugasnya sebagai seorang istri. Aku mohon, berikan restu kepada kami. Meskipun Khairi bukan anak aku, tapi aku sudah sayang dengannya. Dia terlahir juga bukan karena keinginan, itu karena kecelakaan dan bukan sepenuhnya salah Asha,” ucap Aji.
“Maksudnya?” tanya Tia dengan bingung. Juga Harto yang menatapnya sama bingungnya.
“Aku sudah menelusuri dan menemukan fakta, Asha diperk**a sebelum menikah denganku.”
“Apa? Bohong! Nggak mungkin itu kan?”
__ADS_1
Tia merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Yang wanita itu pikirkan adalah Asha bermain api dengan orang lain, tetapi ternyata pikirannya salah. Rasa bersalah hadir dalam hati Tia, tetapi segera ditepisnya. Meskipun Asha diperk**a, tetap saja bayi itu bukan anak Aji dan sekarang tidak diketahui siapa ayahnya.
“Terserah jika Mama dan Papa tidak percaya, aku mendapatkan kabar itu dari orang kepercayaanku. Aku menyelidiki semua ini jauh sebelum kalian tahu kabar ini. Asha tidak seburuk yang kalian pikirkan, dia wanita baik-baik. Hanya saja memang takdirnya yang tidak baik," ujar Aji sendu.