
Dua hari Asha berada di rumah sakit, kondisinya sangat lah baik sehingga dia bersama dengan anaknya bisa pulang ke apartemen. Bik Ika yang melihat bayi mungil anak Asha ikut senang melihat anak kecil itu, bagai dia memiliki cucu meski bukan cucu kandungnya. Kepulangan mereka dijemput oleh kedua orang masing-masing, apartemen yang biasanya sepi seketika penuh oleh orang-orang itu.
“Apa kalian nggak mau tinggal di rumah aja? Sama salah satu dari kami?” tanya Tia yang berharap jika Aji dan Asha tinggal di rumahnya. “Mama pikir akan lebih baik loh kalau kalian didampingi orang tua. Anak kalian kan masih kecil sekali. Pasti Asha akan sangat repot kalau mengurusi cuma sendirian,” ujar Tia.
“Iya, bener itu. Kalian tinggallah di rumah salah satu dari kami, agar kami bisa membantu dan Asha nggak terlalu capek.” Nisa menimpali.
“Maaf, Ma. Kami tinggal di sini saja. Lagi pula ada Bi Ika yang bisa menolong membantu Asha mengurusi anak kami,” tolak Aji. Asha tersenyum saat kedua orang tua itu menatapnya.
“Iya, Mama. Aku di sini juga sudah sangat baik kok. Ada Bik Ika yang membantu kami mengurusi anak kami.”
“Ah, Nenek nggak mau pisah rasanya.” Mama Tia mencium pipi cucunya dengan ujung hidung dengan sayang, menghirup aroma khas anak kecil yang sangat dia suka. Ini adalah cucu pertamanya, begitu juga dengan Mama Nisa tentu saja sangat berat berpisah dengan bayi itu. Apalagi dengan wajah yang menggemaskan seperti itu.
“Kita bisa apa kalau memang kalian nggak mau tinggal sama kita. Ngomong-omong, kalian mau kasih nama anak ini siapa?” tanya Mama Nisa.
Asha melirik Aji yang masih diam, tampaknya laki-laki itu tidak mau membuka mulutnya. Lebih tepatnya tidak tahu harus menjawab apa. “Khairi!” jawab Asha cepat.
“Khairi. Nama yang bagus. Kepanjangannya siapa?” tanya Tia. Sementara itu, sang suami hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Em, itu kami belum memikirkannya. Tapi kami rasa Khairi adalah nama yang bagus,” ujar Asha. Semua orang mengangguk setuju dengan nama itu, tidak terkecuali Aji, dia hanya diam dan diam-diam sedang memikirkan jika mungkin nama anak itu adalah kesepakatan Asha dengan ayah si bayi.
“Aku ke bawah dulu, Ma,” pamit Aji sambil berdiri dari duduknya.
“Loh, kamu mau ke mana?” tanya Tia.
“Mau beli makanan!” seru Aji tanpa menghentikan laju kakinya dan pergi dari unit apartemennya.
Setiap malam tangis dari bayi itu terdengar dari kamar Asha, Aji mendengarnya, tapi dia tetap bertahan di dalam kamar. Ada Bik Ika yang membantu istrinya mengurusi bayi itu. Ingin sekali pria itu datang, tetapi takut jika membuat sang istri tidak nyaman. Aji pernah diam-diam mengintip saat pintu tidak terkunci. Saat itu Asha memberi asi, sejak itu dia tidak datang lagi.
***
“Mas, kamu mau ke kantor?” tanya Asha saat Aji sudah bersiap dengan pakaiannya keluar dari kamar.
“Hem.”
“Sebentar.” Asha berlari kecil dan menyiapkan meja makan yang sudah tertata dengan makanan. “Sarapan dulu sebelum berangkat,” ajak Asha. Aji melihat wanita itu bergerak lincah seakan lupa jika beberapa hari yang lalu dia telah melahirkan.
“Kamu nggak perlu siapkan makanan. Urus saja anak kamu,” ucap Aji datar. Namun, ujung matanya terus saja melirik gerakan sang istri.
Asha terdiam, tapi segera tersenyum karena melihat Bik Ika yang menunggui Khairi di ruang tamu.
“Nggak apa-apa, aku lagi luang kok. Ada Bik Ika yang nungguin Khairi,” ucap Asha. Aji duduk di meja makan dan menikmati sarapan paginya.
“Mama bilang kita adakan aqiqah di rumah Mama,” ucap Aji di sela sarapannya.
“Hah, aqiqah?” Asha terperangah, dia masih belum terpikir dengan acara itu. “Tapi—“ Baru saja Asha akan kembali berbicara, terdengar suara tangisan Khairi dari ruangan itu.
Asha mengurungkan niatnya untuk berbicara dan pergi ke tempat sang putra berada.
Hingga saat Aji pergi, Asha masih berada di dalam kamarnya untuk menyusui Khairi.
__ADS_1
Setiap malam pria itu pulang sedikit larut, terkadang jam delapan atau jam sembilan. Asha yang sudah kelelahan terkadang sudah tertidur saat sang suami pulang.
Hari ini libur, Aji hanya bersantai di apartemen dan enggan untuk keluar, bahkan hanya untuk bertemu teman saja dia malas sekali. Tadi sempat ada panggilan telepon, tetapi langsung dia tolak karena pria itu ingin menghabiskan waktu dengan anaknya. Anak sang istri lebih tepatnya, tetapi dalam akta, dirinyalah ayahnya, jadi apa salahnya jika mengklaim bayi itu anaknya.
Aji berada di ruang keluarga sedang menimang Khairi. Asha datang dengan segelas teh dan meletakkannya di depan sang suami. Pria itu hanya mengangguk tanpa ekspresi, membuat Asha ragu untuk mengatakan niatnya. Namun, wanita itu tidak mungkin menundanya lagi
“Mas,” panggil suara Asha sehingga Aji menolehkan kepalanya. Aji menatap Asha yang menundukkan kepala. Sesuatu ada di tangan wanita itu berbentuk kotak berwarna merah.
“Ada apa?” tanya Aji. Asha menundukkan kepalanya menatap lantai yang ada di bawah kakinya.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, tapi tidak di sini."
"Baiklah, kita ke kamarmu saja," ucap Aji. Keduanya pun segera masuk ke dalam kamar. Aji juga tetap membawa Khairi dalam gendongannya karena memang anak itu terlihat begitu anteng karena terlalu nyaman.
“Untuk beli kambing aqiqah nanti,” ucap Asha sambil menyodorkan kotak berwarna merah itu. Aji menatapnya dengan bingung, tapi entah kenapa tangannya terulur untuk mengambilnya dan membuka benda tersebut, sebuah kalung dengan ukiran indah ada di sana.
“Aku nggak bisa keluar buat jual itu, Mas. Bisa kamu tolong jual kalung itu dan belikan kambing untuk aqiqah Khairi? Nanti juga tolong belikan kambing itu,” ucap Asha masih menundukkan pandangannya. “Itu ... kalung itu aku yang beli saat kerja dulu. Tolong ya, Mas.”
Aji meletakkan Khairi di atas ranjang dan berdiri di hadapan Asha, memberikan benda itu kembali ke tangan sang istri. Kepala wanita itu terangkat, menatap suaminya dengan tidak mengerti. Dia berpikir jika Aji menolak permintaannya.
“Apa maksud kamu? Apa kamu pikir aku nggak sanggup beli buat kebutuhan aqiqah Khairi?” tanya Aji, Asha kembali menundukkan pandangannya dan menggelengkan kepalanya pelan.
“Bukan karena itu, Mas. Tidak ada kewajiban buat kamu atas Khairi. Aku cuma nggak mau kalau kamu susah payah mengurusi aqiqah ini karena—“
“Karena Khairi bukan anak aku?” tanya Aji dengan cepat memotong ucapan Asha. Asha menganggukkan kepalanya dengan pelan.
“Iya, Mas. Aku nggak mau kamu repot dengan ini, aku sadar selama ini aku terlalu banyak ngerepotin kamu. Untuk urusan anakku, aku mau pakai uang aku sendiri. Tolong Mas, jual ini dan aku minta tolong untuk belikan segala sesuatunya untuk Khairi. Itu juga bukan kewajibanmu karena aqiqah hanya boleh dilakukan oleh orang tua kandungnya."
Sementara itu di luar kamar Aji, seseorang tengah menutup mulutnya tak menyangka dengan apa yang dia dengar. Segera dia pergi dari sana dengan langkah yang cepat meninggalkan pintu kamar Aji yang terbuka sedikit.
“Astaga! Apa yang aku dengar ini?” gumamnya pelan kemudian masuk ke dalam lift dengan rasa tak percaya.
Bik Ika bingung saat sampai di ruang tamu dengan membawa nampan di tangannya, tamu yang baru saja datang sudah tidak ada lagi di sana.
“Loh, mana tamunya?” tanya Bi Ika heran, pandangannya mencari ke sekeliling, tapi dia tidak menemukan tamunya itu di dalam sana.
Tepat pada saat itu suara tangis terdengar dari kamar Asha, membuat Aji kembali menggendong anak itu. Sepertinya Khairi haus, pria itu pun menyerahkannya pada Asha, sementara dirinya langsung keluar kamar. Pun dengan Bik Ika yang menyimpan nampannya di atas meja dan hendak pergi ke kamar Asha, tetapi berpapasan dengan Aji.
“Bik, ada tamu?” tanya Aji saat melihat Bi Ika menyimpan nampan tersebut.
“Iya, tapi tamunya nggak ada.”
“Tamu siapa? Kok aku nggak tau?” tanya Aji lagi, perasaan dia tidak punya janji dengan siapa pun. Apartemen ini memang jarang dikunjungi orang selain keluarga saja.
“Neng Naura.”
Aji terdiam, begitu juga dengan Asha yang baru saja keluar dari kamarnya dengan menggendong Khairi. Saat mendengar tadi Aji dan Bik Ika membicarakan tamu yang datang, wanita itu penasaran dan keluar.
“Naura datang? Kemana dia?” tanya Aji yang tiba-tiba saja menjadi khawatir.
__ADS_1
“Iya, tapi sudah pulang lagi. Tadi sih kedengeran ada telepon masuk, mungkin panggilan darurat,” ujar Bi Ika.
Memang tadi saat Naura akan mendengar lebih lanjut ada panggilan yang mengganggunya dan dia memutuskan untuk segera pergi dari sana. Namun, Aji tetap merasa khawatir. Mudah-mudahan apa yang dia takutkan tidak akan terjadi.
***
Di dalam mobil Naura menyeringai, kini dia menemukan rahasia yang bisa memuluskan rencananya tanpa bersusah payah lagi. Gadis itu tidak sabar ingin melihat kehancuran rumah tangga Aji. Tidak menyangka akan mendengar rahasia yang luar biasa itu. Dirinya juga tidak pernah berpikir sampai ke arah sana. Padahal jika dilihat-lihat Asha adalah wanita yang baik, bagaimana bisa menghianati Aji, seorang pria yang baik.
Mobil Naura kini terparkir di halaman kediaman orang tua Aji yang luas. Wanita itu tersenyum puas dan melarikan langkah kakinya dengan cukup cepat.
“Naura? Ada apa kamu ke sini? Kenapa lari-lari?” tanya Tia dengan bingung saat melihat Naura setengah berlari mendekat ke arahnya di taman belakang rumah. Naura semakin senang karena ternyata Tia ada di rumah.
“Kebetulan Tante ada di rumah,” ucap Naura kemudian duduk di samping wanita itu.
“Loh, ada apa sih? Apa yang bikin kamu datang ke sini sambil lari-lari kayak gini?” tanya Tia bingung.
“Aku ada info.”
Naura mendekatkan bibirnya pada telinga Tia dan menceritakan apa yang telah dia dengar barusan di apartemen Aji.
“Apa? Nggak mungkin!” seru Tia menjauhkan kepalanya dari wanita itu dan menatap Naura dengan tajam. “Jangan omong kosong, Naura! Nggak mungkin kalau Khairi bukan anak Aji!” ujar wanita itu dengan nada marah.
“Kalau nggak percaya ya udah, nggak masalah. Aku datang ke apartemen Aji dan dengar kalau mereka bahas itu kok. Bahkan Aji sendiri yang bilang sama Asha kalau anak itu bukan anaknya. Masa iya aku bakalan ngomong gini kalau nggak beneran, Tan!” Naura berbicara dengan nada yang santai, meski Tia menuduhnya berbicara yang tidak benar, tapi dari raut wajah wanita itu menandakan jika Tia sedang berpikir keras.
“Kamu yakin?” tanya Tia sekali lagi. Naura menganggukkan kepalanya.
“Tante boleh benci aku dan larang aku buat datang ke sini kalau aku bohong!” ujar wanita itu dengan yakin.
Tia menatap Naura sekali lagi.
“Minta Aji untuk melakukan tes DNA dengan anak itu.”
Selepas kepergian Naura, Tia segera menemui sang suami yang berada di kamar. Dia pun menceritakan seperti yang dikatakan Naura. Tidak jauh berbeda dengan dirinya, Harto pun sama terkejutnya. Selama ini dia sangat percaya pada anak dan menantunya, bagaimana bisa membohonginya seperti ini. Keduanya pun memutuskan untuk pergi ke apartemen Aji.
Mama Tia menghubungi orang tua Asha. Dia tidak mengatakan suatu apa pun, hanya meminta mereka untuk datang ke apartemen Aji. Semuanya perlu meminta kejelasan berita ini dari Aji dan Asha. Mama Nisa tentu saja dibuat heran, tetapi tetap mengikuti kata besannya. Dia juga penasaran apa yang membuat Tia memintanya datang ke apartemen anak mereka.
***
Kini di apartemen Aji, ada orang tua Aji dan orang tua Asha sudah duduk di sana dengan diam. Nisa dan Roni masih bingung apa gerangan yang membuat besannya ini meminta mereka untuk datang, juga dengan Aji dan Asha yang tidak tahu untuk apa mereka berkumpul di sini. Namun, perasaannya sedikit tidak enak melihat wajah Tia yang tampak tak ramah sedari tadi saat mereka datang. Bahkan, Tia tidak menyapa Khairi sama sekali, berbeda dengan Harto dan kedua orang tuanya yang menyapa sang putra.
Mama Nisa pun merasakan hal yang sama. Dia merasa besannya sedang ada masalah, saat ditegur pun hanya melengos. Entah ada masalah apa dengannya.
“Ada apa kamu memanggil kami di sini, Tia? Kamu bilang tadi ada yang penting?” tanya Nisa kepada besannya dengan bingung.
“Bilang sama kami, Asha. Khairi anak siapa?” tanya Tia tiba-tiba membuat semua pasang mata menatap wanita tersebut.
Asha terkejut mendengar pertanyaan mertuanya, begitu juga dengan Aji yang saat ini sedang memangku Khairi. Kedua orang tua Asha tidak kalah syok-nya. Bagaimana bisa yang bertanya seperti itu? Sudah jelas-jelas jika Khairi anak Asha dan Aji, kenapa harus ditanyakan.
“Ten-tentu saja anak aku sama Mas Aji, Ma,” jawab Asha dengan nada yang bergetar. Kedua tangannya gemetar mendapati pertanyaan sang ibu mertua yang tiba-tiba saja datang dan menghakimi mereka seperti itu.
__ADS_1
“Apa yang kamu maksud, Tia? Kenapa bertanya seperti itu?” tanya Nisa. Dia benar-benar kesal pada besannya, itu sama saja menghina putrinya.
“Bayi itu, bukan anak Aji, kan? Anak siapa dia!” seru Tia dengan marah.