Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
66. Khawatir pada Aji


__ADS_3

"Mas Aji!" seru Asha begitu sampai di klinik dan segera mendekati ranjang tempat sang suami terbaring lemah. "Bagaimana keadaan kamu? Apa kata dokter?"


"Tidak apa-apa, hanya asam lambung yang naik," jawab Aji dengan tersenyum.


Hal itu tentu saja membuat Asha kesal. Bagaimana tidak, disaat tubuh pria itu sedang tidak baik-baik saja, tapi Aji malah mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi dia juga tidak bisa berkata apa-apa.


"Kenapa Mas Aji sampai telat makan? Bukankah tadi di rumah ada makanan? Apa Mas tidak makan? Apa masakanku tidak enak?"


"Bukan seperti itu, aku hanya kasihan pada Khairi karena aku tadi tertidur jadi tidak bisa main sama dia. Aku mau ngajak dia jalan-jalan untuk menebus rasa bersalahku."


Asha tahu jika itu hanya alasan Aji saja karena tadi sebelum pergi ke klinik, dia sempat menghubungi Bik Ika dan wanita paruh baya itu mengatakan bahwa Khairi marah pada papanya. Kejadian itu yang membuat Aji membujuknya dengan membawa anak itu ke sebuah mall. Asha juga tidak bisa marah karena memang anak itu masih belum mengerti apa-apa. Nanti saja dia akan bicara pelan-pelan agar ke depannya anak itu tidak lagi memaksakan kehendak pada orang lain. Meskipun itu papanya sendiri.


"Sebaiknya kamu bawa Khairi pulang dari sini, tidak baik untuk dia terlalu lama di tempat seperti ini. Aku tidak mau kalau dia yang akan sakit."


"Kamu sendiri di sini bagaimana?"


"Aku tidak apa-apa, masih ada asistenku yang akan datang setelah ini," jawab Aji berbohong, nyatanya sedari tadi dia mencoba menghubungi asistennya, tetapi tidak diangkat mungkin sibuk.


"Ya sudah, kalau begitu aku pamit dulu, kamu hati-hati," jawab Asha ragu.


Sebenarnya wanita itu ingin mengajak Aji tinggal di rumahnya, hanya saja dia tidak memiliki keberanian untuk mengatakan hal itu. Apalagi saat ini hubungan mereka juga tidak halal, yang ada nanti wanita itu malah akan semakin menambah dosa yang ada. Namun, membiarkan Aji seorang diri disebuah hotel juga tidak baik. Takutnya pria itu tidak ada yang mengurus dan malah akan bertambah sakit.

__ADS_1


Aji yang melihat keraguan di mata sang istri pun mencoba untuk memberi pengertian, bahwa dirinya akan baik-baik saja jadi tidak perlu risau. Dia juga tidak mau membebani wanita yang dicintainya itu. Tidak mungkin juga Asha mengajaknya tinggal di rumahnya, nanti malah akan menjadi gunjingan warga karena keduanya belum mengadakan akad.


Setelah kepergian Asha, kini di dalam kamar rawat inap hanya tinggal Aji seorang diri. Pria itu hanya tinggal menunggu cairan infusnya habis, barulah dia akan pulang. Aji juga tidak tahu di mana mobilnya saat ini. Mungkin saja masih ada di parkiran mall, dia juga tidak bisa mengambilnya ke sana, mudah-mudahan saja masih ada di sana karena itu mobil milik perusahaan.


Sementara itu dalam perjuangan pulang, Asha masih saja terus kepikiran dengan kondisi Aji yang saat ini ada di rumah sakit. Apakah asisten pria itu sudah datang atau belum. Seharusnya tadi Asha menunggu hingga ada orang yang menjaga Aji agar tidak khawatir seperti ini.


"Ma, apa papa sakit gara-gara aku?" tanya Khairi yang sedari tadi merasa kasihan pada papanya.


Tadi juga anak itu sebenarnya menolak untuk pulang, tetapi karena paksaan dari mamanya, akhirnya anak itu pun mau. Asha tersenyum ke arah sang putra, dia tahu jika Khairi pasti sangat khawatir. Terlihat ketakutan di wajahnya.


"Tidak, Sayang, itu karena papa bandel. Nggak mau makan tempat waktu, makanya sakit. Khairi juga tidak boleh begitu makannya, kalau sudah waktunya makan harus cepat-cepat makan, biar enggak sakit seperti papa."


Khairi hanya mengangguk sebagai jawaban dan kembali bertanya, "Nanti papa pulang ke mana, Ma? Tidak ke kantor lagi, kan? Nanti siapa yang merawat di sana? Biasanya kalau aku sakit selalu ditemani Mama, kalau papa nggak pulang, siapa yang akan menemani papa? Siapa yang nanti akan kasih obat? Kalau papa nggak minum obat Bagaimana? Pasti nggak sembuh-sembuh," tanya Khairi beruntun.


Bik Ika yang berada di teras mengerutkan keningnya saat mendapati anak dan cucunya pulang bersama. Setahunya Khairi pergi bersama dengan Aji, kenapa sekarang malah pulang bersama dengan Asha? Bukankah wanita itu sedang bekerja.


"Kalian bisa pulang bersama? Ke mana Nak Aji? Bukankah tadi pergi sama Khairi?" tanya Bik Ika begitu Asha dan Khairi sampai di teras.


"Mas Aji masih di klinik, Bu. tadi magnya kambuh saat main di mall sama Khairi jadi, terpaksa dilarikan ke klinik."


"Astaghfirullahaladzim! Padahal tadi Ibu sudah memintanya untuk sarapan terlebih dahulu, tapi katanya mau sarapan di mall saja. Seharusnya tadi Ibu memaksanya," sahut Bik Ika yang merasa bersalah dan kembali bertanya, "Terus sekarang bagaimana keadaannya? Apa kata dokter?"

__ADS_1


"Mas Aji harus banyak beristirahat dan tidak boleh telat lagi saat makan. Apalagi sebelumnya juga Mas Aji pernah kambuh begitu parah," jawab Asha. "Entah apa saja yang terjadi padanya selama kami berpisah," lanjutnya dalam hati.


"Terus sekarang Nak Aji sama siapa? Di sini tidak ada keluarganya."


"Tadi kata Mas Aji ada asistennya, Bu. Mungkin nanti siang asistennya akan ke sana."


Bik Ika pun mengangguk meski dalam hati dia ragu. Apakah Aji dijaga dengan baik atau tidak.


"Kalau begitu Ibu saja yang datang ke sana, takutnya nanti nggak ada yang jaga," ucap Bik Ika sebelum Asha masuk ke dalam rumah.


"Jangan, Bu. Ibu 'kan juga harus jaga kesehatan."


"Tapi Ibu khawatir sama Nak Aji. Ibu takutnya dia bohong sama kamu, itu hanya alasan agar kamu dan Khairi pergi dari sana. Dia tidak ingin kamu khawatir karena itu sebaiknya Ibu saja yang datang ke sana."


Asha memikirkan apa yang dikatakan oleh Bik Ika. Dalam hati dia membenarkannya, pasti Aji tidak ingin putranya sakit jika terlalu lama berada di sana. Tadi juga pria itu bilang bahwa lingkungan di sana tidak baik untuk Khairi.


"Sebaiknya Ibu di rumah saja, biar aku yang menemani Mas Aji. Nanti kalau sudah ada asistennya barulah aku akan pulang," ucap Asha.


"Tapi kamu pasti capek, biar Ibu saja. Ibu juga nggak ngapa-ngapain di rumah sejak tadi."


"Tidak apa-apa, Bu. Biar aku saja."

__ADS_1


Asha pun segera berpamitan pada Khairi, untung saja anak itu mengerti dan tidak merengek untuk ikut.


__ADS_2