
Di tempat tinggal Asha kini terjadi ketegangan. Baru saja Tiara pulang dengan memberi kabar buruk, jika Khairi telah pergi bersama dengan seorang pria yang tidak diketahui siapa namanya. Asha tentu saja terkejut mendengar berita itu. Selama ini mereka tidak pernah kenal dengan orang lain selain warga di kampung ini.
Apalagi Khairi juga sebelumnya sudah diwati-wanti untuk tidak dekat dengan orang asing. Jika ada yang mendekati lebih baik Khairi menjauh, tetapi kenapa sekarang justru anak itu mau diajak pergi begitu saja. Pasti telah terjadi sesuatu dengan putranya.
"Bagaimana bisa Khairi pergi, Tiara? Memangnya para guru tidak ada yang melarangnya atau bagaimana? Bisa-bisanya mereka melepaskan anakku pergi begitu saja dengan orang asing," pekik Asha.
Dia sangat takut jika orang itu adalah keluarganya dan ingin memisahkan dirinya dan sang putra. Entah kenapa wanita itu jadi terus kepikiran, takut masa lalu yang menghantuinya.
"Aku juga nggak ngerti, Tante. Saat aku datang, mereka sudah bilang Khairi pergi dengan seorang pria atas keinginannya sendiri. Mereka juga tidak bisa melarang Khairi karena dia terus ngotot dan tidak mau mendengarkan kata-kata gurunya.
Asha semakin khawatir, saat ini sang putra sudah pergi dan tidak tahu ke mana. Ingin mencari pun juga tidak tahu harus ke mana. Bik Ika pun mencoba untuk memenangkan Asha agar wanita itu bisa tenang.
"Bagaimana bisa aku tenang di saat putraku tidak aku ketahui berada di mana, Bu. Aku khawatir sama dia," sahut Asha dengan nada frustasi.
"Khairi itu anak yang pintar, pasti dia tahu jika orang yang sedang bersamanya itu orang baik. Tidak mungkin dia pergi begitu saja tanpa pertimbangan. Ibu yakin kalau saat ini Khairi pasti baik-baik saja bersama dengan orang baik."
"Tapi, Bu. Kita 'kan nggak tahu di saat seperti ini, Khairi sama siapa, bisa jadi orang itu orang jahat."
"Sudah, jangan berburuk sangka. Sekarang kamu banyak berdoa saja, kita tunggu sampai besok, kalau Khairi belum pulang juga kita lapor polisi. Kalau sekarang belum bisa karena kejadiannya baru tadi siang."
__ADS_1
Akhirnya Asha pun mengalah, mau mencari pun dia juga tidak tahu harus mencari ke mana. Tadi Tiara juga sudah menelusuri jalan dari sekolah sampai rumah dan tidak ada tanda-tanda keberadaan keponakannya itu. Seharian Asha tidak bisa tenang, dia terus saja menunggu di teras rumah, berharap orang yang membawa Khairi segera membawanya pulang. Hingga sore hari belum juga ada tanda-tanda kepulangan Khairi, tentu saja wanita itu semakin khawatir. Asha pun memutuskan untuk pergi ke sekolah, siapa tahu Khairi sudah dikembalikan oleh pria yang membawanya ke sekolah.
"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Bik Ika saat melihat Asha masuk ke kamar dan keluar dengan membawa tas kecil.
"Mau ke sekolah, Bu. Siapa tahu Khairi sudah diantar ke sana. Ibu tunggu di rumah saja, nanti kalau Khairi sudah pulang segera kabari aku."
Asha segera berjalan ke depan rumah, Bik Ika yang khawatir pun segera mengejar. Dia tidak akan tenang jika harus membiarkan sang putra berada dalam bayang-bayang pria itu.
"Asha, sebaiknya kamu ditemani sama Amira, kalau kamu pergi sendiri, Ibu jadi semakin nggak tenang."
"Nggak pa-pa, Bu. Tempat sekolah Khairi juga tidak terlalu jauh."
Bu Ika pun segera memanggil Amira untuk mengantar Asha. Namun, saat akan pergi terlihat sebuah mobil berhenti di depan rumah. Seorang anak kecil turun dan berlari menuju ke arah mamanya, siapa lagi kalau bukan Khairi.
"Ya ampun, Nak! Kamu ke mana saja?" seru Asha yang segera berjongkok dan memeluk putranya.
Dia merasa lega, akhirnya bisa bertemu dengan putranya juga. Air mata wanita itu menetas begitu saja, rasa sesak di dalam dadanya kini berangsur membaik. Beban yang tadi dirasakan kini mulai hilang. Asha bersyukur putranya bisa kembali dengan selamat. Dia takut jika ada orang yang skan berbuat jahat pada putranya.
"Mama, kenapa menangis? Apa ada orang yang jahat sama Mama?" tanya Khairi dengan wajah polosnya, seketika membuat Asha tersenyum sambil menggeleng.
__ADS_1
Saat ini yang terpenting keadaan Khairi baik-baik saja, tidak penting keadaan dirinya. Setelah wanita itu bisa menguasai diri dan keadaan sudah membaik, dia pun bertanya, "Kamu tadi dari mana? Kenapa pergi tanpa memberitahu Mama atau Kak Tiara?"
"Aku ketemu papa, Ma. Papa yang ngajak aku jalan-jalan. Aku juga dibeliin mobil-mobilan," jawab Khairi sambil menunjukkan kantong kresek yang dibawanya.
Cukup besar untuk ukuran mobil yang selama ini dimiliki oleh Khairi, sementara Asha tubuhnya menegang. Siapakah ayah yang dimaksud oleh anak itu, rasanya tidak mungkin jika Aji datang menemuinya. Keluarganya atau diapa pun dari masa lalunya tidak ada yang tahu keberadaannya. Apakah mungkin aku putranya telah dibohongi oleh seseorang.
Ini salahnya juga karena tidak mengatakan yang sejujurnya, hingga sang putra terus saja berhayal memiliki seorang ayah. Mungkin sekarang lebih baik dia mengatakannya.
"Sayang, Mama ingin mengatakan yang sesungguhnya, kalau kamu sebenarnya ...."
"Aku tahu kok, Ma. Papa sudah ceritain semuanya, kalau Mama sedang marah sama papa, makanya Mama pergi dari rumah dan tinggal di sini bersama nenek," potong Khairi sebelum wanita itu melanjutkan kalimatnya.
Lagi-lagi Asha terkejut, dari mana sang putra mengetahui jika dirinya telah pergi di rumah dan memilih tinggal bersama dengan Bik Ika. Hingga suara salam dari seorang pria membuat wanita itu mendongakkan kepalanya. Detik itu juga Asha melebarkan matanya karena tahu siapa laki-laki yang ada di depan rumahnya kini. Waktu seolah berhenti berputar.
Aji, laki-laki yang selalu Asha sebut dalam setiap doanya, selalu hadir dalam mimpi dan lamunannya, kini ada di hadapannya. Dia tidak menyangka jika hari ini akan tiba juga, sungguh wanita itu belum siap untuk bertemu dengan laki-laki yang pernah mengisi hatinya atau lebih tepatnya selalu mengisi hatinya. Memang benar sampai detik ini Asha tidak pernah melupakan laki-laki itu, yang sudah mengucapkan kalimat perpisahan dengannya.
Mengingat hal itu membuat Asha berpikir pasti saat ini Aji sudah memiliki istri atau mungkin sudah memiliki anak, tapi bagaimana bisa pria itu ada di sini. Yang lebih membuatnya bingung, bagaimana Khairi tahu jika pria itu adalah papanya? Bukan, lebih tepatnya dari mana Aji tahu jika Khairi adalah anak yang dia lahirkan, yang tidak pernah diinginkan oleh keluarganya.
Bagaimana jika kedatangan Aji hanya untuk memisahkan mereka. Sungguh Asha tidak mau hal itu terjadi.
__ADS_1