Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
102. Hasil pemeriksaan


__ADS_3

Keesokan paginya Aji benar-benar pergi ke rumah sakit seorang diri. Dia ingin memeriksakan diri apakah dirinya subur atau tidak. Sejak tadi pria itu terlihat gelisah, duduk di depan ruangan dokter seorang diri tanpa ada yang menemani. Di sana memang ada beberapa pasien juga yang mengantre, tetapi Aji sama sekali tidak mengenal.


Hingga tibalah saat namanya dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan. Cukup lama pria itu melakukan pemeriksaan. Apa pun yang diminta oleh dokter segera dia lakukan. Meskipun ada perasaan tidak nyaman, entah itu karena gelisah mengenai hasil atau karena hal lainnya.


Saat hasil tesnya keluar, menunjukkan jika dirinya sehat dan tidak ada sesuatu yang akan menghambat dirinya untuk memiliki keturunan. Hal itu tentu saja membuat Aji begitu bahagia, hingga mengucapkan berkali-kali rasa syukurnya. Kebingungan yang sebelumnya dia rasakan kini lenyap sudah. Mungkin memang benar Tuhan belum mempercayakan adanya malaikat kecil lain di rumahnya.


Bukan karena dirinya tidak menyayangi Khairi dan menginginkan anak lain. Hanya saja dia takut jika akan menyakiti hati sang istri jika benar dirinya yang bermasalah. Sekarang hasil tesnya menunjukkan jika dirinya baik-baik saja dan itu membuatnya lega.


"Mas Aji, kenapa ada di sini?" tanya Asha yang membuat tubuh pria itu menegang. Kertas yang ada di tangannya pun segera dia sembunyikan di balik tubuh.


Aji memang tidak mengatakan apa pun pada keluarganya mengenai pemeriksaan yang akan dilakukannya, takut jika membuat semua orang khawatir. Sekarang kenapa tiba-tiba saja Asha berada di rumah sakit ini? Apa yang sedang dilakukan oleh wanita itu?


"Ak–aku ... kamu sendiri kenapa ada di sini? Apa kamu sakit?" tanya Aji yang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


Kertas hasil pemeriksaan tadi dia sembunyikan di balik tubuhnya. Aji berusaha untuk melipat dan segera memasukkannya ke dalam saku agar sang istri tidak mengetahuinya. Namun, Asha yang mengetahui gelagat aneh sang suami pun merasa curiga. Wanita itu juga melihat jika Aji telah memasukkan sesuatu ke dalam sakunya.


"Mas, tidak adakah yang kamu sembunyikan dariku? Kita sudah sepakat untuk saling terbuka satu sama lain. Apa kamu lupa dengan janji kita atau sengaja memang melupakannya?" tanya Asha dengan nada datar.


Aji tahu saat ini istrinya sedang marah, ingin sekali mengatakan mengenai apa yang dia lakukan, tetapi pasti nanti akan membuat Asha kecewa karena dirinya pergi tanpa memberitahukan apa pun pada wanita itu.


Melihat sang suami yang masih terdiam, Asha pun berkata, "Ya sudah kalau kamu tidak ingin mengatakan apa pun padaku. Aku permisi dulu."

__ADS_1


Asha melangkahkan kakinya meninggalkan sang suami. Namun, dengan segera Aji meraih tangan istrinya dan bertanya, "Kamu mau ke mana? Kenapa masuk ke dalam rumah sakit?"


"Mas tidak perlu tahu aku mau ke mana. Bukankah kamu sendiri juga tidak mau menjawab pertanyaanku?" tanya Asha dengan kesal sambil berusaha melepas cekalan sang suami.


"Maafkan aku. Baik aku akan cerita, tapi kamu jangan marah lagi. Ayo kita ke depan! Tidak enak bicara di sini."


Asha pun mengangguk dan mengikuti langkah sang suami menuju taman yang ada di rumah sakit itu. Keduanya duduk di sebuah kursi panjang sambil melihat beberapa orang yang sedang bersantai di sana.


"Maafkan aku, Sayang. Bukan maksudku untuk menutupinya dari kamu, aku hanya sedang tidak percaya diri pada diriku sendiri karena itu aku datang ke rumah sakit untuk memeriksakan diriku. Jujur saja sejak pembicaraan kita semalam aku jadi tidak tenang. Aku selalu memikirkan apakah diriku ini sehat atau sedang bermasalah dengan organ reproduksiku. Kenapa sampai detik ini kamu belum juga hamil jadi, aku tadi aku datang untuk memeriksakan diri dan menjalani beberapa pemeriksaan."


"Astaghfirullah! Maafkan aku jika kata-kataku kemarin telah menyinggungmu, Mas. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya mengeluhkan keadaan diriku, kenapa jadi kamu yang kepikiran dan memeriksakan diri sampai sejauh ini? Bahkan kamu tidak mengajakku untuk menemanimu," sahut Asha dengan perasaan bersalahnya.


"Tidak perlu. Aku tidak apa-apa dan kamu tahu hasilnya Aku sehat-sehat saja," ucap Aji sambil menunjukkan kertas hasil pemeriksaannya tadi. Pria itu tersenyum, menunjukkan pada istrinya jika dirinya tengah baik-baik saja.


"Aku senang karena masih ada harapan agar bisa membahagiakan kamu dan Khairi. Semoga saja Tuhan segera mengirim malaikat kecil diantara kita dan membuat keluarga kita semakin bahagia."


"Amin. Maafkan aku ya, Mas, jika aku sudah menyakiti hatimu dengan perkataanku kemarin."


"Kenapa harus minta maaf? Aku tidak mempermasalahkannya. Oh ya! Kamu sendiri ke sini ada apa? Apa kamu sakit?" tanya Aji yang tersadar dengan kedatangan sang istri ke sini. Apakah mungkin wanita itu tahu kedatangannya.


"Tidak, Mas. Aku datang ke sini karena ingin melihat kondisi Vania. Tadi Mama telepon katanya Vania mengalami kecelakaan jadinya aku datang ke sini."

__ADS_1


"Astaghfirullah! Kenapa tadi kamu tidak bilang padaku kalau sekarang Vania ada di sini? Sekarang keadaannya bagaimana?" tanya Aji yang terlihat khawatir. Kalau tahu jika sang adik ipar sedang dirawat tidak mungkin dirinya berlama-lama di sini.


"Aku juga kurang tahu, tapi kata Mama baik-baik saja hanya sedikit keserempet. Sebaiknya kita segera ke sana, pasti Mama Nisa sudah menunggu kita karena tadi aku sudah bilang kalau sedang dalam perjalanan."


Aji pun mengangguk dan menemani sang istri menuju ruangan di mana adik iparnya saat ini berada. Begitu sampai keduanya mengetuk pintu dan masuk bersama. Ternyata di sana bukan hanya ada Papa Harto dan Mama Nisa saja, tetapi juga seorang pria yang tidak Asha kenal.


"Bagaimana keadaan kamu, Dhek?" tanya Asha yang sudah berdiri di samping adiknya.


"Aku baik-baik saja, Kak. Sebentar lagi juga aku pulang. Aku tidak apa-apa, Papa dan Mama saja yang terlalu berlebihan sampai hubungi Kakak," jawab Vania.


"Kalau tidak apa-apa, itu kenapa kepala kamu diperban kayak gitu?"


"Ini cuma berdarah sedikit saja," sahut Vania sambil menyentuh perban yang ada di kepalanya. Memang sedikit nyeri, tetapi dia tidak ingin memperlihatkannya karena tidak mau keluarganya khawatir.


"Sedikit gimana! Sampai dijahit begitu dibilang sedikit," sahut Mama Nisa dengan kesal.


Wanita itu tadinya ingin putrinya dirawat saja, tetapi Vania malah ingin pulang karena merasa dirinya baik-baik saja. Mama Nisa pun tidak bisa memaksa karena dokter juga mengatakan jika keadaan Vania baik-baik saja.


"Kok bisa sampai dijahit segala padahal kamu cuma lecet-lecet sedikit begini."


"Itu karena tadi kepalanya nggak sengaja kebentur trotoar, makanya jadi kayak gini. Kakak jangan banyak tanya, malah buat kepalaku semakin pusing saja."

__ADS_1


Asha mencebikkan bibirnya, Vania memang selalu saja membuat dirinya kesal. Wanita itu pun beralih menata pria yang ada di samping sama papa. Baru kali ini dia melihatnya, entah siapa dia sebenarnya. Apakah mungkin kekasih Vania, tetapi bukankah kedua orang tuanya melarang berpacaran.


Rendra yang mengerti tatapan kakaknya Vania pun segera memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. "Perkenalkan, Kak. Saya Rendra, atasannya Vania. Saya tadi tidak sengaja lewat dan melihat Vania jatuh jadi, saya menolongnya."


__ADS_2