
Senyum terus terukir dari bibir Aji dan Asha. Keduanya saat ini sedang dalam perjalanan pulang. Tadi di rumah sakit mereka mendapatkan kabar bahagia. Asha dinyatakan positif hamil, tentu saja mereka sangat senang karena memang sudah sangat menantikannya, bahkan berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada dokter.
Rasa syukur juga tidak hentinya keduanya panjatkan atas apa yang sudah didapatkan. Aji berjanji akan menjaga sang istri dengan baik. Dia akan menebus semua kesalahannya di massa dulu. Saat Asha hamil pertama memang bersama dengan Aji. Namun, tidak pernah mendapatkan perhatian. Kali ini semuanya akan pria itu berikan.
Aji dan Asha pun menghubungi kedua orang tua mereka. Para orang tua begitu bahagia mendengar berita tersebut. Tentu saja keluarga sangat senang karena akhirnya yang ditunggu datang juga. Mama Nisa memberi wejangan pada putrinya agar menjaga kesehatan dirinya dan calon bayinya. Juga harus selalu memperhatikan pola makan yang sehat dan melarang makanan-makanan instan.
Asha mengiyakan ucapan sang mama dan akan selalu mengingatnya. Meskipun sedikit berat karena dia sangat menyukai makanan instan, tetapi demi calon buah hatinya, apa pun pasti akan wanita itu lakukan.
"Kita jemput Khairi di sekolahannya, ya, Sayang."
"Tapi masih satu jam lagi, Mas."
"Tidak apa-apa, kita bisa menunggunya di taman. Aku juga masih ingin menikmati kebahagiaan ini," ucap Aji sambil mengusap perut datar sang istri.
Asha pun mengiyakan saja, pulang ke rumah juga hanya santai saja. Hingga akhirnya keduanya sampai juga di sekolah Khairi. Mereka duduk di taman sekolah yang sudah sepi. Ada beberapa permainan yang biasanya digunakan anak-anak bermain. Aji mengajak sang istri duduk di bawah pohon.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah memberikan hadiah paling indah untukku," ucap Aji sekali lagi, padahal sedari tadi pria itu sudah mengucapkannya.
"Ini bukan hadiah dariku, Mas, tapi dari Tuhan. Dia memberi kepercayaan kepada kita untuk merawat seorang anak dan kita tidak boleh menyia-nyiakannya. Semoga kedepannya kita bisa mendidik dia dengan baik. Satu hal yang aku inginkan, aku harap kamu tidak akan pernah membedakan antara Khairi dan calon anak kita nanti."
"Sayang, aku sudah mengatakan berkali-kali bahwa Khairi juga putraku jadi, apa pun yang terjadi dia juga tetap akan menjadi putraku. Tidak peduli nantinya aku akan memiliki anak kandung dua, tiga, empat atau lima. Bagiku Khairi adalah tetap anak pertama rasa tersenyum dan mengganggu dia benar-benar khawatir mengenai hal tersebut takut jika anjing akan menyisihkan dan tidak menyayangi tapi saya yakin jika sang suami bukanlah orang seperti itu iya sayang aku pernah dengar dari cerita teman-teman kalau orang hamil biasanya suka ngidam apa kamu saat ini mungkin suatu aku pasti akan berusaha untuk menemuinya. Katakan saja apa yang kamu inginkan.
"Tidak ada, Mas. Aku tidak menginginkan apa pun."
__ADS_1
"Oh, iya! Tadi 'kan kamu pengen nasi goreng. Nanti setelah dari sekolah Khairi bagaimana kalau kita ke sana," ucap Aji dengan begitu antusias, tidak sabar ingin membelikan sesuatu untuk calon anaknya.
"Tidak usah, Mas. Kita ke sana juga percuma, pasti belum buka, warungnya 'kan buka sore."
"Biar nanti aku cari penjualnya, aku akan minta buatkan satu porsi untuk kamu, berapa pun akan aku bayar. Aku nggak mau nanti anakku ngeces gara-gara keinginannya tidak terpenuhi. Aku akan berusaha untuk memenuhinya, pokoknya nanti kita ke sana!" ucap Aji dengan begitu bersemangat.
"Tidak usah, Mas. Lagi pula sekarang juga aku udah nggak pengen lagi."
"Beneran? Terus kamu maunya apa biar aku belikan."
"Aku nggak pengen apa-apa, Mas. Aku juga lagi capek mau istirahat, itu saja tidak ada hal yang lainnya."
Aji tampak kecewa mendengar jawaban dari Asha padahal pria itu sangat ingin merasakan bagaimana rasanya menuruti istri yang lagi ngidam. Namun, dia tidak ingin menunjukkan kesedihannya di depan sang istri. Mudah-mudahan saja besok atau lusa ibu hamil itu menginginkan sesuatu dan dia akan pergi membelikannya.
"Mama sudah tidak sakit lagi?" tanya Khairi.
"Tidak, Sayang. Mama sudah sembuh, ini lihat Mama sudah sehat, kan? Memang Khairi mau apa?"
"Aku tidak mau apa-apa. Aku mau Mama sehat terus, jangan sakit-sakit lagi."
"Iya, Insya Allah. Doakan Mama selalu sehat agar bisa menemani Khairi terus."
"Amin, Khairi sekolahnya sudah selesai, kan? Ayo kita pulang!"
__ADS_1
"Sudah, Pa." Mereka pun segera pulang bersama.
Kabar kehamilan Asha membuat semua orang bahagia, apalagi Mama Tia yang sudah tidak sabar untuk melihatnya. Namun, dalam hati wanita itu sudah berjanji akan memperlakukan cucu kandungnya dan Khairi sama, tidak akan membedakan satu sama lain.
***
Hari ini Dita dan Hasbi akan kembali ke negara di mana mereka akan tinggal. Mama Tia merasa berat dengan kepergian putrinya. Namun, apa boleh buat, Dira juga harus bekerja, padahal suaminya orang kaya, pasti sangat bisa memberi nafkah, Dira saja yang tidak mau dan tetap ingin mengasah kemampuannya. Mama Tia dan Papa Harto merasa kesepian di rumah karena saat ini hanya tinggal berdua saja dengan para ART.
"Sekarang rumah kita sepi ya, Pa," ucap Mama Tia setelah kepergian putrinya.
"Iya, Ma, kalau tahu begini kita buat anak yang banyak saja biar ada yang nemenin jika yang lain tidak mau."
Mama Tia seketika melotot sambil memukul lengan sang suami. "Papa ini apa-apaan sih! Memang Mama ini kucing apa yang bisa buat anak banyak. Lagian anak kita itu bukan tidak mau, tapi mereka hanya menjalankan kewajiban dan tugas mereka. Bagaimana kalau kita minta Aji dan Asha saja untuk tinggal di rumah ini, biar rumah ini jadi ramai. Sebentar lagi juga ada bayinya, pasti tambah ramai."
"Jangan suka mengganggu ketenangan anak-anak, biarkan mereka hidup mandiri sendiri. Mama lihatkan di luar sana banyak rumah tangga anak yang tidak bertahan lama karena tinggal satu atap sama mertuanya. Apa Mama mau rumah tangga Aji seperti itu dan Aji kembali seperti dulu lagi saat kehilangan Asha? Sudah cukup mereka berpisah dulu, jangan lagi mengganggunya, Ma. Biarkan saja mereka hidup di rumahnya sendiri. Lagi pula Asha juga sering mengunjungi kita, kan? Dia tidak pernah melupakan kehadiran kita, itu sudah cukup bagi kita."
Mama Tia menunduk dengan menghembuskan napas kasar. Dia mengerti akan hal itu karena dirinya dulu juga tidak mau jika tinggal bersama dengan mertua. Sekarang dirinya tidak boleh memaksakan keinginannya pada sang menantu.
"Ya sudahlah. Bagaimana kalau kita saja yang datang ke sana. Mama kangen banget sama Khairi, kemarin waktu acara pernikahan Dira Mama hanya bisa menemani dia sebentar karena sibuk mengurusi ini dan itu."
"Boleh, ayo kita ke sana! Papa juga kangen sama Khairi."
Kedua orang itu pun segera bersiap untuk datang ke rumah sang putra. Sebenarnya Papa Harto juga menginginkan anak dan menantunya tinggal bersama dengan dirinya, hanya saja dia tidak ingin memaksa. Dulu Mama Tia juga menolak saat dirinya mengajak istrinya itu tinggal bersama dengan orang tuanya yang saat itu juga sendiri. Orang tuanya juga mengerti dan tidak memaksa karena itulah Papa Harto saat ini bersikap sama seperti orang tuanya dulu.
__ADS_1