Status Ayah Di Akta Anakku

Status Ayah Di Akta Anakku
104. Menuju Halal


__ADS_3

Hari yang dinantikan Dita dan Hasbi akhirnya datang juga. Hari ini akan dilangsungkan akad nikah di pagi hari, malamnya barulah pesta resepsi pernikahan. Keluarga Hasbi juga sudah datang sejak tiga hari yang lalu bersama dengan saudara dan kerabat. Satu hari sebelumnya Dita sudah pulang lebih dulu.


Saat ini di rumah terlihat begitu ramai dengan para tamu, dari mulai saudara, kerabat dan juga para tetangga. Semuanya menempati tempat yang sudah disediakan oleh keluarga, sementara anak-anak bermain di taman samping rumah yang luas. Khairi tampak begitu senang karena banyak saudara sepupu yang datang. Anak itu jadi memiliki banyak teman bermain, semuanya pun bersikap baik padanya.


"Anak Mama cantik sekali! Mama sampai pangling lihatnya," ucap Mama Tia saat mendatangi sang putri di kamarnya.


Dita sudah selesai di rias, dia pun tersenyum ke arah sang mama. Wanita itu senang karena akhirnya bisa sampai titik ini. Sayang sekali Devi tidak bisa datang karena sang suami sedang sakit. Temannya itu memang sudah menikah, hanya saja tidak mengadakan pesta karena keluarganya masih belum sepenuhnya merestui jadi, Devi hanya melakukan acara ijab kabul saja.


"Ma, aku takut sekali. Dari tadi aku tidak bisa tenang," ucap Dita sambil menggenggam kedua telapak tangan mamanya.


Mama Tia bisa merasakan dinginnya tangan Dita. Dia mengerti perasaan putrinya karena dirinya pun pernah berada di posisi tersebut. Meskipun dirinya berusaha menenangkan pun nanti saat waktunya tiba akan kembali tegang dan gelisah.


"Kamu tenang saja, setiap calon pengantin pasti merasakan hal itu juga. Justru itu akan menjadi sebuah kenangan untukmu. Suatu hari nanti saat kamu melihat sebuah acara pernikahan, kamu pasti akan selalu mengingat momen ini."


"Apa Mama dulu juga merasakan seperti yang aku rasakan saat ini?"


"Tentu saja. Mama bahkan tidak bisa tidur selama satu minggu sebelum pernikahan, selalu saja ada yang mengganggu pikiran Mama. Berbagai macam ketakutan juga Mama rasakan, takut jika acara tidak sesuai dengan rencana, takut jika pihak pengantin laki-laki kecewa dengan Mama dan banyak lagi."

__ADS_1


"Jadi Mama juga merasakan hal itu? Aku pikir aku sendiri yang merasa," ucap Dita dengan suara lirih.


"Jadi kamu juga tidak bisa tidur sebelumnya?"


"Iya, bahkan aku sering telat bangun gara-gara terlalu larut tidurnya. Sampai aku frustasi, mau minum obat tidur takutnya malah jadi nagih jadi, aku biarin aja sampai tidur sendiri."


Mama Tia terkekeh sambil mengusap sudut matanya yang entah kenapa tiba-tiba saja berair. Dia senang sekaligus sedih karena harus melepaskan sang putri yang akan menjadi seorang istri. Tanggung jawabnya kini sudah beralih kepada orang lain. Meskipun begitu entah kenapa dalam hati ada perasaan tidak rela karena selama ini anaknya jarang sekali bermanja-manja dengannya sejak lulus sekolah.


Dita adalah gadis yang kuat dan mandiri. Mungkin juga karena usianya sudah semakin bertambah dan membuat gadis itu merasa malu jika bermanja dengan mamanya.


"Kenapa Mama ngeliatin aku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Dita sambil menatap ke arah sama mama.


"Mama bisa saja."


Dita jadi terharu, dia memeluk sang mama dari samping dan menyandarkan kepalanya di pundak wanita yang sudah melahirkannya itu. Untung saja Dita tidak memakai riasan kepala yang terlalu berlebihan jadi, bisa bergerak dengan bebas.


"Sejujurnya aku juga merasa ada sesuatu yang aneh dalam diriku. Entahlah karena apa."

__ADS_1


"Itu karena nantinya statusmu akan berubah dari seorang gadis berubah menjadi seorang istri. Tanggung jawabmu juga akan bertambah, Mama yakin kalau kamu bisa menjadi istri yang hebat. Turuti kata-kata suamimu jika yang dikatakannya itu benar. Jangan ragu juga menegurnya jika dia melakukan sebuah kesalahan, setiap orang pasti pernah melakukannya. Sebagai pasangan suami istri kalian harus saling melengkapi satu sama lain, jangan pernah mau menang sendiri, harus ada keseimbangan di antara keduanya. Mama juga bukan istri yang sempurna, tetapi sebagai wanita tentu Mama berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk mendampingi papa. Mama juga berharap kamu demikian."


"Aku akan selalu mengingat nasehat mama. Terima kasih Mama juga sudah membesarkanku sampai seperti ini. Mama juga membimbingku hingga menjadi wanita yang sesungguhnya. Aku hanya meminta doa dari mama agar rumah tangga yang akan aku jalani nanti menjadi berkah dan menjadi ladang pahala bagiku dan suamiku."


"Tentu. Mama akan selalu mendoakan kebaikan untuk rumah tanggamu. Bukan hanya kamu, tapi juga kakakmu. Kalian berdua adalah anak-anak Mama, tidak mungkin Mama menginginkan kejelekan untuk kalian."


Pintu kamar Dita diketuk oleh seseorang, kemudian pintu terbuka dari luar. Tampak Asha berdiri di sana, dia tersenyum ke arah sang mertua dan adik iparnya. "Ma, Pak penghulu dan pengantin laki-laki sudah datang. Pengantin wanita diminta untuk turun."


Mama Tia menganggukkan kepala dan mengajak pengantin wanita untuk turun. Dita semakin merasa gelisah, tanpa sadar dia menggenggam telapak tangan sang mama dengan begitu erat.


Mama Tia yang mengerti pun membalas genggaman telapak tangan sang putri dan berkata, "Perbanyaklah istighfar, insya Allah sedikit membuat hatimu tenang. Meskipun tidak bisa menghilang sepenuhnya, setidaknya bisa meredakan."


Dita pun mengikuti saran dari sang mama, kemudian berjalan beriringan bersama dengan sang mama dan kakak iparnya. Ketiganya turun bersamaan. Semua orang yang sedang menunggu pun menoleh ke arah mereka. Ruang tamu disulap menjadi tempat yang akan dilaksanakannya ijab kabul dengan hiasan beberapa bunga mawar putih, bunga kesukaan Dita. Tentu saja semua atas usul dari Hasbi karena memang pria itu sendiri tidak memiliki keinginan mengenai rencana pernikahan. Semua di sesuaikan dengan keinginan calon istrinya.


Pengantin pria melihat ke arah datangnya calon istrinya. Dia begitu terpukau melihat kecantikan Dita yang sudah beberapa hari ini tidak bertemu. Kerinduan yang sudah dia pendam, kini bisa terobati hanya dengan melihatnya saja.


Dita menundukkan kepalanya tanpa berani menatap ke arah siapa pun yang ada di ruangan itu. Mama Tia dan Asha lah yang menunjukkan jalan agar calon pengantin wanita tidak salah jalan, apalagi sampai terjatuh. Dita pun duduk di samping Hasbi, berkali-kali dia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan perlahan, takut dan jika orang di sekitarnya tahu jika dirinya sedang gugup. Setiap apa pun yang dilakukan seolah semuanya serba salah.

__ADS_1


"Apa bisa dimulai?" tanya Pak penghulu pada kedua pengantin.


Hasbi dan Dita pun terlihat kompak menganggukkan kepala tanpa mengucapkan satu kata pun. Seorang ustaz pun mulai membacakan doa-doa agar acara perjalan dengan lancar.


__ADS_2