Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 10 Sana, Rion


__ADS_3

Rion menatap mata Neyza. Neyza yang nampak terkejut juga memandang mata Rion.


Neyza : "Mau ngapain, kamu?"


Rion diam saja. Ia memajukan badannya agar lebih dekat dengan Neyza. Neyza tak bergeming. Rion pasti hanya menggertaknya.


Neyza : "Gak lucu ya, Rion. Minggir, gak?"


Rion : "Gak. Biar lu tahu gue juga bisa seriusan dikit."


Neyza memalingkan pandangannya. Kini ia melihat langit-langut ruang tamu Rion dan seketika. Neyza menunjuk sesuatu dengan kode memanyunkan bibirnya.


Rion yang tak paham maksud Neyza bahkan dibuat salah paham.


Rion : "Lu minta dicium?"


Neyza yang memberikan kode lirikan mata nampaknya mencoba membuat Rion mengalihkan pandangannya ke arah yang ia maksud.


Neyza : "Kamu gak takut kecoak, kan?"


Rion : "Ngapain takut sama keco... Keco... Apa? Kecoak? Aaaaaa....", Rion seperti orang ketakutan yang memukul bajunya. Sambil berteriak, ia mencoba mencari keberadaan kecoak yang dimaksud Neyza. Neyza yang hanya mundur beberapa langkah nampak terkejut dengan reaksi Rion. "Cowok kok takut kecoak."


Hewan kecil berwarna coklat itu terbang ke ujung ruang tamu. Rion masih berdiri tanpa ada gerakan apapun. Kini ia hanya memperhatikan kecoak tadi. Neyza melihat ada bulir keringat di dahi Rion. Tak berselang lama. Kecoak tadi terbang melewati Rion.


"Aaaaaaa..... Pergi sana pergiii. Hiiii.", Rion ketakutan dan melompat dalam ruang tamu yang kecil itu. Neyza tertawa melihat tingkah Rion.


Akhirnya Neyza mengambil tisu yang ada di ruang tamu Rion dan mengambil kecoak tadi serta melemparnya.


Neyza : "Hahaha... Kamu takut kecoak? Ya, aku pikir laki kayak gimana."


Rion yang terduduk di lantai ruang tamu hanya bisa mengatur napasnya. Ia begitu kecapaian dengan hewan kecil tadi.


Rion : "Gue trauma, nek."


Neyza : "Sama kecoak kok trauma."


Rion : "Iya, dulu waktu masih kecil sepupu gue taruh kecoak di tas gue. Banyak banget. Gue jerit-jerit sampek kencing celana."


Neyza : "Banyak amat. Sebanyak apa dia dapat? Dari sampah?"


Rion : "Dua."


Neyza memukul dahinya. Jawaban yang nampak tak masuk akal sekarang keluar dari mulut Rion.


Neyza : "Kamu tuh jijik aja. Lagian kamu tuh lebih besar dari kecoak."


Rion : "Geli gue, nek. Geli."


Neyza : "Udah sana makan keburu dingin."


Rion : "Bentar... Atur... Napas... Dulu.", Ucapnya terbata.


Neyza berdiri dan berjalan ke arah dapur Rion dan mengambil piring serta sendok. Ia duduk dan membuka nasi goreng yang sudab ia beli tadi.


Neyza : "Nih, makan."


Rion mengambil makanan yang ditawarkan Neyza. Neyza melihat sekilas tangan Rion berkeringat.


Rion : "Lu perhatian juga ya, nek? Gue pikir galak."


Neyza : "Kalo gak kamu usil, aku jadi orang baik-baik dari dulu."

__ADS_1


Rion tersenyum kecut. Ia paham bahwa tetangga barunya ini memang jadi korban keusilannya karena kesan pertama yang tak mengenakkan.


"Ooo, jadi pacaran tho?", Suara terdengar dari depan pintu. Rion dan Neyza menengok ke arah pintu depan. Mereka mendapati Manji sedang mengomentari keberadaan mereka berdua.


Rion : "Dasar bocah."


Rion pura-pura mengambil sesuatu untuk dilemparkan ke arah Manji.


Neyza berdiri dari dan berjalan keluar.


Rion : "Kemana, nek? Makanku belum selesai."


Neyza : "Halah manja. Duduk di sini bisa-bisa jadi fitnah.", Sambil berlalu meninggalkan Rion yang tengah menghabiskan nasi gorengnya.


Neyza membuka pintu rumahnya.


"Mbak.", Neyza mencari suara yang sepertinya itu ditujukan untuknya.


Neyza : "Bu Rima."


Bu Rima : "Hehehe.. gak papa juga kok sama mas Rion. Ganteng sama cantik. Anaknya pasti kualitas kecap."


Neyza : "Ha? Kecap?"


Bu Rima : "Kecap kan selalu nomor satu, mbak."


Neyza : "Ooo... Hahaha... Saya gak suka sama Rion, Bu. Hahaha... Gak laki. Takut kecoak orangnya. Mana bisa jagain saya."


Bu Rima yang tertawa mendengar jawaban Neyza tiba-tiba diam. Neyza yang tahu Bu Rima berubah ekspresi tahu sepertinya ada seseorang yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Neyza menoleh. Ternyata Rion yang hanya memperlihatkan kedua matanya di dinding pembatas rumahnya dan Neyza.


Neyza : "Yuk Bu. Masuk rumah. Nonton Drakor. Ada film Zombie di kereta api lebih seram daripada kecoak.", Neyza cepat-cepat menutup pintu sedangkan Bu Rima berjalan ke arah yang lain.


Neyza duduk di tempat tidurnya. Ia merasa lelah hari ini. Ia ingin merencanakan kegiatan di kampus besok. Ia mengambil ponselnya. Tak berselang lama. Sebuah telepon di telepon genggamnya berbunyi.


Neyza : "Mama.", Gumamnya.


Mama : "Ney. Kamu dimana? Ayo pulang. Temanin mama. Hari ini ada tamu penting makan malam di rumah jam 8 nanti. Ayo cepat."


Neyza : "Yaaa, capek, ma."


Mama : "Pak Daniel sudah cerita semuanya. Kontrakanmu dan rumah kan gak begitu jauh. Mau dijemput Pak Sulaiman?"


Neyza : "Ah, gak ma. Aku naik ojek aja. Lebih cepet."


Mama : "Oke. Cepetan, ya. Don't be late."


Neyza : "Iya, ma." Neyza yang agak malas-malasan berdiri dan bersiap untuk pergi. Setelah memesan ojek online, ia berjalan untuk menunggu di luar kawasan kontrakan.


Tak lama setelah itu, ia sudah berada di rumah. Ruang tamu yang didekor cantik dengan bunga dan makanan kecil nampaknya menjadi tanda akan ada tamu istimewa.


Neyza menuju ruang makan. Deretan makanan yang sepertinya dari katering langganan telah siap dan masih hangat.


Neyza : "Tamu siapa, ma?"


Mama : "Hmm... Mandi dulu sana. 30 menit lagi tamunya datang."


Neyza menuju ke kamarnya dan segera merapikan diri. Tak seperti biasanya ia diajak makan malam dengan kolega mamanya.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu kamar Neyza terdengar. Seorang asisten rumah tangga ternyata sedang memberitahukan bahwa tamu sang mama telah datang. Neyza yang berpakaian berwarna coklat muda nampak anggun dan menawan.

__ADS_1


Neyza turun menuju ruang tengah. Biasanya ia menunggu sampai sang mama memanggilnya ke ruang tamu untuk diperkenalkan.


"Neyza... Ney. Sini, nak."


Alarm mama nampaknya menuntunnya ke ruang tamu. Empat orang yang duduk berumuran sama seperti mama.


Mama : "Kenalin anak saya Neyza. Semester akhir. Ney, ini Tante Tari, Tante Rumi, Tante Dena sama Tante Pupus.", Sambil menunjuk satu-satu temannya.


Neyza menyalami semua tamu mamanya. Ia kini tengah duduk dengan mama dan teman-teman sang mama.


Tante Rumi : "Cantik banget kamu, Neyza. Udah punya pacar?"


Neyza menggeleng dan tersenyum.


Tante Tari : "Tapi pasti ada yang deketin, ya?"


Tante Pupus : "Pastinya banyak. Orang cantik gini."


Mama : "Anak muda emang gitu, ya? Pasti ada yang suka sama gak suka."


Tante Tari : "Sekalipun ada yang gak suka sama kamu, Neyza. Pasti dia iri aja lihat apa yang kamu punya."


Neyza hanya tersenyum tanpa membalas satu kata pun.


"Garing", pikirnya.


Mama mengajak semua tamu untuk makan malam. Tak terkecuali Neyza. Ia juga makan bersama para tamu. Setelah memakan makanan penutup ia kembali ke ruang tamu. Para tamu dan mama sedang asyik mengobrol di ruang makan.


Hujan rintik-rintik. Ia pun ingin melihat hujan dari teras rumah. Sudah lama ia tidak pulang. Rumah kontrakan sudah menjadi rumah keduanya. Kini ia sedang ingin menikmati rumahnya.


Ia melangkah ke luar rumah. Membuka pintu keluar rumah dan tiba-tiba...


Bruuug.


Neyza jatuh, seseorang sepertinya berlari menghindari gerimis namun karena licin ia terpeleset dan menimpa kaki Neyza sehingga Neyza pun ikut terjatuh.


"Aduh...", Neyza meringis kesakitan memegang pergelangan kakinya.


"Maaf, ya. Gak sengaja. Licin.", Suara berat seorang laki-laki mencoba untuk menjelaskan.


"Kamu gak papa?", Pria itu mengulurkan tangannya untuk menolong Neyza berdiri. Pria itu tinggi dan tampan, kulitnya kecoklatan, tatapan matanya tajam dan menghangatkan, begitu sekilas yang dirasakan Neyza.


"Aku gak papa. Makasih.", Neyza berdiri dengan bantuan laki-laki tadi.


"Cari siapa?", Tanya Neyza.


"Bu Dena. Tadi wa nya alamatnya disini. Mau antar bingkisan yang ketinggalan."


"Kamu ojol?", Neyza penasaran.


Pria itu tertawa. "Hahahaha, namaku Ogi. Bu Dena itu mamaku. Ya bisa juga kira-kira ojol keluarga. Sering anter barang yang ketinggalan."


Ogi menatap Neyza.


"Mbaknya, tamu? Tuan rumah? Apa asisten rumah tangga sini?", Tanyanya bercanda.


Neyza kesal dengan pertanyaan Ogi. "Baju sebagus ini emang gak keliatan ya?"


Ogi tersenyum. Menggeleng. "Siapa?"


"Satpam sini." Ogi dan Neyza tertawa bersama. Tak biasanya Neyza cepat akrab dengan orang asing. Apa mungkin Neyza terkesima dengan ketampanan Ogi?

__ADS_1


__ADS_2