
Barang-barang yang ia jatuhkan segera disimpannya kembali. "Han, sudah dicek undangan kamu berapa orang?" Mama Hani tiba-tiba mengagetkan Hani. Lekas-lekas ia memasukkan semua barang tadi ke dalam tas nya. "Udah, Ma," jawab Hani.
Hani mengambil catatannya dan memberikan kepada Mama. Hani menghabiskan minuman yang ada di atas meja. Ia yakin Mama hanya ingin mengecek keperluan undangan. Mama membawa catatan itu dan pergi meninggalkan Hani. Setelah sebuah telepon yang ia jawab, ia lalu beranjak ke kamarnya.
"Sayang, kamu uda di rumah? Pernikahannga kenapa gak cepat-cepat dimajukan? Aku agak takut," ungkapnya. "Tenang aja. Kan kita nanti sama-sama. Gak usah takut, ya?" Hani hanya tersenyum. Ia lalu menutup teleponnya.
[Tiga bulan kemudian]
Rumah Hani diwarnai hiasan dekorasi yang sangat indah dan megah. Berwarna putih dengan bunga cantik yang dikirim langsung dari luar negeri. Hani terlihat cantik dengan balutan gaun putih yang memanjang. Sedangkan Rion nampak tampan dengan jas putih dan dasi yang menawan. Keduanya nampak sangat bahagia menyambut pernikahan mereka. Di tempat yang terpisah, Rion dan Hani saling menggabari bahwa mereka sangat gugup. Pernikahan pertama yang tak disangka-sangka ini merupakan pernikahan termewah. Bagaimana tidak? Kedua keluarga ini adalah salah satu orang teratas yang bergelimang harta. Rion menggenggam tangannya. Keringat di tangannya mulai terasa. Bili menepuk punggungnya. Ia tersenyum. Berusaha menghibur temannya yang sedang berada dalam perasaan yang tak karuan.
[Bali]
Neyza membuka harinya dengan berolahraga. Setelah yoga ia rampungkan dari jam 5 pagi tadi. Ia menikmati sarapan pagi yang sangat lezat buatan Bi Ratih. Ia pun tak lupa mengajak para asisten rumah tangganya untuk makan bersama di meja ruang makan keluarga.
Neyza sudah banyak berubah. Ia lebih banyak lupa tentang masalah yang ada di Jakarta. Tidak masalah Papanya, tidak pula Rion. Ia juga tahu dari Weni bahwa Rion akan menikah hari ini. Undangan untuk Neyza yang diberikan Bili kepada Weni tidak pernah sampai ke tangan Neyza. Weni hanya mengatakan sekali saat Neyza akan pergi ke Bali tiga bulan lalu. Namun ia tak mengingatkan lagi bila hari ini adalah pernikahan Rion. Biarlah. Hidup akan terus berjalan. Rion dengan takdir yang membawanya. Begitu pun Neyza.
Setelah menjadi suami istri, Rion dan Hani menggelar resepsi pernikahan yang megah di sebuah gedung. Tamu yang banyak juga turut datang untuk mendoakan mereka. Hani dan rion menjadi Raja dan Ratu dalam sehari ini. Wajah mereka sangat senang. Ucapan selamat datang dari ponsel keduanya. Termasuk Weni yang juga mengatasnamakan nama Neyza. Weni pun tak datang dengan alasan menghormati Neyza. Rion dan Bili tak tahu bagaimana perasaan Neyza terhadap Rion. Namun Weni tahu persis. Neyza memang patah hati karena Rion.
Malam itu, resepsi telah selesai dihelat. Rion dan Hani pulang ke rumah Rion. Mobil mewah itu dibawa oleh Rion. Setelah memarkir mobilnya, ia membuka pintu mobil tempat Hani, istrinya duduk. Ia menggendong pengantin yang ia nikahi pagi ini. Rion membuka pintu rumahnya.
Hani: "Lho, sayang. Kok gak ada yang bukain pintu?"
Rion: "Di rumah ini sedang tidak ada orang kecuali kita berdua. Hanya petugas keamanan di luar. Kenapa?"
__ADS_1
Hani: "Ha? Cuma kita berdua aja?"
Rion: "Iya. Biar gak ada yang ganggu," Rion terkekeh.
Hani: "Ih, kamu nih."
Rion: "Kita ke kamar, ya?" kode Rion sambil menggendong Hani menaiki tangga ke lantai dua.
Keduanya tengah membersihkan diri. Hani telah memakai piyama dan duduk di atas ranjang kamar pengantin yang besar. Rion telah selesai mandi dan hendak menyusul Hani. "Hani," ucapnya. Hani menoleh dan tersenyum. "Hmm, maaf ya, sayang. Aku lagi datang bulan," Hani mengecup kening Rion. Rion memeluk istrinya itu. "Gpp. Yang penting malam-malam selanjutnya kamu tetap ada di sini," Hani memberikan secangkir cokelat hangat kepada Rion.
Hani: "Kamu pasti capek."
Rion mengangguk. Hani membentangkan kaki Rion. Memijat kakinya. Rion menikmati minuman hangat buatan istrinya itu.
Rion: "Aku bersyukur kamu jadi istriku."
Rion: "Udah pijitnya. Sini gantian kamu yang aku pijitin."
Hani: "Ah, gak gak. Aku geli. Lagian gak biasa dipijit. Pinginnya tidur. Tidur yuk."
Rion mengangguk dan berbaring di sebelah Hani. Tangannya memeluk istrinya dengan erat. Tanda bahwa ia tidak ingin lepas dari Hani. Tidak saat ini atau selamanya.
Rion lalu tertidur pulas dengan Hani.
__ADS_1
Pagi itu, wangi lavender tercium wangi di kamar pengantin. Rion terbangun. Ia melihat wakernya yang sudah menunjukkan pukul 9. Ia lalu tersadar bahwa ia kemarin sudah menikah. Tangannya meraba sisi sebelahnya.
Rion: "Hani?"
Ia menoleh ke tempat Hani tidur. Tidak ada Hani di sisinya. Oh, Mungkin ia sedang mandi atau menyiapkan sarapan di bawah. Rion lalu memutuskan untuk mandi dan segera turun ke bawah. Tak ada aktivitas di ruang makan. Ia pun pergi ke taman belakang dan kolam renang. Nampak tenang. Hatinya mulai bertanya-tanya. Dimanakah Hani? Ia sedikit ebrlari ke ruang perpustakaannya. Hani juga tak nampak. Bahkan bekasnya juga tak ada. Ia melewati ruang kerja sang Papa. Ruangan itu terbuka. Ia masuk dan mendapati ruangan itu berantakan. Ia melihat ruangan itu kini seperti diacak-acak oleh seseorang. Ia lalu berlari untuk memanggil penjaga rumahnya. Sampai di depan pintu ruang tamu, ia melihat robekan piyama Hani yang semalam ia pakai. Juga beberapa tetes darah.
Jantung Rion berdegup kencang.
Kemanakah Hani? Ia lalu menemui penjaga rumah. Tak ada tamu atau kejadian yang mengkhawatirkan tadi malam. Ia lalu melihat rekaman CCTV yang ada. Bercak darah tadi. Tak ada pergerakan apapun. Rion hampir terbawa emosi. Ia ingin berteriak dan menangis. Ia lalu menelepon pengacaranya agar segera mencari Hani. Rion lalu menghubungi orang tua Hani dan mereka sangat terkejut dengan hilangnya Hani.
Rion duduk di ruang tamu. Ia bingung dengan hari ini. Baru saja tadi malam sebuah kebahagiaan jelas-jelas di depan mata. Namun kali ini, Hani bahkan tak ada di sampingnya. Kemana istrinya? Siapa yang mencurinya?
Bili yang segera mendapat kabar dari Rion mendatangi rumah Rion dan mendapati sahabatnya itu dalam keadaan kebingungan.
Bili: "Lu ada musuh gak sih?"
Rion: "Gak ada. Lu tahu sendiri gue gak pingin ada musuh."
Bili: "Iya juga. Gue gak yakin tapi apa mungkin... ah gak jadi."
Rion: "Maksud lu Hani yang jadi dalang semua ini? Gue bisa baca aura lu. Gak mungkin banget.".
Bili: "Walau kemungkinan cuma 0,01% itu tetap dianggap mungkin, kan?"
__ADS_1
Rion diam. Hatinya menolak. Tidak. Hani diculik.
Sial.