Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 26 Kamu dimana?


__ADS_3

Dua hari lalu, Keluarga Rion menemui Keluarga Hani untuk membicarakan pernikahan Rion dan Hani. Keputusan mereka sudah bulat untuk melaksanakan pernikahan 3 bulan ke depan. Saat ini Rion dan Hani sedang mempersiapkan segala hal.


Beberapa hari sebelumnya, Rion juga mulai menyelesaikan tugas akhir kuliahnya untuk meraih gelar sarjana. Ia dibantu Bili untuk beberapa bahan yang masih kan kumpulkan sampai sekarang.


Rion: "Bre, lu masih marah sama gue?" melihat Bili yang sedang mengetik di laptop Rion.


Bili: "Ha? marah? sama lu? rugi gue."


Rion: "Gue serius, nih."


Bili: "Gue juga serius. Gue gak marah. Kalo kemarin-kemarin gue sebel. Sekarang gak. Asal lu bahagia. Gue gak. Eh, maksud gue, gue bahagia juga. Hahaha.."


Rion: "Syukur deh gue juga seneng dengernya. Makasih banget lu udah bantu gue sampai sejauh ini. Bantu apapun."


Bili: "Alah gombal gambil. Eh, bre. Lu udah gak balik lagi ke kontrakan?"


Rion: "Gak sempat gue, bre. Ngurusin skripsi sama nikahan cuma tinggal dua bulan lagi."


Kring kring.


Rion mengangkat ponselnya. Ia terdiam lama. Bili melihatnya. Rion menutup teleponnya.


Bili: "Kenapa, bre?"


Rion: "Tim pengacara telpon. Dia bilang penyelidikan kasus Papa Neyza. Sekarang malah sepertinya ada yang berusaha jatuhin usaha Papanya dengan bikin pailit salah satu anak cabangnya."


Bili: "Caranya?"


Rion: "Mau jual aset-aset mereka. Beli saham mereka. Ah panjang pokoknya."

__ADS_1


Bili: "Widih. Gue penasaran sapa sih musuh mereka? Pingin gue masakin jengkol pedes."


Rion: "Mereka masih cari juga sih siapa musuhnya itu. Tim pengacara Papa Neyza juga bukan orang sembarangan."


Bili: "Kasihan, gue. Kalo ada apa-apa gue mau nolong dia."


Rion: "Lu jangan lupain gue, bre. Gue ada juga buat dia."


Bili: "Pokoknya bini lu nanti juga gak keberatan aja."


Rion: "Hani cewek baik. Dia pasti gak keberatan gue punya teman siapa aja," Rion berjalan ke luar kamar meninggalkan Bili yang sedang serius menghadap laptop.


Bili mengangguk. Ia melanjutkan lagi tugasnya.


Kriiing.


"Astaga, jantung gue mau copot," ucap Bili terkejut mendengar nada dering ponselnya. Ia mengangkat teleponnya.


Bili: "Bre. Neyza," napas Bili naik turun. Ia membungkukkan badannya karena kelelahan mencari Rion.


Rion: "Kenapa si nenek?"


Bili: "Neyza... Ney.. za.. dibawa kabur sama orang."


Rion: "Ha?" Rion berdiri, melempar bukunya. "Lu tahu dari mana?" tanya Rion terkejut. "Weni baru dan telepon. Mereka lagi pergi ke Panti Jompo di daerah utara. Pulang dari situ mereka mau masuk mobil, tiba-tiba ada mobil van hadang mobil dia. Dua laki-laki turun paksa Neyza untuk bawa dia di mobil itu. Buruan."


Rion berlari mendahului Bili menuju garasi rumahnya. Sebuah sepeda sport terparkir di sana. Rion menaiki sepeda itu dan melemparkan sebuah helm ke arah Bili. Mereka berdua menaiki sepeda motor itu. "Gue sepertinya tahu di daerah utara ada satu Panti. Dekat pantai. Kita ke sana."


Melewati kemacetan kota, sepeda motornya berhasil menembus padatnya situasi jalan raya. 18 menit kemudian mereka sampai di Panti. Weni sedang duduk menangis. "Weni. Neyza gimana?"

__ADS_1


Weni: "Mereka pergi ke situ." Weni melanjutkan tangisannya.


Rion membuka ponselnya. Ia berharap Neyza membawa ponselnya.


Rion: "Guys. Gue buka pesan Neyza dan dia aktiv-in lokasi dia buat gue. Enak kilo dari sini. Gue ke sana. Bili, lu temani Weni. Telepon Polisi. Lu nyalain aplikasi lacak buat lacak GPS di motor gue


Kayak biasanya. Gue duluan. Do'ain gue sama Nehza."


Rion tak menunggu jawaban Weni dan Bili. Ia memacu sepeda motornya untuk segera mendekati arah tujuan Neyza. Empat menit berlalu. Arah lokasi ponsel Neyza semakin dekat. Hutan Mangrove yang besar sedang berada di depannya. "Di sini rupanya," batinnya. Ia melihat jejak mobil dengan ban yang besar masuk ke sebuah jalan. Nampaknya meraka masuk melewati ini. Berjalan pelan melewati jalan yang dilalui mobil tersebut. Rion mematikan mesin motornya. Ia menuntuk motornya ke sebuah semak-semak dan menutupi motornya dengan beberapa ranting panjang. Sebuah gedung dan mobil van memang terlihat jelas. Ia sengaja berputar melewati pinggir semak-semak agar tidak terlihat. Ia melihat ponselnya. Posisi Neyza juga semakin dekat.


Ia memasang mode hening di ponselnya. Ia mengamati ada empat orang yang berada di gedung itu. Laki-laki yang tidak begitu besar. Tapi di mana Neyza? Ia melihat sekeliling. Rion mendekati gedung tersebut. Nampak sebuah lubang kecil. Ia dekatkan matanya. Ia melihat seorang perempuan sedang duduk dengan tangan terikat. Seorang laki-laki tengah mengambil gambarnya. "Cantik. Sayang gak boleh diapa-apain," ujar seorang laki-laki. "Kata bos, dia di sini 2 hari. Nanti kita tinggalin. Biar dia lari sendiri atau ada yang nolong dia," jawab seorang lagi. Neyza sepertinya tidak sadarkan diri. Kenapa ia tidak mencoba melawan? Ia bisa membela diri dengan keahliannya. Rion sedikit penasaran dengan siapa dalang di balik semua ini.


Dua orang tersebut keluar untuk menemui kedua yang berada di luar. Sebuah jendela kecil. Nampaknya bisa menjadi jalan untuk masuk ke dalam. Rion mencoba masuk pelan-pelan hingga tak ada suara. Rion kini sudah masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan yang sangat penuh dengan kardus besar. Rion berjalan menuju ke arah Neyza. Ia memegang Pipi Neyza. Sambil menutup mulutnya. Neyza perlahan membuka matanya dan terkejut. Ia hampir meronta dan berteriak. Nasib baik Rion mencoba menenangkannya. Neyza sadar bahwa Rion ada di depannya.


Rion memberikan sinyal bahwa ia harus diam agar Rion membuka tali yang mengikatnya. Tali itu terlepas dari tangan Neyza. Ia spontan memeluk Rion. Rion membalas pelukannya. Kini mereka berdua membuat sebuah rencana.


Rion membisikinya agar ia berpura-pura masih tidak sadarkan diri. Rion akan bersembunyi di belakang pintu. Bila ada dua orang yang datang, Rion akan menutup pintu dan menyerang kedua orang itu bersama Neyza. Neyza mengangguk. Suara obrolan datang untuk kembali masuk ke ruangan itu. Rion mengambil posisi di belakang pintu dan Neyza kembali ke posisinya semula agar ia seperti tidak sadarkan diri.


Betul dugaan Rion. Dua orang yang tadi berada di ruangan ini kembali masuk. Kini mereka benar-benar sudah berada di dalam ruangan. Rion mencoba menutup pintu pelan-pelan. Neyza sedikit membuka matanya untuk mengetahui kondisi yang ada. Ketika pintu ditutup. Rion menyerang salah seorang pria yang ada di dekatnya.


Neyza bangkit dan segera melayangkan sebuah pukulan kepada seorang lagi. Tak butuh berada lama karena keduanya tak punya persiapan. Kedua laki-laki tersebut tumbang dalam sekejap.


Neyza memastikan keduanya benar-benar tak sadarkan diri.


Rion lalu mengajak Neyza untuk segera keluar ruangan. Melewati sebuah ruangan lagi, mereka mendengar dua orang sedang bercakap-cakap. Dua lelaki yang agak besar yang ia lihat tadi. Neyza mengkode Rion dengan menyerang bagian leher. Rion memegang sebuah balok kayu yang tadi ia ambil di dalam ruangan tempat Neyza disekap.


Rion melemparkan sebuah batu ke arah mobil. Seseorang di antara mereka nampaknya mendengar dan pergi untuk melihat apa yang terjadi. Ia lalu memutar ke sisi gedung yang lain. Seorang lagi sedang menunggu. Tak lama Rion menyerang seseorang yang menunggu. Neyza mengikuti orang yang lain. Ketika seseorang tadi hendak kembali ke temannya. Neyza mengagetkannya dengan sebuah tendangan yang memdarat di leher pria tersebut. Pria tersebut terjatuh. Lalu bangkit lagi walau dengan keadaan yang sakit. Ia melayangkan pukulan ke arah Neyza namun, Neyza berhasil menghindar. Tangannya dengan cepat memegang sebuah tiang dan kembali melancarkan sebuah tendangan lagi. Laki-laki tersebut menghindar dan berusaha untuk menjatuhkan Neyza.


Bruk.

__ADS_1


Neyza terjatuh.


__ADS_2