Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 57 Jangan Ganggu Anakku!


__ADS_3

Pagi itu Neyza memandikan Lalita. Rion telah pergi ke kantor terlebih dahulu.


Neyza: "Ta, habis ini Mama ajak Lalita pergi ke taman kota sebentar, ya? Habis itu Ta sama Mbak-mbak di rumah. Mama mau kerja sebentar. Pulang kerja kita main lagi." Lalita tersenyum melihat Neyza yang berbicara padanya. Setelah memberikannya susu sembari Neyza juga sarapan. Mereka berdua pergi dengan diantar oleh supirnya ke sebuah taman kota.



Pagi itu nampak sedikit mendung. Dengan membawa kereta bayi, Neyza membawa Lalita berkeliling taman. Membuat waktu berdua sebelum Neyza kembali bekerja setelah cuti dari acara menikah. Lalita nampak menikmati keadaan taman. Taman nampak sepi karena hanya beberapa orang dan anak kecil. Neyza mencari sebuah tempat duduk untuk bisa menggendong Lalita. "Ta, tamannya cantik, ya?" Lalita masih mencerna tempat itu. "Ada rumput, bunga. Pohon. Eh, itu ada kupu-kupu, Ta. Yuk, lihat kesana," Neyza meenggendong Lalita untuk mendekat pada bunga-bunga yang tengah mekar.


Seorang laki-laki tengah mengamati Neyza dan Lalita. Memperhatikan sejak Neyza berada di taman itu. Diam-diam ia semakin dekat dengan Neyza. Tengah asyik bermain dengan Lalita tidak membuat Neyza lengah akan sebuah kondisi bahaya. Dengan menggendong Lalita, badannya sepertinya memang terbiasa sigap dengan segala kondisi. Laki-laki itu mendekat dan ingin mengambil Lalita. Dengan cepat tangan Neyza meraih kerah baju laki-laki itu. "Siapa anda?" dengan suara berat Neyza menatap tajam pada laki-laki itu. "Laki-laki itu diam tanpa menjawab Neyza. "Anak Hani ini. Aku yakin." Neyza tak melepas tangannya. Tangannya menggendong erat Lalita. "Mau apa anda? Pergi atau hal yang tidak diinginkan terjadi." Pria itu sedikit tersenyum. Meledek Neyza yang hanya seorang perempuan. Tangannya ingin menepis tangan Neyza yang masih mencengkram bajunya. Mata Neyza tajam. Ia tak ingin melepas laki-laki ini. Supir Neyza yang tiba-tiba datang karena melihat majikannya sedang dalam masalah dengan cepat menggendong Lalita dan membawanya ke dalam mobil. Laki-laki itu menepis tangan Neyza untuk kedua kalinya dan akhirnya ia terlepas. Ia segera berlari untuk mengejar Lalita. Entah hasrat apa yang ia ingin lampiaskan pada Lalita. Tapi alarm bahaya sudah ditebak Neyza. Dengan keahlian bela diri yang sudah ia punya, ia pun mengejar laki-laki itu dengan sekuat tenaga. Sebuah tempat duduk taman nampaknya menjadi pijakan untuk melayangkan tendangannya. Tak butuh lama, ia sedikit mengejar dan berada di depan laki-laki paruh baya itu, menginjakkan kakinya dengan kuat dan kaki satunya seketika mendarat tepat di badan laki-laki itu.


Bruuk.


Pria terjatuh dengan sangat keras. Kesakitan dengan tendangan Neyza. Ia urung bangun karena merasa dadanya panas. Neyza mengeluarkan ponselnya. Ia mengambil foto laki-laki yang sedang kesakitan itu. "Aaaa, apa yang...aaaa" ia bertanya dengan menahan rasa sakit. "Mudah buat saya memasukkan anda ke penjara karena serangan kepada anak saya. Anda pergi atau saya yang antar anda ke kantor polisi?" Laki-laki itu nampaknya ingin menjawab, "Saya pergi," Neyza berdiri dan hendak pergi. "Saya tidak tahu anda siapa. Namun sepertinya anda ancaman buat anak saya. Kalo saya lihat anda lagi, saya pastikan anda masuk rumah sakit dan rumah tahanan," Neyza mengancam. Ia lalu pergi meninggalkan pria itu. "Aku... Pasti datang," janjinya.


Neyza urung pergi ke kantor. Ia alihkan pekerjaannya di rumah sambil menemani Lalita. Ia lalu mengirim sebuah pesan kepada Rion. Sebuah foto laki-laki tadi dan cerita pagi ini.


*Rion: "Kamu kenal?"


Neyza: "Gak. Tapi aku bikin dia gak berkutik. Dia sempat sebut nama Hani waktu lihat Lalita. Dan aku merasa gak enak hati waktu dia curi start lari untuk kejar Lalita. Untung waktu itu ada pak Supir, Dan aku berhasil nahan dia*."


*Rion: "Kamu gak lapor polisi atau petugas keamanan di taman?"


Neyza: "Aku gak kepikiran. Yang ada dalam pikiranku itu dia gak boleh dekat-dekat Lalita."


Rion: "Aku pulang lebih awal buat jagain Lalita, Untuk sementara Lalita gak usah keluar dulu."

__ADS_1


Neyza: "Oke*."


Pesan tadi berakhir. Neyza melihat Lalita yang tertidur pulas. "Ta, ada apa lagi ini?" Neyza menyandarkan lengannya di box tidur Lalita.


Siang ini Rion pulang setelah jam istirahat. Rion segera menuju ke kamar untuk melihat Lalita dan Neyza.


Rion: "Kamu gak apa-apa?"


Neyza menggelengkan kepalanya. Kedatangan Rion membuat dia menjadi lebih tenang. "Apa kita perlu lapor polisi?" tanya Rion. "Gak usah," jawan Neyza singkat. "Aku yakin dia ada hubungannya dengan Hani," Neyza berasumsi. Rion menggendong Lalita yang bermain dengan mainannya. "Ta, Papa pulang, lho. Gak kangen?" tanya Rion. "Gak, Pa. Aku alergi sama Papa," Neyza sengaja membuat suara aneh seakan-akan Lalita berbicara padanya. Rion sadar itu adalah Neyza. "Ta, habis ini main sama mbak di bawah, ya. Papa sama Mama mau rencanain adek buat Lalita," Rion membalas. Secepat kilat Neyza lari keluar kamar.


Rion menuju meja makan untuk makan siang bersama Neyza. Lalita bersama seorang asisten rumah tangga berada di kamar bermain. Neyza memakan makanannya. Rion baru akan mulai melahap makan siangnya. "Ney, malam ini ada acara?" Neyza melihat Rion. "Gak ada."


Rion: "Temenin aku bentar."


Neyza: "Kemana?"


Neyza: "Berdua?"


Rion: "Ya."


Neyza: "Ninggalin Lalita? No. Aku gak mau."


Rion: "Padahal Lalita itu bukan anak kandung. Sayang banget."


Neyza: "Rion. Kan kota udah sepakat Lalita gak boleh ditinggal sendiri. Kamu gimana, sih?"

__ADS_1


Rion: "Dengerin dulu. Kita dinnernya di rumah."


Neyza: "Kita emang makan bareng kan kalo di rumah. Kamu gimana, sih? Kok gak jelas gini."


Rion: "Udah pokoknya nanti temenin."


Neyza: "Iya iya."


Tangisan Lalita di kamar bermain membuat Neyza cepat menghabiskan makan siangnya dan pergi menuju kamar bermain Lalita.


Sementara Rion melihat ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Waktu malam telah datang. Neyza tengah menidurkan Lalita setelah ia bermain. Neyza hendak turun ke meja makan. Tidak ada makanan yang dihidangkan. "Apa gak ada yang masak?" Ia ke dapur ke tempat meja makan para asisten rumah tangga. "Mbak, gak masak?" tanyanya. "Tadi disuruh Mas Rion gak masak, Mbak." Neyza teringat sebuah janji menemani Rion makan malam. Neyza berjalan cepat ke meja makan. Sunyi. "Dia ngajak makan malam di mana, sih?" Neyza menuju ruang tamu. Tak ada orang.


Ruang tengah.


Ruang kerja.


Perpustakaan.


"Rion kemana, sih?"


Hanya ada satu tempat yang belum ia lihat.


Taman belakang.

__ADS_1


Neyza berjalan menuju taman belakang rumahnya. Rion tengah duduk menunggunya.



__ADS_2