Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 72 Ta, jangan tinggalin Mama.


__ADS_3

"Rioooon! ", panggil Neyza dengan terburu-buru. " Ada apa, Ney? Kok gitu?" Rion yang baru pulang dari kantor segera mendengarkan perkataan Neyza. "Tarik napas. Keluarin. Narik napas lagi. Keluarin lagi," Neyza mengatur napas mengikuti instruksi Rion. "Eh, aku gak lagi lahiran, ya."


Neyza menceritakan pesan Heri yang mendadak menjadi beban baru untuknya. Rion menanggapinya dengan senyuman. Ia paham kekhawatiran Neyza beralasan. Neyza tak ingin lepas dari Lalita begitu cepat. Ia masih ingin melihat Lalita tumbuh dengan adiknya, Rui. Apa yang salah dengan instingnya sebagai seorang Ibu?


"Ney," Rion menatap mata istrinya itu dengan penuh kehangatan. "Kamu bisa menolak kalo Heri mau mengambil Lalita. Tapi kamu mesti ingat. Selamanya Lalita bukan darah daging kita. Dan ada hak penuh dari Heri sebagai Paman Lalita. Paman sambung yang sah," mendengar perkataan Rion, Neyza memeluk suaminya itu seakan-akan masih tak rela. Belum siap ia menjalani hari tanpa Lalita. "Aku terlanjur sayang," Neyza berkilah. "Harusnya kalo sayang, gak ada kata terlanjur. Aku juga sayang sama Lalita sejak perjumpaan pertama. Tapi aku berusaha kontrol hati aku biar gak terlampau sayang karena tekad kita dari awal adalah membantu membesarkan.. " Neyza menutup mulut Rion. "Iya aku paham sampai di sini." Muka Neyza terlihat sedih. "Terus gimana?" Neyza mencari sebuah solusi yang adil menurutnya. "Kita pasrah, ya. Apapun kondisinya. Semoga itu yang terbaik buat kita semua," Neysa mulai berkaca-kaca. "Udah, ah. Jangan nangis. Aku mandi dulu, ya?" Rion memeluk Neyza dan segera berdiri menuju kamar mandi. Neyza berlari menuju kamar Lalita yang berada tepat di sebelah kamarnya. Lalita bermain bersama Lisa. "Kak, bentar, ya. Aku nitip Ta. Ada tugas kampus yang belum selesai," Neyza tersenyum. "Cus hayuk kerjakan. Ta biar sama kakak," Lisa keluar dari kamar Lalita. Kini hanya mereka berdua di dalam kamar. "Mama!" kata Lalita dengan girang. Neyza mencium Lalita. "Sayang. Ta sudah makan ya tadi? Enak?" Lalita mengangguk. Neyza memangku Lalita. "Ta, sampai kapan pun. Ta akan jadi anak Mama, ya. Ta jangan lupain Mama ya, nak?" Lalita tertawa. "Mama anii", Neyza terperangah. " Yaa, bagus. Mama Hani dan Mama Neyza. Besok jadwal kita telepon Mama Hani ya, sayang." Lalita mengambil sebuah mainan bunga. Diberikannya pada Neyza. "Mama." Neyza luluh. "Makasih, sayang. Maafin Mama ya kalo masih belum sabar dan adil buat Ta dan adik Rui. Saling jaga ya, nak. Sekarang Ta kan jadi Kakak."


Rion masuk menggendong Rui. "Mama, Rui haus. Papa sama Kakak Lalita aja," Neysa melambaikan tangannya. "Mama sama Adek Rui di duduk di sofa ya. Kakak Ta sama Papa main," waktu yang damai itu sangat berharga untuk Neyza dan Rion. Sambil melihat Lalita bermain dan bercanda bersama Rion, guratan sedih tiba-tiba menyerang pikiran Neyza.


Tuhan. Saya tidak meminta lebih untuk segala kondisi hidup saya. Saya banyak bersyukur dengan banyak kemudahan. Hidup tak selamanya kekal. Andai suatu saat Lalita harus pergi dari kehidupan kami, semoga ia terus mengingat kami dalam tiap langkahnya.


Lisa masuk ke dalam kamar. "Kak Rion. Ada tamu yang cari Kakak sama Kak Neyza," Rion menatap Neyza. "Siapa, ya?" Neyza mengangkat pundaknya. Keduanya lantas turun untuk menemui tamu itu. "Pak Lendra!" sapa Rion. "Silahkan duduk. Lama tidak berjumpa. Apa kabar?" Paman Lendra tersenyum mengangguk. "Sehat. Oh iya, selamat atas kelahiran putri pertamanya," Rion tersenyum. "Terima kasih," Paman Lendra nampaknya ingin berbicara serius mengenai kedatangannya. "Saya ada keperluan datang kemari. Ada seseorang yang ingin bertemu. Sebentar. Dia sedang menerima telepon di luar," Paman Lendra keluar untuk memastikan ia sudah ditunggu oleh si pemilik rumah. "Kejutan!!" kata Heri tiba-tiba muncul dari pintu. Rion langsung berdiri dan terkesima dengan kedatangan Heri. Sedangkan Neyza yang semula tersenyum kembali berubah menjadi pendiam. "Duduk duduk. Kapan datang?" Rion memegang pundak Heri. "Tiga jam lalu. Dijemput paman Lendra. Terus aku ke rumahnya mandi sebentar. Jadi, mana keponakanku yang bayi itu? Aku bawa kado jauh dari luar negeri," Rion tertawa. "Tuh, lihat Neyza. Dia jadi pendiam karena kamu datang. Kemungkinan dia masih kepikiran Lalita." Heri melihat Neyza. "Ayolah, Kak. Gak secepat itu aku menjemput Lalita. Dia boleh ada di sini kapan pun dia mau. Tesisku juga belum dimulai," kata Heri meyakinkan Neyza. "Iya, nih. Aku sempat kepikiran karena kamu kirim pesan waktu itu." Rion memegang tangan Neyza. "Heri cerita semuanya sama saya. Awalnya saya ingin menawarkan diri untuk merawat Lalita. Toh, saya sendiri dengan dua anak perempuan saya. Mereka juga sangat antusias dengan Lalita," Paman Lendra menjelaskan. "Tapi... ", sambungnya. "Kata Heri, mbak Neyza dan mas Rion sangat menyayanginya dan sudah meminta ijin pada Hani. Jadi saya merasa sangat lega sekarang. Tidak perlu khawatir dia terlantar. Walaupun kondisi keluarga besar saya masih belum bisa menerima, paling tidak ada orang-orang yang bisa ia sebut keluarga. " Neyza tersentuh dengan perkataan Paman Lendra.

__ADS_1


Rion berdiri dan mengajak Heri dan Paman Lendra melihat Rui dan Lalita. Lalita nampak malu terhadap Paman Lendra. Sedangkan Heri yang lama tak menjumpai keponakannya itu berusaha untuk membuatnya luluh pada Heri.


"Kak, aku sudah putusin. Kalo aku sudah bekerja dan punya rumah sendiri. Lalita boleh tinggal dimana pun dia mau. Ini juga rumahnya. Ini juga keluarganya," Heri berbicara sambil memangku Lalita. "Ha? Betul? Serius?" Neyza memastikan perkataan Heri. "Iya, kak. Nanti aku cerita sama Kak Hani. Masa tahanan dia kan enam belas tahun lagi," Rion mengangguk. "Aku dengar itu dari pengacara," Heri menatap Lalita. "Kak Hani malah ingin perpanjang masa tahanannya. Ia malu sama anaknya," Rion melihat Lalita, iba karena ibunya tak dapat melihatnya tumbuh kembang.


"Apa Lalita harus tahu kalo Hani ada di?" tanya Paman Lendra. "Masih kami pikirkan. Karena ini menyangkut kesehatan mental Lalita," jawab Rion.


Sore itu mereka semua berkumpul sambil makan malam bersama.


Tujuh tahun kemudian.


Lalita tengah berlari ke dalam rumah. Heri baru saja menjemputnya dari sekolah. "Ta, jangan lari. Nanti jatuh," Lalita hanya menoleh dan menjulurkan lidahnya tanda menolak perkataan Heri. "Mamaaa!! teriak Lalita.

__ADS_1


"Hei, sayang. Sayang. Jangan lari. Mama kan sudah bilang jangan lari," kata Neyza yang baru saja memakaikan baju Rui. "Mama, Ta mau main di Planet Fun, kita ke sana ya, Mama?" tanyanya. "Sayang. Mama lihat jadwal Papa dulu, ya? Biar kita bisa pergi sama-sama. Gimana?" tawar Neyza. "Kalo Papa gak bisa? kita gak berangkat, dong?" jawab Lalita. "Mama, ayo kita pergi," rengek Rui pula. Lalita dan Rui berdiri berjajar dengan menampakkan muka memelas pada Mama mereka. Kebiasaan yang sejak kecil mereka lakukan bila menginginkan sesuatu.


"Kakak Ta dan Adek Rui. Andai Papa gak bisa. Kita bisa kok main seru-seruan sendiri. Sambil nunggu Papa bisa," wajah kedua anak perempuan itu nampak kecewa. "Papa bisa, kok. Halo semua. Jangan manyun. Lho lho, kenapa ini adek sama kakak mukanya kecut gini? Coba Papa cium. Bau gak ya?" Rion langsung memeluk keduanya. Anak-anak itu meronta. "Ayo Papa siap-siap dulu, ya. Habis itu kita pergi," Neyza keterangan melihat Rion. "Kok pulang? Belum jam makan siang, lho." Rion menepuk Heri. "Aku mau santai-santai dulu sama kalian. Mumpung Heri juga di sini. Yuk kita siap-siap dulu. Lisa uda pulang dari kampus?" tanyanya. "Kata Lisa tadi cuma satu kuliah habis itu pulang. Bentar aku telepon dulu," jawab Neyza.


Kriiing.


Belum sempat Neyza menelepon Lisa, ternyata Lisa yang menghubungi Neyza terlebih dahulu. "Kak, aku di kantor Polisi."


"Apa?!"


(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2