
Weni dan Bili sedang menunggu Neyza dan Rion. Mereka segera menghabiskan makanan mereka. Dan mencari kedua temannya tersebut karena sudah lama tak kunjung kembali ke meja mereka.
Weni: "Di parkiran gak ada, lho."
Bili: "Iya.Teleponnya juga mati. Gpp, deh. Biarin mereka berdua."
Weni: "Biar clear semua. Gak ada hindar-hindaran si Neyza-nya."
Bili: "Hahaha... Ya dimaklumi. Kan habis patah hati."
Sementara Weni dan Bili sedang mencari Rion dan Neyza, yang dicari malah sedang pergi ke suatu tempat. Melanjutkan makan malam berdua.
Rion: "Sori, ya. Gue ajakin lu ke tempat favorit gue. Biar lebih tenang aja gak diganggu sama Bili."
Neyza tersenyum simpul. Ia masih belum betul-betul melupakan Rion.
Rion: "Jelasin sama gue. Lu suka makan apa, Ney?"
Neyza: "Kok sekarang panggil, Ney?"
Rion: "Gue seneng panggil nama lu. Kalo manggil 'Nek' jadi bersaha gue jadi anak bayi yang dijagain Neneknya. Eh, lu keberatan gak sih?"
Neyza: "Gak," jawab Neyza singkat.
Pelayan segera memberikan daftar menu kepada Rion dan Neyza. Rion memilih dan segera memesannya kepada pelayan yang akan mencatat. Sementara Neyza menutup daftar menu dan segera memberi kepada pelayanan.
Rion: "Lu gak pesen, Ney?"
Neyza: "Kentang sama Air panas."
Rion: "Ha? Serius?"
Neyza: "Aku udah makan dari rumah tadi."
Rion: "Makan apa emang?"
Neyza: "Martabak."
Rion: "Wih, ngerti gitu kita beli jajanan aja ya nongkrong di rumah lu."
Neyza: "Gak gak gak."
Rion: "Ayo, dong. Jangan gitu. Gue juga pingin nyamperin lu ke rumah.".
Neyza: " Gak gak. Aku udah gak di kontrakan lagi."
Rion: "Gue tahu. Bahkan rumah lu pun gue tahu."
Neyza: "Tahu dari mana kamu?"
Rion: "Gue tahu aja."
Neyza: "Ngikutin aku kamu, ya?"
Rion: "Serius gue gak kayak yang lu pikir, ya? Gue ngerti karena.. "
__ADS_1
Neyza: "Terusin."
Rion: "Waktu ada kasus bokap lu. Gue sama tim pengacara punya itikad bantuin lu. Jadi gue tahu seluk beluk keluarga lu."
Neyza berdiri dengan tatapan yang menakutkan. Ia lalu pergi meninggalkan Rion. Neyza pergi ke sebuah taksi yang terparkir di depan restoran. Rion tak mengejarnya. Ia sengaja membiarkan Neyza dengan emosinya saat ini. Rion melanjutkan makan malamnya sendiri. Ia tak tahu bagaimana nantinya waktu akan membawa. Rion pasrah.
Neyza pergi dengan hati yang remuk redam. Ia pergi meninggalkan Rion bukan karena ia marah. Neyza malu karena Rion selalu ada untuknya. Rion banyak membantu tanpa ia minta. Neyza merasa tertekan karena ia belum mampu untuk membalas apa yang dilakukan Rion dan keluarganya. Kali ini, Neyza sangat malu. Cukup sudah apa yang dilakukan Rion padanya. Ia sudah cukup menderita dengan perasaan yang makin hari semakin besar untuk Rion. Keberadaan Rion untuk Neyza merupakan candu. Neyza menutup matanya.
Sampai di rumah. Mama menyambut Neyza yang barusan pulang dengan muka lusuh.
Mama: "Kamu kenapa, Ney? Sakit?"
Neyza: "Gak, Ma. Mama udah makan?"
Mama: "Belum. Itu masih ada. Papa juga masih nanti makannya. Lagi nerima telepon."
Neyza: "Ayo sama Neyza aja. Jangan telat makan."
Mama dan Neyza segera pergi ke ruang makan. Mereka berdua menikmati berbagai macam makanan yang disediakan asisten rumah tangganya.
Mama: "Sepi ya, Ney?"
Neyza: "Aku panggilin Papa, ya?"
Mama: "Eh, bukan itu. Maksudnya gak rame di rumah ini cuma ada kita."
Neyza: "Mama pingin aku panggil Mbak-mbak yang di belakang? Biar rame makan bareng."
Mama: "Eh, bukan itu juga. Maksud Mama gak ada anak kecil."
Mama: "Yah, Neyza. Gak nangkep maksud Mama. Cucu, Ney."
Neyza tersedak. Ia bahkan hampir mengeluarkan makanan di mulutnya. "Mama, nih. Tiba-tiba ngomongin cucu."
Mama: "Mama serius."
Neyza: "Aku gak punya pacar, Ma."
Mama: "Yaudah, cari."
Neyza: "Capek, Ma."
Mama: "Dijodohin mau?"
Neyza: "Terserah Mama. Pokoknya Mama Papa senang Neyza jalan aja." Neyza berkata dengar entengnya.
Mama menyelesaikan makanannya. Setelah selesai makan, Neyza kembali ke kamarnya. Rasa kantuk membuatnya ingin tidur lebih cepat Penat rasanya. Ia harus tidur untuk melupakan apa yang terjadi hari ini. Penat.
Seminggu kemudian.
Mama masuk ke kamar Neyza.
Mama: "Ney. Bangun Siap-siap."
Neyza: "Ha? Kenapa, Ma?"
__ADS_1
Mama: "Ganti baju yang bagus. Cepat. Mau ada tamu."
Neyza memandang jam di dinding kamarnya. Masih jam 6.
Neyza: "Masih jam 6, Ma."
Mama: "Iya, Mama tahu. Jam 8 mereka datang. Soalnya jam 10 mau ke bandara. Mereka mau ke luar negeri."
Neyza: "Tamu sapa, sih?"
Mama: "Ganti baju. Sarapan dulu. Ayo!"
Neyza segera bangun dan membersihkan diri. Ia memakai baju yang lebih mewah seperti perintah sang Mama. Neyza sudah menjadi 'pelanggan' setia penunggu tamu Mamanya.
Neyza sudah rapi dengan balutan baju berwarna maroon. Ia turun untuk segera sarapan dengan Mama dan Papanya.
Neyza: "Tamu sapa, sih, Ma? Pagi amat. Biasanya masuk jam makan siang atau makan malam."
Mama: "Nanti Neyza tahu. Yang kenyang habis itu sikat gigi. Lipstik kamu jangan cerah banget. Warna nude aja. Kamu udah cantik."
Neyza hanya sibuk mengolesi pancakenya dengan selai nanas. Papa hanya tersenyum melihat istrinya sedang menceramahi anaknya.
Jam 07.55, sebuah mobil mewah masuk ke dalam rumah Neyza. Seorang pria dan wanita paruh baya turun dari mobil. Mama dan Papa Neyza berada di depan teras rumah yang megah.
Mama: "Selamat Datang. Mari silahkan masuk!"
Keempatnya bersalaman. Kedua tamu masuk mengikuti tuan rumah. Mereka berbincang-bincang sejenak. Mama memberikan kode pada asisten rumah tangganya agar Neyza segera menuju ruang tamu. Tak lama kemudian, Neyza masuk dan menjabat tangan ke dua tamu itu.
Neyza duduk di sebelah Mama.
Mama: "Ney, ini Tante Fani dan Om Ginrey. Teman Mama dan Papa. Mereka adalah orang yang sangat baik."
Neyza tersenyum sambil mengangguk.
Papa: "Tante Fani dan Om Ginrey datang kemari untuk memintamu menjadi anak menantunya."
Neyza menahan keterkejutannya. Walau sebenarnya ia menduga-duga karena Mamanya sangat cerewet pagi tadi dengan segudang permintaan mengenai penampilannya. Alasan tadi hanyalah alasan cadangan yang Neyza buat selain mengenalkan seorang laki-laki. Tetapi dengan mengatakan langsung bahwa ingin menjadi menantu sebuah keluarga adalah hal yang sangat mengejutkan.
Mama: "Seperti yang kamu pernah bilang sama Mama. Kalo masalah jodoh diserahkan oleh Mama dan Papa. Kami mengenal putranya dengan baik. Dan Mama mengingat seseorang. Jadilah Tante Fani dan Om Ginrey ada di sini."
Neyza menelan ludahnya.
Neyza: "Neyza sebenarnya memang pernah bilang begitu sama Mama. Neyza gak ada masalah sedikit pun, Ma. Tapi apa tidak begitu cepat? Apa sebaiknya kami tidak dikenalkan lebih dulu sebelum melangkah ke pernikahan?"
Mama: "Tentu saja bisa. Namun masalahnya, perkenalan akan membuang waktu kalian. Anak Tante Fani dan Om Ginrey sama seperti Neyza. Ia ingin agar Orang tuanya yang memilihkan jodohnya. Kalian anak berbakti dan anak baik. Dan semoga apa yang kami segerakan ini tidak menunda apapun itu. Termasuk perkenalan setelah menikah. Gimana, Ney?"
Neyza: "Lalu, kemana anak Tante Fani? Bukannya dia harus ikut?"
Tante Fani: "Maafkan. Anak Tante tadi malam harus ke Malaysia. Ada rapat mendadak dengan para investor lainnya. Ia akan kembali minggu depan."
Papa: "Ney, maaf Papa dan Mama lancang tidak berbicara denganmu lebih dahulu. Menurut Neyza bagaimana? Kami berempat sangat terbuka dengan pendapat Neyza."
Menolak?
Terima?
__ADS_1