Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 86 Gerak cepat.


__ADS_3

Rion dan Neyza kembali ke rumah bersama Shena. Lalita dan Rui menghampiri ketiganya. "Ma, ini siapa?" tanya Rui. "Ini Tante Shena. Rui dan Ta kasih salam, ayo!" kata Neyza. Mereka akhirnya memberikan ucapan salam kepada Shena. Rion menuju ke kamarnya, sedangkan Neyza menyuruh seorang asisten rumah tangganya untuk menyiapkan kamar tamu untuk Shena. "Makasih, Bu Neyza," kata Shena. Neyza tersenyum. "Kamu mandi dan istirahat aja dulu. Di kamar itu kalo gak salah ada baju Weni, sahabatku. Kalo lihat badan kalian hampir sama. Kayaknya cocok bisa kamu pakai," Shena mengangguk dan segera menunggu di ruang tamu. Neyza mempersilahkan Shena agar merasa nyaman di rumahnya. Walau Shena merasa sangat tidak enak hati, namun pilihan itu adalah sebuah keterpaksaan karena sebuah keadaan. Neyza naik ke lantai dua bersama anak-anaknya. Sedangkan Shena dipersilahkan untuk masuk ke ruang tamu yang sudah disiapkan.


Di dalam kamar, setelah Neyza mandi, ia menghampiri Rion yang sedang melanjutkan pekerjaannya. Neyza duduk dengan rambut yang masih basah. Sebuah obrolan yang beruntun untuk keduanya pikirkan. Dari pernikahan Ogi dan Regina, juga tentang seberapa jauh pengobatan yang akan Regina jalani dengan waktu yang juga berjalan dengan cepat. Satu bulan bukan waktu yang lama. Mereka hanya banyak-banyak berharap agar Regina lekas membaik untuk merayap pernikahannya dengan Ogi.


"Menurut kamu gimana, sayang?" tanya Rion di sela-sela pekerjaannya. Neyza tak menampik bahwa ia juga tak mau menjadikan ini beban. Tapi entah kenapa, takdir orang lain hampir selalu mengaitkan ini dengan dirinya dan Rion. Ia menjadi bingung ketika ditanya mana yang lebih layak untuk dibantu. Karena keduanya adalah Orang-orang yang memang pantas untuk didampingi. Rion pun berusaha bersikap jujur pada dirinya sendiri dan terhadap Neyza. Bahwa melihat posisi Regina adalah posisi yang sulit. Sedangkan masalah Shena, ia benar-benar tak menyangka bahwa menerima orang gang hidupnya hampir di ujung tanduk. Keputusan besar untuk mereka berdua.


"Kita bisa bantu apalagi?" tanya Neyza balik. Rion menghela napas. Tentu saja yang lebih paham adalah orang-orang yang terlibat di dalamnya. Bentuk support apa pun yang akan dilakukan Neyza atau pun Rion tetap saja mempunyai resiko besar.

__ADS_1


Kriiing.


Sebuah telepon tertuju pada ponsel Rion. Suara Ogi yang berat menyapanya. "Bro, gue akan melakukan akad di rumah sakit lusa," Rion terperangah. Kata-kata yang terucap begitu saja ternyata ditanggapi mudah oleh Ogi. "Gue bisa bantu apa lagi yang lu butuhin?" tanya Rion yang dijawab oleh Ogi dengan kalimat tidak tahu. Setelah telepon ditutup, Rion menceritakan hal ini kepada NeyzamIa terkejut karena akad itu benar-benar akan terjadi. "Udah, gpp. Aku yang akan urus gimana-gimananya. Untungnya waktu sebelum kejadian itu, Regina sempat milih kebaya buat akad. Aku konfirmasi lagi sama designernya," kata Neyza.


Akhir sore, Neyza pergi ke tempat designer untuk mengecek sejauh mana pengerjaan kebaya Regina. "Untuk atasan kebaya udah mau selesai, sih. Karena yang dipilih Mbak Regina itu sebenarnya sudah baju jadi. Tinggal permak bagian yang belum kayak di lengan sama kancing aja," Neyza memastikan bahwa baju itu cepat selesai karena akan dikenakan oleh Regina dua hari lagi. Sang designer juga tak butuh waktu lama untuk berpikir, ia langsung memberangkatkan kebaya itu untuk segera memasukkannya ke sebuah penatu


Kriiing.

__ADS_1


"Kamu dimana, sayang?" tanya Rion. "Aku di jalan mau pesan cincin. Ogi kan belum sempat pesan cincin. Tapi tadi katanya terserah aku yang pilihin," jawab Neyza. Rion segera pergi menyusul Neyza yang sedari tadi pergi sendiri. Pukul 20.10, Rion sudah berada di toko perhiasan bersama Neyza. Setelah memilih cincin itu, mereka akan pergi untuk makan malam.


Sebuah restoran yang romantis yang dipilih Rion untuk menyenangkan Neyza. "Lama kita gak pergi berdua gini, rasanya seru juga, ya? Karena bantu urusan orang lain jadi punya waktu internet berdua," kata Rion. Neyza mengangguk. Lama rasanya ia dan Rion tidak makan malam bersama. Kegiatan kantor dan mengurus anak menjadi waktu yang sangat panjang untuk mereka jalani. Dan saat ini merupakan saat yang jarang sekali terjadi. "Makasih, ya?" kata Neyza. Rion memandang Neyza. "Udah nyusul aku tadi," Rion tersenyum. "Ada alasannya sih," kata Rion. "Kenapa?" Rion menghela napas. "Aku gak mungkin ada di kamar terus. Ada Shena di lantai bawah. Bisa-bisa dia gak keluar kamar karena malu. Aku juga, sih. Makanya kabur nyusul kamu," Neyza memasang muka sebal. "Kirain tulus. Ternyata juga malu sama tamu. Tapi gimana gimana pun. Dia perempuan. Cantik. Seksi. Cowok-cowok lihatnya pasti uuuunch," Neyza menggoda Rion. "Ya, pasti mau, lah. Manusiawi lihat cewek cantik laki-laki gak lihat. Cuma kan selanjutnya gimana-gimana. Kalo aku sih. Lewat ya. Istri aku beeeeeeeh. Sing ada lawan," Neyza menaikkan sudut bibir atasnya. "Gimana gak ada yang mau lawan. Sabuknya bikin ngeri," Neyza mengambil pisau pemotong steak di tangan kanannya. "Oh, tenang sayang. Itu pujian. Jangan marah. Bisa-bisa pada lari semua pelanggan di sini," Neyza terkekeh. "Aku gak masalah sih kalo kamu mau nikah sama orang lain. Asal caranya gak pake selingkuh dulu. Dan.. " kata Neyza melanjutkan syaratnya. "Dan apa?" Rion secara cepat merespon. "Setelah aku mati dulu. Kamu boleh nikah lagi," Neyza tertawa sedangkan Rion hanya menggelengkan kepalanya. "Udah, ah. Shena kan tamu. Kita bikin dia nyaman dan semoga aja dia betah," kata Rion.


Neyza berpikir bahwa Shena sepertinya pantas dengan Bili. Karena usia keduanya tak seberapa jauh. Namun Rion berkilah bahwa ia menangkap sebuah kode rahasia antara Bili dan Lisa. Neyza lalu teringat akan keduanya. "Semoga aja Bili gak keikut arus masalah Shena, ya?" Rion menyetujui omongan Neyza. Semoga saja.


(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2