
Sudah dua hari ini Regina masih di rawat di rumah sakit. Informasi terakhir mengatakan bahwa Regina mempunyai kista di rahimnya. Pengangkatan penyakit sepertinya akan dilakukan beberapa hari ke depan. Neyza dan Rion tak pernah absen untuk meninggalkan Regina dan Ogi. Setelah pulang dari kantor, mereka selalu menyempatkan diri untuk menemani Regina.
Regina memang sudah sadar. Ia tahu bahwa kista dalam rahimnya memang harus segera dihilangkan. "Hai!" kata Neyza saat membuka pintu rumah sakit. Rion membawa bunga yang cantik dan Neyza membawa makanan untuk Ogi. Regina tersenyum melihat kedatangan dua temannya itu. "Hei. Jangan bilang kalo kalian ke sini bawa camilan terus makan makan sendiri. Gue juga pingin tapi harus keep dengan nutrisi," Neyza tertawa. "Sabar sabar. Ini buat Ogi. Hmm, martabak ini juga kayaknya dia gak bakal habis. Jadi nanti aku bantuin buat makan," Regina menggeleng. "Dasar yang sakit sama yang jenguk tukang makan semua," Regina tertawa. "Gimana sekarang? Udah baikan?" tanya Rion. "So far gue ngerasa ada yang ganjil aja di perut. Kayak orang mau period. Kembung tapi di perut bawah. Agak gak nyaman. Cuma rasanya ya kayak tiap bulan aja, sih. Gue juga heran sama penjelasan dokter. Kemarin-kemarin gak ada gejala apa-apa. Tapi ini tiba-tiba sakit banget. Untung kata dokter segera tahu. Biar bisa secepatnya keangkat," jelas Regina.
Ogi berada di samping Regina. Berusaha menemaninya dalam kondisi apa pun. Sejak Regina masuk rumah sakit, Ogi dengan sabar memboyong seluruh pekerjaan kantornya untuk dikerjakan di rumah sakit. Di samping Regina. Memang tak mudah. Untuk seorang laki-laki yang sudah mengetahui bahwa calon istrinya mengalami sebuah kondisi yang bisa jadi mempengaruhi takdir berketurunan mereka. Bisa saja, Ogi memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan ini kepada Regina. Namun, niat yang sudah ia tanam sejak awal, tanpa tergoda pertimbangan lain ia tetap berada dan berdiri untuk menolong Regina.
__ADS_1
"Gi, lu jadinya kerja di rumah sakit?" Ogi tersenyum. "Sebenarnya kata Mamanya Regina gak usah. Tapi gue yang gak tega lihatnya. Takut kecapekan atau gimana. Toh sejauh ini Regina masih bisa ke kamar mandi sendiri. Gue cuma anter sampai kamar mandi doang," kata Ogi. "Lha habis operasi kan mesti bedrest. Kalo pun ke kamar mandi gak bisa sendiri. Apalagi buang air besar. Harus didampingi. Gak ada sodara perempuan yang bisa nemenin saat operasi?" tanya Neyza. "Minggu lalu dua sepupu gue baru aja berangkat ke Ausie. Kuliah. Gue udah bilang Ogi biar Mama aja yang nemenin. Tapi gak dibolehin sama Ogi. Ini gimana, sih? Terus gue mau minta anter siapa kalo ke toilet? Perawat? Kan gak mungkin ada selalu. Pasiennya banyak," Regina membuat wajah sedih.
"Ada satu rencana yang menurut gue sedikit. Gak sedikit, sih. Rencana besar. Biar lu berdua gak bingung," Neyza menganga. Ogi dan Regina memperhatikan Rion. "Akad lu berdua dilaksanakan sebelum operasi. Biar bebas Ogi ngerawat lu dan lu juga gak perlu malu sama suami. Gimana? Yang gila gue, kan?" Rion sedikit tersenyum lalu kembali diam. Ia sadar bahwa masukannya sama sekali tak berguna.
Ogi bertepuk tangan. Ia lalu mengambil kunci mobil dan segera pamit. "Lu berdua. Gue titip Regina. Gue mau ketemu bokap nyokap Regina. Penting," Regina hanya terdiam seribu bahasa melihat Ogi yang tiba-tiba hendak pergi begitu saja. Sedangkan Neyza melihat Ogi dengan satu suapan besar martabak yang masuk ke mulutnya. Rion hanya mematung karena dilema karena perkataannya.
"Kamu gila!' kata Neyza sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya. "Itu entar kalo Ogi beneran mau minta akad sebelum Regina operasi gimana?" Rion menggaruk kepalanya. "Ya gpp, dong. Kan jadinya Regina full of service dari suaminya. Jadi tahu betapa nyata cinta keduanya. Ceile... Duh, ini gara-gara kamu maksa aku nonton Drama Korea aku jadi ikut-ikut bucin," Neyza tertawa hingga tersedak.
__ADS_1
Kriiing.
Sebuah telepon ke ponsel Bili. "Hei, Bro. Gimana?" Bili menjawab pertanyaan dari seorang teman lama. Ia dalam perjalanan menuju kantor. Setelah memarkir mobilnya, ia menuju lift untuk naik ke tempat kerjanya. Suasana kantor sepi karena satu jam yang lalu para karyawan sudah pulang. Ia lalu pergi ke ruangannya. Di sebelah ruangan Rion.
Mengerjakan beberapa pekerjaan. Suara langkah kaki terdengar olehnya. Ah, mungkin petugas keamanan atau petugas kebersihan. Ia kembali mengerjakan tugasnya lalu tiba-tiba seorang perempuan dengan pakaian yang setengah terbuka masuk dan mengunci pintunya. Bili memandangnya dengan bola mata membesar. Bagaimana tidak? Perempuan cantik dan sepertinya mapan dengan setelan kantor berdiri di hadapannya dengan napas terengal-engal. Rok pendeknya setengah robek dan baju atasannya terlihat lusuh tak beraturan. Perempuan itu menutup bibirnya dengan jari telunjuknya. Menandakan bahwa Bili harus bekerja sama dengannya agar kejelasan terjadi setelah kode berikutnya. Bili mengangguk. Seperti hal magis yang memasukinya. Tak berapa lama memang ada derap langkah kaki yang berlari melewati ruangannya. Namun mereka berdua sama-sama terdiam seperi patung. Mungkin sekitar 10 menit lamanya mereka diam dalam posisi seperti itu. Perempuan itu lalu mengunci pintu ruangan Bili. Membenarkan bajunya. "Ada toilet di dalam sini?" katanya. "Lu masuk aja. Di belakang gue toilet khusus buat gue. Gak akan ada orang yang kemari," kata Bili. Ia hendak memberitahu Rion mengenai hal ini. Namun ia akan menahannya sebelum semua masalah ini jelas. Lima belas menit kemudian perempuan itu keluar. "Sori. Gue gak sengaja masuk ke gedung ini," ujarnya. "Lu habis diapain sama orang?" Bili langsung pada poinnya. "Gue hampir diperkosa sama tunangan gue," Bili terhenyak. "Ha? Gue pikir harusnya ada hukum suka sama suka ya? Jadi lu gak mau kejadian kayak gini?" tanya Bili.
__ADS_1
"Lu dengerin gue dulu.. "
(bersambung)