Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
116 Bersama


__ADS_3

Suara itu terdengar di area tempat makan. Nampaknya seorang karyawan tengah tergesa memindahkan sebuah dekorasi dan terjatuh. Namun akhirnya ia kembali bangun dan melanjutkan pekerjaannya.


Detik-detik acara akan dimulai. Para keluarga dan kerabat dekat tengah berdiam untuk mengikuti rangkaian acara akad pernikahan itu. Maliq duduk bersebelahan dengan Neyza dan Rion.


Dikta mengucapkan ijab qobul dengan lancar. Disusul dengan keberadaan Lalita yang datang dengan riasan dan baju yang sangat cantik. Sesuai dengan dirinya dan kebahagiaan yang sempurna saat ini.


Mereka duduk berdampingan sebagai suami istri. Setelah memenuhi kelengkapan dokumen, mereka lalu mendatangi kedua orang tua mereka untuk meminta restu lagi. Lalita adalah anak yang istimewa. Empat kursi khusus untuk orang tuanya disiapkan di depan. Tak hanya untuk Hani dan Tito, Neyza dan Rion pun tengah duduk di sana sesuai permintaan Hani dan Tito.


Setelah Lalita meminta doa dan restu pada Hani dan Tito, ia tengah berpindah untuk merengkuh pada Neyza terlebih dahulu. Matanya berkaca-kaca. Tak kuasa menahan kebahagiaan dan kesedihan yang teramat dalam. Neyza pun tak kalah sedih bercampur bahagia. Lalita mencium lutut Neyza. Menyandarkan wajahnya seraya menangis. "Mama, Ta minta maaf. Ta berterima kasih karena Ta disayangi Mama sampai saat ini. Ta banyak berhutang sama Mama. Ta gak bisa membalas apa-apa. Semoga Mama dan Papa dibalas kebaikan yang berlimpah. Doakan Ta sama Dikta, ya Mama. Ta sayang Mama," begitu katanya dengan nada pelan. Neyza pun meraih punggung Lalita dan menangis bersama anak asuhnya itu. "Sayang, Mama selamanya jadi Mama Lalita. Terima kasih sudah menjadi anak yang baik untuk Mama Papa dan jadi kakak buat Rui. Sayang, berbahagia sama Dikta ya, Nak. Hormati suami kamu dan dampingi dia sampai kapan pun," kata Neyza kepada Lalita. Keduanya lalu berpelukan.


Lalita lalu berada di depan Rion dengan mata yang sama. Rion tentu mampu menahan kesedihannya, namun ia sungguh ingin meluapkan rasa kebahagiaan yang lebih untuk Lalita. "Papa. Ta sayang Papa. Papa selalu jadi pahlawan buat Lalita. Terima kasih buat semuanya," Rion lalu memeluknya.


Hari itu, akad nikah berlangsung dengan lancar. Semua orang beramah tamah dengan suka cita. Lalita didampingi Dikta. Para orang tua dan tamu mereka juga sedang berada dalam satu meja yang sama. Rui berjalan untuk mengambil beberapa makanan kecil. Ia lalu duduk di dekat taman. Manji yang rupanya melihat Rui berjalan mendekatinya. "Sendirian, neng?" Rui tersenyum. "Jomblo, ya?" Wajah Rui seketika menjadi sebal kepada Manji. "Dokter, gak pingin nikah lagi?" tanya Rui dengan santainya. "Kamu nih nanya gak mikir dulu. Kalo aku sakit hati gimana?" Rui menjadi segan lalu buru-buru mengkonfirmasi untuk membatalkan pertanyaannya. Manji tertawa. "Becanda, Rui. Sebenarnya mau, sih. Cuma apa yang ceweknya mau, ya?" Rui hanya mengangguk. Maliq tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Rui. Kini, Rui diapit oleh Manji dan Maliq. "Ya Dokter kan gampang bisa milih perempuan mana aja," katanya Maliq. Manji tersenyum lebar. "Ya, maunya gitu. Cuma kan ceweknya ini polos banget, Maliq. Akunya juga sungkan kalo mau langsung nembak buat dijadiin istri," kata Manji. Maliq menjadi salah tingkah. "Nha, Rui. Kamu pingin calon suami kayak gimana?" tanya Maliq. Rui lalu berpikir sejenak. Ia lalu tersenyum. Beberapa poin yang ia inginkan dipaparkan kepada Maliq.


"Tanggung jawab, hormati perempuan, sabar. Karena aku suka cerewet kalo udah kenal," Maliq dan Manji saling menatap. Mereka tahu karena sering jadi bahan omelan saat mereka bertiga bersama. Keduanya lalu membuat kode untuk meninggalkan Rui yang masih mengoceh tentang kriteria calon suami. Hingga akhirnya ia sadar Maliq dan Manji pergi meninggalkan dirinya. "Tuh, kan. Kalian!" ujarnya geram.


Malam hari itu, acara resepsi dilakukan di gedung acara di sebuah hotel. Semua tamu datang. Lalita dan Dikta tentu saja menjadi pusat perhatian yang lain. Mereka menikmati malam itu dengan kebahagiaan. Teman-teman Lalita dan Dikta datang dengan kejutan. Ada yang menampilkan sebuah drama musikal, kejutan sulap, bahkan sebuah video yang menyentuh hingga Lalita merasa terharu.


Acara puncak di sesi terakhir adalah ketika Lalita melemparkan bunga kepada para tamu yang masih lajang. Para teman dan kerabat sudah berbaris rapi. Termasuk Rui yang berdiri untuk meramaikan acara itu. Pembawa acara tengah mempersiapkan aba-aba agar Lalita melemparkan buket bunga.


Satu.

__ADS_1


Dua.


Tiga.


Bunga itu terlempar dan pada akhirnya bunga itu menjadi rebutan para lajang yang sudah menanti. Seorang perempuan menerima bunga itu dengan senang. Rui membuat reaksi kecewa karena ia hampir mengambil bunga itu. Namun alangkaj terkejutnya saat perempuan yang mengambil bunga tadi memberikannya kepada Rui. Ia menjadi bingung apa yang terjadi. Dan ketika ia menerima bunga itu, perempuan tadi menyuruhnya untuk memutarkan badannya. Rui memutar badannya dan melihat seseorang sedang duduk dengan wajah menunduk.


Para tamu riuh melihat kejadian tiba-tiba ini. Rui tak bisa melihat jelas siapa pria itu. Namun ketika pria itu mengangkat kepalanya, dengan wajah tersenyum ia memberikan sebuah kotak kecil terbuka dengan cincin yang terdapat di dalamnya.


"Kak Maliq!" Rui terkejut hingga lututnya lemas. Ia tak menyangka Maliq akan melakukan hal itu. Maliq tersenyum memandang Rui. "Rui, mau meniti masa depan denganku?" hadirin menjadi sedikit histeris karena sikap romantis Maliq. Rui menjadi bingung. Ia melihat Lalita yang berada di atas panggung pelaminan. Ia mengangguk kepada Rui. Ia laku mencari keberadaan sang Mama. Dari kejauhan sang Mama hanya memberikan sinyal tepukan di dadanya.


[Flash back]


Beberapa bulan lalu, ketika Rui mengutarakan kegundahannya karena Maliq bersama Lalita. Ia bingung dengan perasaan yang membawanya tetap bertahan untuk menyukai Maliq. Neyza memberikan wejangan yang menyejukkan. "Sayang, mencintai itu adalah rezeki. Dan hati yang memilih. Kalau dia jodoh kita, maka tidak ada yang bisa menghalangi. Rui akan menemukan keyakinan itu dalam diri Rui," kata Neyza.


Di satu sisi. Maliq menceritakan curahan hatinya kepada Manji. Ia mengatakan bahwa ia sebenarnya menaruh perasaannya terhadap Rui begitu lama. Ia lalu menceritakan hal ini kepada Neyza dan Rion saat acara makan bersama. Neyza juga mengutarakan hal yang sama terkait perasaan Rui kepada Maliq. Lalu setelah mendengar kabar Lalita akan menikah, Manji meminta ijin untuk memberilan Rui sebuah kejutan besar agar Maliq melamarnya di tengah-tengah acara. Maliq menyetujuinya. Menyambut baik kabar dari Neyza tersebut dari Manji.


Beberapa orang yang berdiri saat pelemparan buket bunga sebenarnya adalah sebuah settingan belaka untuk melancarkan kejutan Maliq kepada Rui.


******


Pikiran Rui berputar. Hingga akhirnya ia mencoba menenangkan dirinya. Kembali mengendalikan dirinya. Menghadirkan logika dan perasaannya agar mampu berjalan seiringan.

__ADS_1


Rui menatap Maliq. Alisnya terangkat sambil tersenyum. "Ya, aku mau," semua tepuk tangan mengiringi kabar baik itu.


Neyza dan Rion mendekati Rui. Mereka memeluknya. Terpancar bahagia di raut wajah mereka karena sebentar lagi sang adik menyusul sang kakak.


Beberapa bulan setelahnya, Maliq dan Rui mengadakan acara pernikahan. Hari biru tengah meliputi keluarga itu. Neyza dan Rion merasa sangat berbahagia karena Rui akhirnya bersama orang yang ia sayangi. Seperti halnya Neyza yang bertahan dengan mencintai Rion.


Lalita dikabarkan sedang mengandung anak Dikta saat acara pernikahan Rui. Saat acara berakhir, dalam perjalanan mereka ke rumah Maliq. "Jadi. Kamu yang suka duluan?" Rui menggeleng. "Gak. Kayaknya Kakak dulu," Maliq mengangguk. "Iya, deh. Aku daripada tidur di luar. Dingin," kata Maliq. Rui hanya tertawa sambil sesekali membalas genggaman tangan Maliq. "Aku pikir dulu Dokter Manji suka sama kamu. Ternyata dia sudah punya calon istri, seorang Guru. Bulan depan rencananya mereka menikah," kata Maliq. Rui terkejut dengan berita bahagia itu. Mereka pun segera kembali pulang.


Di dalam kamar, Neyza dan Rion baru saja membersihkan diri selepas acara resepsi. Neyza sudah berada di tempat tidur sambil membaca buku sejenak. Rion baru saja keluar dari kamar mandi. Ia tersenyum melihat Neyza lalu duduk di sebelahnya. Neyza menutup bukunya. Menatap Rion.


"Gimana? Balik modal lagi berdua?" Kata Neyza. Rion mencium dahi Neyza. "Gak. Secara fisik memang jauh. Tapi nanti lebih lengkap lagi. Ada cucu," kata Rion tak setuju dengan pernyataan Neyza.


"Sayang. Pernah nyangka, gak? Sudah sejauh ini," kata Neyza. Rion menggenggam tangan Neyza. "Dan semuanya menyenangkan. Terima kasih. Sudah menemani," kata Rion kepada Neyza. "Aku juga makasih. Sudah mau bersabar," kata Neyza menyandarkan kepalanya di bahu Rion.


Mereka mulai menata kembali hidup di masa tua. Dimana Lalita dan Rui akan memiliki buah hati dan akan menjumpai Kakek Neneknya. Mereka hidup bersama dengan bahagia selamanya. Dalam suka dan dalam duka. Naik turunnya kehidupan yang semakin menguatkan mereka.


...(Tamat) ...


********


Terima kasih para pembaca sudah mensupport cerita Neyza dan Rion. Semoga bisa bertemu lagi di cerita yang lain. Tetap jaga kesehatan dan selalu menebar kebaikan dan kebermanfaatan.

__ADS_1


Salam hangat,


Author.


__ADS_2