Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 35 Terbuka


__ADS_3

Neyza dan Rion segera pergi ke hotel yang telah diinformasikan oleh detektifnya. Setelah sampai parkiran, mereka segera menemui detektif yang telah menunggu mereka di taman hotel.


Detektif: "Saya telah menghubungi teman saya, polisi yang membantu untuk membuatkan ijin agar kita bisa masuk dan menunggu kedua orang itu. Manajer hotel sudah kami temui. Surat ijin sudah kami kantongi. Kami siap untuk tindakan selanjutnya."


Polisi: "Bila Bapak mau, di kamar hotel itu nada connecting door. Kami berdua menunggu di sana. Bapak dan Ibu bisa bersembunyi di sela-sela kamar tersebut dan membawa alat rekaman ini, untuk bukti," sambil memberikan sebuah alat kecil sebagai alat penyadap kepada Rion.


Rion mengangguk. Apa yang mereka rencanakan akan segera mereka lakukan. Saat ini, paling tidak. Rion harus segera menemukan jawabannya. Hani atau bukan, harus terjawab jelas malam ini. Rion dan Neyza segera naik ke kamar mewah itu. Polisi dan Detektif itu segera masuk ke kamar yang berada di sebelah kamar utama. Rion mencari tempat untuk bersembunyi. Tak terkecuali Neyza. Kamar yang besar itu mempunyai banyak fasilitas. Hingga mereka berdua bingung akan berdiam diri di mana. Sebuah pesan muncul di ponsel Rion.


"Target sudah di lobi."


Rion segera bersembunyi di sebuah lemari pakaian yang besar. Begitu juga Neyza. Mereka berdua hanya berjarak tak jauh dari meja makan.


Suara pintu kamar terdengar. Tanda bahwa mereka bersiap-siap untuk sebuah situasi yang besar. Suara bayi terdengar. Rion mengintip dari cela-cela bilik lemari yang kecil. "Tak keliatan, sial," batinnya. Hanya terlihat kaki perempuan dan seorang laki-laki. Neyza pun berusaha untuk menahan kepenasarannya dan hanya fokus pada laki-laki yang diyakini sebagai Tito.


Perempuan: "Sayang, tolong ambilkan diapers. Mau ganti. Pokoknya uda penuh."


Laki-laki: "Iya. Ini. Mau aku gantiin? Kamu ganti baju dulu, gih?"


Perempuan: "Gpp.Gak kotor, kok. Kamu gak capek? Dua hari lalu dari Jakarta."


Seorang pelayanan mengetuk pintu. Pria itu membuka pintu dan mempersilahkan pelayanan tadi menaruh makanan di atas meja makanan. Perempuan tadi mengambil tas yang ia bawa dan hendak memasukkannya ke dalam lemari. Rion dan Neyza menarik napas. Rencana mereka bisa gagal total bila perempuan ini tahu ada penyusup di dalam kamar mereka. Perempuan itu hendak membuka pintu lemari. Ah, selesai sudah bila ia membukanya. Biarlah, rencana kedua untuk mengorek rahasia itu akan dilakukan secara frontal. Ketika gagang pintu lemari akan dibuka..


Oeeeeek... oeeeeek....


Tangisan anak itu menyelamatkan keadaan. Neyza dan Rion mengusap keringat yang sudah mulai mengucur dari dahinya. Lemari yang semakin pengap dan situasi darurat tadi seakan membuat mereka menjadi semakin panas. Rion membuka sedikit pintu lemari.


Setelah pelayan tadi menaruh makanan di atas meja makan dan keluar, pria tadi melanjutkan pembicaraan dengan perempuan itu.

__ADS_1


Laki-laki: "Tadi kamu tanya aku capek apa gak? Gak. Sama kamu capekku hilang. Dan makin happy lagi karena ada berita besar, sayang."


Perempuan: "Oya?"


Laki-laki: "Sebentar lagi kita bisa kuasai 60% investasi saham PT. Sentani Mandiri."


Neyza terkejut. Ia tidak salah mendengar. Pria tadi menyebutkan usaha sang Papa yang memang sedang ada masalah dengan pemegang saham. Suaranya memang nyaris seperti suara Tito. Tapi ia tak yakin sebelum melihat langsung. Ia melirik Rion, nampaknya Rion sudah menyalakan rekaman itu sedari tadi. Mereka berdua mendengarkan dengan seksama apa yang akan terjadi dalam percakapan mereka.


Perempuan: "Smooth, ya? Berita kematian yang buat semua orang jadi sedih. Dokumen yang aku ambil di malam pertama itu benar-benar kejutan besar. Berbulan-bulan aku siapin ini. Buat tahu celah Rion dan keluarganya. Dan akhirnya bikin dia patah hati selama setahun ini, maybe."


Laki-laki: "Rencana kamu gila, sayang."


Perempuan: "Tito, sampai anak Pak Bas aku setting diculik. Tapi akhirnya ketahuan polisi. Anaknya tangguh juga, ya?"


Laki-laki: "Sejak awal aku gak setuju sih kamu bikin rencana sama Neyza."


Laki-laki: "Ya, kan dulu, sayang. Lagian dia nolak aku mentah-mentah."


Perempuan: "Aku aja gak perlu usaha besar Rion udah bertekuk lutut sama aku. Hahaha... konyol."


Rion mengepalkan tangannya dengan erat. Emosinya memuncak. Namun ia bertahan demi banyak fakta.


Laki-laki: "Untung aja kamu gak ngapa-ngapain sama dia di malam pertama."


Perempuan: "Aku uda malam pertama duluan sama kamu, Tito."


Laki-laki: "Pokoknya kamu nggak usah ke Jakarta. Dua bulan ke depan kalo rencana Papa Mama kamu berhasil, kita pindah ke Amerika. Kita hidup di sana."

__ADS_1


Rion: "Atau pindah dan hidup kalian habis di penjara, penipu."


Rion keluar dari dalam lemari untuk segera memergoki Hani dan Tito. Hani dan Tito sangat terkejut hingga Hani menjatuhkan sendok yang berada di atas piring. Tito berdiri dan segera mengambil ancang-ancang untuk melindungi Hani.


Rion: "Jadi lu. Biangnya. Lu berdua ternyata bakat penjahat dari keluarga. Gak nyangka gue."


Hani: "Rion, gimana... "


Rion: "Kalian harusnya belajar dari sekolah dulu. Kejahatan gak punya tempat di dunia ini. Lambat laun kalian bakal ketahuan. Kebongkar apa yang akan terjadi."


Hani mendekati Rion. "Kamu kenapa, sih?" Rion mencoba menolak kedatangan Hani. "Kamu punya hati gak, sih?" amarah Rion memuncak. "Gimana bisa perempuan kayak lu hidup di dunia ini?"


Tito: "Heh, jaga mulut kamu."


Rion: "Mulut? Harusnya mulut kalian yang ditutup. Belum puas dengan harta kalian, hak orang lain ikutan lu gasak? Serakah lu berdua."


Hani: "Diam kamu, Tito. Kalo bukan karena kamu nolong si Neyza itu, kalo bukan karena kamu dekat dengan dia. Semuanya gak jadi begini."


Rion: "Semua yang terjadi bukan karena gue deket sama Neyza. Tapi emang lu aja yang kayak setan tabiatnya."


Tito melayangkan pukulan ke arah Rion. Rion tersungkur ke lantai. Hani menaruh anaknya yang sedang tidur di tempat tidur secepat mungkin. Rion berdiri dan hendak memukul Tito. Hani dengan sigap melempar gelas ke arah Rion. Darah segar mengucur di pelipis Rion. Tersungkur dia kali membuat ia kehilangan separuh energi. Matanya kabur. Ia sempoyongan. Ia mencoba berdiri. Amarah membuatnya ingin menghakimi Hani dan Tito. Hani yang saat itu memegang vas bunga yang terletak di meja makan membuat sebuah kode rahasia kepada Tito agar ia segera membawa Rion ke arahnya. Pukulan itu mungkin akan langsung menumbangkan Rion. Seketika Tito menarik lengan Rion dan sesaat kemudian Hani akan melayangkan tangannya untuk memukul kepala Rion.


Braaaak.


Hani tersungkur. Tito dan Rion melihat Hani tak sadarkan diri. Ia melihat Neyza sedang melayangkan tendangannya ke arah Hani. Rion lupa, bahwa Neyza mempunyai skill bela diri. Ia bukan perempuan pendiam.


Tito memeluk Hani. Ia pun tersulut amarah sambil memandang Neyza. Seketika ia mengambil tas yang ada di dekatnya. Sebuah pistol yang ia pegang diarahkan kepada Neyza.

__ADS_1


Dooor.


__ADS_2