
Seorang pria tampan yang berdiri di ujung jalan memasuki area rumah kontrakan. Terkejut dengan perkataan Manji tentang pernikahan. Tito juga mengagetkan Neyza, Weni, tak terkecuali Rion.
Neyza : "Tito. Ngapain di sini? "
Yang ditanya hanya tersenyum. Tito lalu mendekat ke rumah Neyza. Weni yang cepat-cepat membuka pintu masuk rumah terlebih dahulu. Tito dan Neyza lalu menyusul kemudian. Rion yang hanya terdiam di depan rumah juga kembali masuk dengan penasaran yang hebat.
Di dalam rumah Neyza, Tito duduk di ruang tamu bersama Neyza. Sedangkan Weni ke dapur Neyza untuk menyiapkan minuman. Ia kembali ke ruang tamu untuk menemui Neyza.
Weni : "Gula habis, Ney. Aku ke minimarket depan situ, ya."
Neyza mengangguk tahu bahwa itu adalah sebuah alasan Weni untuk membiarkan ia dan Tito berdua. Kini Neyza bingung bagaimana bisa Tito mengetahui ia mengontrak sebuah rumah.
Neyza : "Kok bisa tahu aku di sini?"
Tito : "Mamamu cerita waktu aku mampir ke rumah dua hari lalu."
Neyza : "Kan gak penting juga, To."
Tito : "Kalo itu tentang kamu, penting, Ney."
Neyza : "Makasih, To. Tapi aku baik-baik aja."
Tito : "Harus kontrakan? Ini kebalikan kehidupanmu, Ney."
Neyza : "Dan aku suka kehidupan baruku. Dengan sederhanyanya pemikiran orang-orang ini."
Tito mengangguk. Menghormati keputusan Neyza.
Tito : "Asal kamu baik-baik aja. Semua orang jadi gak khawatir."
Neyza : "Gak perlu takut. Ini cuma sementara. Tapi gak tahu kapan."
Weni memilih beberapa makanan di minimarket. Ia menuju kasir untuk membayar belanjaannya. Setelah petugas kasir memberikan total biaya, ia hendak membayar.
"Bayarnya sama belanjaan saya, mbak." Sahut seseorang.
Weni menoleh ke arah suara.
"Tetangga sebelah Neyza, ya?", Weni bertanya.
Rion : " Iya. Gue Rion. Belanjaan lo gue bayar."
Weni mengangguk. Nama Rion nampak tak asing di telinga Weni karena Neyza sering membicarakan Rion kepada Weni.
Weni dan Rion berjalan pulang setelah berbelanja dari minimarket. "Temenan sama Neyza udah lama?", tanya Rion. "Dari kecil kita. Keluarga besar juga udah kenal. Rumah kita gak seberapa jauh."
Rion : "Dimana emang?", Weni terkejut dengan pertanyaan Rion. Ia harus merahasiakan siapa sesungguhnya Neyza. "Di Jawa", jawab Weni singkat.
Weni : " Kamu tinggal dimana?"
Rion : "Depok."
Weni : "Eh, Rion. Boleh mampir rumahmu? Sungkan ada Tito sama Neyza di rumah. Kayaknya mereka butuh bicara."
Rion : "Ooo, itu pacarnya si Neyza?"
Weni : "Bukan. Temenan doang."
Rion : "Berarti Si Tito yang suka sama Neyza."
Weni : "Eh.. kok kamu tahu?"
Rion : "Laki-laki datang ke rumah perempuan kemungkinan besar dia perhatian. Gue kan laki-laki."
__ADS_1
Keduanya tertawa sembari masuk ke dalam rumah Rion.
Tiga puluh menit berlalu. Terdengar suara Tito dan Neyza di luar rumah. Rupanya Tito pamit hendak pulang.
Weni yang mendengar kepergian Tito. Ia lalu keluar dari rumah Rion. Mendapati Neyza yang masih di depan rumah.
Neyza : "Ish... kemana aja sih? Katanya beli gula. Beli di Singapura?"
Weni : "Gak berani ganggu. Hihihi..."
Neyza : "Terus mana sekarang gulanya?"
Weni : "Eh iya ya. Kok lupa tadi cuma beli jajan terus dimakan sama Rion sama Bili."
Neyza : "Ha? Dasar yaa. Ayok pulang."
Weni tertunduk seperti anak kecil dan masuk ke rumah Neyza. Sementara Neyza masih di luar Rion dari depan pintu tertawa.
Neyza : "Heh. Ngapain kamu ketawa?"
Rion : "Jangan marah-marah, nek. Cepet tua."
Neyza : "Riooon."
Bili keluar karena suara Neyza.
Bili : "Kenapa, bre?"
Rion : "Huaaa... gue dipukul nenek.", Rion menggoda Neyza sambil masuk ke dalam rumah.
Neyza yang kesal memanyunkan bibirnya masuk ke dalam rumah.
"Wah gila lu, bre. Godaan anak orang sampe manyun gitu.", ujar Bili memasuki rumah.
Bili : "Lu suka ya sama dia?"
Rion tak menanggapi pertanyaan Bili.
Rion : "Masa iya gue suka sama perempuan suka marah-marah?"
Bili : "Kalo akhirnya Tuhan jodohin lu sama dia?"
Rion : "Ya mau gimana lagi?"
Bili : "Berarti sekarang lu suka sama dia."
Rion : "Saat ini belum, Bre. Gue kan sukanya sama si entuh terus ditolak."
Bili : "Iya, ya. Miris juga kisah cinta lo."
Rion : "Heh... "
Bili tersenyum.
Suara notifikasi dari handphone Neyza terdengar. Sebuah pesan masuk.
Neyza melihat layar ponselnya. Menghembuskan napas yang berat.
Weni : "Kenapa, Ney?"
Neyza diam. "Tito?", sambung Weni.
Neyza : "Iya."
__ADS_1
Weni : "Terima aja napa sih? Dia kan baik."
Neyza : "Bingung."
Weni : "Bingung? Maksudnya?"
Neyza : (menarik napas) "Hmm... Dia baik banget. Banget. Kalo aku terima dia. Bener-bener gak punya perasaan apa-apa."
Weni : "Ya gitu ya emang hati gak bisa dibohongi."
kriiiing... kriiiing...
Ponsel Neyza kembali berdering.
Nama Mama tertera di layar handphone Neyza. Neyza mengangkatnya. "Halo, Ma."
Suara tangisan Mama membuat Neyza terkejut.
Neyza : "Ma, mama kenapa? Kenapa nangis?", tanya Neyza dengan sedikit khawatir.
Mama : " Papa dibawa Polisi, Ney."
Neyza : "Polisi? Kenapa, Ma?", Neyza penasaran.
Mama : " Karena penipuan. Padahal Ney tahu Papa gak mungkin begitu."
Neyza : "Mama dimana? Ney kesitu.", Setelah memberitahu keberadaan Mamanya, Neyza menutup telepon dan segera berkemas. Ia mengajak Weni yang bertanya-tanya apa yang terjadi di telepon saat ini. Weni dan Neyza keluar rumah terburu-buru. Bersamaan dengan itu, Rion dan Bili baru saja akan pergi. Melihat wajah Neyza yang panik, ia hendak bertanya. Karena Neyza berjalan cepat ia hanya melihat Neyza dan Weni berlalu di hadapan ia dan Bili.
Rion : "Kenapa si nenek sama Weni mukanya kayak gitu?," Bili menggeleng tanda tak tahu.
Neyza dan Weni di sebuah kantor Polisi. Ia menemui sang Mama dan dua orang pengacara Papa. Mama yang sedang murung hanya memegang tas kecilnya.
Neyza : "Ada apa sih, ma?"
Mama : "Tiba-tiba tadi pagi ada surat panggilan. Katanya proyek di Sumatra itu ada dana alokasi yang dikorupsi Papa. Tadi waktu diinterogasi, ada bocorin kalo surat penyerahan tanah dekat sungai itu ada tanda tangan Papa. Mama tahu Papa gak mungkin ambil tanah masyarakat di situ. Papa dijebak orang. Mama yakin."
Neyza : "Ney juga tahu kok kalo tanah yang di Sumatra itu. Pernah ngobrol sama Papa tahun lalu. Ish.. Jahat banget sih. Siapa sih yang tega kayak gitu?"
Mama hanya merenung dan Neyza segera memeluk sang Mama agar merasa lebih tenang.
Pengacara : "Bu. Mungkin bisa pulang dan beristirahat. Nanti tim pengacara kami segera datang untuk mengusut tuntas kasus Bapak. Kami sudah menyiapkan banyak hal karena takut kejadian seperti ini akan terjadi. Ibu tidak usah khawatir. Doakan kami agar masalah ini mengalami titik terang."
Neyza : "Iya, Ma. kita tidak banyak membantu kalo di sini. Kita pulang, ya?"
Mama mengangguk. Neyza dan Weni segera pulang.
1 jam kemudian, saat semua sudah berada di rumah. Mama masuk ke kamar bersama Neyza. Sedangkan Wedi duduk di meja makan.
"Wen, kenapa si nenek? Keburu amat tadi.", sebuah pesan dari Rion ke arah Weni.
Weni membalas pesannya, "Papa Neyza dipolisikan."
Rion : "Ha? Dipolisikan gimana?"
Weni membalas panjang kronologis yang ia tahu dari Neyza dan Mama saat di perjalanan tadi.
Weni : "Pokoknya panjang. Doanya." Weni mengakhiri pesannya pada Rion.
Rion terkejut dengan penjelasan Weni. Ia tahu bahwa Papa Neyza bukan orang biasa.
Dari data nama Papa Neyza dari Weni, Rion mencoba ingin tahu apa yang terjadi.
"Pak... bisa bantu saya?", suara Rion nampak berat kepada seseorang di telepon.
__ADS_1
Ada apa?