
Neyza kembali menelan ludah. Apa harus menikah? Atau? Tapi kedua orang tua ini sangat ingin anak-anaknya menikah. Neyza memilih sendiri perjodohan ini dengan hati yang random. Namun tak ada salahnya saat menerima pinangan tersebut. Karena keikhlasan Neyza dan seseorang yang belum ia kenal merupakan sebuah langkah yang baik. Mereka hanya perlu beradaptasi dengan baik untuk bisa saling mengerti. Toh, pernikahan kan bagian dari ibadah. Semua sepakat, dilandasi cinta atau tidak. Pernikahan sangat mungkin terjadi.
Neyza: "Terima kasih sebelumnya, Om, Tante, Mama dan Papa yang memikirkan masa depan Neyza sejauh ini. Pernikahan buat Neyza adalah gerbang kemandirian yang tak bisa ditawar oleh apapun. Neyza ingin banyak belajar dari pernikahan. Bukan karena Neyza tidak sanggup memilih seorang pria. Tapi berangkat dari niat yang baik itu bisa membuktikan kesungguhan Neyza terhadap bakti kepada Mama Papa."
Mama: "Terima kasih, Nak. Apapun yang menjadi keputusan Neyza. Mama, Papa Om dan Tante akan menerima."
Neyza: "Semoga ini yang terbaik. Neyza mau menikah dengan pilihan Mama dan Papa."
Mama memeluk Neyza, lalu Tante Fani.
Tante Fani: "Terima kasih, Nak. tante senang sekali Neyza mau menerima kami. Bukan hal yang mudah kami menemukan keluarga seperti kalian. Kami yakin niat baik ini akan berujung kebahagiaan.
Om Ginrey: "Syukurlah. Kalo begitu kapan kita bisa melangsungkan pernikahannya?"
Papa: "Semakin cepat semakin baik. Saya gak sabar menimang cucu."
Mama: "Papa ini. Kita semua memang gak sabar punya cucu."
Neyza: "Mama, nih."
Tante Fani: "Kami pamit dulu, ya? Harus segera ke bandara. Kami masih ada perlu."
Papa: "Betul betul. Jadwal tidak boleh ditinggalkan. Terima kasih sudah datang kemari. Kapan-kapan saya mampir ke rumah Pak Ginrey. Kabari saya kalo sudah ada di Indonesia."
Tante Fani: "Kami yang Terima kasih sudah diterima di keluarga ini."
Neyza: "Terima kasih, Om, Tante."
Mama: "Pokoknya setelah ini kita hidup bahagia."
Tante Fani dan Om Ginrey segera meninggalkan rumah Neyza untuk segera pergi ke bandara. Neyza kembali ke kamarnya. Mengambil ponselnya dan menghubungi Weni. Ya, siapa lagi?
Neyza: "Wen, bisa ke rumah gak?"
Weni: "Nih aku mau ke rumahmu. Tadi kamu miskol aku beberapa kali. Aku pikir kamu ada apa-apa."
Neyza: "Iya aku emang lagi ada perlu penting."
Lima belas menit kemudian Weni sudah sampai di rumah Neyza dan segera masuk ke kamar Neyza. "Kenapa? Kamu sakit?" kata Weni.
Neyza: "Gak. Aku gak sakit, kok."
Weni: "Terus?"
Neyza: "Deket lagi kamu jadi bridesmaid, ya?"
Weni: "Ha? Maksudnya?"
Neyza: "Aku mau minta tolong jadi pengiring pengantin."
Weni: "Ada sodara yang mau nikah emangnya?"
__ADS_1
Neyza: "Hih.Gimana, sih? Aku yang mau nikah, Wen."
Weni: "Apaaaaaa? Gak mungkin. Ini bulan April Mop kan, ya? Cerita cerita. Kamu kenapa bikin cerita lucu gini. Kamu lagi gak ulang tahun, Ney."
Neyza dengan muka yang datar memandang Weni. "Apa aku lagi ketawa sekarang?"
Weni: "No waaaaaay. Maksudnya apa, sih, Ney?"
Neyza: "Barusan aja calon mertuaku balik pulang."
Weni: "Jelasin satu-satu! "
Neyza: "Tadi malam aku ngobrol sama Mama. Kata Mama dia pingin gendong cucu. Aku bilang kalo aku gak punya pacar."
Weni: "Terus? Kamu dijodohin?"
Neyza: "Aku yang minta."
Weni: "Kamu gila, Ney? Kamu ambil keputusan terlalu cepat. Hei.. Jangan gegabah kamu, ya? Ini kan pernikahan. Bukan kerja kelompik."
Neyza: "Dengerin dulu. Aku bilang itubjuga dalam keadaan sadar, kok. Dan paginya aku dibangunin suruh pake baju yang bagusan. Ternyata pagi itu ada dua orang suami istri yang datang ke rumah."
Weni: "Cowoknya gimana?"
Neyza: "Dia gak ikut. Di luar negeri. Ada kerjaan penting. Jadi yang mewakili orang tuanya."
Weni: "Namanya cowoknya sapa?"
Weni: "Gak sesimpel itu."
Neyza: "Aku juga gitu, sih."
Weni: "Kamu itu pelarian dari Rion. Kamu berusaha buat jauhin diri dari Rion."
Neyza: "Kalo emang itu cara yang terbaik. Kenapa enggak, sih, Wen?"
Weni menggelengkan kepalanya. "Kenapa kamu gak punya usaha untuk dapetin dia? Toh dia sekarang lagi sendiri. Apa kamu gak pingin hidup sama dia sampai tua?"
Neyza: "Aku juga gak tahu mesti gimana, Wen. Ketemu Rion aja aku gak tahu mesti kasih sikap gimana? Bawaanku diam kayak anak kecil yang lagi marah."
Weni: "Kamun kayak memposisikan diri kamu jadi pacar dia, ya? yang kalo marah ngambek gak jelas. Ditanyain jawabnya 'terserah'."
Neyza berpikir sejenak. Lalu mengiyakan apa yang dikatakan sahabatnya itu. Sekali lagi, bahkan berkali-kali, Weni selalu tepat dalam membaca pikirannya. "Terus aku mesti gimana?" Neyza menutup mukanya dengan bantal. "Ya kamu tolak lah pernikahan ini. Kan belum persiapan semuanya," kata Weni memberikan solusi.
Neyza: "Aku udah terlanjur bilang Terima, Weni."
Weni: "Setidaknya kamu mencoba."
Neyza: "Gak gak. Aku gak mau merusak kebahagiaan Mama Papaku. Biarkan. Mungkin aku gak berjodoh sama Rion. Ini konsekuensi. Toh setahun lalu aku bisa laluin ini."
Weni: "Kamu belum sembuh, Ney. Kamu masih keinget-inget Rion. Masa kamu Gak sadar? Kan tiap ketemu ngambek mulu."
__ADS_1
Neyza: "Eh, iya juga, ya? Tahu, ah."
Weni: "Yaudah, kalo. emang itu jadi keputusan akhir kamu. Aku dukung ya, Ney. Aku juga bahagia kalo kamu bahagia."
Neyza memeluk Weni. "Kamu orang paling ngerti aku, Weni. Jangan bosen-bosen ingetin aku, ya?"
Weni: "Yaudah, ayo beli martabak. Aku laper."
Neyza dengan sigap mengambil ponselnya dan segera memesan makanan.
Beberapa bulan kemudian
Bili masuk ke ruangan Rion dan mendapati Rion sedang sibuk mengatur berkas.
Bili: "Bre."
Rion: "Hmm."
Bili: "Pelit amat balasnya."
Rion: "Kenapa emang?"
Bili: "Weni barusan telepon. Kita diundang."
Rion: "Makan malam? Wah, sama. Neyza, dong."
Bili: "Iya makan malam prasmanan gitu.*
Rion: " Ada acara apa? Sunatan?"
Bili: "Elu, nih. Masak cewek-cewek sepeda gaban gitu sunat. Bisa ae."
Rion: "Apaan?" Rion masih sibuk dengan tumpukan kertas-kertas di atas mejanya.
Bili: "Neyza nikah minggu depan."
Rion menaruh kertasnya dan melihat Bili. "Apa?"
Bili mencoba menenangkan Rion.
Rion: "Yang bener lu kalo ngomong."
Bili: "Tadi ditawari undangan. Gue bilang gak usah entar gue ngomong sendiri sama lu. Minggu depan, Bre."
Rion: "Kok nikahnya gak sama gue aja? Ah, sedih gue, Bil."
Bili: "Wah, kalo lu udah manggil nama gue kayak gini berarti beneran lu patah hati."
Rion memegang dadanya.
Sesak.
__ADS_1
Hati.