Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 96 Selamat Datang


__ADS_3

Pagi itu, Lalita bercermin


memantaskan pakaian yang akan ia gunakan. Baju berwarna biru muda dan celana


berwarna abu-abu. Rambutnya yang panjang sebahu ia sisir rapi. Ia menyemprotkan


sedikit parfum ke lengannya. Wangi lavender kesukaannya itu sellau menemaninya


di segala aktifitas. Tepat seminggu yang lalu setelah kabar bahwa Hani telah


berada di rumah Heri, Lalita segera mempersiapkan diri untuk bertemu dengan


sang Mama dimana belasan tahun belakangan ini tak bertemu secara langsung.


Neyza dan Rion juga tengah


bersiap mengantar Lalita. Sedangkan Rui tidak mengantar sang Kakak karena ia


harus menyelesaikan sebuah praktek di kampusnya. Namun sebuah perpisahan kecil


sudah mereka lakukan malam hari, sesaat sebelum mereka tidur.


Kala itu, Rui yang telah tahu


berita kepulangan Hani tak kuasa menahan rasa sedihnya. Ia segera menemui Lalita


dan menanyakan perihal ini. “Kakak jadi pergi?” Lalita mengangguk sambil


merapikan pakaiannya. Ia tak lantas membawa semua pakaiannya. Separuh pakaian


di lemarinya akan ia bawa ke rumah Heri. Namun separuhnya lagi sengaja ia


tinggalkan karena menurut Lalita, selamanya, rumah ini adalah rumahnya. Tempat ia


dibesarkan dengan banyak cinta. Rui memesan satu box pizza kesukaan Lalita. Minuman


cokelat boba gula aren, kentang panggang dan semangok salad. Malam ini mereka


akan berbicara sampai larut malam. Menghabiskan waktu yang tersisa sebagai Adik


dan Kakak.


“Rui, Kakak bakal sering-sering


kok ke sini. Kakak kan juga udah lama gak ketemu Mama Hani. Jadi butuh


adaptasi,” Rui dan Lalita memang tahu perihal mereka bukanlah saudara kandung. Namun


Neyza dan Rion menyimpan rapat masa kelam orang tua Lalita yang berbuat jahat


kepada mereka. Rui hampir menangis karena Lalita mencurahkan betapa ia tidak


akan bisa lepas dari keluarga ini. Rui memeluk sang Kakak. “aku juga gak bakal


lupa sama Kakak. Kita memang sodara, kan?” Lalita menyeka air matanya. Ia tak


pantas menangis. Ini bukan sebuah bencana. Kedatangan Hani dibuat sebagai


tambahan kebahagiaannya. Esok hari, ia tak lagi memintal rindu pada sang Mama. Ia


akan kembali ke pelukannya. Rui paham tentang itu. Posisi Lalita tentu saja


sulit. Ia tak bisa memilih keduanya, Hani dan Neyza bukanlah pilihan. Mereka punya


posisi yang sama. Orang tua Lalita. Mereka asyik berbicara hingga pukul satu


malam. Mereka lalu tidur di kamar Rui.


Mobil Rion melaju dengan pelan. Ia


ingin menyiratkan sebuah makna bahwa ia tak ingin mobil ini cepat sampai ke

__ADS_1


rumah Heri. Ia masih ingin bersama Lalita. Mungkin Rion tak seperti Neyza yang


larut dalam perihal perpindahan Lalita. Namun ia juga manusia. Lalita juga ia anggap


anak sendiri jauh sebelum Rui lahir. Ia menjaga Lalita selama semalaman, saat Lalita


mennagis di malam hari. Ia menggendong Lalita ia pagi hari. Tertidur dalam


dekapannya. Sambil berbaring atau hanya sekedar duduk. Ia orang yang paling


girang menyambut kejutan Lalita saat anak perempuan itu baru menapaki kakinya


untuk pertama kali berjalan. Rion tak mampu membendung rasa bahagianya. Ia bahkan


meniadakan rapat penting dengan klien besar hanya untuk menemai Lalita


jalan-jalan atau saat ia sedang sakit. Rion, sellau ada untuk Lalita kala itu. Bahkan


sampai sekarang.


Sambil menyetir, ia mengingat


sebuah percakapan anak perempuan dengan ayahnya itu. Kala itu, Lalita bercerita


betapa ia sangat mengagumi seorang Kakak tingkatnya. Secara menggebu-gebu ia


bercerita kepada Rion. Namun sang Papa nampaknya hanya berekspresi datar. Tak ada


senyuman atau hal lain yang harus ia tunjukan kepada Lalita. Setelah Lalita


selesai bercerita. Rion malah sedikit merengek kepada Neyza. Ia berusaha jujur


bahwa ia cemburu pada pria yang dikagumi Lalita. Ia merasa Lalita masih belum


dewasa untuk jatuh cinta. Neyza yang mendengarkan cerita Rion malah tertawa. Rion


nampaknya sedikit protektif terhadap anak perempuannya. Lalita dan Rui dilarang


menikah.


Lalita mengenggam kedua tangannya


saat mobil Rion masuk ke halaman rumah Heri. Wajah Neyza sedikit muram, namun


cepat-cepat ia alihkan agar tidak ketahuan. Rion dan Neyza turun terlebih


dahulu. Heri telah menyambut merea di depan pintu. Lalita menguatkan dirinya. Ini


hari besar untuknya dan Hani. Ia turun, menemui Heri. Memeluk pamannya itu. Lalu


mereka bertiga dipersilahkan masuk oleh Heri. Ketika mereka masuk, seorang


perempuan berpakaian putih dengan rambut terikat tengah berdiri menyambut


mereka. Neyza memeluk Hani. Lalita hanya berdiri beberapa langkah menatap Hani.


Kaku. Keduanya nampak menahan emosional yang besar. Masih belum tahu bagaimana


harus memulai hubungan mereka lagi. Semenjak Lalita berumur beberapa bulan ia


meninggalkannya, hidup dengan menebus kesalahannya. Sedangkan Lalita, ia sudah


terbiasa dipeluk oleh Neyza dan Rion. Sehingga tersemat dalam pikirannya, ranum


wangi tubuh Neyza dan Rion.


Hani tak berani melebarkan


tangannya. Membiarkan Lalita pergi ke pelukannya. Ia takut, Lalita menolaknya. Namun


belum sampai berhenti ia berpikir, Lalita justri berjalan ke arahnya dan

__ADS_1


memeluk sang Mama. Hani menangis memeluk Lalita, pun Lalita. Rindu mereka sudah


pada puncaknya. Keduanya seakan-akan ingin menghadirkan sebaris kenangan yang


dulu pernah lakukan bersama. Lalita membaur pada pelukan Hani. Ia sadar, bila


bukan dalam bimbingan Neyza dan Rion, mungkin ia akan menolak kehadiran Hani.


Neyza menangis memeluk Rion. Hal yang


ia takuti tak terbukti. Lalita tak menolak Hani. Ia tak menduga, momen kali ini


akhirnya datang juga. Lalita akan kembali kepada Hani. Mereka duduk bersama di


ruang keluarga Heri yang besar itu. Heri tengah sibuk menyiapkan makanan ringan


untuk disantap bersama. Rion sesekali berdiri untuk membantu Heri.


“Repotin lu aja,” ujar Rion. Heri


hanya menggeleng dan menepuk pundak Rion. “Makasih. Sudah jagain Lalita dan besarin


anak ini dengan jadi anak yang baik,” kata Heri dengan suara sedikit bergetar. Rion


tak mampu menjawabnya. Ia pun tengah mengatasi keluhan hatinya sendiri.


“Lalita, gak perlu buru-buru


tinggal di sini sama Mama. Lalita bisa tinggal di rumah Mama Hani kapan pun Lalita


mau,” kata Hani. Lalita tersenyum. “Gak, Ma. Ta sering tidur di rumah Paman Heri.


Ta pingin tinggal di sini sama Mama,” Lalita meyakinkan Hani. Neyza tentu saja


senang, Lalita memutuskan sebuah pernyataan yang membuat Hani senang.


Satu jam kemudian, Neyza dan Rion


pamit untuk pulang. Satu satu keduanya memeluk Lalita. Berpesan dengan banyak kalimat


menenangkan. Lalita berjanji bila sewaktu-waktu ia akan menginap di rumah Neyza.


Mobil Rion melaju keluar dari rumah Heri. Lalita berjalan masuk dengan Hani. Mencoba


menata kehidupan yang baru.


Sementara di dalam mobil dalam


perjalanan pulang. Rion dan Neyza hanya diam saja. Mereka tak saling


berpendapat tentang kejadian yang baru saja terjadi. Rion memberhentikan


mobilnya di pinggir jalan. Neyza masih diam saja. “Kamu pingin nangis gak,


sayang?” suara Rion mulai goyah. Neyza tak kuat menahan air matanya. Ia mengangguk


dan menangis. Rion mengambil sehelai tisu dan mengikuti langkah Neyza menangis.


Setelah sepuluh menit dalam kesedihan masing-masing, Neyza mulai berhenti dengan


tangisannya. Ia lalu menyeka air matanya. “Ke gerai cepat saji yuk, sayang,”


katanya. Rion mengangguk. Setuju bahwa mereka butuh waktu untuk menenangkan


diri.


Keduanya masuk ke salah satu


gerai burger dengan mata yang sembab. Memesan dua burger, salad buah dan dua


gelas cola dingin. Menikmati kesedihan dengan makanan.

__ADS_1


(bersambung)


__ADS_2