
Pagi itu, Lalita bercermin
memantaskan pakaian yang akan ia gunakan. Baju berwarna biru muda dan celana
berwarna abu-abu. Rambutnya yang panjang sebahu ia sisir rapi. Ia menyemprotkan
sedikit parfum ke lengannya. Wangi lavender kesukaannya itu sellau menemaninya
di segala aktifitas. Tepat seminggu yang lalu setelah kabar bahwa Hani telah
berada di rumah Heri, Lalita segera mempersiapkan diri untuk bertemu dengan
sang Mama dimana belasan tahun belakangan ini tak bertemu secara langsung.
Neyza dan Rion juga tengah
bersiap mengantar Lalita. Sedangkan Rui tidak mengantar sang Kakak karena ia
harus menyelesaikan sebuah praktek di kampusnya. Namun sebuah perpisahan kecil
sudah mereka lakukan malam hari, sesaat sebelum mereka tidur.
Kala itu, Rui yang telah tahu
berita kepulangan Hani tak kuasa menahan rasa sedihnya. Ia segera menemui Lalita
dan menanyakan perihal ini. “Kakak jadi pergi?” Lalita mengangguk sambil
merapikan pakaiannya. Ia tak lantas membawa semua pakaiannya. Separuh pakaian
di lemarinya akan ia bawa ke rumah Heri. Namun separuhnya lagi sengaja ia
tinggalkan karena menurut Lalita, selamanya, rumah ini adalah rumahnya. Tempat ia
dibesarkan dengan banyak cinta. Rui memesan satu box pizza kesukaan Lalita. Minuman
cokelat boba gula aren, kentang panggang dan semangok salad. Malam ini mereka
akan berbicara sampai larut malam. Menghabiskan waktu yang tersisa sebagai Adik
dan Kakak.
“Rui, Kakak bakal sering-sering
kok ke sini. Kakak kan juga udah lama gak ketemu Mama Hani. Jadi butuh
adaptasi,” Rui dan Lalita memang tahu perihal mereka bukanlah saudara kandung. Namun
Neyza dan Rion menyimpan rapat masa kelam orang tua Lalita yang berbuat jahat
kepada mereka. Rui hampir menangis karena Lalita mencurahkan betapa ia tidak
akan bisa lepas dari keluarga ini. Rui memeluk sang Kakak. “aku juga gak bakal
lupa sama Kakak. Kita memang sodara, kan?” Lalita menyeka air matanya. Ia tak
pantas menangis. Ini bukan sebuah bencana. Kedatangan Hani dibuat sebagai
tambahan kebahagiaannya. Esok hari, ia tak lagi memintal rindu pada sang Mama. Ia
akan kembali ke pelukannya. Rui paham tentang itu. Posisi Lalita tentu saja
sulit. Ia tak bisa memilih keduanya, Hani dan Neyza bukanlah pilihan. Mereka punya
posisi yang sama. Orang tua Lalita. Mereka asyik berbicara hingga pukul satu
malam. Mereka lalu tidur di kamar Rui.
Mobil Rion melaju dengan pelan. Ia
ingin menyiratkan sebuah makna bahwa ia tak ingin mobil ini cepat sampai ke
__ADS_1
rumah Heri. Ia masih ingin bersama Lalita. Mungkin Rion tak seperti Neyza yang
larut dalam perihal perpindahan Lalita. Namun ia juga manusia. Lalita juga ia anggap
anak sendiri jauh sebelum Rui lahir. Ia menjaga Lalita selama semalaman, saat Lalita
mennagis di malam hari. Ia menggendong Lalita ia pagi hari. Tertidur dalam
dekapannya. Sambil berbaring atau hanya sekedar duduk. Ia orang yang paling
girang menyambut kejutan Lalita saat anak perempuan itu baru menapaki kakinya
untuk pertama kali berjalan. Rion tak mampu membendung rasa bahagianya. Ia bahkan
meniadakan rapat penting dengan klien besar hanya untuk menemai Lalita
jalan-jalan atau saat ia sedang sakit. Rion, sellau ada untuk Lalita kala itu. Bahkan
sampai sekarang.
Sambil menyetir, ia mengingat
sebuah percakapan anak perempuan dengan ayahnya itu. Kala itu, Lalita bercerita
betapa ia sangat mengagumi seorang Kakak tingkatnya. Secara menggebu-gebu ia
bercerita kepada Rion. Namun sang Papa nampaknya hanya berekspresi datar. Tak ada
senyuman atau hal lain yang harus ia tunjukan kepada Lalita. Setelah Lalita
selesai bercerita. Rion malah sedikit merengek kepada Neyza. Ia berusaha jujur
bahwa ia cemburu pada pria yang dikagumi Lalita. Ia merasa Lalita masih belum
dewasa untuk jatuh cinta. Neyza yang mendengarkan cerita Rion malah tertawa. Rion
nampaknya sedikit protektif terhadap anak perempuannya. Lalita dan Rui dilarang
menikah.
Lalita mengenggam kedua tangannya
saat mobil Rion masuk ke halaman rumah Heri. Wajah Neyza sedikit muram, namun
cepat-cepat ia alihkan agar tidak ketahuan. Rion dan Neyza turun terlebih
dahulu. Heri telah menyambut merea di depan pintu. Lalita menguatkan dirinya. Ini
hari besar untuknya dan Hani. Ia turun, menemui Heri. Memeluk pamannya itu. Lalu
mereka bertiga dipersilahkan masuk oleh Heri. Ketika mereka masuk, seorang
perempuan berpakaian putih dengan rambut terikat tengah berdiri menyambut
mereka. Neyza memeluk Hani. Lalita hanya berdiri beberapa langkah menatap Hani.
Kaku. Keduanya nampak menahan emosional yang besar. Masih belum tahu bagaimana
harus memulai hubungan mereka lagi. Semenjak Lalita berumur beberapa bulan ia
meninggalkannya, hidup dengan menebus kesalahannya. Sedangkan Lalita, ia sudah
terbiasa dipeluk oleh Neyza dan Rion. Sehingga tersemat dalam pikirannya, ranum
wangi tubuh Neyza dan Rion.
Hani tak berani melebarkan
tangannya. Membiarkan Lalita pergi ke pelukannya. Ia takut, Lalita menolaknya. Namun
belum sampai berhenti ia berpikir, Lalita justri berjalan ke arahnya dan
__ADS_1
memeluk sang Mama. Hani menangis memeluk Lalita, pun Lalita. Rindu mereka sudah
pada puncaknya. Keduanya seakan-akan ingin menghadirkan sebaris kenangan yang
dulu pernah lakukan bersama. Lalita membaur pada pelukan Hani. Ia sadar, bila
bukan dalam bimbingan Neyza dan Rion, mungkin ia akan menolak kehadiran Hani.
Neyza menangis memeluk Rion. Hal yang
ia takuti tak terbukti. Lalita tak menolak Hani. Ia tak menduga, momen kali ini
akhirnya datang juga. Lalita akan kembali kepada Hani. Mereka duduk bersama di
ruang keluarga Heri yang besar itu. Heri tengah sibuk menyiapkan makanan ringan
untuk disantap bersama. Rion sesekali berdiri untuk membantu Heri.
“Repotin lu aja,” ujar Rion. Heri
hanya menggeleng dan menepuk pundak Rion. “Makasih. Sudah jagain Lalita dan besarin
anak ini dengan jadi anak yang baik,” kata Heri dengan suara sedikit bergetar. Rion
tak mampu menjawabnya. Ia pun tengah mengatasi keluhan hatinya sendiri.
“Lalita, gak perlu buru-buru
tinggal di sini sama Mama. Lalita bisa tinggal di rumah Mama Hani kapan pun Lalita
mau,” kata Hani. Lalita tersenyum. “Gak, Ma. Ta sering tidur di rumah Paman Heri.
Ta pingin tinggal di sini sama Mama,” Lalita meyakinkan Hani. Neyza tentu saja
senang, Lalita memutuskan sebuah pernyataan yang membuat Hani senang.
Satu jam kemudian, Neyza dan Rion
pamit untuk pulang. Satu satu keduanya memeluk Lalita. Berpesan dengan banyak kalimat
menenangkan. Lalita berjanji bila sewaktu-waktu ia akan menginap di rumah Neyza.
Mobil Rion melaju keluar dari rumah Heri. Lalita berjalan masuk dengan Hani. Mencoba
menata kehidupan yang baru.
Sementara di dalam mobil dalam
perjalanan pulang. Rion dan Neyza hanya diam saja. Mereka tak saling
berpendapat tentang kejadian yang baru saja terjadi. Rion memberhentikan
mobilnya di pinggir jalan. Neyza masih diam saja. “Kamu pingin nangis gak,
sayang?” suara Rion mulai goyah. Neyza tak kuat menahan air matanya. Ia mengangguk
dan menangis. Rion mengambil sehelai tisu dan mengikuti langkah Neyza menangis.
Setelah sepuluh menit dalam kesedihan masing-masing, Neyza mulai berhenti dengan
tangisannya. Ia lalu menyeka air matanya. “Ke gerai cepat saji yuk, sayang,”
katanya. Rion mengangguk. Setuju bahwa mereka butuh waktu untuk menenangkan
diri.
Keduanya masuk ke salah satu
gerai burger dengan mata yang sembab. Memesan dua burger, salad buah dan dua
gelas cola dingin. Menikmati kesedihan dengan makanan.
__ADS_1
(bersambung)