
"Lisa!"
Lisa menoleh ke sumber suara. Lisa tersenyum. "Kak Bili? Kok ada di sini?" Bili tersenyum. "Aku baru tahu dari Rion kalo kamu balik ke Korea. Kapan balik?" tanya Bili. Lisa memberikan tiga jari sebagai jawaban. "Tiga bulan aja. Kenapa emang?" Bili tersenyum. "Tanya aja. Aku titip sesuatu, ya?" Lisa mengerutkan alisnya? "Apa?" Bili berpikir sejenak. "Jangan cewek-cewek Korea, ya? Berabe nanti," kata Lisa. "Lha kamu kan udah jadi cewek Korea. Aku titip jaga kesehatan kamu," Lisa mengangguk. "Ada Mamaku juga di sana. Jadi aman," Lisa menjanjikan dirinya. "Aku masuk dulu ya, Kak?" Bili mengangguk. "Hati-hati," Bili melambaikan tangannya. Lisa kemudian masuk ke dalam ruangan keberangkatan.
Seminggu berlalu. Rion dan Neyza tengah berada di rumah Regina yang tengah mengadakan sebuah rapat bersama para vendor pernikahannya dengan Ogi. Ketika empat hari yang lalu Ogi datang ke rumahnya bersama kedua orang tuanya untuk meminang Regina. Gayung bersambut. Orang tua Regina sangat bahagia dengan kedatangan lelaki setulus Ogi. Mereka tak butuh berlama-lama untuk mengenalkan diri. Ogi pernah datang ke rumah Regina saat kuliah dulu. Dan Regina pun pernah datang ke rumah Ogi. Itu pun tak sekali bersama teman-temannya. Hari pernikahan telah ditetapkan oleh kedua keluarga. Satu bulan lagi rencana itu harus segera terwujud. Ogi sangat sigap ketika dua orang yang terlintas dalam pikirannya. Neyza dan Rion pasti akan membantunya. Sepasang suami istri ini pun juga tak menolak. Alih-alih mereka hanya sebagai pendamping pengantin, mereka malah menawarkan diri sebagai panitia yang akan mengurus keperluan acara pernikahan itu.
Regina dan Neyza tengah berbincang tentang baju pengantin yang akan dipakai. Sedangkan Rion dan Ogi menata jadwal tentang tempat menginap keluarga dan kerabat dekat. Para vendor juga tengah sibuk membuat berbagai opsi sebagai variasi pilihan yang akan dipilih oleh calon pengantin. Menikah memang bukan hal yang mudah untuk ditata, namun sangat mungkin menjadi ringan bila dipikirkan secara matang.
Regina berdiri untuk mengambil secangkir teh di atas meja makan. Ia akan menunaikan isi teko ke dalam cangkir. Namun tiba-tiba entah kenapa tangannya seakan sangat licin sehingga teko Iicin jatuh dan mengenai kakinya. Kakinya tersiram air teh panas. Ia kesakitan. Ogi dan lainnya segera berdiri dan menolong Regina.
__ADS_1
Seorang asisten rumah tangga mengambil beberapa obat dari kotak pertolongan pertama yang gak jauh dari ruang makan tersebut. Perawatan pertama dilakukan Ogi yang sepertinya tahu tentang bagaimana mengobati luka panas. Karena kesakitan yang tak biasa, pada akhirnya Regina harus segera dilarikan ke rumah sakit.
Beberapa menit setelahnya Regina sudah berada dalam perawatan dokter di ruang UGD. Ogi menunggu dengan cemas. Neyza dan Rion juga tengah sibuk mengurus beberapa formulir pendaftaran Regina.
Tak lama setelah itu, Regina dibawa ke ruangan yang lain untuk menjalani pemeriksaan. Ogi segera bertanya kepada para medis. "Mau dibawa kemana?" tanyanya. "Dibawa untuk USG, pak. Kata pasien sebelum kejadian itu, perutnya melilit hebat," Ogi membiarkan medis itu pergi mengikuti Regina yang masuk ke ruangan lain.
Empat puluh menit kemudian, Regina lalu dibawa ke ruang pemulihan. Ogi dan yang lainnya segera mengikutinya. Neyza menemani Regina. Sedangkan Ogi dan Rion segera ke ruang Dokter untuk mengetahui kejelasan kesehatan Regina.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Ogi. Dokter melihat beberapa rekam medis Regina dari semenjak masuk ke UGD. Dokter menaruh kertas-kertas itu. Menatap Ogi. "Maaf, dengan siapa saya bicara?" tanya Dokter. "Saya calon suaminya, Dokter. Kami akan menikah bulan depan. Saat kejadian kami sedang rapat dengan para vendor," kata Ogi. "Jadi begini, Pak Ogi. Ini masih tahap observasi. Tapi dari hasil USG tadi. Saya melihat beberapa kejanggalan pada rahim Bu Regina. Saya masih belum bisa bertanya tentang bagaimana proses reproduksi kewanitaan Bu Regina. Karena tadi beliau masih dalam kesakitan. Namun kami sudah mengambil tindakan untuk mengurangi rasa panas di luka bekas air panas di kakinya itu. Untuk sementara biar dirawat dulu dan sambil berjalan untuk mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana keadaan rahimnya," Ogi mengangguk. "Kami ikutin kata Dokter saja. Yang terbaik untuk Regina. Dokter tersenyum. Dan Ogi pun keluar diikuti Rion.
__ADS_1
Di dalam kamar, Neyza tengah duduk di samping Regina. Ia melihat Regina yang terlelap tidur dengan kaki yang melepuh. Luka menganga besar itu memang sudah diobati, namun rasa sakit itu masih belum hilang. Ini butuh proses yang panjang. " Yang kuat, Regina. Kami ada buat kamu," kata Neyza. Rion dan Ogi masuk ke dalam kamar. Raut wajah Ogi terlihat jelas di mata Neyza. "Gi?" tanyanya. Rion memberikan sinyal diam dengan telunjuk di bibirnya. "Dia tidur. Sebelum kalian datang tadi, 20 menit lalu dia masih meringis kesakitan. Pelan. Terus sekarang dia tidur," Ogi mengangguk. "Makasih, Ney. Kalian boleh pulang sekarang. Biar aku yang jagain Regina. Habis ini Mama Papanya juga datang. Makasih banyak, ya?" Ogi menjawab dengan nada yang pelan. Takut mengganggu tidur Regina. Neyza dan Rion segera pamit dan pulang kembali. "Urusan vendor, serahin ke gue. Lu jagain Regina aja, ya. Jangan kepikiran," kata Rion. Ogi menepuk pundaknya. "Makasih, Rion. Gue hutang banyak sama lu," kata Ogi.
Neyza dan Rion dalam perjalanan pulang di dalam mobil. "Aku masih gak percaya. Kejadian ini cepet banget," kata Neyza. "Iya, sayang. Gak ada yang bakal nyangka, ya? Kita do'ain semua baik-baik aja," kata Rion. "Emang kata Dokter tadi kenapa?" Rion menghela napas. "Katanya ada sesuatu di rahim Regina. Besok mungkin baru tahu tindakan apa yang akan diambil. Ogi tadi minta Dokter ahli yang paling bagus. Dan bila perlu pengobatan di luar negeri segera aja," Neyza memegang tangannya. "Kenapa, Ney? Kamu sedih?" kata Rion. "Iya, aku gak bisa bayangin di posisi Regina. Mau menikah. Dan ada kejadian kayak gini. Pasti berat. Ogi kuat banget mau nemenin dia," kata Neyza. "Butuh pria yang kuat dan sabar. Kita gak bakal tahu apa yang terjadi ke depan," jawab Rion.
"Andai aku di posisi Regina dan kamu jadi Ogi? Kamu bakal ngapain?" tanya Neyza. "Kami para cowok juga manusia. Ada yang mikir tetap menemani karena hati sudah mengalahkan logika. Tapi ada juga yang berpikiran kalo akan meninggalkan si cewek ini karena menikah salah satu tujuannya biar bisa dapatin keturunan. Cuma kalo kamu nanya aku milih apa? Aku tetap nemenin kamu. Keturunan bisa didapat dari 'jalan mana aja'. Kita bisa berjuang bersama. Kalo belum, kita adopsi anak. Kalo belum. Kita cari cara gimana mindset bahagia tidak hanya pada sebatas kekurangan kita, " Rion meyakinkan Neyza.
Sang istri tersenyum.
(bersambung)
__ADS_1