
Rion berusaha menahan segalanya. Segala hal sekian lama ia baru tahu kalau selama ini ia hanya menjadi alat yang disetir oleh Hani. Dan yang tak terduga lainnya adalah ia malah menjadi korban keluarga Hani bersama Neyza. Ia kini paham permainan Hani dan Tito. Anak kecil yang ia gendong di hotel itu adalah buah cinta Tito dan Hani.
Rion: "Anak itu.."
Hani: "Sebelum menikah denganmu, aku sudah hamil anak Tito. Kami menikah setelah aku menikah denganmu."
Rion: "Bagaimana mungkin?"
Hani: "Pernikahan itu adalah permainan. Semua masalah orang bayaran. Penghulu, tamu, bahkan vendor yang ikut mendukung semua dibayar. Kami mampu melakukan itu."
Rion: "Tamu tidak. Mereka betul-betul datang untuk memberi restu apa lu tahu? Bener-bener sakit kalian."
Hani: "Selamanya aku gak suka sama kamu, Rion. Selamanya."
Rion mengepalkan tangannya. Terbuka sudah apa yang selama ini ia tangisi. Kesedihan ini hanya milik Rion. Hani tidak berada pada posisinya. Ia bukan pecinta.
Rion: "Gue Terima itu, Hani. Dan gue bisa simpulin kalo orang jahat bakal pake cara apapun untuk jatuhin orang, kayak bikin orang suka dan ninggalin dia begitu aja. Lu punya hak untuk suka sama orang lain. Dan kewajiban gue adalah kubur dalam-dalam semua yang ada pada lu. Gue beruntung sampai di sini Tuhan kasih gue cukup untuk sedih berlarut-larut. Sekarang giliran gue cari cinta sejati yang gak perlu ninggalin gue demi orang lain."
Rion berdiri dan akan pergi. "Rion," Hani memanggilnya. Namun Rion tidak menoleh. "Maaf," kata Hani singkat. Rion tak menjawab dan berlalu meninggalkan Hani.
Rion pergi ke kantor Papanya. Ia kembali bekerja setelah lulus dari kuliahnya. Ia kini mengelola usaha sang Papa. Dengan aktivitasnya yang baru, ia semakin menempatkan dirinya untuk bahagia tanpa melihat masa lalunya dengan Hani. Betul, Hani membuatnya berada terpuruk jauh ke dalam hitamnya kehidupan. Kesedihan mengubahnya menjadi pribadi yang pemurung. Namun dengan seiring berjalannya waktu, ia mampu menerima. Ia berjalan maju tanpa melihat ke belakang.
Berada di ruang kerjanya di kantor adalah sebuah ide cemerlang, menurut Bili. Dan imbasnya, Bili juga diangkat langsung oleh Rion untuk menjadi sekretaris pribadinya.
Bili: "Gue tuh, ya. Dari sejak masuk kerja sama lu. Berasa pingin pake rok mini gegara jadi sekretaris pribadi."
Rion: "Pake aja lah, Bre. Bebas mah."
Bili: "Heran gue. Kenapa, sih, lu gak angkat cewek-cewek cantik jadi asisten lu. Lebih telaten, lebih ulet daripada gue yang ambyar kemana-mana bawaannya pingin marah mulu sama lu gara-gara sedih mulu."
Rion: "Gue sekarang udah berubah, Bre. Gue pingin jadi orang baru. Gue pingin cari cinta sejati yang setia sampai akhir hayat gue. Gue pingin cari istri."
__ADS_1
Bili: "Hmm... gue boleh bilang ini gak ya? Lu gak mau pertimbangan Neyza? Lu gak ada sayang-sayangnya gitu sama dia? Lu kan suka jahulin dia dari awal ketemu."
Rion: "Eh, sih Nenek. Gue dulu emang gak ada rasa sama dia. Sekarang pun. Tapi. Gue kadang mikir sih kalo godain dia. Senyum dia kalo lagi pas waras guenya. Hahaha..."
Bili: "Jantan perubahan dia ke elu emang dia suka sama lu, Bre."
Rion: "Ah, bisa aja lu. Yuk, ah. Makan di resto Jepang gue kangen makanan di situ."
Bili: "Eh, disitu kan lu pernah makan sama Hani."
Rion: "Gue gak peduli. Gue laper. Yuk!"
Bili dan Rion pergi ke sebuah restoran Jepang di sebuah Hotel yang pernah ia datangi bersama Hani. Bili mencari tempat duduk untuk mereka berdua. Rion berjalan menyusul Bili di belakangnya. Langkah Rion terhenti. Ia merasa mengenal seseorang di sebuah meja yang ia lewati. Rion memalingkan wajahnya. "Lho, Weni?" Weni terkejut melihat wajah Rion. "Eh, Rion. Sama sapa?" tanya Weni. "Bili, tuh lagi cari kursi. Sama Neyza?" Rion penasaran. "Gak. Aku makan sendirian. Kantorku deket sini. Jadi makan siangnya di sini aja." Rion mengangguk. Rion lalu menarik kursi di depan Weni. "Gue boleh ya duduk di sini?" Weni tersenyum. "Ayo, duduk aja disini. Kosong, kok."
Rion: "Oia, gue mau tanya sama lu, kan? Gpp ya sambil makan siang?"
Bili mendekati Rion yang telah duduk bersama Weni. Bili tidak tahu bahwa Weni yang duduk di situ. Rion bangkit dari kursi untuk menemui Bili. "Wen, jangan balik badan dulu." minta Rion. Weni mengangguk. Rion merangkul Bili. "Bre, gue ada perlu sama satu cewek ini. Masalah masa depan gue. Lu makan sendiri dulu, ya? Mantau gue dari jauh. Heheheh." Rion memutar badan Bili untuk kembali ke kursi yang ia pesan. "Emang siapa dia? Gue kenal?" tanya Bili sangat penasaran. "Nanti aja kalo gue uda siap, ya?"
Weni: "Pesen dulu, deh. Baru disambung."
Rion mengambil menu yang diberi Weni. Lalu memesan makan siangnya.
Weni: "Ada perlu apa emangnya, Rion?"
Rion: "Gue mau tanya tentang Neyza."
Weni: "Tentang?"
Rion: "Gue tahu ini gue kepedean atau gimana, Wen. Tapi tolong kasih info ke gue. Kenapa Neyza berubah banget waktu ketemu gue di Bali yang lalu? Gue jadi gak enak. Mungkin gue ada salah atau gimana. Tapi gue yakin gue ada salah besar sama dia."
Weni: "Hmm, gimana, ya? Takut juga kalo cerita. Takut Neyza marah."
__ADS_1
Rion: "Lu bisa pegang omongan gue. Ada apa sebenarnya? Gue salah apa?"
Weni: "Janji ya, gak kasih tahu Neyza?"
Rion: "Gue laki. Gue janji sepenuh hati gue."
Weni: "Waktu tahu kamu mau nikah, dia patah hati. Makanya dia pergi, keluar kontrakan. Dia pergi ke rumahnya di Bali. Tinggal setahun di sana. Berusaha lupain sakit hatinya."
Rion: "Jadi. Neyza suka sama gue?"
Weni: "Kayaknya dia mulai nyaman sama kamu."
Rion: "Jadi setahun ini gue sakit hati karena kehilangan istri gue yang ternyata gak mati. Dan Neyza sakit hati karena patah hati?"
Weni mengangguk.
Rion: "Kalo kayak gini gue jadi tahu harus bersikap apa kalo ketemu sama Neyza. Gue pingin perbaiki semuanya. Biar bisa kita kayak dulu lagi."
Weni: "Susah, Rion."
Rion: "Susah gimana?"
Weni: "Ya, gak mudah buat Neyza bisa lupain itu semua. Hal lain mungkin bisa ia maklumi. Tapi patah hati karena laki-laki, bisa jadi panjang sembuhinnya."
Rion: "Gue coba bantu itu."
Weni: "Ha? Kamu? Caranya?"
Rion: "Gue nikahin dia buat sembuhin patah hatinya."
Weni nampak tak percaya dengan apa yang ia dengar.
__ADS_1
Rion menikahi Neyza?