Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
114 Lelah


__ADS_3

"Pa!"


Rion berdiri dan memeluk Rui. Ia menangkan pria paruh baya itu. Rui menjelaskan tentang perihal sakit tipes yang dialami Neyza. Ia terlalu banyak mengikuti kegiatan kantor dan rapat di luar kota beberapa hari ini. Sehingga waktu istirahat semakin sedikit. Rion bersyukur dengan apa yang ia dengar.


"Tapi, lambung Mama juga luka, Pa. Itu Observasi sementara, Pa," keringat di tangan Rion semakin banyak. Ia lalu berjalan mengikuti Rui menuju ke ruang perawatan. Neyza tertidur pulas karena obat dan infus yang menempel pada tangannya. Wajahnya masih pucat seperti saat ia menelepon Rion untuk datang ke kantornya dan Rion datang dengan kondisi Neyza yang tergeletak di sofa ditemani asisten pribadinya.


Hal yang tak pernah dibayabgkan di usia yang tidak mudah lagi, Neyza mempunyai pekerjaan yang mewajibkan ia harus memforsir banyak hal. Rion sendiri tengah sibuk untuk sebuah meeting besar dengan investor luar negeri. Ia hampir tak memperhatikan hal detail kepada Neyza. Ia kini tengah duduk memandang istrinya tertidur. Berjuang untuk memulihkan dirinya sendiri.


Bayangan Rion jauh ke belakang. Ketika ia pertama kali ia mengenal Neyza. Yang naik pitam hingga Rion pun tersulut emosi. Perempuan berani itu sebenarnya tidak ada dalam incarannya saat ia masih berharap pada Hani. Entah mengapa, saat ia merasa patah hati yang luar biasa, ia malah terpikir untuk mendekati Neyza. Ia mulai memperhatikannya, memikirkannya, bahkan sedikit terbersit untuk memilikinya.


Saat pernikahan yang tidak disangka-sangka membuat senyumannya melengkung. Bahagia. Walau pun ia tak pernah menyangka perang dingin yang digalang Neyza saat itu karena alasan cemburu yang panjang, namun kian hari ia semakin mencintai Neyza. Apalagi setelah ia dengan terbuka mau merawat Lalita yang masih sangat kecil, sungguh rasanya ia ingin membalas apa yang telah Neyza perbuat untuknya.


Mengandung Rui saat itu, merupakan hal terbesar yang ia rasakan. Neyza tumbuh menjadi ibu yang baik. Ia sama sekali tak membandingkan Lalita dan Rui. Mereka layaknya saudara kembar yang lahir dari rahim Neyza.


Istrinya yang terkapar lemah ini adalah bukti menyayangi dengan ketulusan adalah segalanya. Ia mampu menerima masa lalu Rion dengan banyak kondisi yang berbeda. Ia melalui banyak hal bersama Rion. Terjebak dalam situasi menegangkan, situasi yang rumit, bahkan bertaruh nyawa.


Sayang. Sekarang cacat hatiku. Cepat sembuh. Kami butuh kamu. Melihat Rui dan Lalita menikah, kita punya cucu yang banyak.

__ADS_1


Rion menghapus air yang keluar dari sudut matanya. Ia ingin mengenggam tangan Neyza namun ia memilih diam agar Neyza bisa beristirahat dengan nyaman.


Tiga jam berlalu, Rion masih membaca beberapa pesan dari ponselnya. Lalita datang bersama Hani dan Tito. Dengan penuh kecemasan. Mereka duduk di ruang tamu kamar VVIP itu. Lalita menuju tempat tidur Neyza dan duduk di dekatnya. Lalita terisak semenjak Rui mengabarkan bahwa Neyza dirawat di rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Hani terus menenangkan Lalita yang menangis tersedu.


Lalita kembali mencoba menenangkan dirinya. Ia berharap bisa menggantikan sang Mama. Perempuan yang menerimanya berada di tengah-tengah keluarga mereka. Walau ia tak pernah tahu masa lalu yang sebenarnya, namun ia yakin, Neyza adalah Ibu yang luar biasa.


Ma, Ta di sini. Nungguin Mama. Ta mau cerita tentang rencana pernikahan dengan Mama. Bangun, dong Ma. Lalita sendirian.


Ia hampir saja melepaskan suara tangisannya. Namun Hani memegang pundaknya dan mengajaknya menjauh dari Neyza. Rui masih berada di ruang prakteknya. Satu jam lagi ia akan menyelesaikan pekerjaannya.


"Kak Neyza akan segera membaik. Kak Rion gak perlu khawatir. Bantu kami dengan doa. Dia hanya kecapekan. Mungkin harus dikurangi kegiatan di kantor agar tidak terlalu lemas. Usianya kan tidak muda lagi," kata Manji.


"Aku tuh masih kuat, Manji. Jangan sepelein aku, ya!" kata Neyza tiba-tiba dengan suara terbata. Manji tersenyum. Ia lalu memeriksa Neyza. Perkembangan yang baik dapat berbicara kembali. Namun masih terus dipantau. Rion memegang tangan Neyza. Hani dan Tito tersenyum melihat Neyza kembali siuman. Lalita memeluk kaki Neyza. Bersyukur Neyza masih bertahan sejauh ini.


Semua tamu telah pulang. Rion dan Neyza berada di kamar menunggu Rui. Rion menyuapkan beberapa sendok bubur yang masih hangat. Neyza dengan semangat memakannya. Waktu berkualitas untuk keduanya.


Rion memasukkan satu suapan dengan air mata yang sedikit mengalir. Neyza mengusapnya. Sadar bahwa Rion pasti sangat khawatir dengannya. "Jangan nangis, dong. Masa cowok nangis?" Rion kembali mengusap air matanya yang semakin deras. "Aku bisa apa di dunia ini kalo gak ada kamu?" Neyza terkejut dengan perkataan Rion.

__ADS_1


Ia lalu tersenyum. "Kamu tahu gak? Meninggal itu karena sudah waktunya. Arab yang sakit parah meninggalnya bukan sebab dia sakit. Ada yang sehat tiba-tiba meninggal," Rion kembali menyuapkan sesuap bubur ke mulut Neyza. Kini ia mencium tangan Neyza.


"Rambutku berantakan," Rion menaruh mangkok yang ia pegang dan berdiri untuk merapikan rambut istrinya. Ia sudah terbiasa merawat rambut Neyza setelah menikah. Bentuk perhatian kecil yang ia tunjukan. Neyza menatap lekat mata Rion. Ia lalu memeluknya dengan erat. Pelukan yang lama yang bisa ia berikan saat ini.


"Maaf, ya, sayang. Belum bisa jadi istri yang baik buat kamu dan ibu yang baik buat Rui dan Lalita," Rion mencium pipi Neyza. Ia menceritakan betapa Lalita datang dengan mata yang bengkak. Ia menangis tersedu-sedu bahkan saat ia pulang tadi, Tito mengirimkan pesan bahwa Hani sampai harus merangkulnya karena masih tak berhenti menangis.


Neyza tersenyum. "Terima kasih. Sudah sabar bertahan," mereka lali berpelukan. Rui masuk ke dalam kamar setelah membersihkan diri. Ia lalu menemui Neyza. Menciumnya.


Setelah beberapa hari dirawat, Neyza kembali pulang dalam keadaan sehat. Ia dan Rion sempat berbicara agar Neyza segera mencari pengganti kepemimpinan agar ia dapat fokus pada keluarga saja. Namun Neyza masih enggan karena ia masih ingin bekerja hingga waktunya ia merasa harus berhenti.


Rui berjalan masuk ke ruangannya. Ia terkejut mendapati sebuah buket bunga yang indah. Menawan. Namun siapa yang memberikannya? Apakah Maliq? Atau sang Kakak?


Rui kembali menebak siapa seseorang yang misterius itu. Pintu Rui terbuka. Seseorang masuk sambil tersenyum. "Kak Maliq!" ia pun duduk di depan Rui. Rui bertanya-tanya tentang perihal ini. Maliq tersenyum.


"Ini ucapan selamat datang karena aku sekarang praktek di sini," Rui terkejut. Tak dapat berbicara.


(bersambung)

__ADS_1


__ADS_2