Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
112 Ikut


__ADS_3

Maliq tersenyum. Rui hanya tertunduk. Ia tak berani berkata lebih dalam lagi. Takut privasi Maliq akan menjadi tidak nyaman untuknya. "Dikta itu adikku. Aku, Lalita dan Dikta berteman lama. Waktu mereka pertama masuk kuliah. Sebenarnya Dikta dan Lalita sudah menggambarkan kalo mereka sama-sama suka. Tapi belum berani untuk menjalin hubungan. Lalita perempuan yang baik. Dia betul-betul tahu kebutuhan hatinya," Rui paham. Lalita memang tidak mau gegabah dengan pilihannya. Pun saat dia memutuskan untuk memilih pekerjaan. Ia tak mau menjadi aji mumpung dari Neyza dan Rion. Ia ingin berjuang sendiri dari awal.


"Dan pada akhirnya. Dikta memutuskan untuk segera melamarnya. Ia takut Lalita pergi menjauh darinya," Rui mengangguk setuju. Kini mereka berdua diam. Tak ada tema pembicaraan yang akan dilanjutkan lagi. Rui pernah mengaranh kisah itu saat dia tengah melamun menunggu Maliq di sebuah acara makan siang.


Ah, rasanya ingin sekali menghilang dari Maliq. Rui hanya mengenggam bajunya. Ia lalu berjalan menemui Lalita. "Kak, aku dijemput Dokter Manji. Habis ini kita mau ada perawatan kesehatan gratis di tempat kumuh," kata Rui. Lalita memeluk Rui dan mengucapkan Terima kasih. Rui merupakan salah satu bagian Lalita yang tak mungkin dilepaskan. Saking terburunya, ia sampai tak sempat berpamitan kepada Maliq. Ia lalu mengambil tasnya dan segera masuk ke dalam mobil Dokter Manji. Ia lalu duduk di depan, di samping Dokter Manji yang sedang menyetir. Rui mulai memasang sabuk pengaman dan meminta maaf kepada Manji karena menunggunya. Namun Manji nampak tenang. Ia pun segera melanjutkan perjalanan menuju salah satu tempat kumuh.


"Kamu harus melihat siapa yang bergabung dengan kita?" Rui hanya menaikkan alisnya. Seperti tak ada lagi yang ikut dengan mereka. Atau mungkin seseorang yang kenal dekat dengan Manji. Rui lalu menoleh dengan pelan. Alangkah terkejutnya ia tatkala Kehadiran Maliq yang duduk di belakang dengan muka datar melihat Rui.


"Astaga!" Rui berteriak. Sedangkan Manji hanya tersenyum melihat tingkah merwka berdua. Sesaat sebelum Rui masuk ke dalam mobil, Maliq mengikuti Rui yang meninggalkannya tiba-tiba. Ia mendengar bahwa Manji datang menjemputnya. Dengan cepat ia lalu menuju ke mobil Manji ketika Rui berpamitan dengan Lalita.


Maliq menemui Manji dan bertanya tentang perihal acara yang diikutin Rui. Ketika Manji menceritakan sebuah acara sosial media yang ia rutinkan, dengan cepat Maliq masuk dan duduk di belakang Manji. Tanpa pikir panjang ia lalu mengatakan akan siap dan akan membantu Manji serta Rui. Manji sama sekali tak mempermasalahkan hal itu. Ia nampak senang karena banyak rekan yang mau menolongnya.

__ADS_1


Itulah mengapa ketika Rui masuk ke dalam mobil Manji, ia tak sadar bahwa Maliq sudah menunggunya sedari tadi. Rui tak kalah terkejut dan mulai berpikir kenapa Maliq tiba-tiba turut hadir dalam kegiatan ini bersama Manji.


"Kak ngapain di sini?" Rui bertanya saat mobil berjalan separuh perjalanan. Maliq tak menampik bahwa ia bertanggung jawab kepada Rui yang ia jemput dari rumahnya. Ia sedikit kesal karena Rui tak menceritakan perihal kegiatan medis yang akan ia ikuti bersama Manji.


Tak mudah menjadi Rui. Sebelum akhir pekan ini ia sudah dibuat kelimpungan untuk mengatur jadwal dengan Lalita, Maliq dan Manji. Ia bukanlah robot yang bisa datang di waktu yang hampir bersamaan dan tanpa lelah. Ia butuh istirahat. Namun solusi untuk memberi jeda pada acara Lalita membuatnya bangga karena ia bisa membantu Maliq dalam membantu banyak orang.


Rui tertawa mendengar betapa konyolnya Maliq yang tanpa pikir panjang masuk ke dalam mobil Manji. Di satu sisi. Maliq merasa ada yang membuat hatinya panas. Mengapa Rui begitu mudahnya mengikuti ajakan Manji tanpa berdiskusi dengannya.


Tunggu dulu. Memangnya aku ini siapanya?


"Om Dokter!" kata anak kecil itu. Ia lalu berlari ke pelukan Manji. Dan dengan hangat Manji menggendong anak perempuan itu. Keduanya seperti duan sahabat yang tengah reuni. Memadu rindu dan melepaskan rindu dengan pelukan dan canda tawa. Pemandangan yang mengharukan di siang hari. Rui dan Maliq nampak tersenyum melihat kejadian itu. "Kenalin, ini juga Om dan Tante Dokter," Manji mengenalkan Maliq dan Rui. Mereka nampak senang didatangi oleh anak lucu ini

__ADS_1


"Halo, Om Tante. Namaku Alifa. Aku masih sekolah kelas 1.Terima kasih sudah datang di kampung kami. Banyak yang sudah mengantri. Alifa sendiri yang atur supaya gak berantakan," katanya dengan tegas. "Halo sayang. Panggil Kakak aja, ya. Karena Kakak Lebih muda dari Om Dokter," Manji nampak membuat wajah protes pada Rui. Namun Rui dengan penuh percaya diri membuat semuanya menjadi mungkin. "Ini Kakak Rui. Dan satunya lagi Kakak Maliq," Manji semakin protes karena hanya dia saja yang merasa lebih tua. Maliq menepuk pundaknya. Mengasihani.


"Wow. Kak Rui sama Kak Maliq. Bisa main nanti ya sama Alifa dan teman-teman lainnya nanti," Rui senang dengan jawaban Alifa. Maliq membawa perlengkapan yang ada di belakang mobil. Lalu Manji menambahkan tasnya di atas tumpukan Barang-barangnya. "Berat, Dok," Manji hanya tersenyum dan menjahili Maliq. "Maklum udah tua ini, Kak," ia lalu segera melipir menjauh meninggalkan Maliq yang kesusahan membawa peralatan medis. Beberapa remaja Tengah berjalan dan menghampiri Maliq dan segera menawarkan bantuan untuk membawa barang-barang tersebut.


Ia merasa lelah dan bersyukur karena penderitanya sedikit berakhir. Dokter Manji duduk bersama para warga dan tetua setempat. Berbicara sebentar dan mendengarkan bagaimana kegiatan rutin selama hampir enam bulan berjalan bersama Manji. Para warga sangat antusias dengan kedatangan seorang Dokter. Daerah kumuh yang jauh dari fasilitas kesehatan membuat para warga sering sekali terserang penyakit. Hal ini membuat Manji merasa ekstra berhati-hati dan memikirkan hal apa yang dapat ia bantu.


Ada dua rumah warga yang sengaja dipakai untuk merawat pasien. Satu dari Dokter Manji. Dan satunya lagi oleh Rui. Sedangkan Maliq bertugas untuk memberikan obat setelah para warga diperiksa oleh kedua Dokter.


Rui dan Maliq tampak sangat bergembira karena mereka bisa membantu para warga. Dua jam terlah berlalu. Saatnya mereka beristirahat. Manji sedang berbicara dengan beberapa warga. Dan Rui sedang bersama Maliq. Mereka meminum air putih yang disediakan oleh warga.


"Lain kali kalo ada apa-apa aku dikabari, ya?"

__ADS_1


Rui hampir mengeluarkan air dalam mulutnya.


(bersambung)


__ADS_2