
"Apa? kamu ngapain tanya gituan?" tanya Neyza pada Rion.
Rion tersenyum simpul. "Gue cuma nanya aja. Gak niat nembak lu. Nanti masuk rumah sakit." jawabnya ketus.
Neyza : "Gak ada. Gue jomblo bahagia."
Rion : "Oo pantes garang. Colek dikit langsung keluar api sama tanduk."
Neyza : "Riooon... "
Semua mata pelanggan yang sedang makan tertuju pada Neyza yang setengah berteriak kehilangan kontrol. Neyza tersenyum malu dan melanjutkan makan sementara Rion tertawa kecil karena melihat ekspresi Neyza yang seakan-akan dihakimi semua orang.
Rion : "Hehhee... maaf, nek. Orang cuma nanya aja kok ngegas. Tinggal jawab iya apa gak."
Neyza : "Kamu nih ya. Gak ada seriusnya kalo nanya. Aku tuh santai aja kalo gak kamu usilin dari dulu."
Rion : "Ya ampun, nek. Gitu aja kok marah. Orang cuma becandaan."
Neyza : "Tapi gak lucu di aku ya, Rion. Yang biasa kayak orang normal aja. Gak usah pake usil."
Rion : "Kalo biasa aja entar nyesel lho. Kangen digangguin."
Neyza : "Tuh kan mulai lagi."
Rion : "Yaudah. Sekarang lebih serius. Eh tunggu. Seriusan itu maksudnya pacaran?" Neyza dengan reflek mencubit lengan Rion. Rion menahan sakit agar orang-orang tak terganggu.
15 menit berlalu, Neyza dan Rion sudah menyelesaikan sarapan pagi. Keduanya lalu kembali menyusuri jalanan untuk pulang. Rion melakukan sepeda motor Bili dengan berhati-hati.
Ia pun berhenti di sebuah apotek. Neyza pun tahu bahwa Rion akan membeli obat-obatan untuknya. Tak berapa lama ia keluar dari apotek. Dengan menenteng minuman dingin, ia duduk di sepeda motor dan membuka serta meminun minuman tersebut sebelum melajukan motornya.
__ADS_1
Neyza : "Kamu ke apotek cuma beli minuman?"
"Hooh", jawabnya singkat. Neyza menepuk punggung Rion hingga ia tersedak. " Uhuk uhuk... Nek. ih, jahat. Nanti bisa sakit lho." Protes Rion. Neyza memantulkan bibirnya. "Kamu, nih. Yang sakit aku. Harusnya beliin salep kek apa kek." Neyza berbicara tanpa berhenti. Rion mengeluarkan obat dari sakunya dan menunjukkannya pada Neyza. Neyza pun terkejut lalu terdiam.
Rion : "Gue tahu kok. Gue gak keji banget balas nenek-nenek yang lagi kesakitan."
Neyza kembali memukul pundak Rion.
Neyza : "Ih.. bikin orang mikir yang gak gak."
Rion tersenyum selagi Neyza mengambil obat dari tangan Rion. Mereka pun segera pulang ke kontrakan. Setelah Neyza pulang ke rumahnya, Rion pergi. "Bre, jemput gue di pangkalan ojek di dekat perumahan yang biasa gue jogging gih. Sekarang." Rion menutup teleponnya saat berhenti tak jauh dari rumah kontrakan.
Bili telah menunggu di pangkalan ojek yang dimaksud Rion. Ketika Rion datang membawa sepeda motor, Bili terkejut dan hendak menanyakan kepenasarannya. "Sepeda siapa? Beli?", Rion baru saja datang dan memarkir sepeda motor. Ia menemui seseorang yang sedang duduk di pos pangkalan tersebut. Mengeluarkan dua lembar uang ratusan ribu lalu pamit menuju ke sepeda Bili.
Rion : " Gue tadi pinjem sama Pak Mamat waktu jogging tadi." jawabnya terlihat cuek.
Rion : "Gue sewa kayaknya bukan minjem. Hahaha.. Lu mau tau urusan orang dewasa aja sih? Lagian rumah lu kan lumayan jauh dari perumahan."
Bili : "Pasti lu ada apa-apa ini sampek pinjem motor pak Mamat. Ngaku."
Rion : "Lu gak bakal bisa mencerna apa yang terjadi. Udah ah. Ayok balik. Belum mandi gue. Udah sarapan belum? Sekalian makan."
Bili yang hanya keheranan akhirnya mengikuti Rion untuk kembali pulang ke rumah Rion.
Di dalam kamar rumah kontrakan, Neyza membaringkan tubuhnya karena kelelahan. Ia baru saja memberikan mengoleskan obat yang diberikan Rion. Ia mencoba memejamkan mata. Ia ingin tertidur sebentar. Namun tak bisa karena secepat kilat wajah Rion tiba-tiba datang. Tawa Rion mungkin sudah berkali-kali ia jumpai saat tingkah usil Rion mendarat dengan tiba-tiba dan membuat ia merasa kesal dan marah. Tapi pagi ini, tertabrak tak sengaja, dikejar anjing bersama, makan pagi bersama bahkan tak sedikit waktu yang mereka tertawakan bersama. Kejadian konyol yang mereka rasa sebuah hiburan dan tanda kedekatan yang selama ini tak ada bentuknya.
Neyza menghela napas. Kenapa bukan Tito saja yang sering kali ia tawarkan romantika? Ia selalu membawakan dan menciptakan sesuatu yang harusnya membuat ia malu sebagai seorang perempuan. Diberikan bunga yang indah, makan malam yang romantis, duduk di mobil berdua saat hujan dengan mendengarkan lagu sendu. Benar, batinnya. Hati tak pernah berbohong tentang siapa yang ia dapati kenyamanannya. Neyza mulai merasakan teman yang saat bersamanya ia merasa tak canggung menjadi seorang manusia. Rion tak perlu melihatnya sebagai seorang anak dari pengusaha ternama. Ia tak dekat dengannya karena sebuah alasan akademis atau hal lainnya. Toh kalo Rion memang seorang penggoda. Maka ia akan memakai jurus apa saja untuk membuat Neyza jatuh ke pelukannya. Tapi ia berbeda. Ia dan Bili sepertinya orang baik yang bisa diandalkan sebagai teman. Neyza tak ingin punya perasaan lebih walaupun ada di salah satu sudut hatinya, tak dipungkiri perlakuan sopan Rion membuat ia merasa diperempuankan. Neyza menutup wajahnya dengan bantal.
"Aaaaaa..... ", ucapnya agar tak terdengar siapa-siapa. Mengapa kali ini ia menganalisa Rion hingga sangat detail? Neyza bangun dan menuju ke kamar mandi. Ia mengambil alat penggosok dan mulai menggosok kamar mandi. Kegiatan akan membuatnya tidak berpikir sejauh nanti. Ia tak mau hari-harinya nanti tersita dengan memikirkan Rion. Tidak. Belum saatnya, begitu kira-kira.
__ADS_1
Petang ini pukul 18.00. Beberapa pedagang makanan nampak sibuk melewati lingkungan kontrakan Rion dan Neyza. Neyza berdiri di depan pintu. Ia hendak memanggil pedagang nasi goreng langgananya.Tiba-tiba seorang pria mendorongnya dan masuk ke ruang tamu Neyza.
"Rion. Ih gak sopan deh.", pekik Neyza.
Rion : " Sori.. Gue lancang. Gue tahu lu pingin manggil mang Dadang. Gue tadi pesen makanan kebanyakan. Jangan jajan sembarangan. Sekaki-kali makan makanan sehat. Nih."
Neyza : "Tapi gak langsung masuk juga, kan?" Neyza duduk di ruang tamu bersama Rion.
Rion : "Yang ada mang Dadang tersinggung kalo gue batalin pesenan lu."
Neyza : "Iya juga sih."
Rion membuka plastik makanan. Dua box kaca makanan katering sehat sudah tersedia di depan mereka.
Neyza : "Ini katering? Cantik amat tempatnya. Mahal ini mesti."
Rion : "Eh.. iya ini. Bener ini. Katering mahal. Eh gak ding. Terjangkau. Ini Ibunya nyediain tempat kaca biar gak pake plastik. Nih plastik luar aja yang bisa didaur ulang. Nooh liat nhoo. Udah makan aja. Gue juga gak mau rugi bayar katering karena gak bisa cuma 1 porsi. Daripada gue buang makanan dan dosa. Mending gue kasih yang orang kurang gizi kayak lu."
Neyza : "Iih, apaan sih kamu. Gak nafsu makan aku. Enak aja kurang gizi."
Rion : "Iya, maaf. Gue salah. Lu sehat kok. Besok-besok lu gue bawain makanan. Jangan makan makanan sembarangan. Awas gak kemakan. Gue cariin biawak sama anjing ditaruh depan rumah lu."
Neyza : "Ish, kayak berani aja kamu."
Rion : "Udah gak usah cerewet. Dimakan keburu dingin."
"Ney... ", suara kecil dan lembut dari depan pintu itu nampaknya Neyza kenal.
"Tito.. "
__ADS_1