Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 69 Sebuah cerita


__ADS_3

Neyza keluar rumah bersama Lalita. Ia nampak sangat tenang menggendong Lalita dan sesekali mengajaknya menapaki paving depan rumahnya. Rerumputan di taman juga nampak menggoda Lalita. Terkadang Neyza membiarkan Lalita merangkak dan duduk di rumput itu. Namun Lalita merasa banyak rumput yang menekan kulitnya. Akhirnya ia menangis untuk kembali digendong. Neyza tertawa karena reaksi Lalita yang menggemaskan. Waktu berharga yang dimiliki Neyza sebelum anaknya lahir dan ia mungkin lebih banyak fokus kepada anaknya.


"Ta, Mama ambil susu Lalita dulu, ya. Di ruang tamu. Ta duduk di sini sebentar," Neyza berjalan ke ruang tamu dan mengambil susu Lalita. Ia keluar dengan senyum yang mengembang. Namun ia terkejut karena Lalita sudah tak berada di atas rumput tadi. Ia mencari Lalita dengan perasaan was-was.


Ta, kamu dimana, Nak?


Neyza terus mencari hingga akhirnya ia sadar seorang laki-laki tengah berdiri dan menggendong Lalita. Lalita menaruh kepalanya di pundak laki-laki itu. Neyza geram karena laki-laki itu berniat untuk mengambil Lalita. "Jangan macam-macam kamu sama anakku. Biarkan dia." Pria itu melakukan satu langkah ke belakang untuk menjauh dari Neyza. Kini, Neyza tak tahu harus bagaimana. Yang ia tahu adalah bahwa Lalita harus kembali bersamanya.


Ta, ayo, sama Mama.


Neyza berlari. Namun jarak antara laki-laki tadi dan Neyza semakin jauh. Ia berubah menjadi bayangan yang semakin lama semakin mengecil. Tak ada suara Lalita. Ia bahkan tak mampu menangis. Neyza hanya berlari tanpa ada ujungnya. Lalita telah dibawa laki-laki itu.


"Taaa!!!!"

__ADS_1


Neyza terbangun karena sebuah mimpi buruk. Rion dengan sigap bangun dan menemani Neyza yang sedari tadi mengatur napasnya yang setengah-setangah. Keringatnya jatuh seperti air yang mengalir. "Kamu gpp, sayang?" tanya Rion. Ia lalu mengambilkan air dan memberikannya minum. "Aku mimpi buruk, Rion," katanya dengan rasa lelah yang sangat. "Gpp, mau aku buatkan air hangat sama madu?" Neyza menggeleng. "Aku lihat ada laki-laki yang mau ambil Lalita. Terus aku lari dan gak ketemu sama mereka," Rion memeluk Neyza. "Cuma mimpi, sayang," Neyza memeluk Rion dengan erat. "Aku takut, Rion." Rion mengusap lembut rambut Neyza. "Jangan gitu, dong. Kamu kuat, kok," Rion berusaha menenangkan istrinya.


Keesokan paginya, Neyza bersama Lalita. Ia membawa Lalita ke taman depan. Lalita duduk di rumput dan bermain dengan seekor kupu-kupu yang terbang menghinggapinya. "Lho, ini persis kayak mimpi itu," Neyza dengan cepat menggendong Lalita. Membawanya ke dalam rumah. Membiarkannya bermain dengan Lisa dan asisten rumah tangganya.


Instingnya untuk kembali ke luar diikutinya. Ia melihat sekeliling rumah. Walaupun petugas keamanan dengan tenang memperhatikan tiap sudut bangunan rumah dan sekitarnya. Saat ia mau masuk, tiba-tiba ia berlari menuju pos keamanan rumahnya. Ia melihat kamera pengawas yang mengawasi lingkungan rumahnya. Aman.


Tunggu dulu.


Pikiran Neysa tertuju pada sebuah layar tempat kamera menyoroti depan pagar rumahnya. Seseorang tengah mengintai rumahnya. Ia mengamati seorang pria. Neyza menunggu pria itu lengah dan pada akhirnya Neyza sengaja untuk menemuinya.


"Anda siapa? Mengintai rumah ini?" Pria itu terkejut. "Eh, siapa yang mengintai rumah ini?" Neyza menatap tajam mata pria itu. "Dari yang saya lihat di CCTV, anda bukan orang di lingkungan sini. Ada perlu apa di dalam rumah saya? Ada yang menarik bagi anda?" Pria itu mengalihkan pandangannya. "Anda salah orang," Neyza dengan cepat menggunakan kuncian di kedua tangan pria itu hingga ia tak dapat bergerak. "Katakan!" Neyza sedikit berteriak sehingga petugas keamanan rumahnya keluar dan bersiap siaga. "Anda siapa?"


Ingatan Neyza tiba-tiba tertuju pada laki-laki yang ia temui di taman kota beberapa bulan lalu. Saat ia membawa Lalita untuk berjalan-jalan. "Anda penjahat!" Neyza sedikit menaikkan suaranya. Seperti hendak membuat harus pembatas besar antara pria ini dan keluarganya. "Atau anda berbicara setelah ada di kantor polisi," ancam Neyza. Ia semakin menarik tangan pria itu agar kesakitan. "Aaaargh, sakit," Neyza diam tanpa ampun. Ia merasa saat ini pria ini harus segera diamankan di kantor polisi. "Kamu salah paham. Saya ini..." Neyza semakin tersulut emosi. "Apanya yang saya? Jelas-jelas anda membuat keluarga saya khawatir," Neyza semakin ingin membuat pria ini jera. "Saya ini.... kakeknya Lalita. Paman Hani," Petugas keamanan segera menggantikan posisi Neyza.

__ADS_1


Drama apa lagi, ini?


"Biarkan saya bicara, dulu," kata Pria itu. Petugas keamanan hampir membuatnya tak dapat berbicara. "Biar, Pak. Biarkan dia berbicara. Cepat jelaskan!!" Pria itu mengatur napasnya. "Saya ini Paman Hani. Adik Papanya. Saya tahu semua keluarga saya antipati kepada keluarga Hani. Namun saya yang baru pulang dari luar kota, yang baru saja mendengar kabar Kakak saya dan keluarganya masuk penjara tidak Terima mereka diperlakukan begitu. Hati saya hancur," ucapnya dengan nada lirih. "Lalu kenapa kejadian di taman kota anda ingin mengambil Lalita?" Neyza tak mudah percaya.


"Saya reflek mau ambil Lalita. Saya dengar cerita dari keluarga saya kalo Lalita bersama anda dan suami anda yang namanya Rion. Itu pun mereka tahu dari Heri. Saya tahu anda dan suami anda dulu orang yang dirugikan oleh keluarga kakak saya. Saya takut Lalita hanya alat balas dendam," pria itu mencoba menjelaskan dengan singkat. "Memang saudara inti tak ada yang menerima Lalita. Namun sepupu-sepupu Hani ada juga yang mau merawat Lalita. Tapi tidak direstui oleh orang tua mereka," Neyza mengeluarkan ponselnya. Ia menghubungi Heri.


Sebuah panggilan video.


"Halo, Heri," sapa Neyza. "Hai, Kak. Baik. Kabar kakak gimana? Aku sehat dan aman. Jangan khawatir. Terima kasih sudah menjaga Lalita," Neyza tersenyum. "Kami semua sehat. Oia, aku mau tanya. Kenal pria ini?" ponsel Neyza didekatkan pada pria misterius itu. Saat wajah pria itu terlihat jelas di ponsel Neyza. Heri sangat terkejut. Ekspresinya mengambarkan sesuatu. "Paman Lendra!!!" Neyza terkejut dengan sapaan Heri.


Neyza membawa masuk pria tersebut masuk ke dalam rumahnya. Mempersilahkan ia duduk di ruang tamu dan memberikannya minuman hangat. "Sebelumnya saya minta maaf atas perlakuan saya yang lalu dan barusan tadi. Kalo bukan karena ingin melindungi keluarga saya, tidak mungkin saya memakai keahlian saya," pria itu meneguk minuman di atas meja itu. Ia nampak penat. Lelah. "Saya juga meminta maaf. Saya pikir anda ada maksud tersembunyi dibalik keadaan Lalita. Saya hanya mendengar sekilas dari keluarga besar saya. Entah apakah mereka mengada-ada atau melebih-lebihkan cerita itu. Mereka seperti membuang jauh keluarga kakak saya," pria itu tertunduk.


Rion baru saja pulang dari kantor. Mendapati seorang tamu dan Neyza yang tengah duduk dan berbicara. Rion pun paham dengan kode Neyza untuk mendampingi dirinya dan Paman Lendra.

__ADS_1


Apa motif sebenarnya dari Paman Lendra?


(bersambung)


__ADS_2