Suami Kaya Rayaku Yang Malang

Suami Kaya Rayaku Yang Malang
Bab 12 Bukan aku


__ADS_3

Rion dan Bili masih terdiam mendengar drama baru seperti perkataan Ria.


"Aku hamil, Rion."


Rion : "Wah. Bagus. Uda berapa bulan?"


"Maksud kamu apa?", perempuan tadi sedikit marah, sepertinya.


"Ini anak kamu. Tanggung jawab.", nadanya tinggi.


Rion : "Oke. Gue tanggung jawab. Sini." Rion menarik tangan perempuan itu. Membawanya menuju parkiran motor. Ia mengambil kunci motor yang ada pada Bili.


"Lho. Mau kemana? Mana mobilmu?"


Rion hanya diam. Ia juga akan bermain dalam naskah gila yang dilakukan perempuan ini.


"Naik.", Rion memberikan helm Bili dan mengajak perempuan ini untuk naik. Rion lalu melaju dengan secepat tenaga. Kini mereka telah sampai di salah satu klinik ibu dan anak.


"Kita mau kemana?", tanya perempuan itu.


"Gue mau kok tanggung jawab." Ia mengajak perempuan itu masuk. Rion lalu pergi ke pusat informasi lalu duduk di sebelah perempuan itu.


Rion : "Nama lu?"


"Ha? Nama?", tanyanya.


Rion : "Masa lu tanya nama lu ke gue?"


"Prili.", jawabnya singkat.


Rion berdiri dan kembali ke tempat informasi. Ia lalu menerima sebuah kertas dan mengisi kertas tersebut.


"Bu Prili dan Pak Rion", seorang perawat memanggil nama mereka.


Rion : "Yuk."


Prili : "Yakin kamu ke sini?"


Rion : "Aku gak mau ya anakku gak baik-baik saja."


Senyum prili mengembang.


Rion dan Prili masuk ke dalam ruang dokter.


Rion : "Siang, Dokter Gani."


Dokter Gani tersenyum.


Dr. Gani : "Jadi, gimana? Bu Prili dan Pak Rion."

__ADS_1


Rion : "Saya mau melihat kondisi Prili, Dok."


Dr. Gani : "Boleh. Mari saya periksa dulu." Prili segera menuruti Dokter Gani. Dokter segera mengecek Prili yang sedang terbaring di tempat tidur pasien.


Dr. Gani : "Hmm... Usia janin ini sudah masuk 4 minggu. Semua dalam keadaan sehat."


Rion mengangguk. Prili pun terlihat senang dengan kedaan bayinya tersebut. Dokter Gani segera memberikan beberapa resep vitamin dan memberikannya kepada Rion.


Dr. Gani : "Ini saya beri vitamin dan susu hamil. Satu bulan lagi kita bisa melihat perkembangannya."


Rion mengangguk dan segera pamit. Lalu mereka segera pergi ke apotek klinik untuk menebus obat. Setelah obat terbeli, Rion mengajak Prili untuk segera pergi. Rion menghentikan sepeda motornya ke sebuh warteg.


Rion : "Gue mau makan. Lu juga makan."


Prili nampak keheranan. Ia lalu mengikuti Rion untuk masuk ke dalam warung. Ia tak memesan makanan. Ia hanya menemani Rion yang sedang melahap nasi campur dengan porsi besar.


Setelah Rion makan, ia hendak kembali ke kontrakan. Masih bersama Prili. Rion memacu sepedanya menelusuri perkampungan.


"Berhenti.", kata Prili.


Rion : "Kenapa?"


Prili : "Mau kemana kita?"


Rion : "Pulang."


Prili : "Bukannya rumah kamu di jalan Anggrek?"


Prili terkejut. Ia tak menyangka Rion akan berubah sebegitu drastisnya.


Rion : "Kenapa? Lu gak suka?"


Prili : "Lu bangkrut?"


Rion : "Panjang ceritanya. Lu jadi ikut gak?"


Prili : "Bulan depan kita ke klinik lagi?"


Rion : "Iya. Gak sama gue juga gpp. Lu bisa langsung ke Dr.Gani tanpa daftar."


Prili : "Kok bisa?"


Rion : "Klinik itu punya bokap gue. Dokter Gani itu Om gue. Gue uda bilang kok kejadiannya kayak gimana tadi waktu lu keluar duluan. Gue juga titip pesan kalo anak ini uda lahir, kita test dna."


Prili terkejut. Matanya membesar. Keringatnya mulai membasahi dahinya. Sekarang ia diam. Bibirnya terlihat seperti gemetar.


Rion : "Lu kenapa? Pucet gitu."


Prili : "Hmm...hmm... kayaknya kamu rancang ini semua, ya? aku tahu bakal ketahuan. Iya ini bukan anak kamu." Prili turun dari sepeda motor, ia mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh begitu saja. Rencananya sepertinya gagal total. Rion sudah tahu kartunya.

__ADS_1


Rion : "Gue uda tahu sejak awal. Lu gak usah kaget. Kalo bikin ginian kudu rapi dan jujur minimal. Gue orang tanggung jawab kok. Gue ngelakuin ini bulan karena gue yang ngelakuin. Tapi gue kasian cewek-cewek kayak lu banyak yang kejebak pria gak bener. Digombalin, dikasih ini itu, ujung-ujungnya dia minta sesuatu yang gak-gak. Lu pasti akan belajar banyak dari sini. Cinta tuh gak semua-mua lo kasih. Harga diri lu jangan recehan. Lu wajib jaga diri. Bayangin lu punya anak perempuan digituin laki-laki bejat. Nangis gak lo?"


Prili menangis dengan air mata yang makin deras. Kini ia tahu, mengapa Rion benar-benar dipuja oleh banyak perempuan di kampus. Ia benar-benar tahu cara menghargai perempuan.


Prili : "Maaf. Aku yang salah sasaran. Laki-laki itu pacarku. Empat bulan yang lalu. Saking sayangnya aku. Bisa-bisanya aku mudahin dia ambil harga diriku. Aku percaya dengan kata-katanya. Dia bakal tanggung jawab. Ini gak bakal hamil lah."


Rion : "Pril, gue laki. Gak ada laki-laki yang kalo lu tawarin dia gak mau. Nafsu itu ada. Laki itu mudah nanem tapi hilang gak ada jejak. Gampang. Yang kasihan tuh perempuan. Kalo dia hamil dia pergi lu yang urus anak lu sendiri lu yang nahan malu dan penyesalan sampe mati. Lu mau? ".


Prili menggeleng.


Rion : " Kalo lu mau. Mumpung masih kecil ni bayi yang gak salah apa-apa. Lu pergi temui dia dan lu minta tanggung jawab dia. Kalo lu bisa, lu sekalian lapor polisi. Lu jujur sama orang tua lu. Pasti berat di awal. Tapi lambat laun mereka bakal Terima keadaan lu, gue harap gitu. "


Prili : "Tapi aku takut, Rion. "


Rion : "Lu punya Tuhan. Berdoa, nyesel, Hati-hati. "


Prili mengangguk. Saat ini, Rion mengantar Prili kembali ke kosannya. Dan ia kembali ke kampus untuk menjemput Bili. Sesampainya mereka ke rumah Rion, Rion menceritakan semua kejadian yang terjadi pada dirinya dan Prili.


Bili : "Gue hanya berharap dia baik-baik aja."


Rion : "Gue gak yakin. Pasti ada aja nanti yang terjadi. Tapi tadi gue bantu untuk biaya konsultasi per bulan sama biaya persalinan. Gue cuma bisa bantu itu. Kayaknya dia orang baik. Lakinya aja yang ****. Kemakan nafsu."


Bili : "Lu jadi superhero sekarang, ya. Gue bangga. Gak nangka, ya."


Rion : "Nyangka... nangka emang kolak."


Bili : "Berarti pergaulan emang perlu ya. Kita juga jangan jadi laki-laki pecinta wanita buat dijadiin teman semalam."


Rion : "Mulai deh agak bijak. Biasanya agak eror."


Bili dan Rion memakan makanan yang mereka beli sebelum pulang ke kontrakan.


Suara tawa dari luar rumah terdengar di ruang tamu Rion. Bili memandang Rion yang merasa keheranan dengan suara agak gaduh di luar. Nampaknya Neyza sedang berjalan bersama Weni yang hendak pulang ke kontrakan.


Rion membuka pintu ruang tamu dan sengaja akan menggoda Neyza.


Rion : "Weei, uda pulang."


Neyza : "Kenapa lagi? Kebiasaan deh ya gak bisa lihat orang senang."


Rion : "Gue emang gak mau elu senang-senang tanpa gue. Ayok kenapa tadi ketawa?"


Neyza yang menghindari pertanyaan Rion dan berusaha membuka pintu rumahnya.


"Kak Neyza, aku pernah dibisiki Kak Rion kalo dia suka sama kak Neyza." suara Manji berada di tengah pembicaraan mereka.


Neyza : "Bohong, Manji. Usil gitu. Ogah."


Manji : "Serius. Katanya mau diajakin nikah. "

__ADS_1


"Nikah? ", tiba-tiba suara berat itu terdengar tak asing di telinga Neyza. Ia menoleh dan mendapati Tito sedang berdiri tak jauh dari rumah Neyza.


Neyza terkejut, sedangkan Rion...penasaran.


__ADS_2