
Regina masuk ke dalam ruangan Rion.
"Oh, jadi di jam kerja kamu kencan," Regina datang dengan muka dingin. Neyza hanya melihatnya lalu mengacuhkannya.
Siapa perempuan ini? Datang kayak gak ada sopan santun.
__ADS_1
"Kamu gak bisa apa ketuk pintu dulu?" kata Rion. "Saya ada perlu dengan anda. Kencannya di tunda dulu," jawab Regina. "Ini istriku, dia bisa datang kapan saja?" Rion menegaskan. "Kapan saja dia datang? Atau perempuan lain juga bisa? Karyawan kamu yang cantik-cantik mungkin?" kata Regina ketus. Neyza berdiri dengan menahan segala amarahnya. "Tentu saja boleh bila hanya kebutuhan bisnis. Atau perempuan tak punya harga diri dan sopan santun yang masuk ke ruangan orang lain yang ternyata bukan kantornya. Saya rasa itu fair. Siapa saja bisa masuk kemari dengan urusan bisnis. Sayangnya, karyawan perempuan yang cantik-cantik tadi, punya nilai tinggi. Mereka tidak hanya pintar dan bekerja, tapi berkualitas secara tata krama. Sayang, aku tunggu di restoran biasanya, ya?" Neyza pergi tanpa memandang sedikit pun ke wajah Regina.
"Pintar sekali mulut istri anda itu," katanya. "Sudah sudah. Ada perlu apa kamu ke sini? Lain kali ketuk pintu. Buat janji. Ini bukan kantormu juga, kan? Neyza betul tentang itu," Rion memandang Regina. Perempuan sinis itu memberikan satu amplop dokumen penawaran. "Penawaran apa lagi, Regina? Ini sudah ke empat kalinya dalam kurun waktu enam bulan. Dan penawarannya sama seperti sebelumnya. Perusahaan kami sedang berbenah. Jadi tidak mungkin akan mengambil kerja sama dengan pihak ketiga mana pun," jelas Rion. Regina mengangkat satu alisnya. "Kamu bakal butuh kau kalo kamu baca lebih teliti," Regina segera meninggalkan Rion. Ia menghela napas panjang. "Oia, selain anda. Saya juga tidak suka dengan istri anda itu," Rion tak menggubris. Tentu saja ia akan memihak Neyza seribu kali atau lebih banyak lagi. Perusahaan Regina benar-benar tidak bisa diberi peringatan untuk tidak menawarkan kerja sama lagi.
Rion pergi ke restoran untuk makan siang bersama Neyza. "Aku udah pesan makanan kesukaan kamu," Rion mencium kening istrinya itu. "Makasih, sayang," Rion duduk di depan Neyza. Wajahnya sedikit tegang. Neyza tentu saja menangkap jelas aura yang terjadi pada suaminya itu. "Rion!" Neyza memegang tangan Rion. Ia lalu menoleh ke arah Neyza. "Ya?" Neyza tersenyum. Aku tahu kamu sedang mengalami hari yang sibuk beberapa minggu belakangan. Ada yang bisa aku bantu?" Rion menggeleng. "Iya, lumayan menguras tenaga dan pikiran," Neyza lalu semakin menggenggam tangannya. "Coba lihat aku!" perintah Neyza. Rion seakan terakhir oleh kata-kata Neyza. Suara Neyza bagaikan candu di telinganya. Dan membuat ia secara otomatis mengikuti apa pun yang akan Neyza minta. "Kita sama-sama pebisnis. Kamu bisa sharing apa aja ke aku. Aku bisa bantu apa? Aku pasti bantu. Kamu boleh punya tim. Tapi jangan lupa, aku, Anak-anak, dan semua orang di rumah adalah support system kamu yang gak boleh kamu lupain," Neyza mencoba menenangkan. Memberikan sebuah petuah adalah keahliannya. Rion tersenyum. Ia baru sadar kalau Neyza betul-betul jodoh yang tepat untuknya. Tak ada alasan untuk tidak menggubris perkataanya.
__ADS_1
Rion dan Neyza kembali ke kantor mereka masing-masing. Bili masuk ke dalam ruangan Rion. "Bos. Kayaknya memang benar dugaan kita. Perusahaan Regina sepertinya mau nyerang perusahaan kita dengan ikut beli saham kita dibatas 64 persen," Bili memberikan sebuah kertas berisikan laporan analisa dari divisi keuangan. "Emang gila dia main langsung di depan gitu," Rion bergumam. "Kita perlu ketemuan gak sih sama tuh nenek lampir?" tanya Bili. Rion berpikir sejenak. "Kita masih butuh banyak bukti. Kerahin tim yang ada. Bila perlu sewa detektif. Regina bukan orang yang hanya sekedar dingin. Tapi juga berbahaya. Dan gak ada akhlak," Bili terkejut. "Tiba-tiba masuk pas ada Neyza tadi. Untung gak lagi mesra-mesraan," Bili memeluk dahinya. "Sekretaris emang kemana?" Rion menggeleng. "Mungkin belum balik dari ruangan Bu Septi. Tadi gue yang nyuruh dia ke sana," Bili terlihat geram.
Malam itu di rumah Neyza. Semua orang selesai makan malam. Rui tengan bermain dengan La kita dan Lisa serta para asisten rumah tangga. "Mama. Besok tolong temani aku beli buku gambar, ya? Buku gambar Ta habis. Gak ada yang kosong lagi," Neyza mengusap lembut kepala anaknya itu. "Iya sayang. Mama anter, ya?" Neyza menjawabnya dengan lembut. "Kak Lisa juga ikut," Lalita bergembira. Rion datang dengan secangkir susu almod. "Lagi senang apa ini kok Kakak Ta jadi seneng gitu? Cerita sama Papa. Ayo!" Lalita berlari ke arah Rion dan duduk di pangkuannya. "Papa, aku tadi minta tolong Mama beli buku gambar baru," Rion serius mendengar Lalita. "Papa gak diajak?", tanyanya. "NO!!" Neyza dan Lisa menjawab dengan kompak. "Girls thing besok. Kita mau me time tanpa laki-laki," kata Lisa. "Kalian juga gak main masak-masakan," Lalita berlari ke sudut ruangan tempatnya biasanya bermain. Lalu ia kembali dan naik ke sofa berdiri di sebelah Rion. Lalita mencoba mengikat rambut Rion dengan mainannya. Seisi rumah tertawa dengan tingkah laku Lalita.
"Papa, sekarang Papa jadi perempuan juga. Besok Papa bisa ikut."
__ADS_1
Untuk sementara waktu, Rion lupa dengan masalah kantornya.
(bersambung)