
Pagi hari itu, Rion dan Neyza tengah bangun pagi dan hendak pergi ke suatu tempat. Neyza masih membuatkan sarapan untuk Rion. Tak lama setelah itu Rion bangun dan merapikan kamar serta rumah.
Neyza: "Yuk, udah matang makanannya."
Rion tersenyum dan segera menyusul Neyza.
Setelah sarapan pagi, mereka pergi dengan membawa sepeda motor Bili. Rion dan Neyza berhenti di sebuah toko kue.
Neyza: "Udah dapat balasan dari Heri?"
Rion: "Belum."
Keduanya tengah membeli sebuah kue untuk diberikan pada Mama Neyza. Tak lama setelah itu mereka pergi ke rumah Papa Neyza untuk bertemu Mama Neyza.
Neyza: "Hai, Ma."
Mama: "Hai, Ney. Rion."
Rion: "Mama udah makan?"
Mama: "Udah, Rion. Kalian udah sarapan? Makanan masih ada di meja."
Neyza menggeleng. "Tadi udah sarapan di rumah."
Mama menikmati kue yang dibeli oleh Neyza.
Mama: "Kalian kapan dong honeymoon?"
Neyza: "Ya ini udah honeymoon, Ma."
Mama: "Ya jangan, dong. Pergi berdua. Jelajahi dunia. Nikmati kebersamaan berdua."
Rion terkekeh mendengar penjelasan Mama.
Neyza: "Dua minggu lagi Rion ada meeting di Jepang. Kita rencana mau ke sana. Kerja sekalian liburan."
Mama: "Terserah kalian, deh. Pokoknya Mama pingin cepat gendong cucu."
Neyza dan Rion saling menatap kebingungan. Mama hanya tertawa sambil memasukkan sesuap demi sesuap kue yang lezat itu. Rion berdiri untuk mengambil beberapa buah. "Rion, ada file mentah dari nikahan kamu kemarin di komputer di meja kerja Papa. Itu masih Mama buka tadi. Coba lihat." Rion lalu berjalan ke ruang kerja sang Papa Mertua.
Mama: "Ma, Neyza penasaran, deh. Sebelumnya Mama sama Mama Fani tuh kenal dimana kok jadinya nikahin Ney sama Rion."
Mama menghabiskan sisa makanan di mulutnya sebelum menjawab pertanyaan Neyza.
Mama: "Hmm, good question, Ney. Masih ingat kasus Papa hampir dua tahun lalu? (Neyza mengangguk) selain tim pengacara Papa, rupanya calon menantu Mama juga membantu menyelidiki kasus Papa."
Neyza tertegun. Rion?
Mama: "Rion diam-diam menyuruh tim pengacaranya untuk membantu menuntaskan kasus Papa sampai Papa dinyatakan tidak bersalah. Kami juga sempat curiga dengan pelakunya. Betul aja, kan. Orang lama."
__ADS_1
Neyza: "Kok bisa tahu kalo itu Rion?"
Mama: "Akhirnya salah satu pengacara mereka minta ijin untuk membantu, kok. Setelah kami sepakat dengan tim yang lebih besar dan kasus dimenangkan. Mama dan Papa berinisiatif buat ketemu Mama Papa Rion. Kami punya hutang besar sama mereka. Mereka baik banget."
Neyza: "Wah, dijodohin karena hutang keluarga, nih?"
Mama: "Gak, ah. Itu juga karena keselahpahaman kalian yang minta kami buat bantuin cari jodoh, kan?"
Neyza tersenyum tipis. Mama benar tak ada yang salah. "Eh, tunggu. Rion juga, Ma?"
Mama: "Iya, Mama Rion juga bilang gitu. Rion juga trauma sama pilihannya. Takut berakhir kayak si Hani itu. Makanya dia minta dijodohin sama Mama Papanya."
Neyza: "Jadi?"
Mama: "Waktu kita ngobrol tentang anak-anak kita, terus lha kok sama ceritanya. Akhirnya kita punya ikhtiar ke situ. Kenalin kalian. Cuma saat itu kan Rion ke luar negeri. Ada urusan kerja."
Neyza: "Ooo, gitu ceritanya."
Mama: "Ney, Rion anak baik. Jadi istri yang baik juga buat dia, ya?"
Neyza tersenyum memeluk sang Mama. Bersamaan dengan itu, Rion datang setelah melihat foto pernikahannya.
Mama: "Gimana? Bagus, kan?"
Rion: "Wah, ini bagus banget, Ma."
Neyza: "Ma, Neyza sama Rion mau minta pendapat."
Neyza mulai serius. Rion mengubah posisi duduknya. Saat itu Neyza mulai bercerita tentang keadaan Heri dan anak Hani yang dicampakkan oleh keluarga besar mereka. Niat untuk menjaga Lalita sampai Heri bekerja disampaikan kepada Mama.
Mama: "Hmm, rumit juga, ya. Eh, lebih kasihan sih sebenernya. Kalo lihat dari keluarganya emang bikin kesel. Cuma lihat Heri sama cucunya yang masih kecil emang Mama gak tega."
Neyza: "Ini hanya pendapat kita aja, sih. Kalo merawat Lalita sampai Heri lulus kuliah S2 dan punya kerjaan yang bagus. Dia bisa hiring orang untuk bisa jaga Lalita. Sementara ini dia juga tinggal di rumah temannya. Kami cuma kasihan."
Mama: "Kalo Mama sih gak masalah selama ada perjanjian yang jelas antara kamu dan Heri. Tapi apa orang tuanya gak papa?"
Neyza: "Neyza dan Rion yang bakal ke sana."
Mama: "Kalo orang tua Lalita itu mau. Silahkan, nanti Mama coba ngobrol sama Papa kamu, ya?"
Neyza: "Makasih, ya, Ma."
Mama: "Mama cuma heran sama kalian. Udah disakiti sama keluarga mereka masih aja bantu anaknya. Tapi ingat, membesarkan anak itu gak mudah. Butuh kesabaran ekstra."
Neyza: "Mama kasih masukan ke Neyza sama Rion, ya."
Mama: "Cepetan gih punya anak. Mama udah gak sabar."
Rion: "Ada kamar kosong, gak, Ma?"
Mama tertawa sedangkan Neyza memukul Rion dengan bantal kursi. Tak lama kemudian Neyza dan Rion pulang ke rumah kontrakan mereka.
__ADS_1
Neyza: "Menurut kamu, kalo jadi rawat Lalita, enakan di mana tinggalnya? Di sini apa rumah?"
Rion: "Menurutku di rumah aja. Kita masih baru buat urus anak. Ada mbak-mbak asisten juga. Biar banyak yang bantu jagain."
Neyza: "Kapan, sih kita ketemuan sama Heri?"
Rion: "Malam ini. Gimana?"
Neyza: "Ooo, yaudah aku suruh supir jemput kita aja malam ini sekalian pulang."
Rion: "Bili juga entar biar ambil sepedanya."
Neyza: "Yaudah aku tidur siang bentar, ya? Ngantuk berat."
Rion mengangguk mempersilahkan. Rion sibuk melihat ponselnya. Aplikasi resep masakan yang ia lihat untuk memberi kejutan kepada Neyza. Makanan untuk makan siang. Setelah melihat bahan makanan di kulkas, ia segera menyesuaikan menu makanan dengan bahan yang ada. Hampir satu jam Rion berkutat dengan dapur. Dan akhirnya masakan itu telah jadi.
Neyza terbangun karena wangi masakan Rion. Ia keluar dan segera menemui suaminya itu.
Neyza: "Ngapain? Masak?"
Rion memberikan semangkok makanan untuk membuatnya terkejut.
Neyza tersenyum. Mengambilnya dan menyuruh Rion untuk duduk di ruang tamu.
Neyza: 'Udah lama aku gak makan mie instan. Aku masak buat tambahan, ya? Kita butuh sayur sama daging."
Rion: "Eh, tadi aku rendam ayam, sih. Cuma karena gak ngerti masak apa aku biarin. Lupa masukin freezer lagi."
Neyza: "Lho, manfaat ini. Tinggal eksekusi. Kamu tunggu disitu aja, ya?"
Neyza mengambil beberapa sayur dan bahan jadi yang ada di kulkas. Lalu ia mulai memasak menu tambahan. Tak butuh waktu lama, dua menu lainnya sudah siap dihidangkan."
Rion terkejut dan merasa senang karena banyak makanan.
Neyza: "Lho, mienya mana?"
Rion: "Aku taruh di mangkok pemanas biar gak dingin."
Akhirnya mereka berdua makan siang dengan sangat kenyang.
Malam harinya, setelah mengemas pakaian mereka kembali, supir Neyza sudah menunggu di depan lingkungan kontrakan. Mereka hendak menemui Heri dan Lalita di sebuah restoran.
Keduanya sampai, sedangkan Heri belum datang. Mereka menunggu.
"Ta... ta... ta.." Seorang anak kecil berbicara. Heri datang dengan membawa Lalita.
__ADS_1
Neyza dan Rion terkejut.