
Rion bertemu dengan Dias di restoran keluarga Rion. "Dias, gue pingin punya ilmu tentang bisnis kuliner. Restoran lu di Tokyo kan rame. Gue pingin minta masukan buat restoran ini," Dias memandang Rion. "Tumben banget lu tanya beginian. Too serious. Tapi Oke, gue coba jelasin hal yang paling sederhana. Kayak gini, deh. Lu siapin makanan buat keluarga lu. Meja makan lu rapiin, lu bersihin, terus lu masak makanan yang paling mereka suka dan lu pede buat masaknya, terus waktu mereka duduk nungguin makanan itu datang. Lu sajikan makanan itu dengan penuh kelembutan. Mereka senang dan makin sayang sama lu," Rion mencatat semua yang dikatakan Dias. "Woi woi, kenapa lu jadi kuliah tata boga gini, sih? Emang ada masalah sama restoran lu?" Rion mengangguk. "Dikit. Gue pingin ada perut yang signifikan. Biar pelanggan gak kecewa. Gak monoton mulu," jawab Rion. "Dan lu tahu, gak? Jadi praktisi kuliner itu adalah bagian dari kedamaian. Ada orang berantem, dapat makanan enak, jadi bisa akur. Ada orang jatuh cinta, makan makanan lezat bisa nambah tuh rasa cintanya," kata Dias penuh semangat. "Terus, apalagi yang gue butuhin?" Dias berpikir sejenak. "Kalo lu pingin punya konsep tematik yang bagus, lu mesti lihat di media sosial tentang tematik yang lagi banyak digandrungin. Dan makanan sama tempat kudu nyambung ya, Bro. Kagak bisa nyambung antara makanan Indonesia tapi konsep kayak Jepang tradisional. Beda. Kasihan pelanggannya bingung."
Rion melihat catatatnnya lagi. Beberapa liat memang sudah direncanakan olehnya. Namun tambahan dari Dias menjadi sebuah ilmu baru. Ia tak hanya berperan sebagai pengucur dana. Tapi juga mendalami ilmu di bidang makanan itu. Rion menyodorkan skema rencana untuk restoran barunya. "Gue mau bikin cafe yang trade nya lebih ke casual. Gak resmi-resmi amat. Dan jangkauannya adalah anak muda. Menu kita tambah jadi menu yang lagi kekinian. Rencana gue, koki dan asistennya bakal gue terbangin langsung ke Taiwan atau China untuk lihat gimana makanan populer di sana," Dias mengacungkan jempol kepada Rion. "Nha, itu kalo lu ada duit lebih, bisa banget buat investasi jangka panjang. Lu punya durasi dan target. Itu yang penting. Dan karyawan? Lu juga kudu seneng-senengin mereka. Biar jiwa solidaritas dan loyalitas mereka jadi semakin tinggi ke pekerjaan mereka. Ini selaras kok sama gimana mereka gak stress karena tuntutan pekerjaan yang mereka tekunin," Rion tersenyum. "Gak sia-sia nyokap lu lahirin lu," kata Rion menjahili Dias. "Pokoknya gue bisa bayar lu buat jadi konsultan restoran gue, Dias," kata Rion. Rion menggeleng. "Ilmu ini mahal, gak bisa lu bayar dengan kekayaan lu sekaligus. Yang bikin mahal adalah, ini bisa jadi manfaat buat lu dan banyak orang. Pesan gue, jangan pakai bahan asal-asalan demi kesehatan pelanggan lu. Gak mesti mahal, tapi gak murahan," Rion membuat tanda hormat. "Asiyaaap, ndan!" Rion dan Dias tertawa. Mereka lalu menghabiskan waktu dengan makan malam.
__ADS_1
Di lain tempat, Ogi sedang menunggu Regina yang masih di kamar mandi restoran. Ogi merasa senang karena Regina mau menemaninya makan malam. Entah apa yang menarik rencana Ogi setelah bertemu Neyza pagi ini. Yang jelas, Ogi sangat penasaran dengan apa yang terjadi. "Hei! Ngelakuin siapa?" Regina mengagetkan Ogi yang diam sedari tadi," Ogi berdiri. Mempersilahkan Regina duduk di depannya. Sebuah restoran Italia yang pernah mereka datangi bersama teman mereka di sebuah acara ulang tahun. Kenangan yang mungkin masih mereka ingat. "Lu bisa-bisanya ajak gue ke sini. Nostalgia sama siapa dulu?" Regina tertawa. "Bisa aja lu. Kan ini bagian dari reuni dadakan. Jadi tempat juga harus mendukung. Gue gak mau, ya. Kalo kita makan terus jadi kikuk gitu. Kalo kayak gini jadi ada bahan pembicaraan. Ngomongin si Toni yang pernah gebetin lu. Atau si Mila yang kejar-kejar gue," Ogi membuka sebuah bahasan. "Oh, gak. Mila itu gak suka sama lu. Dia itu dulu sukanya sama Harun. Anak nerd yang tampan banget. Gue aja seneng mandangin dia walau hanya lima menit. Terus satu jam berikutnya gue ngayal yang gak-gak," Ogi tersedak dengan ludahnya sendiri. "Bocah, edan. Gue sampek gak bisa napas. Ngayal gimana maksud lu? Gini nih, sejak dini nonton film tanpa sensor KPAI," Ogi menggelengkan kepalanya. "Hahaha, eh. Jangan mikir yang aneh-aneh. Maksudnya, gue dulu kalo ngayal tentang si Harun itu, gue jadi ngayal bisa barengan dia di atas panggung buat jadi tim lomba cerdas cermat. Dia kan langganan tuh ikutan lomba gituan. Gue aja yang selalu juara dua gak pernah ditawari sama guru BK," Ogi tertawa. "Ah, gue penasaran sama kerjaan lu sekarang. Lu kerja di perusahaan bokap lu?" Regina tersenyum. "Ya pastinya. Gue jadi pimpinan sekarang gantiin bokap. Kakak gue gak mau. Dia fokusnya sama kerjaan dia jadi Dokter. Dan sekarang gue lagi seru-serunya analisis perusahaan orang. Hahahaha," Ogi sedikit tersenyum sinis. "Ha? Kayak gimana, tuh? Jatuhin kompetitor maksud lu? Astaghfirullah. Sadar, Regina," Ogi mengelus dadanya, membuat sebuah komentar lucu. "Hahahhaa, bisa aja lu. Tapi gue gak bisa bantah itu. Lu kan juga pelaju bisnis. Jadi pasti dong kelakuan kayak gue menganalisis perusahaan orang lain juga jadi sebuah langkah," kata Regina dengan tenang. "Iya, gue gitu, kok. Tapi jangan sampai lah gue jatuhin lahan orang. Bersaing secara sportif itu lebih dewasa dan bijak daripada harus jerumusin orang dalam kegagalan," Ogi berekspresi lebih santai namun menata kata dengan lebih 'berat'.
Regina terdiam. Ogi sedikit merasa bersalah. "Eh, kenapa jadi serius gini, sih? Kita kan mau makan malam. Lu mau pesan apa? Apa perlu gue yang pesenin?" Regina mengambil buku menu yang ada di depannya. "Emang lu tahu pesanan gue dulu apa?" Regina memandang Ogi. "Kalo gue gak salah lihat Lemon Ricotta Spaghetti sama minuman lu Cucumber Gin Fizz. Gue salah, kan?" mata Regina terbelalak. "Gila lu, masih inget aja. Ah, gak asik, kok bisa sih lu inget?" Regina hampir melempar sendok ke arah Ogi. "Karena gue yang catat dan gue tanya berkali-kali sama lu karena ribet amat nama menunya. Gue sempat bete juga, sih," Regina tertawa. Ogi memanggil seorang pelayan dan memesan makan malam mereka.
__ADS_1
"Hmm, gue ini kayaknya jadi orang jahat, Gi."
(bersambung)
__ADS_1